Lovaskeptika adalah gabungan kata Love dan Skeptic-kumpulan cerpen yang tidak menghadirkan kisah percintaan yang serta-merta diwarnai keindahan dan kebahagiaan, tetapi justri nuansa abu-abu dan kegamangan cinta. Dengan cerdas, penulis mengajak kita untuk memandang cinta dari perspektif yang berbeda: kelam namun mencerahkan, pedih namun mendewasakan. Layak dinikmati oleh mereka yang merasa butuh cinta.
“Ya, memang, sebagian perempuan lebih menyukai lelaki yang unik daripada yang baik. Dan kebanyakan istri lebih menyukai suami yang baik daripada yang unik.” --Tertusuk, Lovaskeptika.
Kutipan di atas adalah salah satu kalimat menarik yang bisa kita temukan dalam sebuah cerpen pada buku Lovaskeptika karya Dadan Erlangga. Lovaskeptika adalah nama buku kumpulan cerpen yang mengajak kita untuk menelusuri relung-relung emosi manusia yang didefiniskan oleh kamus tak tertulis sebagai “cinta”. Apabila cinta diibaratkan sebagai semangkuk penuh nasi, maka dalam buku ini cinta yang dibahas bukanlah pada porsi semangkuk nasi itu, melainkan pembahasan pada tekstur tiap butiran nasinya, detil-detil yang demikian halus yang kadang kita abaikan.
Pada halaman awal kita akan menemukan sebuah sinopsis dan daftar tokoh (ada 7 tokoh, pria dan wanita) yang sebenarnya tidak begitu penting, kecuali bagi pembaca yang punya sindrom selalu melupakan tokoh. Namun, karena buku ini pada hakekatnya bukanlah sebuah novel, melainkan kumpulan cerpen, maka seluruh bagian pembuka tersebut bisa kita abaikan sama sekali tanpa mengurangi kenikmatan membaca. Hal tersebut disebabkan karena hubungan antar cerpen yang ada dalam buku ini terasa amat lemah satu sama lain, sehingga tidak masalah Anda mulai membaca dari cerita yang mana.
Apabila diibaratkan dengan sebuah tayangan televisi, maka Lovaskeptika adalah sebuah serial lepas yang tiap episodenya menyajikan cerita berbeda dengan tujuh orang aktor/aktris yang sama. Saya tidak bisa menyangkal bahwa kekuatan dari buku ini bukanlah pada penokohannya, tapi pada deskripsi dan eksplorasi temanya. Hal itu dibuktikan dengan kebiasaan Dadan sebagai penulis yang (mayoritas) menggunakan sudut pandang orang pertama, sementara tidak ada perbedaan yang mendasar dalam gaya bahasa setiap tokoh “aku”-nya—semuanya hampir selalu melankolis dan sarat dengan kata-kata yang mendalam, dengan kata lain semua tokoh itu adalah Dadan. Satu hal yang bisa dianggap sebagai kekurangan.
Dalam hal deskripsi, Dadan adalah penulis pemula yang sama sekali tidak bisa diremehkan. Narasi dan deskripsi yang ia hadirkan memiliki cita rasa yang mengalun lembut dan merasuk ke dalam benak pembacanya. Tentunya hal ini menjadi klop ketika ia membawakan tema percintaan, dan akan menjadi bencana kalau (misalnya) ia membuat genre action-thriller. Syukurlah Lovaskeptika adalah buku tentang cinta.
