Menggabungkan diri pada gerombolan penjahat si Colat merupakan pilihan yang masuk akal bagi Banyak Sumba. Sebagai musuh kerajaan, gerombolan si Colat diburu oleh pasukan puragabaya. Dengan begitu, Banyak Sumba berharap bisa bertemu Pangeran Anggadipati dan membalaskan kematian kakaknya. Selain itu, dia juga bisa belajar kesaktian si Colat yang konon setara dengan para puragabaya itu.
Akhirnya, Banyak Sumba memang berhasil bertemu kembali dengan Pangeran Anggadipati. Sudah lama Banyak Sumba menantikannya. Dendam kesumat yang berlipat-lipat sudah demikian memuncaknya hingga tak sanggup lagi ditahankan. Darah yang tertumpah harus dibayar dengan darah. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Akankah dendam Banyak Sumba terlunaskan dalam pertarungan terakhirnya? Bagaimana pula kisah cintanya dengan Emas Purbamanik yang tertahan oleh dendam yang belum terlunaskan?
Saini K.M. dilahirkan di Sumedang pada tanggal 16 Juni 1938. Ia menyelesaikan pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris IKIP Bandung. Perhatiannya terhadap sastra dan teater telah tumbuh sebelum ia memasuki perguruan tinggi. Latar belakang inilah yang kemudian rnendorongnya mengambil prakarsa untuk mendirikan jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Di samping menjadi pengajar tetap di STSI Bandung, Saini K.M. juga melakukan kegiatan di bidang kesenian, khususnya di bidang sastra dan teater. Di bidang sastra, ia aktif menulis esai dan puisi. Tiga buah buku puisinya yang telah diterbitkan, yaitu Nyanyian Tanah Air (Mimbar Demokrasi Press, 1969), Rumah Cermin (Sargani & Co. 1979), dan Sepuluh Orang Utusan (PT. Granesia, 1989). Kumpulan esai sastranya yang diterbitkan yaitu Protes Sosial dalam Sastra (Angkasa. 1983).
Di bidang teater, Saini menulis sastra lakon. Ia pernah memenangkan Sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1973 untuk karyanya Pangeran Sunten Jaya, tahun 1977 untuk karyanya Ben Go Tun, pada tahun 1978 untuk karyanya Egon, dan tahun 1981 untuk karyanya Serikat Kacamata Hitam dan Sang Prabu. Dua naskah lakon yang ditulisnya untuk anak-anak memenangkan sayembara yang diadakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan (Depdikbud), yaitu Kerajaan Burung (1980) dan Pohon Kalpataru (1981). Sastra lakon karya Saini yang berjudul Sebuah Rumah di Argentina (1980) memenangkan hadiah dalam sayembara penulisan yang diadakan oleh Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (BAKOM PKB) Jakarta Raya. Esai tentang teater yang ditulis Saini K.M. terhimpun dalam buku Beberapa Gagasan Teater (Nurcahaya, 1981), Dramawan dan Karyanya (Angkasa, 1985), Teater Modern dan Beberapa Masalahnya (Binacipta, 1987), dan Peristiwa Teater (Penerbit ITB, 1996). Pada tahun 1999, terbit himpunan karya Iakonnya "Ben Go Tun’, “Dunia Orang Mati", “Madegel’, dan “Orang Baru” di bawah judul Lima Orang Saksi. Himpunan karya lakonnya itu diterbitkan pertama kali dalam bentuk buku pada tahun 2000.
Lakon Ken Arok (Balai Pustaka, 1985) mendapat penghargaan sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, pada tahun 1990. Lakon lain yang ditulis Saini dan dipentaskan di berbagai daerah di Indonesia, yaitu Pangeran Geusan Ulun (1963), Siapa Bilang Saya Godot (1977). Restoran Anjing (1978), Panji Koming (1984), Madege (1984), Amat Jaga (1985), Syekh Siti Jenar (1986), Dunia Orang-Orang Mati (1986), Ciung Wanara (1992). dan Damarwulan (1995). Madegel pernah dipentaskan di Jepang pada tahun 1987. Ken Arok dan Sepuluh Orang Utusan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Renate Sterngal.
Bersama Jakob Soemardjo. Saini menulis buku Apresiasi Kesusastraan (Gramedia, 1986) dan Antologi Apresiasi Kesusastraan (Gramedia, 1986) untuk siswa Sekolah Menengah Lanjutan Atas. Selain itu. ia juga menulis buku untuk anak-anak, yaitu Cerita Rakyat Jawa Barat (Grasindo, 1993). Pada tahun 1960--1994, Saini menjadi pengasuh kolom puisi Harian Umum Pikiran Rakyat. Berbagai tulisan kritisnya tentang puisi karya penyair muda yang dimuat Harian Pikiran Rakyat itu diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Puisi dan Beberapa Masalahnya (Penerbit ITB, 1993). Berkat kegiatannya yang tidak pernah lelah dalam mengasuh para penyair remaja, Saini mendapat Anugerah Sastra dari Yayasan Forum Sastra Bandung pada tahun 1995.
