Seorang intel Prancis raib di Bali ketika memburu jaringan teroris Al-Qaeda. DRM -- Direction d'Exploitation du Renseignement Militaire (Dinas Intelijen Militer Prancis) -- mengirim telik-sandi lain ke Indonesia bernama Axel Guermeur.
Di lokasi kejadian, Guermeur menemukan petunjuk mengenai keterlibatan seorang dokter bedah jantung Indonesia sebagai donator kelompok teroris. Dokter ini adalah salah seorang sasaran penyelidikan Laurent Sardou, intel yang hilang itu.
Sejalan dengan terhimpunnya bukti demi bukti, teror demi teror menghantui Guermeur. Bermula dari upaya pembunuhan melalui sebotol air mineral, bayang-bayang kematian merudung Guermeur. Semakin jelas nasib Sardou, semakin terancam pula nyawa Guermeur di Indonesia.
Setiap kali membaca suatu novel, saya suka sekali membaca bagian "afterwords" (あとがき). Pada bagian ini, tergambar jelas "jembatan tipis" antara cerita fiksi yang terdapat pada batang tubuh novel dengan kisah hidup dan pengalaman nyata yang dialami sang penulis itu sendiri. Emosi pribadi, pengalaman masa lalu, ideologi, sudut pandang, dan keresahan-keresahan yang sang penulis rasakan ketika menulis novel itu bisa meluap langsung ke teks fiksi yang ia tulis. Dengan membaca "afterwords", kita bisa mencari jejak-jejak itu.
Sayangnya, di buku ini, tidak ada "afterwords".
Setelah bab terakhir -- bab 61, tidak ada apa-apa lagi. Hanya selembar kertas kosong, lalu cover belakang.
Begitupun bagian depannya. Tidak ada sama sekali. Setelah dibuka oleh kutipan singkat dari penerima Nobel Kesusastraan tahun 1952, cerita langsung dimulai -- dari klimaksnya -- di halaman selanjutnya.
Satu-satunya "clue" yang bisa saya dapatkan hanyalah pada bagian cover belakangnya. Disitu tercantum riwayat hidup sang penulis : seorang warga Prancis, tamatan akademi militer École spéciale militaire de Saint-Cyr, dinas di Markas Besar Angkatan Bersenjata Prancis, mengajar di Indonesian Language School di Paris, diangkat menjadi atase militer pada Kedutaan Besar Prancis di Indonesia pada tahun 1993 hingga 1997.
Karena penasaran, saya melakukan background checking lanjutan terhadap jati diri sang penulis di Internet. Sebuah wawancara The Jakarta Post pada tahun 2015 menyebutkan bahwa sang penulis telah pensiun dari dinas kemiliteran pada tahun 1999, dan beralih pekerjaan menjadi seorang konsultan bisnis untuk perusahaan Prancis yang beroperasi di Indonesia.
Sekarang, mari kita kupas jati diri sang protagonis di novel ini. Pertama, ia pernah menempuh pendidikan bahasa Indonesia di "Institut Bahasa-bahasa Timur". Kemungkinan besar : Institut national des langues et civilisations orientales (INALCO / "National Institute for Oriental Languages and Civilizations"). Menurut siaran pers dari Kemendikdasmen, Bahasa Indonesia sudah diajarkan di INALCO sejak tahun 1841 -- saat itu instansi ini masih bernama Langues O', singkatan dari Langues orientales (bahasa-bahasa timur).
Sang protagonis disebutkan juga pernah menjadi perwira muda di Direction du renseignement militaire (DRM) -- sebuah badan intel di Angkatan Bersenjata Prancis. Kemudian, pada pertengahan plot, ia menyamar sebagai seorang konsultan bisnis untuk Total Indonesia (kini namanya "TotalEnergies"), perusahaan migas asal Prancis yang beroprerasi di Indonesia.
Ada tiga kesamaan di sini : sekolah bahasa Indonesia, Angkatan Bersenjata Prancis, konsultan bisnis untuk perusahaan Prancis yang beroperasi di Indonesia.
Setelah menyadari banyaknya kemiripan antara latar belakang sang penulis dan sang protagonis itu sendiri, setiap kali saya membaca novel ini halaman per halaman, saya terus bertanya-tanya, mencoba memilah-milah mana yang kisah nyata dan mana yang fiksi di sini. Juga sekalian menerka-nerka, apa alasan dan motivasi utama sang penulis membeberkan semua cerita ini dalam bentuk "novel fiksi".
