Jump to ratings and reviews
Rate this book

Gadis Kota Jerash

Rate this book
“Ya,” Paman Harun mengangguk. “Terlalu buruk bagi sepasang orangtua yang syahid untuk punya anak seperti itu.”

Najma selalu mengakui dirinya sebagai gadis dari kota Jerash. Tak peduli bahwa darah Palestina mengalir dalam tubuhnya. Tetap tak ada hati Palestina yang ia miliki. Maka, demi memandang kemegahan Oval Plaza kebanggaan Yordania, hanya satu yang ia impikan: menjadi penari dalam Festival Jerash yang selalu menakjubkan mata dunia.

Meski itu berarti, ia sedang mengkhianati darah Palestina yang ia miliki, dan menodai pengorbanan kedua orangtuanya yang mati syahid dalam perebutan Al-Quds melawan Yahudi. Ia tak peduli ketidaksetujuan Paman Harun dan Bibi Nauroh yang telah mengasuhnya sejak kecil di Yordania.

Jika sang Paman berkata bahwa ia terlalu mulia untuk sekadar menjadi seorang penari, lantas apakah yang lebih pantas untuknya?

***

Gadis Kota Jerash adalah salah satu dari cerpen-cerpen pilihan dalam antologi kasih ini. Masih ada enam belas kisah lainnya yang diramu dalam kekuatan luka, air mata, asa, sekaligus cinta. Semuanya dipersembahkan, untuk sebuah negeri yang masih tercabik, Palestina…

***

Palestina yang luka dan penuh duka selalu menggoda para cerpenis untuk menuliskannya dalam karya. Ini tentu bukan eksploitasi, tapi ungkapan solidaritas dan rasa peduli secara estetik pada nasib sesama. Persembahan cerpen-cerpen yang indah sekaligus berurai air mata dalam buku ini mencoba mengetuk hati pembaca untuk ikut mendorong 'kemerdekaan' saudara-saudara kita di Palestina.

--Ahmadun Yosi Herfanda, presiden Komunitas Sastra Indonesia)

288 pages, Paperback

First published January 1, 2009

Loading...
Loading...

About the author

Habiburrahman El-Shirazy

26 books1,355 followers
Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil, adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai kental nilai Islaminya dan mendorong semangat para pembacanya.

Selama di Kairo, kang Abik banyak menulis naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr.Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000).

Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dll.

Karya-karyanya:
Ayat-Ayat Cinta (2004)
Di Atas Sajadah Cinta (2004)
Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007)
Dalam Mihrab Cinta (2007)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
82 (35%)
4 stars
52 (22%)
3 stars
54 (23%)
2 stars
24 (10%)
1 star
16 (7%)
Displaying 1 - 15 of 15 reviews
Profile Image for Toffan Ariefiadi.
Author 1 book10 followers
March 12, 2010
Kisah tentang Palestina memang salah satu topik cerita yang tidak akan pernah habis dibahas (sampai detik ini). Bagi umat Islam, Palestina memiliki sejarah tersendiri. Mulai dari yang membahagiakan, mengharukan, sampai yang membuat luka perih. Buku ini mencoba merangkum Palestina dari berbagai sudut. Kumpulan cerpen yang merupakan kado dari para penulis Forum Lingkar Pena (FLP) adalah salah satu bentuk kepedulian mereka atas kedzaliman Zionis di tanah Palestina.

Bagi saya yang seorang penggemar cerpen, beberapa cerita dalam buku ini terkesan sangat biasa. Tidak semua cerpen membuat saya memiliki keinginan untuk membacanya sampai habis. Sebagian saya paksakan untuk membacanya sampai titik terakhir. Tentu, karena mungkin selera cerita saya kurang sejalan dengan gaya bercerita beberapa cerpen dalam buku ini. Namun, ketujuhbelas cerita dalam kumpulan cerpen ini patut mendapat apresiasi karena banyak informasi berharga tentang Palestina di setiap ceritanya.

Gadis Kota Jerash, cerpen panjang tulisan Sinta Yudisia menjadi pembuka buku ini. Berkisah mengenai seorang gadis bernama Najma yang menistakan identitasnya sebagai putri Palestina. Najma justru lebih bangga disebut sebagai Gadis Yordania. Ia ingin melupakan darah Palestina yang mengalir di tubuhnya. Beruntung karena ada paman dan bibinya yang selalu menegaskan bahwa putri-putri Palestina adalah orang yang mulia.

Cinta dan Matahari karya Sakti Wibowo begitu memesonakan saya. Cerpen keenam dalam buku ini menggambarkan bagaimana kedua faksi yang berlawanan (Hamas dan Fatah) diceritakan begitu menawan melalui sosok kakak beradik (Mahmud dan Ismail). Seharusnya mereka (rakyat Palestina) sadar bahwa saat pertama kali Zionis merebut jengkal tanah Palestina, mereka adalah satu, tanpa mengenal faksi apapun, hanya Palestina. Sakti menyulap kata "jihad" dalam balutan kisah yang indah tanpa menghilangkan makna jihad itu sendiri.

Harmonika, Sepatu Bayi, dan Sungai Darah adalah cerpen lain yang memikat saya. Saya suka bagaimana Hendra menarasikan foto genangan darah di sebuah daerah di Gaza pada cerpen ketujuh

Cerita terakhir (cerpen ketigabelas) yang saya suka adalah Parese karya Ragdi F. Daye. Saya dibawa masuk menyusur ke dalam terowongan-terowongan yang menghubungkan Palestina - Mesir melalui cerpen ini. Dan merasakan bagaimana tegangnya jika tiba-tiba lubang tempat mereka keluar runtuh dihantam bom Zionis.

