I'm a poet, short story writer, essayist and translator. I'm also an editor of the Indonesian underground literary journal "boemipoetra". I have published three books of my own poetry collection and a book of essays on contemporary Indonesian literature. My poetry, stories and essays have been published in more than 20 anthologies in Indonesia and New Zealand. Now I live as a full-time writer in Jogjakarta, Indonesia.
Khazanah sastra Indonesia tak akan ramai tanpa ada orang seperti Saut Situmorang! Saut dan orang-orang serupanya jelas menolak posisi status-quo dalam sastra Indonesia yang (menurutnya) penuh dengan benalu dan racun ini.
Saut yang terkenal dengan marah-marahnya itu ternyata tak serta merta menjadi jadi orang tua tantrum. Ia hadir di tengah-tengah sastra Indonesia sebagai pembeda, sebagai yang menentang budaya sanjung dan seremonial. Saut, tentu menawarkan sebuah pandangan yang melawan arus utama: ia merecoki linimasa panjang sejarah sastra Indonesia. Lebih tepatnya, Saut mengkritisi segala hal dalam sastra Indonesia, dengan dasar kewaspadaan bahwa barangkali terjadi satu agenda politik di dalamnya.
Tawaran-tawaran itu merentang dalam esai yang membahas hal-hal yang tampak luput dari kewaspadaan publik sastra: sastra koran, sastra wangi, penghargaan-penghargaan, sampai kritik karya Ayu Utami yang menohok dan bikin pembaca jadi "Eh, iya... Bener juga, ya?". Misal, bagaimana Saut mencurigai keterlibatan koran Kompas dan kelompok TUK, mengingat di bawah redaktur Hasif Amini, kelompok tsb adalah kelompok yang paling banyak mendapatkan keuntungan--sampai publikasi satu halaman penuh di rubrik sastra pada koran minggu itu.
Tak perlu kita jadi sensitif melihat fenomena politik dalam sastra, sebab menurut Saut politik sastra yang dibawa oleh TUK sangat ketara adanya. Kita tinjau bagaimana wartawan budaya Media Indonesia dicopot dari posisinya setelah mempublikasikan sebuah laporan atas festival sastra yang dilakukan Utan Kayu, seberapa berkuasanya Goenawan Mohamad dalam sastra Indonesia sampai hari ini--hingga ia mampu mencoret nama-nama dari radar yang mengganggu stabilitas kuasanya?
Politik ini merebak kian jauh ke inti syaraf khazanah sastra Indonesia. Misal, peranan koran Kompas membentuk satu tema tertentu, bahkan lebih jauh stilistika penulisan yang seragam. Seolah-olah, nama penulis yang berada di luar radar Kompas adalah nama yang tak patut dipertimbangkan karena ia liar, tak mengikuti satu gugus barisan tertentu.
Sifat dan ideologi Saut Situmorang, barangkali termanifestasi secara sempurna dalam kumpulan esai ini. Kumpulan esai yang menelanjangi khazanah sastra Indonesia ini, karena kehadirannya dengan jelas berada di bawah satu payung politik yang mesti disadari siapa dalangnya.
Esai-esai yang perlu dibaca. Sekalipun tidak membikin setuju, yang harus setidaknya ditangkap bahwa sastra(-wan) kita sekarang tak beda jauh pada masa Lekra dan pujangga baru yang penuh ambivalensi. Sayangnya, pada masa sekarang kita tak sadar telah dipecut oleh situasi penuh kekerasan simbolik--dari siapa dan apa? Tentu sama-sama kita ketahui jawabannya.