"Sedikit banyak ada kaitannya dengan tugas saya sebagai aparat intelijen di negara ini," ujar sang penulis dalam suatu wawancara dengan TEMPO pada 29 Desember 2009. Dalam artikel tersebut dijelaskan kembali bahwa ia menulis novel itu "setelah ia pensiun dan menjadi konsultan sebuah perusahaan minyak yang berpusat di Kalimantan."
Menurut Wikipedia, lapangan minyak awal Total Indonesia itu berlokasi di sekitar delta Mahakam, Kalimantan. Hmm..
Dalam artikel yang sama, ia kembali menekankan bahwa "inti cerita hanyalah fiktif belaka", namun hal-hal mengenai bagaimana sebuah operasi intel dijalankan, semuanya nyata. Hmm. Menarik.
Ah. Secara kebetulan, salah satu pertanyaan besarku baru saja terjawab oleh artikel TEMPO ini.
Pada artikel ini, dicantumkan komentar oleh seorang pengamat seni yang bernama Jean Couteau. Jean menyebut bahwa penulisan novel dan buku sastra dari kalangan militer berpangkat tinggi kini menjadi tren baru di Prancis. Tujuan utamanya adalah untuk mengangkat gengsi sang penulis, dengan menjelaskan kepada publik bahwa operasi militer yang mereka lakukan tidak hanya mengandalkan pendekatan fisik, tetapi juga mengandalkan pemahaman terhadap kondisi sosial budaya setempat.
Nama Jean sebenarnya muncul dalam halaman kedua di novel ini. Tak lain dan tak bukan, sebenarnya ialah yang menerjemahkan novel ini dari Bahasa Prancis. Judul asli novel ini dalam bahasa Prancis adalah "mode sans échec", artinya "safe mode". Makna metaforanya : "melakukan sesuatu secara aman, cara konvensional yang telah teruji dan dapat dijamin keberhasilannya, dengan menghindari resiko dan eksperimen-eksperimen yang belum teruji." Saya masih belum menemukan hubungan antara judul asli novel ini dengan isi novelnya.
Kesimpulan akhir : Jika Anda penasaran bagaimana cara kerja intel Prancis beroperasi di Indonesia, silahkan baca buku ini.
Masih penasaran dengan lanjutannya seperti apa. Sejauh ini, novel mempunyai introduksi yang panjang dan cukup membosankan. Namun, cerita menegangkan dimulai ketika tokoh utama mulai mengemban tugasnya sebagai agen rahasia.
Many a fiction novels on espionage, intelligence and counter-intelligence operations based their plots on some grand, or in some cases, over-the-top conspiracy theories. I haven't read any of Jason Bourne's trilogy, but I watched the movie adaptations. And yes, they're all meddling in some conspiracies here and there. Many a times these kind of stories captured my full attention, totally mesmerizing.
Sadly to say, this book failed in everything it tries to represent. The plot was unbelievably silly. The spy's many moves felt like an amateur, even Emil The Detective can do better. Overall, I am totally disappointed with this novel. Highly unrecommended, even if you have nothing to do and incidentally find this book lying about within your reach.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jarang-jarang ada novel luar yang setting-nya di Indonesia, spyfiction lagi. Ambil buku ini dari sale gramedia cuma ingin tahu POV mereka tentang indonesia dan orang-orang indonesia. Premis ceritanya lumayan, meski agak stereotip, dan tamatnya baru ketahuan ternyata bukan cerita spy dan tidak ada hubungannya dengan terorisme yang digadang-gadang di awal.
"Semua orang Indonesia itu crazy. Hanya yang edanlah yang betah tinggal bersama mereka. Dan hanya yang berani mati saja yang sanggup hidup di Jakarta!"p.38
Benarkah? *yang hidup di Jakarta tapi bukan anggota pasukan berani mati*
Harusnya 3 bintang, namun info demi info yg dengan mudahnya diperoleh sang tokoh utama membuat janggal. Selain itu "kejadian yg sebenarnya terjadi" yang dipaparkan melalui "analisa tokoh utama" rasanya loncat terlalu jauh.