Tentu saja ada jutaan buku fiksi yang mengangkat tema cinta di luar sana, sebab itu ada kelompok orang yang percaya bahwa “tema cinta gak ada matinya”. Eksplorasi Dadan dalam masalah cinta pada buku Lovaskeptika ini tampak sudah begitu mendalam. Saya tidak akan terburu-buru mengaitkan semua tema-tema itu (tentang patah hati, kehidupan malam, perselingkuhan, seks bebas, bahkan homoseksualitas) dengan pribadi penulis, namun tentunya kita dapat mengira-ngira bahwa penulis adalah seorang observator yang handal terhadap berbagai lika-liku kehidupan percintaan di sekelilingnya. Pembaca akan dengan mudahnya merasakan getaran emosi apabila memiliki pengalaman percintaan yang bersinggungan dengan salah satu cerpen dalam buku ini (kecuali mereka yang tidak punya pengalaman cinta atau mereka yang pengalaman cintanya selalu lurus-lurus saja)
Don't judge a book by it's cover, adalah pepatah yang sebaiknya [di]berlaku[kan] pada Lovaskeptika. Desain sampul yang sangat minimalis dan malah bisa dibilang terlalu seadanya, serta ukuran buku yang mungil, mungkin akan membuat sebagian orang menjadi “skeptik” pada Lovaskeptika. Apalagi karena kumpulan cerita pendek seringkali dianaktirikan atau dipandang sebelah mata oleh industri buku saat ini, seolah membuat cerpen adalah pekerjaan iseng semata. Kelemahan dalam buku ini memang dari segi pengemasannya, baik di bagian luar (cover) maupun bagian dalamnya (tidak ada kata pengantar yang pas, sinopsis yang kurang perlu, layout yang tidak maksimal).
Melihat besarnya potensi yang terkandung dalam Lovaskeptika, maka buku ini dianjurkan untuk dibaca oleh siapa saja yang menyukai kisah-kisah cinta “manis-pahit-mendayu-dayu”. Melihat besarnya potensi yang terkandung dalam diri penulisnya, maka karya ini belumlah karya masterpiece dari Dadan Erlangga, sebab kita layak bertaruh untuk karya selanjutnya yang jauh lebih baik lagi.
Kelebihan: • kata-kata yang menghanyutkan • eksplorasi tema yang menarik • cerpen yang memang pendek dan berdiri sendiri-sendiri, cocok untuk mengisi waktu senggang
Kekurangan: penokohan yang terkesan dipaksakan hubungan antar cerita yang juga terkesan dipaksakan kemasan yang kurang menarik
Cocok untuk: • semua orang yang suka cerita percintaan. • mellowmania
Tidak cocok untuk: pembaca yang berorientasi pada action
Judul Buku : Lovaskeptika Penulis : Dadan Erlangga Penerbit : Masmedia Buana Pustaka Halaman isi : 144 halaman 11 x 17.5 cm Jenis : Fiksi Romantika Dewasa Cetakan I, Pebruari 2009
Sebuah kumpulan cerpen yang cukup berbeda dibandingkan cerpen lainnya, mungkin bisa dikelompokkan ke dalam bahasa Moamar Emka dengan Jakarta Undercover-nya, hanya berbeda satu level –kulit luarnya saja. Buku kecil ini memang luar biasa cerdas. Kisah sederhana namun mungkin saja terjadi di kota-kota metropolitan saat ini, bahkan tidak kita bayangkan sebelumnya.
Sometimes, we can’t judge the writer from its writing. Bila tidak kenal dengan penulis, sekilas pembaca akan beranggapan bahwa dunia sang penulis sama seperti apa yang dituliskan dalam cerpennya. Tidak lepas dari hingar-bingar dunia malam, area perseteruan sebuah hasrat dan emosi bernama nafsu, bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa penulis adalah salah satu dari tokoh dalam cerpen. Mungkin Dante, Paul, atau bahkan Sam yang meregang nyawa oleh sebuah pisau cukur.
Sebuah prolog yang unik mengenai lovaskeptika dengan tokoh-tokohnya yang dibuat konstan. Entah bagaimana penulis mendapatkan ide semacam ini, walau akhirnya kisah mereka tidaklah satu karena mereka hidup dengan masalah mereka. Begitulah hidup yang digambarkan penulis secara tidak langsung. Mungkin saja kita adalah tokoh dalam cerpen-cerpen ini, hidup dengan masalah yang berbeda. Ya! manusia hidup dengan masalahnya masing-masing. Satu hal lagi, penokohan yang dibuat konstan ini memudahkan pembaca untuk mengetahui bagaimana sifat dasar tokoh dalam setiap cerpen.
