Seorang perawat fresh graduate mengalami konflik yang berkepanjangan pada awal masa kerjanya di sebuah institusi kesehatan. Ia orang yang sangat teguh berpegang pada prinsip-prinsip hidupnya, sementara berbagai hal yang terjadi di lingkungan kerjanya terkadang begitu bertolak belakang dengan prinsip yang dipegangnya. Di rumah sakit itulah ia bertemu dengan Sukarto, salah satu kaum papa yang mengharap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan untuk menangani penyakitnya yang semakin parah. Malang baginya, bukannya semakin pulih kondisinya, justru kematian yang menjemputnya. Kasus kematiannya, yang tidak diketahui oleh perawat yang jaga saat itu, di-blow up oleh salah satu keluarga pasien yang merasa ‘dikecewakan’ oleh pihak rumah sakit. Rumah sakit pun merasa kebakaran jenggot, dan khawatir ‘kasus-kasus lain’ yang telah dipeti-es-kan ikut terkuak. Ini adalah sebuah novel yang diilhami dari fakta-fakta yang terjadi di sebuah institusi kesehatan. Telah banyak pihak yang merasa dirugikan, namun kebanyakan berasal dari kalangan orang yang tidak mampu sehingga mereka tetap bungkam. Adapun yang lebih terpelajar, berusaha menggugat. Meskipun tahu bahwa ia hanyalah seekor semut yang menantang gajah. Tak banyak hal yang akan berubah. Hukum rimba berlaku leluasa di negeri ini. Siapa yang kuat dialah sang raja. Siapa berkuasa dialah pemenangnya. Tak peduli di mana pun areanya. Tak peduli apakah itu menyangkut nyawa manusia. Yang masih punya hati tersingkiri. Yang mempertahankan nurani menjadi orang-orang yang ditertawai. Dunia ini adalah sebuah panggung, di mana semua arogansi menjadi mutlak demi mendapatkan materi. Novel berjudul Livor Mortis ini bercerita tentang fenomena diskriminasi sosial yang terjadi dalam institusi kesehatan. Mungkin bukan hal yang istimewa membicarakan diskriminasi sosial di sekitar kita, sudah begitu umum, bahkan seolah wajar-wajar saja terjadi. Mulai dari angkutan umum hingga ke instansi-instansi. Siapa punya duit, dia yang lebih cepat dilayani dan lebih dihargai. Maka terciptalah ‘kelas-kelas layanan’ yang siapapun pasti tahu. Mulai dari yang ekonomi, bisnis, hingga eksekutif. Pelayanan dan fasilitas akan disesuaikan dengan ‘berapa banyak si peminta fasilitas mampu membayar’. Tak hanya di negeri kita tercinta ini, tapi juga di luar negeri. Akan tetapi, fenomena diskriminasi sosial yang terjadi dalam institusi kesehatan memang sungguh merupakan sebuah ironi. Di tengah himpitan cobaan yang mendera orang-orang sakit, mereka masih harus menerima perlakuan yang berbeda dari si pemberi fasilitas kesehatan, hanya karena mereka tak punya. Hanya karena mereka tak mampu membayar lebih untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Ironis sekali ketika diskriminasi semacam ini berhubungan dengan nyawa manusia!? Melalui novel ini, penulis berharap bisa menyentuh nurani pembaca. Berharap bisa membuka hati siapapun yang pernah mengalami situasi yang sama. Bahwa nyawa manusia bukanlah mainan yang bisa dihargai dengan materi. Mungkin terlalu idealis bagi sebagian orang, tapi ada baiknya melakukan ‘sesuatu’ untuk merubah paradigma pelayanan beberapa instansi kesehatan yang masih juga menunjukkan diskriminasi sosial. Semoga novel ini bisa memberikan manfaat yang diharapkan.
Deasylawati Prasetyaningtyas lahir di Magelang 2 Desember 1984. Putri ke-2 pasangan Tiono Hadi Suprapto dan Endang Sriyatun ini mulai aktif menulis sejak bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Solo pada bulan Agustus 2005. Awal ia mengirimkan naskah ceritanya adalah dalam lomba novellet yang diadakan oleh Majalah Muslimah tahun 2004. Dari lomba tersebut, istri dari Eka Adi Nugraha dan ibu dari Azimah Zahrotulfirdaus Al-Fadhl ini berhasil meraih penghargaan pertama dengan judul 'Alasan untuk Kembali' (Juli, 2005). Beberapa karyanya pernah dimuat di koran SOLOPOS dan majalah Gizone. Prestasi berikutnya adalah menjadi Juara I Lomba Penulisan Novel Remaja Islam Tiga Serangkai tahun 2006 dengan judul 'Ketika Batu Mulai Bicara' yang sekarang sudah diterbitkan oleh Tiga Serangkai dengan judul 'Quraisy Terakhir' (Tiga Serangkai, 2006). Lulusan Poltekkes Surakarta angkatan 2006 ini juga bekerjasama dengan NasSirun PurOkartun untuk membuat cergam 'Obi: Harumnya Bunga, Pedasnya Cabe' yang diterbitkan oleh IHF (2007). Ia juga menulis delapan buku non fiksi untuk SD dan SMP, bekerjasama dengan penerbit Tropica (2007) dengan judul antara lain, 'Apa Itu Narkoba', 'Rakas Juragan Kertas', 'Mari Menjaga Kesehatan Otak', 'Aku Bisa Membuat Makanan Kecil', 'Derita Pengguna Obat Terlarang', 'Bagaimana Menjauhkan Diri dari Narkoba', 'Bahaya Minuman Keras', dan 'Bagaimana Minuman Keras Merusak Tubuh Kita'. Karya yang berikutnya diterbitkan oleh penerbit Indiva Media Kreasi dengan judul 'Sayembara Mencari Cinta' (fiksi, Indiva, 2007), 'Tetap Happy Saat Menstruasi' (nonfiksi, Indiva, 2007), 'How to be a True Moslem Girl' (nonfiksi, 2007), 'Awas Kesetrum Cinta' (antologi, nonfiksi, 2008), antologi bersama FLP Jawa Tengah, 'Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf' (Indiva, 2008), serta antologi bersama Pipit Senja, dkk., 'Jangan jadi Perempuan Cengeng' (antologi, nonfiksi, 2008). Novel berikutnya adalah sebuah novel kocak yang mengomentari fenomena Ayat-Ayat Cinta, berjudul 'Balada Ayat-Ayat Cinta: The Fahri Holic! '(Indiva, 2008), dan novel tentang kritik sosial dunia medis yang berjudul 'Livor Mortis'. Thriller Islaminya diterbitkan oleh penerbit Tiga Serangkai dengan judul 'The Half Mask' (Tiga Serangkai, 2008) dan novel tentang penderita autis yang berjudul 'Hades' diterbitkan oleh penerbit Diva Press. Buku di tahun 2009 adalah buku nonfiksi 'Psiko Girly' (Indiva, 2009), pocket book: 'How to be a True Moslem Girl '(Indiva, 2009), antologi FLP 'Luka Adalah Cinta' (Indiva, 2009) dan novel anak 'Salman: Sang Detektif Cilik' (Indiva, 2009). Buku baru di tahun 2010 adalah novel remaja 'Ore Wa Ren' (Indiva 2010), serial SMC#3: 'Don't Take Me Out' (Indiva 2010), dan buku anak 'Shirah Nabi Muhammad untuk Anak' (Indiva 2010)
L I V O R M O R T I S (Sebuah Tragedi Kemanusiaan di Balik Institusi Kesehatan)
Judul Buku : LIVOR MORTIS Genre : Novel Penulis : Deasylawati Prasetyaningtyas Penerbit : Indiva Media Kreasi Tebal : 240 Halaman
Masih ingatkan kita nama Prita Mulyasari? Nama yang beberapa tahun yang lalu mendadak tenar dan menjadi headline berbagai media cetak maupun elektronik atas klaimnya tentang segi buruknya pelayanan medis dan etika keprofesian para pelayan kesehatan? Yah, mayoritas kita tentunya telah mengetahui apa yang dialami Ibu dari dua orang balita ini. Prita diberitakan dengan sengaja dipenjara atas alasan dugaan pencemaran nama baik dan penyebaran berita fitnah. Sekedar flashback, Prita hanya ‘curhat’ kepada teman-temannya di sebuah milis tentang ketidakpuasannya akan pelayanan kesehatan di sebuah rumah sakit internasional. Namun apa hendak dikata? Malah tuduhan pencemaran nama baiklah yang didapatkannya, bahkan sempat dipenjara. Kasus prita hanyalah puncak gunung es dari banyaknya kasus tragedi kemanusiaan yang ‘bersembunyi’ di balik institusi kesehatan di negeri ini. Ada banyak sekali kasus yang sungguh membuat kita ‘sesak napas’, karena bagaimanapun kesehatan adalah kebutuhan primer kita sebagai manusia. Namun oleh beberapa oknum di dunia kesehatan, malah nyawa manusia, terutama dari kelas ekonomi ke bawah, tidak dianggap sama sekali. Adalah Deasylawati Prasetyaningtyas, seorang perempuan penulis kelahiran Magelang, 2 Desember 1984, yang melukiskan carut maruknya institusi kesehatan dengan sesuatu yang beda; fiksi!. Membaca buku setebal 240 Halaman ini, kita akan disajikan fakta-fakta tentang banyak hal yang ujung-ujungnya membuat kita (mungkin) marah, prihatin atau mungkin terpukul karena sajian fakta-fakta dalam buku ini memang BENAR-BENAR ADA (sengaja saya tulis dengan huruf besar) dan terjadi di sekitar kita.
TENTANG CARUT MARUK DUNIA KESEHATAN Novel berjudul Livor Mortis ini bercerita tentang fenomena diskriminasi sosial yang terjadi dalam institusi kesehatan. Dalam novel ini anda akan ‘melihat’ banyaknya kesenjangan antara si kaya dan si miskin dalam pelayanan kesehatan, bagaimana Pak Karto, kakek tua renta yang sakit-sakitan, yang datang ke rumah sakit dengan sepeda buntut (yang malangnya hilang dicuri maling di halaman rumah sakit). Pak Karto dating ke rumah sakit bersama istrinya, Ponirah. Mereka adalah tipe masyarakat kelas bawah yang hidup miskin dan sangat ‘nerimo’. Juga Robi, seorang suami yang menunggu istrinya melahirkan tapi malangnya malah istrinya terkena malpraktek akibat kecerobohan para perawat ketika melakukan operasi Caesar, sehingga pasca melahirkan, istrinya mengalami kondisi kesehatan yang semakin buruk.
