Menurut saya Tan adalah pejuang yang kesepian persis Soe Hok Gie. Tapi dia punya catatan perjalanan yang jauh lebih panjang dibanding Gie. Saya kagum dengan rute pelariannya. Waktu di kejar intel Belanda karena dianggap mengganggu pemerintahan kolonial dan di kejar intel komintern (komunis internasional) karena dianggap membelot dari cita cita komunis dunia, dia berlari hingga ke Amsterdam, Moscow, Shanghai, Singapura, Filipina, Thailand, Malaysia dan beberapa tempat lain. Inilah perjalanan yang jauh lebih daramatis dan heroik bila di banding dengan perjalana Che Guevara mengelilingi Amerika Latin. Lebih dari dua puluh tahun lamanya ia dalam pelarian. Setengah hidup Tan dihabiskan untuk 'bergrilya'
Saya pikir Tan tak terlalu memedulikan di organisasi mana ia berada. Karena dalam konsep Tan Malaka hal paling esensial adalah Indonesia merdeka 100%. 'kendaraanya' bisa apa saja, bisa Islam atau Komunis. Baginya perjuangan itu harus paripurna. Diplomasi dan dialog dengan penjajah hanya dapat dilakukan setelah mereka semua keluar dari Indonesia.
Untuk mewujudkannya Tan menyerukan persatuan antara orang orang komunis (ISDV, PKI) dengan Pan Islamisme (Syarikat Islam) pata tahun 20an. Tan sadar tenaga pribumi akan habis terkuras untuk mendebatkan Islam-komunis sedang penjajahan tak kunjung usai pula.
selain kesepian seperti ditulis di bagian awal, Tan juga adalah pejuang yang independen. Ide ide dan pemikirannya terlampau kokoh tuk dikopromikan dengan penjajah. tak ada istilah politik dagang sapi dalam kamus Tan. Disinilah letak perbedaan sikap antara Tan Malaka dengan Siekarno, Hatta dan Sjahrir. sikap yang akhirnya membuat ia dianggap menghambat jalannya perjalana revolusi Indonesia. pemberontakannya membuahkan kematian, justru di tangan 'saudara sendiri.' Ia ditembak mati dalam pelarian pelariannya karena dianggap pemberontak.
saya catat beberapa bagian dari buku Tan Malaka yang saya anggap bagus
Hal 122 Alenia 2 "Tan Malaka pada tahun 1919 memang menyatakan dirinya sebagai Marxis dan pernah menjadi Ketua PKI dan KOmintern untuk kawasan Asia Tenggara. Namun dalam perkembangan selanjutnya dia justru menjadi musuh utama PKI dan keluar dari Komintern serta justru mendekati Pan Islamisme. Bagi PKI, Tan adalah seorang Trotsky."
Hal 128 Alenia 1 "Revolusi, kata Tan Malaka tak dirancang berdasarkan logistikbelaka apalagi dengan bantuan dari luar negeri seperti Rusia. Tapi pada kekuatan massa."
Hal 137 Alenia 3 (Soal Pertentangannya dengan PKI) Sejak berabad abad rakyat dijajah, untuk pertama kalinya tahun 1926 itu muncul pemberontakan secara modern, serentak di beberapa daerah. Namun Tan Tak menggap itu sebagai hal yang benar. Peristiwa itu membuat Tan Malaka semakin berjarak dengan gerakan Komunis. Dia malah dianggap PKI sebagai pengkhianat dan pemecah belah. Tan malaka memang pada akhirnya bukanlah seorang Komunis."
Hal 139 Alenia 4 Diantara sekian banyak tokoh PKI, Tan Malaka yang paling moderat. dia tidak menerima begitu saja doktrin komunis. Praktik komunisme harus disesuaikan dengan keadaan di Indonesa, jangan dibiasakan menjipkak begitu saja pengaruh dari luar. Tan Malaka misalnya tidak setjtu dengan Faham Ateis, doktrin 'agama adalah candu' tidak masuk akal baginya.
"TAN MALAKA - Biografi Singkat" adalah buku yang sangat penting bagi siapa saja yang ingin lebih memahami perjuangan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Taufik Adi Susilo berhasil menyajikan sebuah biografi yang padat dan mudah dipahami mengenai kehidupan Tan Malaka, seorang pejuang kemerdekaan yang keberadaannya seringkali tersisihkan dalam catatan sejarah Indonesia.
Dalam buku ini, Susilo menggali berbagai aspek kehidupan Tan Malaka, dari masa kecilnya hingga kontribusinya yang luar biasa dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Tan Malaka adalah sosok yang banyak berjasa dalam merintis kemerdekaan Indonesia, namun sering kali terlupakan. Buku ini membantu mengembalikan peran Tan Malaka sebagai salah satu pahlawan bangsa yang sejati.