Kisah cinta yang kelam dan tragis begitu mudahnya mengalir dari tulisan penulis. Hanya saja perlu dipahami bahwa tulisan ini tidak mudah untuk dicerna dalam sekali baca. Jelas terlihat pada cerpen pertama “Lovaskeptika”, pemilihan sudut pandang, penggunaan bahasa dan konteks penyebutan kata ganti tokoh yang tidak biasa. Penggunaan kau, aku, dan ia yang menjadi satu seakan-akan ada banyak sudut pandang yang berbicara, hingga ending cerita yang memancing imajinasi pembaca untuk mengenal tokoh lebih jauh, siapakah Lisa, siapa perempuan jalang yang diteriakkan salah satu tokoh, dan tiba-tiba kita harus terhenti dengan tanda tanya besar. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Sungguh, penulis benar-benar kreatif dalam memainkan imajinasi pembaca.
Memang buku ini diperuntukkan bagi pembaca yang tidak merasa tabu akan hal-hal yang vulgar. Walau buku ini tidak vulgar, isinya menyerempet hal-hal itu. Perhatikan petikan ini, mungkin akan menimbulkan senyuman –pandangan subyektif. “Sam, apakah kamu mencintaiku?” tanya Elly sekali lagi. Dan Sam yang tengah menikmati “sarapan pagi” yang nikmat ini tak acuh dan terus menggempurkan kecupan ke tubuh Elly. Elly mengulang pertanyaannya lagi, dan Sam hanya ber-hm-ah-yeah-ouh… sarapan pagi itu akhirnya disempurnakan lelehan “selai stroberi” yang mengalir dari leher Sam…. Sayangnya, tidak semua tulisan yang ada melalui proses editing yang sempurna. Perhatikan kalimat kedua, bukankah kata sambung tidak diawal kalimat?
Romantika selanjutnya tidak sepelik yang dituliskan penulis sebelumnya. Bahasa yang mengalir dan mudah dipahami menjadi salah satu kunci pembaca menikmati kisah ini kembali –mungkin. Kisah yang kembali lagi sederhana, namun kemasannya sangat unik. Setiap cerpen memiliki ending yang bervariasi, menggantung, berakhir pedih, atau mungkin tidak seperti yang kita duga. Hampir kesemuannya membuat kita bisa berpikir lebih jauh dan dewasa akan makna sebuah huruf-huruf ce-i-en-te-a. Satu pernyataan penulis mengenai jalan pikir seorang perempuan, membuat saya tertarik. Ya, memang, sebagian perempuan lebih menyukai lelaki yang unik daripada yang baik. Dan kebanyakan istri lebih mencintai suami yang baik daripada yang unik.
Over all, cerpen ini tidak menyinggung setting yang berlebihan bahkan tidak ada yang spesifik. Namun penulis pandai memainkan narasi-narasi yang dirasa tak penting menjadi perlu dalam setiap cerpennya. Bukankah, deskripsi setting hanya menjadi nilai tambah daripada sebuah pesan dan pertautan batin dalam sebuah karya? –bisa jadi. Satu hal lagi, bila dalam Eskpisme terdapat kata Dante, mungkin saja dialah sang penulis dalam tokoh cerpennya.
Mungkin lovasketika bagi saya mengajarkan satu hal: KEJUJURAN. Tidak selamanya cinta berjalan mulus, tidak selamanya cinta itu satu, tidak selamanya mereka yang jatuh cinta kebas dengan air mata. Lalu, bagaimana dengan dia?
Lovaskeptika punya konsep yang unik. Ini seperti novel yang menyaru jadi kumpulan cerpen. Bentuk cerita yang circle, tokoh-tokoh yang memorable, dan sudut pandang beberapa cerita yang unik, ditambah twist menarik. Cuman dalam waktu sejam setengah saya berhasil menyelesaikannya, bikin nagih dan penasaran. Tata bahasa Dadan berima dan kaya diksi. Sayangnya ada di beberapa bagian yang tata bahasanya mengingatkan saya pada buku tahun 90an. Mungkin karena buku ini lahir di tahun 2007, sehingga penulisan Dadan belum sematang sekarang. Cerita favorit saya Lovaskeptika.