Novel ini dibuka dengan babak pendahuluan yang sangat mencekam oleh Deasilawaty; … Bangsal Teratai II, Kamar Tujuh, Pukul 04.00 Pagi “Mati! Bapak itu sudah mati!” Seru seseorang, menunjuk kearah pria paruh baya berbaju kekuningan dengan sarung kotak-kotak lusuh yang begitu usang …… Dengan bergidik ngeri, Fatiya menaikkan kaos usang Pak Karto, memiringkan tubuh gemuknya yang tak wajar. Rasanya seperti membalikkan sebuah papan. Orang-orang mengawasinya. Fatiya menarik napasnya, melihat pada punggung pria malang yang tak ada penunggunya itu. Dan … itu dia …. Salah satu tanda pasti kematian, yang jelas memastikan bahwa seseorang memang benar-benar telah mati. Pergi meninggalkan dunia ini. Meninggalkan jasadnya yang menjadi kaku tanpa arti. Livor mortis. Tanda lebam pada mayat yang akan menunjukkan posisi mayat ketika meninggal. Tanda merah keuguan itu timbul karena penumpukan cairan darah pada area yang terletak di bawah dari mayat, mengikuti gravitasi. Tanda yang akan menetap setelah lebih dari delapan jam .... (Halaman 7-9)
Sebagai tokoh utama cerita dalam novel ini, Deasilawaty menghadirkan Fatiya, Seorang perawat fresh graduate yang mengalami konflik berkepanjangan pada awal masa kerjanya di sebuah institusi kesehatan bernama RSUD dr. Sarkadi, yang menjadi latar sebagaian besar pristiwa dalam novel ini. Ia orang yang sangat teguh berpegang pada prinsip-prinsip hidupnya, sementara berbagai hal yang terjadi di lingkungan kerjanya terkadang begitu bertolak belakang dengan prinsip yang dipegangnya. Didorong oleh rasa kemanusiaannya yang tinggi, juga oleh rasa bersalah, Fatiya sebisa mungkin membantu pak Karto. Namun malangnya, Sukarto (nama lengkap pak Karto), kaum papa yang mengharap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan untuk menangani penyakitnya yang semakin parah, bukannya semakin pulih kondisinya, justru kematian yang menjemputnya. Kasus kematian pak Karto, yang tidak diketahui oleh perawat yang jaga saat itu, di-blow up oleh keluarga Robbi dan juga beberapa keluarga pasien yang merasa ‘dikecewakan’ oleh pihak rumah sakit. Bahkan beritanya sampai dikorankan di beberapa surat kabar. Rumah sakit pun merasa kebakaran jenggot, dan khawatir ‘kasus-kasus lain’ yang sengaja ditutupi ikut terkuak.
SEBUAH SISI Banyaknya kasus malpraktek dan diskriminasi di tanah air, saya yakin, menjadi inspirasi awal Deasilawaty menulis novel ini. Sebagaimana yang dituturkannya di blognya, www. deasylawati-p.blogspot.com, “Ini adalah sebuah novel yang diilhami dari fakta-fakta yang terjadi di sebuah institusi kesehatan. Telah banyak pihak yang merasa dirugikan, namun kebanyakan berasal dari kalangan orang yang tidak mampu sehingga mereka tetap bungkam. Adapun yang lebih terpelajar, berusaha menggugat. Meskipun tahu bahwa ia hanyalah seekor semut yang menantang gajah. Tak banyak hal yang akan berubah. Hukum rimba berlaku leluasa di negeri ini. Siapa yang kuat dialah sang raja. Siapa berkuasa dialah pemenangnya. Tak peduli di mana pun areanya. Tak peduli apakah itu menyangkut nyawa manusia. Yang masih punya hati tersingkiri. Yang mempertahankan nurani menjadi orang-orang yang ditertawai.” Membaca novel ini, saya jamin, akan semakin menambah wawasan kita tentang dunia kesehatan dan juga ada beberapa kosa kata dari dunia kedokteran yang diselipkan dengan sangat manis oleh penulisnya, sehingga sebagai pembaca, anda tidak akan merasa sedang ‘diceramahi’. Sebagai ‘pemanis’ Deasilawaty menelipkan kisah-kisah asmara beberapa orang di institusi kesehatan ini, yang semakin menambah rasa penasaran kita akan alur yang disajikan dengan sangat cerdas dan rapi. Indiva Media Kreasi-pun, seakan tak mau setengah-setengah menggarap buku ini. Dengan judul cover yang dicetak dengan huruf timbul dan ilustrasi lay out yang menarik, semakin memberikan nilai tambah untuk novel ini. Ditambah lagi novel ini hadir dengan jalan cerita yang beda ditengah menjamurnya novel-novel dengan tema cinta yang ‘biasa’. Hanya saja, entah kenapa, ketika selesai membaca sampai halaman 238, saya merasa ada yang kurang di dalam novel ini. Ya, menurut saya masih banyak yang bisa digarap dari novel ini. Masih banyak sisi-sisi yang kosong yang bisa diisi dengan kisah yang akan sangat menarik. Bahkan, jujur, sekalipun saya pikir ending yang ditawarkan penulis cukup bagus, saya merasa kecewa. Mengapa seperti ini? Maksudnya? Tak perlu bingung! Saya sarankan anda segera ke toko buku di sekitar anda, meraih buku ini di rak buku, membawanya ke kasir dan segera membaca buku ini. Karena sungguh, bagi saya, ini buku yang keren dan patut diapresiasikan. Dan saya yakin, anda tidak akan berhenti membaca sampai halaman akhir. (akhi dirman)
Tulisan yang menyesakkan ketika institusi kesehatan kehilangan jati dirinya dan malah lebih berorientasi bisnis.
