Mereka adalah tiga generasi, yang berjuang untuk negeri yang sama, dengan kisah berbeda.
Malikussaleh, sang pendiri yang penuh kharisma, yang pergi ketika semua rakyat sampai pada puncak cinta terhadap sang raja.
Malikuddhahir terperangkap dalam bara dendam musuh lama, yang nyaris memicu perang saudara yang penuh darah.
Malikuddhahir II, terjebak dalam cinta tak sampai, yang membawa pergi jauh dirinya untuk mengobati luka hatinya, namun kemudian kembali menjadi sosok yang gagah perwira.
Samudra Pasai, kerajaan Islam pertama yang ada di bumi Nusantara. Kerajaan yang makmur dan berdaulat, dengan raja yang adil dan bijaksana.
Tapi semua itu berada di ujung tanduk. Samudra Pasai terancam hancur di tangan keserakahan Gajah Mada.
Selamat datang di dunia hitam dan putih, di mana hukum abu-abu tak dikenal di sini. Yang hitam tetaplah hitam, dan yang putih sudah pasti putih.
Dunia ini dimulai saat wafatnya Malikussaleh, pendiri kerajaan Pasai yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara. Malikussaleh, bernama asli Merah Silu diangkat sebagai Sultan Samudra Pasai yang pertama oleh Nazimuddin, pendiri kerajaan ini.
Kekuasaan Malikussaleh kemudian dilanjutkan oleh Malikuddhahir I, putra satu-satunya Malikussaleh. Di bawah kekuasaan Malikussaleh sinilah cerita Samudra Pasai berpusat.
Hitam putih dunia Samudra Pasai sudah terasa kental sejak cerita dalam buku ini dimulai, dengan batas perbedaan antara kedua warna yang menyimbolkan kebaikan dan kejahatan begitu kentara. Malikussaleh, Malikuddhahir I dan Malikuddhahir II digambarkan begitu putih, selayaknya raja yang dikultuskan rakyatnya. Sementara tokoh antagonis dalam cerita ini, Syarif Imanudin yang memberontak pada kekuasaan Malikuddhahir I misalnya, digambarkan sebagai tokoh yang begitu jahat. Tak ada kebaikan yang dideskripsikan dalam dirinya.
Begitu juga halnya pemaparan penulis mengenai kerajaan Samudra Pasai. Kerajaan ini seolah tanpa cacat: kaya raya, subur, rakyatnya makmur dan sejahtera, penuh keramahan dan kedamaian, aman sentosa, dan sebagainya. Bagaikan dalam mimpi, kehidupan yang dipaparkan di sini.
Satu hal yang membuat saya bertahan untuk membaca buku ini sampai selesai adalah kepiawaian Putra Gara dalam merangkai kalimat dan menjadikannya cerita. Sudah jarang penulis yang mampu menulis se-ciamik ini, dengan sedikit sentuhan sastra melayu yang mendayu.
Selain itu, riset yang dilakukan Putra Gara untuk mengungkapkan kehidupan pada masa kejayaan Samudra Pasai patut diacungi jempol. Saya yakin tak banyak dari kita yang mampu menyebutkan nama raja-raja kerajaan ini, apalagi menyebutkan kerajaan sekutu Samudra Pasai, hingga kunjungan Ibnu Batuttah ke kerajaan ini. Meski ada fakta yang mengganjal di benak saya, benarkah India mengekspor sapi (bukan kerbau), dan Samudra Pasai telah berhasil membuka pertanian perkebunan kopi dan mengekspornya pada masa itu? (lits)
Pengenalan tokoh-tokoh penting (mau nyoba gaya wikipedia menjelaskan serial Roswell):
1) Malikussaleh, (nama lahir: Merah Silu) raja pertama Samudera Pasai. Hanya muncul berperan di Bab1, sebagai raja yang wafat setelah memerintah negeri dengan gilang-gemilang. 2) Malikuddhahir, (nama lahir: Muhammad) putra Malikussaleh, pelanjut tahta Samudera Pasai. Punya obsesi mendirikan kota sebagai prasasti kejayaan kerajaan. Berperan dari episode, eh, Bab 1 hingga banyak ke belakang. 3) Muhammad Rais, Uleebalang selatan, pembawa berita pertama tentang pemberontakan di wilayah selatan kerajaan saat masa berkabung wafatnya Malikussaleh. Muncul sejak Bab 2 hingga penumpasan pemberontakan. 4) Syarif Imanudin, pewaris wilayah Seumerlang yang memimpin pemberontakan di selatan Pasai. Muncul sejak Bab 2 hingga penumpasan pemberontakan. 5) Rahma Malika, permaisuri Malikuddhahir. Sekali2 muncul sejak Bab 2 hingga wafatnya. 6) Fatimah, yatim piatu korban huru-hara pemberontakan di selatan dan dipelihara di istana Pasai. Muncul sejak Bab 4. 7) Zainal Abidin, (nantinya jadi Malikuddhahir II), putra Malikuddhahir. Biasalah... putera mahkota yang disiapkan jadi raja. Berperan sejak masih kanak2 di Bab 8 hingga akhir buku 8) Jufrisyah, pemuda seniman yang jadi kepercayaan Malikuddhahir membangun Pasai. 9) Putra Gara, penulis buku Samudra Pasai Cinta dan Pengkhianatan 10) Aku a.k.a Penyamar, (mencoba jadi) penulis review.
Penting untuk diperhatikan bahwa pengenalan tokoh macam ini dirasa perlu karena membaca buku ini kita bisa membayangkan seperti nonton sinetron. Kenapa? Nanti sajalah penjelasannya. Sementara ini dulu. Nggak spoiler kan? Nggak kan???
For a novel that tells a story about the past, Putra Gara have a huge imagination to describe the scene and background of the story. The first time you read this book, you'll get bored because your imagination was not as huge as the author have. But once you continue to read this book, your imagination will pass your first impression.
Arghh..mengecewakan buat saya.Sebagai orang yg cuma sekedar 'pernah dengar' tentang kerajaan Samudra Pasai sepertinya ekspektasi saya ketinggian buat Novel ini.Saya berharap dapat mengenal Samudra pasai lebih detail seperti Langit Kresna Hariyadi menceritakan tentang Majapahit.Yah cerita di novel ini terlalu 'manis'buat judul se'berat' itu.
this book is good, awesome enough, there is history, love, and passion, the path of the stories is light enough to follow and the climax from the story is great