Pada tahun 1988-1995, Saini dipercaya menjadi Direktur ASTI Bandung (sekarang STSI Bandung). Selepas itu, pada tahun 1995--1999, Saini K.M. menjabat Direktur Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Depdikbud. Saini K.M. juga tercatat sebagai anggota Konsorsium Seni sejak tahun 1994 dan sebagai anggota Komisi Disiplin Seni sejak tahun 1999. Ia juga aktif dalam penyelenggaraan Art Summit Indonesia.
Seri ketiga (terakhir) dari karya Saini KM dalam seri Hutan Larangan. Di sini diceritakan Banyak Sumba sudah semakin matang dalam ilmu silatnya. Ia kemudian bergabung dengan Colat, seorang buronan utama dari kerajaan Pajajaran.
Colat sudah lama sekali dicari. Ia berbuat banyak hal jelek dengan tujuan menguasai kerajaan. Pada awalnya, Banyak Sumba hanya ingin belajar ilmu silat kepada Colat. Tapi, secara tidak langsung ia ikut menjadi buronan karena masuk dalam kawanan Colat.
Anggadipati, seorang Puragabaya, ditugaskan kerajaan untuk menumpas si Colat. Sejak lama banyak Sumba menyimpan dendam kepada Anggadipati karena telah membunuh kakanya, Jante.
Semakin lama Banyak Sumba bergabung dengan pasukan Colat, semakin ia tidak senang dengan perlakuan Colat yang sewenang-wenang terhadap rakyat jelata, termasuk merampok dan membunuh.
Sampai suatu ketika, Colat mendapati anaknya dibunuh di suatu kampung. Ia kemudian menjadikan seluruh penduduk kampung yang masih hidup sebagai kayu bakar bagi mayat anaknya.
Seketika itu, Banyak Sumba menghentikan keadaan yang sangat busuk itu. Ia terpaksa berhadapan dengan si Colat. Banyak Sumba menang tapi membuatnya pingsan beberapa hari.
Setelah bangun, ia sudah mendapati Anggadipati di hadapannya akrab dengan Yuta Inten, kakaknya. Kekasih dari banyak Sumba juga hadir di depannya. Seketika semua dendam lenyap, Pajajran kembali jaya. Penasaran kan? Terlalu banyak konflik yang bakal panjang kalau diceritakan sepenuhnya. Lebih baik baca sendiri ya =)
petualangan dan kegigihan banyak sumba mencari dan memperdalam ilmu keperwiraan (pengarang lain sering memakai istilah ilmu olah kanuragan alias ilmu silat), plus “kesialan”, ditambah kecerdasannya yang menurut saya luar biasa, pada akhirnya membuatnya mampu menyelesaikan salah satu tugas utama dari keluarga yang dibebankan kepadanya, mendekati kehebatan ilmu para puragabaya, bahkan mampu meloloskan diri dari kepungan murid-murid padepokan sirnadirasa dan belakangan bahkan dari kepungan murid-murid tajimalela! terbayarlah segala kesengsaraan dan penderitaannya berbulan-bulan bahkan berbilang tahun berkelana sampai tersesat di hutan dan hidup seperti orang liar segala.
dengan bertambahnya pengalaman, pertentangan batin banyak sumba juga semakin berat, membuatnya berulang kali bimbang antara kewajiban melaksanakan “keadilan keluarga” atau mendahulukan kepentingan umum, hatinya galau antara melanjutkan misi balas dendam atau memilih memaafkan dan melupakan segalanya. tetapi bagaimanapun, kehormatan wangsa banyak citra harus dibela dan dipulihkan.
mengalir dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada buku ke-1 & 2, buku terakhir dari serial kesatria hutan larangan ini bisa lebih dinikmati. sangat bisa. yang terasa kurang adalah endingnya yang agak menurunkan mood, karena pertarungan terakhir yang disajikan pengarang ternyata bukanlah pertarungan terakhir yang saya nanti-nantikan.
buku tentang pergulatan seorang ksatria (Banyak Sumba), yang mendapatkan tugas keluarga, untuk membala dendam dan memperbaiki martabah keluarga. tp yg paling menarik adalah bagaimana Banyak Sumba mendalami ilmu keperwiraan dengan berbagai macam cara, baik belajar dari alama dan dari berbagai macam perguruan, serta berbagai macam tipe orang, bahkan yang di anggap penjahat sekali pun