Salut dengan cara penulis menyajikan kehidupan di RS sedemikian nyata. Aku dapat tambahan banyak istilah medis di sini.
Livor mortis yang juga jadi judul dari novel ini adalah salah satu tanda kematian berupa tanda lebam pada mayat yang akan menunjukkan posisi mayat ketika meninggal. Tanda merah keunguan itu timbul akibat penumpukan cairan darah pada area yang terletak di bawah dari mayat, mengikuti gravitasi. Tanda itu akan menetap setelah lebih dari delapan jam. Jika kematian belum lebih dari 8-12 jam, warna merah keunguan itu akan menghilang jika ditekan kuat-kuat.
Tanda itu tak kunjung hilang setelah Fatiya menekan kuat-kuat punggung Pak Karto, seorang pasien kelas 3 di Bangsal Teratai II. Lelaki pengidap gagal ginjal dan diabetes melitus itu sudah meninggal lebih dari 8 jam di bangsal yang ia jaga tanpa ia ketahui! Sebenarnya malam itu bukan giliran jaganya karena Fatiya sudah melaksanakan sif pagi. Namun, seniornya, Mbak Yumi, tiba-tiba minta tolong karena rekannya mendadak tak bisa ikut berjaga. Karena kelelahan, Fatiya tertidur dan terjadilah insiden itu. Sang pasien meninggal tanpa mendapatkan pertolongan terakhir. Jelas ini skandal. Kehebohan itulah yang membuka kisah novel ini. Cerita kemudian ditarik ke belakang ke saat Fatiya baru tiba di RSU Sakardji sebagai seorang perawat honorer yang baru diterima bekerja dan menjalani orientasi.
Salah satu tugas Fatiya adalah memastikan infus sudah terpasang bagi pasien. Bagi yang kemungkinan mendapat donor darah karena Hbnya rendah, harus diganti dengan set transfunsi. Selangnya sama dengan selang infus yang biasanya. Hanya saja pada bagian pangkal dekat sambungan langsung ke cairannya, terhadapat satu ruangan yang memiliki saringan memanjang ke bawah. Gunanya untuk menyaring sel-sel darah yang nantinya dialirkan untuk memulai donor darah.
Selain itu tugas Fatiya adalah memasang kateter sekalian urine bag bagi pasien. Kalau pasien belum buang air besar karena tidak bisa, biasanya dilakukan enema. Caranya, sebuah selang panjang dan besar disambungkan pada ember kecil yang berisi cairan sabun yang dicampur air (paling bagus menggunakan gliserin, tapi menggunakan sabun mandi sudah sangat mewah, lebih sering menggunakan sabun cuci piring) dan dimasukkan ke dalam usus besar melalui lubang anus. Air campuran sabun yang licin itu akan masuk ke dalam usus besar dan mendorong kotoran dari dalam keluar. Air sabun akan keluar bersama kotoran tadi.
Para pegawai senior diceritakan memperlakukan Fatiya dengan sangat tidak ramah. Kecuali seorang perawat bersuara lantang bernama Lukman, seorang perawat yang sering membantu ketika motornya mogok, Haris, dan seorang dokter residen spesialis bedah bernama Dokter Pras. Dokter Pras dan Haris inilah yang nantinya akan menyemai benih-benih getaran di hati Fatiya.