Berikut tigabelas cerpen lainnya (sesuai urutan daftar isi):
- Bayi-bayi Tertawa - Habiburrahman El-Shirazy.
- Tiga Jam - Rahmat Heldy H.S.
- 21 Hari untuk gaza - W.D. Yoga.
- Boikot - Nova Ayu Maulita.
- Bait Tanya Aleya - Meutia Geumala.
- Menanti Palestina - Billy Antoro.
- Orang-orang Terowongan - Noor H. Dee.
- Abi, Bacakan Aku Cnta - Mardinata.
- Valentine for Gaza - Ria Fariana.
- EO 13221 - Melvi Yenra.
- Peta Palestina di Meja Keluarga - Rose F.N.
- Taman Surga - Prima Agung Saputra.
- janwo@freedom.com - Muhammad Yulius.

Akhirnya, tidak setiap sejarah dikabarkan jujur seperti aslinya. Banyak sejarah yang diselewengkan dan tidak sedikit sejarah yang terselewengkan tersebut menempati posisi hegemonik di tataran kehidupan dan sulit dirubah. Setidaknya setiap kita menjadi saksi atas sejarah sehingga kita tidak salah dalam menilai sebuah sejarah. Seperti apa yang ditulis oleh Irfan Hidayatullah dalam kata pengantar buku ini, "Mari kita catat nakbah itu. Mari jadi saksi peradaban yang suatu saat akan dijadikan bukti otentik betapa radius kezaliman Zionis itu telah begitu mendunia." (Hal. xiii)

Selamat membaca!
Profile Image for beloved wit.
119 reviews11 followers
January 5, 2016
Ada delapan belas cerita yang merajut kesatuan buku ini. Pilu, tragedi, perjuangan yang diikat dengan pohon cinta dan sabar adalah kata-kata pengikat buku ini. Bagiku, cerita pertama yang dijadikan judul buku ini, Gadis Kota Jerash, yang ditulis oleh Sinta Yudisia adalah cerita dengan pemaknaan yang indah. Tentang gejolak seorang gadis muda berdarah Palestina untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penari di festival Juli kota Jerash. Sebuah mimpi yang tentu mendapatkan pertentangan dari keluarga angkatnya; bahwa tidak layak seorang gadis berdarah Palestina menjadi penari di kota itu. Ada mimpi yang lebih tinggi. Pergolakan ini dimenangkan oleh sisi baik dari segumpal darah yang berdiam di dalam setiap tubuh manusia.

Membaca buku ini tidak hanya membaca sebuah buku kumpulan cerita pendek. Pada setiap awal cerpen diletakkan kutipan beberapa media dan tokoh-tokoh dunia tentang pergolakan yang belum menemukan akhir di bumi para nabi itu. Ini yang menjadikan buku ini berbeda. Palestina memang bukan hanya milik umat muslim. Simpati dunia juga telah menumbuhkan akar yang kuat pada Palestina untuk terus berjuang, mesti memang kemarjinalan itu masih sangat mendominasi.

Tapi, perjuangan harus tetap berlanjut. Meski doa hanya yang hanya bisa kita haturkan untuk perjuangan Palestina.

Bagiku, mengeja nama Palestina seperti mengulang memori tiga tahun yang lalu, pada sebuah untaian kata “Save Our Palestine” pada sebuah biodata seorang laki-laki yang kujumpai pertama kali di sebuah pelatihan kantor di Cibinong. Allah adalah Sang Sutradara Agung. Satu hari setelah selesai pelatihan itu, sang laki-laki mengajukan lamaran kepadaku. Enam bulan kemudian Allah menjadikan kami sepasang suami istri. Alhamdulillah.

Maka, berbicara tentang Palestina, begitu banyak kenangan yang telah terukir, di antara canda, tangis dan tawa dua setengah tahun mahligai pernikahan kami. Untuk Palestina, kuajak kawan-kawan sekalian untuk berbuat mesti itu hanya melalui seuntai doa untuk keadilan dari dunia bagi Palestina karena kita hanya bisa menciptakan perdamaian jika ada keadilan. Begitu ucap seorang dokter Ang Swee Chai, penulis buku From Beirut tu Palestina di halaman 69 buku ini.
Profile Image for Dini Rakhmani.
20 reviews
April 17, 2013
A Tribute to Palestine

Kumpulan kisah pilihan yang menyentuh.
Yang paling sy suka Bayi-Bayi Tertawa karya Habiburrahman El Shirazy.

"We will not go down
In the night,
without a fight
You can burn up our mosques
and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight"

Save Palestine!
Profile Image for Novriana Dewi.
73 reviews
August 7, 2011
Beli buku ini gara-gara tertarik baca judul nya dan posisi nya di Gramed waktu itu adalah di corner best seller books. Tapi sedikit kecewa setelah baca isinya yang ternyata biasa aja. Berat di judul kali ya.. -_-'
Profile Image for Devi Nilasari.
73 reviews6 followers
November 29, 2010
kumpulan cerpen dengan penuh ketidaksempurnaan baik tulisan, gambar maupun ceritanya.
Profile Image for Irawan Senda.
Author 2 books15 followers
November 30, 2010
Saya paling suka dengan cerpen Kang Abik yang berjudul Bayi-bayi tertawa, sindirannya halus, mengena dan tajam....
3 reviews
August 21, 2010

kumpulan kisah ini benar-benar membuat saya terharu, betapa kejamnya zionis israel di palestina
Displaying 1 - 15 of 15 reviews