La première fois que Beaumont dut faire connaissance avec sa douleur, ce fut au lit, vers quelque chose comme trois heures vingt-cinq du matin. Il se retourna sur le matelas, péniblement, et sentit la résistance des couvertures et des draps qui participaient à son mouvement de rotation, mais d'une façon incongrue, en s'y opposant. Comme si une main invisible avait tordu les tissus autour de son torse et de ses hanches immobiles.
Cette nouvelle de J.M.G. Le Clézio a été publiée pour la première fois en 1964, après le succès de son premier roman, "Le procès-verbal", prix Renaudot 1963
Jean-Marie Gustave Le Clézio, better known as J.M.G. Le Clézio (born 13 April 1940) is a Franco-Mauriciano novelist. The author of over forty works, he was awarded the 1963 Prix Renaudot for his novel Le Procès-Verbal (The Interrogation) and the 2008 Nobel Prize in Literature.
فکر می کردم شاید بتوان این ماشین، این ماشین کذایی را با حرف زدن،حرکت کردن،خوردن مشروب، تلفن زدن یا انجام کارهایی از این قبیل متوقف کرد.اما حالا فهمیدم، پی بردم. حالتی است که آدم هرگز نباید از آن پا فراتر گذارد. من دیگر نمیتوانم به عقب باز گردم. من به دردم نیاز دارم. اکنون دیگر من بی وجود او چیزی نیستم. من دردم را دوست دارم. چیزهایی هست که آدم نباید با آن آشنا شود، ولی من دیگر آن را می شناسم.
Beaumont bangun sekitar pukul setengah empat dini hari, merasakan sakit di tubuhnya yang mana “waktu berhenti mengalir, gerak tak hadir, dan perasaan mengekal.” Ia bergelut sendirian di kamarnya mengatasi sakit itu, meminta bantuan nikotin dan alkohol, membuat panggilan di telepon dengan orang asing, bahkan berkhayal bertemu dengan dokter. Sakitnya itu berasal dari dalam mulutnya, entah di gigi atau gusinya, yang jelas belum pernah ia mengalami yang sesakit itu selama 35 tahun hidupnya.
Untuk penderitaan Beaumont yang malang itu, J. M. G. Le Clezio menyediakan sekitar 53 halaman tempat di mana sang tokoh utama mengada bersama keterbatasan dan kelemahan dirinya. Penderitaannya itu tentunya membuat saya yang belum pernah mengalami sakit gigi jadi agak parno terutama ketika dihadapkan dengan kesendirian dari rasa sakit tersebut. Hari ketika Beaumont berkenalan dengan rasa sakit itu adalah hari ketika Beaumont merenungi eksistensinya secara mendalam bahwa sejatinya manusia hanya punya dirinya sendiri ─ hanya tubuh dan jiwanya sendiri, dan tak ada atribut yang lain. Maka dengan rasa sakit itulah secara bersamaan Beaumont coba mendefinisikan dirinya berulang-ulang, coba memaknai nilai-nilai yang melekat padanya, walaupun sulit dan amat menyiksa.
Pada akhirnya, sekitar pukul delapan pagi, Beaumont duduk di atap gedung apartemennya dengan rasa bahagia. Sakitnya itu belum hilang tapi ia kemudian memutuskan untuk menerimanya, pasrah, dan bahkan mensyukurinya. Ia merasa jadi amat kecil sekaligus juga besar, di situlah ia mencapai keselarasan yang tak mungkin ia utarakan lagi. Di balik penderitaan yang ia alami selama berlembar-lembar halaman itu Le Clezio ternyata punya maksud baik memberi kita pelajaran tentang hakikat hidup, walaupun sepertinya belum tersampaikan utuh.
Beaumont berdamai dengan sakitnya, dan ia merasa senang akhirnya.
Warga Bumi berdamai dengan Corona, semoga kita bisa senang akhirnya.
Este escritor se acaba de convertir en un descubrimiento que quiero explorar en su bibliografía, una manera particular de escribir, dinámica, transeúnte, por momentos realismo mágico, atmosférico, con una elección de palabras que te transforman en Beaumont en un momento vulnerable e inevitable de la experiencia humana.
Bien écrit mais je trouve l'idée saugrenue. J'aurais trouver l'intrigue intéressante soit un trait d'humour du début jusqu'à la fin soit pas un mal de dent mais avec le c. Certes le mal de dents est affreux, je pense que l'auteur doit relativiser. De plus, on souffre déjà tous et en plus de relire une histoire de la douleur qui n'apporte rien à l'intrigue. Non merci!
HARI KETIKA BEAUMONT BERKENALAN DENGAN RASA SAKIT DI DALAM DIRINYA. PENULIS J. M. G LE CLEZIO
Novela ini menceritakan Beamont yang mendadak terbangun lewat tengah malam karena sakit gigi. Seperti sakit gigi pada umumnya, karena sangat sakit sampai tidak tahu, sebenarnya yang bermasalah giginya yang mana. Merasakan sakit yang amat sangat adalah satu hal, menunggu pagi datang adalah penderitaan lain yang seakan tak berujung.