***
Awalnya kisah-kisah di novel ini disajikan secara paralel seolah tak berkesinambungan, kecuali bahwa setingnya sama-sama di RSU Sakardji. Selain kisah soal Fatiya dan pasien miskin bernama Karto (dan istrinya, Ponirah), ada kisah tentang Robi yang menemani istrinya, Lena, menjalani perawatan di rumah sakit itu karena solusio plasenta.
Solusio plasenta, adalah keadaan ketika plasenta atau ari-ari terlepas sebelum waktunya. Hal ini bisa menyebabkan pendarahan. Jika sang ibu tidak segera dioperasi dan bayinya dikeluarkan, bisa gawat. Bayi bisa mengalami asfiksia. Seperti jika ada air di rahim dan bayi tenggelam di dalamnya.
Namun, setelah dirawat hingga nyaris sebulan, kondisi Lena dan bayinya tak segera membaik. Lena terus-menerus mengeluhkan rasa sakit di perutnya. Lena pun kembali dirontgen, keputusannya adalah harus diadakan operasi ulang karena ada kasa tertinggal di perutnya!
***
Awal pertemuan Ponirah dengan Fatiya adalah saat gadis itu mendapati sepeda yang diparkir Ponirah di depan RS hilang diambil orang. Fatiya seharusnya langsung melaporkan kejadian itu pada satpam. Namun, bus kota yang ditunggunya sudah datang. Karena merasa bersalah, saat mengetahui bahwa suami Ponirah, Karto, dirawat di Teratai II, Fatiya berusaha menebus perasaan bersalahnya dengan sering menjenguk dan membawakan makanan bagi pasangan itu.
Cara Ponirah dan Karto diperlakukan oleh pegawai rumah sakit pada awal kedatangan mereka di RS benar-benar membuat geram. Ponirah bahkan tidak mengerti apa itu Askesin (Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin) dan si pegawai administrasi terkesan lebih mementingkan masalah administrasi meski kondisi Karto sudah sedemikian parah. Padahal, ternyata soal Askesin bisa diurus setelah Karto mendapat penanganan dari RS. Ya, Tuhan.
Beruntung masih ada Dokter Pras, sang dokter residen spesialis bedah yang masih memiliki hati nurani. Ia tak seperti rekan-rekannya yang memperlakukan para pasien Askesin sebagai sarana latihan, ia benar-benar ingin menyelamatkan mereka. Kasihan dengan kondisi Pak Karto yang sudah mengalami CRF dengan gejala uremia, Dokter Pras merogoh koceknya sendiri untuk memberikan perawatan CAPD pada sang pasien. CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) adalah salah satu bentuk dialisis yang menggunakan teknik operasi, tetapi memungkinkan pasien untuk bisa terus bermobilisasi dan menjalankan aktivitas sehari-harinya. Metode cuci darah ini akan mengeluarkan racun-racun ureum-kreatinin yang menumpuk pada tubuh Pak Karto.
Biasanya bila fungsi ginjal sudah benar-benar menurun, prosedur yang diambil adalah HD yang lebih sederhana daripada CAPD yang ribet karena harus dipasang selamanya pada tubuh pasien. Namun, kelemahan HD adalah pasien tidak bisa melakukan aktivitas apa pun saat menjalaninya dah harus bolak-balik ke RS untuk menjalaninya. HD memang lebih murah karena alatnya bisa dipakai secara bergantian dengan pasien lain. Maka adalah ironi ketika akhirnya Pak Karto berakhir seperti itu.
***
Robi yang sudah sangat jengkel dengan perlakuan pegawai RS, jadi curiga karena tawaran operasi ulang bagi Lena. Apalagi pihak RS membebaskan biaya rontgen dan operasi ulang. Bersama kawannya yang seorang pengacara, Robi pun bertekad menyelidiki kasus itu. Namun, para pegawai termasuk Fatiya terpaksa menutup-nutupi kisah soal tertinggalnya kasa pada perut Lena demi nama baik RS.
