Dengan suara penuh wibawa, disaksikan semua yang hadir Sunan Kudus menyampaikan bahwa Raden Fatah adalah seorang pahlawan karena telah berhasil mengalahkan Kerajaan Majapahit. Para kawula Demak yang berdesak-desakan diatas balairung berjingkrak-jingkrak menyambut pengukuhan itu. Sejak itulah, derap pembangunan di Kesultanan Demak Bintara terus berkembang. Demak Bintara berhasil menggapai kejayaannya.
Membaca sejarah kerajaan nusantara seakan tak pernah menyurutkan rasa bosan. Walaupun benang merah yang didapat selalu itu-itu saja. Peperangan atas dasar perebutan kekuasaan. Konflik politik dalam berbagai skala dan level yang menjijikkan hingga mempesonakan.
Kilauan mahkota , kemegahan takhta sedemikian membutakan , tak hanya mata , juga batin. Dan jiwa-jiwa yang buta itu pun tak lagi mampu melihat cahaya kearifan murni yang dipancarkan nurani. Jerit keberatan mereka tampik , maka menanglah pekik angkara. (modif kata pengantar penerbit)
Namun dari sana kita juga dapat mempelajari bagaimana upaya manusia menciptakan sebuah peradaban hanya berbekalkan pembukaan lahan (hutan)yang teramat sederhana. Ketekunan dan keahlian didedikasikan sepenuhnya untuk satu tujuan. Membangun komunal kecil. Pemberdayaan diri dalam bentuk kemandirian. Ya : manusia , alam lingkungan , tumbuhan dan hewan adalah sebuah kesatuan harmonis dimana membentuk satu mata rantai kehidupan yang saling membutuhkan.
Apakah rentang perkembangan kehidupan manusia selalu bergerak linear? Entah telah berapa banyak dan sudah berapa jauh lompatan masa dilalui bersumberkan cerita kaum terdahulu yang lantas ter/di binasakan dalam berbagai versi kehancuran terlepas dari keahlian mereka yang secara relatif superior? (begitu yang terbaca dalam satu sisi kisah kitab suci) Betapa modernitas dan primitivitas bergerak dalam alur yang sama , namun dalam dimensi waktu yang berbeda.
Kita butuh banyak kearifan , berkaca pada kejayaan dan keagungan masa lampau tanpa melenakan diri dari realitas kekinian.
Menelusuri kembali jejak peristiwa sejarah kerajaan Singasari-Majapahit-Demak-Mataram dapat memberikan kekayaan wacana seputar perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia. Terlepas dari kepentingan agama , bisnis-perdagangan , perluasan teritorial atas nama keamanan pun keagungan kedigjayaan semata dalam rangka mengantisipasi ekspansi dari munculnya ancaman agregat musuh-musuh potensial bersumberkan internal maupun eksternal. Pengusungan kepentingan ideologi dan prinsip maskulinitas semu sekan menjadikan dunia sebuah panggung maha luas pertentangan intrik dehumanisasi.
Banyak tokoh jawani terkenal muncul dimana kerap menggelitik rasa keingintahuan mendalam , baik itu sekedar untuk menggali informasi lebih jauh bertindak selaku pemuas dahaga yang tak kunjung habis-habisnya , sebutlah : Raden Fatah , Peranan Para Wali dan konflik halus diantara mereka seputar nasib anak didiknya serta keputusan eksekusi Syeikh Siti Jenar , Jaka tingkir , Aria Penangsang dan Ratu Kalinyamat, dll.
Pada dasarnya ada beberapa poin yang dapat dipetik dari kandungan ceritera pada novel ini: - Proses Berkembangnya Islam di Tanah Jawa dimana memudarkan kejayaan Hindu - Bermulanya perseteruan dan perlawanan panjang dengan bangsa Asing : Portugis dan Belanda yang relatif lebih maju secara teknologi perang - Perebutan / perampasan kekuasaan yang terus bergulir sekan tanpa bosan menyangkut trah yang hak maupun beraneka ragam konspirasi penggalangan kekuatan politik dan militer.
Manusia bisa menjadi buas atau mulia. Betapa kemuliaan perlu dijadikan cita-cita kolektif nasional dan internasional. Namun , akankah ini hanya sebatas utopia?
Novel sejarah yang menarik. Seakan-akan penulis membawa pembaca ke ruang waktu yg berbeda. Berbicara mengenai kehidupan perebutan kekuasaan. Anak membunuh ayahnya, saudara membunuh saudaranya. Tidak terlalu banyak menceritakan islamisasinya.