Hawa-hawanya dugaan saya terhadap serial ini kok bakalan bener ya...
Tokoh Hyde dan hubungannya dia terhadap hakim muda Jekyll tidak berkembang ke arah yang menarik. Malahan makin banyak lelucon-lelucon gak penting yang timing-nya gak jelas.
Karakter si Jekyll berubah jadi lebih kelam, tapi bukan karena memperjuangkan keadilan sejati. Hakim muda Jekyll hanya berjuang supaya pendapatnya menang, dan dengan cara yang kekanak-kanakan pula.
Yang paling parah menurut saya adalah adegan peperangan mental Jekyll ketika harus berhadapan dengan atasan dan idolanya, pak Yakushiji. Benar-benar menggelikan dan lebay. Bikin saya meringis dan ngakak dengan alasan yang salah..
Entah di vol. 2 atau vol. 3 , sepertinya ada twist yang cukup menarik tentang tokoh Hyde dan akibat dari tingkah lakunya. Dan hanya karena ini niat saya untuk menamatkan serial ini muncul kembali.
...meskipun buku berikutnya mungkin bakal dibaca sambil lalu saja :p
First of all, I must put it in the record that Jekyll Henmi's super curly hair is totally ridiculous! In fact, totally distracting. I will not take a judge who support that kind of hairstyle seriously.
Second, this volume is really over-the-top. Too much dramatization, I tend to skip a couple of pages. What's with the high fortress wall? Or the bows and arrows? And to exaggerate it, there's another analogy: domino effect.
The whole second volume dedicated just for one story, how Judge Henmi try to drive all jurors to reach a unanimous verdict: guilty.
adegan Jekyll berusaha memengaruhi para juri ampe digambarin kayak lagi perang beneran... agak2 lebay seh, tapi ya mantap juga alasannya Jekyll, en si ibu ya ampun tega bener...