***
Aku sepakat dengan pendapat Mbak Afra, harusnya buku ini lebih tebal. Endingnya bisa dibilang cukup realistis, tapi justru terasa menyesakkan akibat tanpa resolusi. Semua dibiarkan menggantung. Pegawai yang jujur malah mengundurkan diri. Dan para pasien korban pun harus pasrah ketika kasusnya ditutup lalu terlupakan.
Berbeda dengan cerpen, novel lebih menyita waktu baca dan setelah disuguhi kondisi menyakitkan dari awal sampai akhir, wajar jika pembaca berharap akan ada resolusi yang lebih melegakan di akhir.
Novel ini memang murni menghadirkan kisah perjuangan para pasien yang dirawat di kelas tiga, dan ditemukan mendadak tidak bernyawa. Robi bersama Lena istrinya, ikut mewarnai karena Lena ternyata solutio placenta dan harus dioperasi segera. Naasnya, ada kassa yang tertinggal sehingga butuh operasi kedua kalinya. Tentu saja insiden itu ditutupi rumah sakit. Kisah cinta dibalur tindakan di ruang operasi. Fatiya yang perawat baru ternyata teman lama Robi. Sampai Robi pulang dengan membawa mayat bayinya yang asfiksia berat, kasus ini bergulir lambat. Akhirnya Robi bertemu dengan konsultan hukum teman lamanya. Mereka berniat membawa masalah ini ke hukum. Apa daya RS lebih cerdas dan teman makan teman terjadi. Kasus semuanya ditutup dengan suap, termasuk menyuap teman Robi.
Malpraktek dan keseharian hidup dokter memang sering bersinggungan. Human error terjadi bukan saja karena keteledoran tapi karena sistem yang kurang baik, boleh jadi sistem pemberian gaji, aplusan tenaga medis sampai jam istrirahat. Tidak sedikit dokter dituntut kerja di luar kapasitas wajar manusia, tidak tidur berjam-jam. Belum lagi sistem pendidikan kedokteran dari koas sampai residen tidak satupun digaji, kerja rodi, dan mungkin dapat berakhir pada kelalaian dalam menangani pasien.
Saya acungi jempol mb Deasylawati melakukan riset mendalam sehingga menuliskan novel kedokteran ini dengan baik. Walaupun kurang berimbang karena tidak diberikan tokoh "pengimbang" lain, sehingga kesan yang ditangkap seusai membaca adalah "semua dokter ceroboh dan kejam". Padahal saya yakin masih banyak dokter beridealisme tinggi dan tidak terpengaruh pada sistem digdaya RS. Maklum tokoh Fatiya, perawat baru, yang dihadirkan belum mampu memainkan peran "penyeimbang" novel ini. Parahnya, di ending malah disebutkan perawat senior yang juga menerima suap. Atau mungkin suasana "nyata" sudah lebih parah dari sekadar novel ini, entahlah.
Saya suka buku ini, terlebih, saya adalah seorang perawat juga...^^ Mbak Deasylawati benar-benar piawai menggambarkan gambaran rumah sakit secara nyata beserta beragam kejadian yang ada di sana. Walau agak sebel sama endingnya... hehehe...
Ceritanya bagus. Mengungkap sisi lain sebuah institusi kesehatan yang sangat jauh dari etika sosial. Kisah hidup yang benarbenar ADA di sekitar kita saat ini. Dengan bahasa yang ringan dan tak luput dari cerita cinta, buku ini sukses menyajikan pesanpesan yang indah.
pantes dibaca dokter calon dokter perawat calon prawat. ataw sapa ja yang mengalami krisis idealisme... kususnya di dunia kesehatan. apa lagi yang menganggap kesehatan sebagai ladang bisnis..