Dalam sakit yang amat sangat itu, Beamont menelepon teman perempuannya, memohon mohon agar temannya datang ke rumah Beamont. Si teman perempuan tidak bisa datang karena larut malam, menyuruh Beamont tidur dan berjanji besok pagi pagi langsung datang dan menelepon seorang dokter gigi kemudian temannya menutup telepon. Sakit gigi Beamont semakin tak tertahan dan terasa semakin berat saja. Dalam keputusasaannya, Beamont menekan nomor acak yang diangkat oleh orang yang tidak mau meladeninya, siapa yang mau meladeni telepon dari orang tak di kenal saat lewat tengah malam. Tapi kemudian Beamont menekan nomor acak lainnya dan diangkat seorang gadis yang mendengar keluh kesah Beamont.
Novela ini mengingatkan saya pada sebuah cerpen O. Henry yang berjudul Bukti Cerita. Bukan karena plot atau karakternya yang mirip, dalam Bukti Cerita yang tokoh utamanya seorang redaktur dan seorang penulis fiksi berdebat, apa yang akan diucapkan orang dalam kenyataan jika sesuatu hal terjadi pada dirinya. Dan ternyata saat hal itu benar - benar menimpa kita, reaksi kita bisa saja berlawanan dengan yang kita khayalkan sebelumnya. Saya menduga J. M. G Clezio juga pernah merasakan sakit gigi paling tidak satu kali dalam hidupnya. Sebagai orang yang pernah merasakan sakit gigi, dan bagaimana sakitnya itu; saya tentu tidak akan memilih menelepon orang - orang, karena mendengar suara orang bicara saja sudah bikin saya ingin meruntuhkan dinding kamar. Yang lebih menyebalkan lagi, saat saya kecil dulu, ibu yang tak pernah sakit gigi selalu menyuruh saya tidur saja, nanti bakal sembuh sendiri. Dan ketika belakangan ibu sakit gigi, beliau mengakui, menyuruh orang sakit gigi untuk tidur adalah satu hal paling mustahil.
Hari Ketika Beamont Berkenalan dengan Rasa Sakit di dalam Dirinya juga menegaskan ke pembacanya kalau manusia itu makhluk sosial, saat sakit butuh orang lain. Saat sakit tidak ingin sendiri. Tapi tetap saja mungkin seperti cerpen Bukti Cerita, apa reaksi kita mengalami sakit gigi mungkin saja berbeda dengan reaksi Beamont dalam novela ini. Dan selain kisah Hari Ketika Beamont Berkenalan dengan Rasa Sakit di dalam Dirinya, buku tipis terbitan Trubadur ini juga berisi pidato J. M. G Clezio saat menerima nobel sastra tahun 2008.
Le tout début m'a fait penser à la métamorphose de Kafka. En fait, il s'agit de la description détaillée de la montée en puissance et en angoisse, d'une douleur très forte, insupportable... qui conduit la victime à des comportements annihilant toute dignité. Cette nouvelle est le deuxième livre publié par Le Clézio après le Procès verbal. Pour moi, c'est un bon écrivain, mais pas un écrivain de génie...
Leer "El día en que Beaumont conoció a su dolor" es salir disparado a través del parabrisas de la mediocre percepción humana, para ahogarse en la nauseabunda genialidad que nos regala el gran J. M. G. Le Clézio. Aquellas personas que han padecido un dolor o un malestar tal que los ha hecho sentirse en las fronteras de la cordura encontraran en este libro todo lo que hasta hoy no han podido decir.
"Bahasa merupakan penemuan paling canggih dalam peradaban manusia" ~ J.M.G Le Clezio
Sebuah cerita pendek yang paling jenaka akan tetapi tidak meninggalkan unsur kesusastraan yang mewah, Le Clezio pantas mendapatkan nobel prize tahun 2008. Tak sulit rasanya untuk memahami serta menarasikan buku ini, dengan narasi yang sederhana, penuh humor dan pesan moral yang takjub, buku ini pantas untuk dibaca bagi anda pecinta sastra .
Clezio meneropong rasa sakit tokoh Beaumont yang diceritakan begitu mengerikan, ditambah dengan cekaman kesepian dan ketersiksaan karena kesendirian Beaumont. Lambat laun, Beaumont seperti hidup dan menetap sebagai bagian kecil dengan tubuh yang utuh di dalam tubuhnya sendiri. Saya jadi penasaran dengan kumcer Fever dan tulisan lain dari Clezio yang memenangkan Nobel Sastra ini. Kapan2 akan saya lanjutkan.
Esa falsa ilusión de estar acompañado se desvela, a media madrugada y ¿qué haces? La soledad se presenta ante ti, y sientes la vida salir por tus poros, te vuelves parte del todo porque ya no eres nada. Qué importa que sea una muela, el dolor sólo es la forma en que la vida se escapa, y la forma más pura de volver a conectar con el todo.
Bagian-bagian awal agak ruwet, terjemahannya terasa kaku, seperti diterjemahkan dari Google Translate dengan penyuntingan beberapa kali dan permainan pola kalimat agar tak kentara. Sa coba menerjemahkan pakai Google Translate sepenggal dua penggal dari naskah sumber terjemahan Clezio ini dan hasilnya hampir mirip.
Necesario para quienes se han encontrado con el vacío nocturno.
"Esta noche tuve muchísimo miedo. Nunca me había pasado algo así. Quizá consistía en eso la soledad. [...] Nunca había vivido lo de hoy, este vacío, ese silencio, todo este abandono".