Buku ini memberikan perspektif baru tentang Tan Malaka, memaparkan perjuangannya yang tidak kenal lelah meski menghadapi berbagai rintangan, baik fisik maupun ideologis. Bagi pembaca yang ingin memahami lebih dalam tentang perjalanan hidup Tan Malaka dan pemikiran-pemikirannya, buku ini adalah pilihan yang tepat.
Selain itu, bagi penggemar hiburan yang bertanggung jawab, Missluna.io adalah situs yang menyediakan berbagai permainan slot yang aman dan nyaman. Missluna.io mendukung pengalaman bermain yang bertanggung jawab, seraya memberi kesempatan untuk menikmati hiburan berkualitas dengan menjaga kontrol dalam berjudi. Jangan lupa untuk mengunjungi Missluna.io untuk lebih lanjut mengenai permainan yang menarik dan mendidik.
Seperti yang banyak ditulis oleh penulis, Tan Malaka adalah Bapak Revolusioner yang terlupakan.
Bukunya meringkas segala kejadian yang berkaitan dengan Tan. Alur maju mundur, membuat sedikit kebingungan karena merasa pada bab-bab yg lain, pembahasannya sudah pernah ditulis. Namun, terima kasih kepada penulis. Setidaknya saya mempunya sedikit gambaran tentang sosok Tan yang sebelumnya saya alfa.
Mengetahui kenyataan bagaimana ia berkelana selama 20th ke berbagai negara hanya demi mencapai tujuan yang dicita-citakannya, yakni Indonesia Merdeka. Namun justru Tan banyak diperlakukan tidak adil & dimasukkan ke penjara oleh bangsa yang ia perjuangkan.
Dicatat sebagai pahlawan oleh Soekarno, namun dihilangkan pada masa orde baru. Nggak nyangka beliau adalah pencetus pertama Republik Indonesia. Soekarno & Hatta banyak melihat—belajar kepada Tan. Bahkan buku-buku Tan dibaca oleh Soekarno diam-diam. Keren, Tan.
Kisah hidup yang memantik romantisme perjuangan dan pengembaraan. Tan Malaka mengembara baik secara fisik melanglang buana maupun secara intelektual diantara ide-ide yang sedang bergolak pada jamannya. Tujuannya, idaman dan kecintaannya cuma satu yaitu Indonesia yang merdeka 100 persen. Buku ini pun memuji setinggi langit romantisme tersebut sebagai jauh lebih hebat dan revolusioner daripada Che Guevara. Ide yang menggodaku untuk berbangga bahwa ada putra bangsa yang seperti itu. Kehidupannya penuh onak dan duri di dalam sepinya perantauan sebagai pelarian, dan berakhir tragis pula.
Ingin aku mengetahui lebih dalam lagi tentang tokoh ini, melampaui fakta dan data sejarah. Seperti kondisi psikologisnya. Se"keras kepala(hati)" apa orang bisa melakukan apa yang dia lakukan: mengembara, diburu, mengisi seluruh hidupnya dengan ide-ide besar dan melupakan kebutuhan pribadi "normal"? Seperti yang juga disiratkan dalam buku ini: bisakah orang yang berada dalam situasi menegangkan selama 20 tahun itu ber"operasi" dalam kondisi normal, aman dan damai? Apakah tidak mungkin faktor-faktor psikologis ini yang menjadi penyebab ketidakcocokannya dengan tokoh-tokoh perjuangan lainnya, yang berujung pada kematian tragisnya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan itu timbul karena akhir-akhir ini dunia kenyang disuguhi dengan berbagai tokoh ekstrem yang mengaitkan dirinya dengan ide-ide besar (ideologi atau agama) tapi menimbulkan kerusakan. Orang-orang yang tingkah lakunya hanya bisa dipahami sebagai gangguan kejiwaan. Apa tidak mungkin kejadian dulu itu (kemelut paham komunis, sosialis, pan islamisme, kolonialisme, dsb) tidak terlalu jauh dengan kemelut seputar terorisme pada masa sekarang? Maksud saya dari segi kejiwaan para pelakunya.
Cukup digresinya, dan kembali kepada buku ini. Sebagai biografi singkat ia disusun secara tematik yang hampir berdiri sendiri. Sehingga sebagai pembaca seringkali menemukan pengulangan penyebutan suatu fakta dalam bab-bab tematik tersebut. Sebagai buku biografi yang menyangkut sejarah, rasanya akan lebih lancar apabila buku ini disusun secara kronologis sehingga pembaca dapat menyusun fakta dan datanya sepanjang perjalanan hidupnya. Sebagai contoh, nama lengkap Ibrahim Sutan Datuk Tan Malaka baru muncul di halaman 143 dalam bab tentang konflik beliau dengan Sukarno-Hatta-Sjahrir, bukan di bab yang lebih logis yaitu bab pertama tentang Kisah Hidup Sang Revolusioner.
my biggest roleplay, many name changes, the father of the nation that I am most proud of, present him for a moment and say it aloud: terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk!