Novel ini adalah sebuah pertanyaan panjang tentang tradisi, dengan perempuan sebagai ujung tombaknya. Apakah manusia mesti memberhalakan kearifan masa lalu atau memberikan reinterpretasi untuk mereposisinya sesuai dengan tempat-waktu dan keadaan. Semua tergantung dari siapa dan bagaimana melakukannya, juga dengan maksud apa fenomena itu kemudian dibaca oleh sejarah. Putri hanyalah bayang-bayang kecil ketidakberdayaan, ketika tata-nilai bergerak cepat, jumpalitan, terkadang berbelok mendadak, sehingga manusia terengah-engah mengejarnya. Hidup lebih merupakan peristiwa pembelajaran yang tak pernah memberikan ijazah. Akhir sekaligus menjadi awal. kosong dan penuh bertumpah tindih, sehingga segalanya harus disimak kembali terus-menerus. Novel ini adalah sebuah petualangan pikiran yang memihak perempuan yang menyayangi pria yang mencintainya.
Putu Wijaya, whose real name is I Gusti Ngurah Putu Wijaya, is an Indonesian author who was born in Bali on 11 April 1944. He was the youngest of eight siblings (three of them from a different father). He lived in a large housing complex with around 200 people who were all members of the same extended family, and were accustomed to reading. His father, I Gusti Ngurah Raka, was hoping for Putu to become a doctor, but Puti was weak in the natural sciences. He liked history, language and geography.
Putu Wijaya has already written around 30 novels, 40 dramas, about a hundred short stories, and thousands of essays, free articles and drama criticisms. He has also produced film and soap-opera scripts. He led the Teater Mandiri theatre since 1971, and has received numerous prices for literary works and soap-opera scripts.
He's short stories often appear in the columns of the daily newspapers Kompas and Sinar Harapan. His novels are often published in the magazines Kartini, Femina and Horison. As a script writer, he has two times won the Citra prize at the Indonesian Film Festival, for the movies Perawan Desa (1980) and Kembang Kertas (1985).
Tadinya, saat selesai dengan buku pertama, saya memberi empat bintang karena terasa ada yang kurang. Tapi, Putu Wijaya menang telak. Ia menebus lima bintangnya pada buku keduanya ini.
Putri Buku Kedua (PBK) ini lebih menguras hati dan pikiran. Untuk mendeskripsikannya, saya memilih mengutip kalimat pengakuan dari penulisnya sendiri dalam bab bagaimana-saya-mengarang; bahwa sebuah cerita tidak harus disetujui, cerita itu terlempar dan merangsang saraf, menggelitik rasa, dan kemudian menyinggung logika. Selesai, hehe.
Tidak hanya mengangkat persoalan tradisi, Putu Wijaya juga menghadirkan kompleksitas cinta, politik, serta segala nilai-nilai kehidupan yang dipertanyakan melalui PBK, dengan Putri sebagai tokoh pusat yang mengalami pengembangan karakter. Putri yang tidak berdaya dan tidak memiliki pilihan selain menghadapi segala persoalan hidupnya, menjadi pengambil keputusan penting dalam kelangsungan cerita.
Pembaca yang mencoba memahami PBK tentu akan mengalami proses membaca dengan banyak pertanyaan di benak. Putu Wijaya tidak lepas tangan begitu saja. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul kadangkala akan dijawab langsung, atau seringkali dijawab oleh pertanyaan lainnya.
Segala kebingungan, kegamangan, kegalauan hati Putri dalam segala persoalan yang dihadapinya, yang menyebabkan tindakan-tindakan yang seringkali berubah begitu saja, merupakan representasi adanya manusia yang masih mau mencoba memahami hal-hal yang sama sekali tidak dapat diterimanya.
Putri tidak ingin dianggap sebagai pahlawan, tapi dalam dirinya telah muncul jiwa pemimpin yang juga harapan bagi seluruh masyarakat di Meliling. Mulanya Putri memang selalu mengelak bila dituduh membenci Mahakarya oleh Oka, namun akhirnya ia mengakui bahwa tidak suka hanya penghalusan dari rasa benci. Dan perasaan itulah yang membuatnya kemudian berani mengambil keputusan dalam bertindak, dengan orang yang dicintainya, Wikan, di sampingnya;“Saya tidak ingin dikagumi dan juga tidak akan mengagumi. Saya hanya ingin disayangi dan menyayangi.” (566)
Bicara soal cinta, ketulusan cinta Putri pada Wikan terbangun dalam suasana yang seba tak mungkin. Di sini lah Putu Wijaya memungkinkan hal yang tidak mungkin;“Cinta telah bicara dan menggerakkan orang, betapapun lebar jarak kemustahilan terbentang. Barangkali memang hanya cinta yg bisa mendekatkan celah yg nyaris tak dapat dihubungkan itu.” (452)
Optimisme dan sifat bijaksana Putri memang terkadang mengejutkan melihat keluguan dan sifatnya yang mudah kasihan. Tapi jika dipandang bahwa sebenarnya ia adalah seorang yang telah mengalami proses pendidikan dan lulus sarjana, sifat optimis dan bijaknya dimungkinkan; “Semua ada akhirnya, dan itu tidak bisa kita plih. Semuanya datang dan kita tidak usah mempersoalkannya. Yang harus kita pikirkan adalah, bagaimana kita akan meneruskan semua yg sudah terjadi ini. Jangan berusaha mengelak, semuanya itu adalah kewajiban kita.” (54) “Menyesal itu tidak pernah terlambat. Semua penyesalan akan memberikan kesempatan kepada kamu untuk memperbaiki. Sedetik pun, kalau memang kamu pergunakan dengan baik, tetap akan punya arti.” (255)
Melalui PBK, Putu Wijaya membuka mata pembaca bahwa kata-kata tak sekadar kata; “Aku percaya, sebuah kata adalah sebuah rumus. (...) gagal, berhasil, adil, merdeka, cinta, dsb, tak pernah sederhana. Di dalamnya ada uraian yang lebar, mendalam, dan mungkin belum terselesaikan.” (228) Kadangkala kata-kata memiliki kepentingan yang dibentuk oleh penuturnya, sehingga sebagai pendengar hendaknya lebih cermat dan memandang realita melalui peristiwa yang telah terjadi; “Tetapi peristiwa itu tidak bisa terjadi karena dialog tidak dibenarkan menerangkan apa yang dengan lebih jelas akan diucapkan oleh peristiwanya sendiri.” (413)
Putu Wijaya juga mengungkapkan secara jelas permasalahan bangsa ini dan menghadirkannya melalui sudut pandang yang bijaksana; “Erosi rasa kebangsaan, disintegrasi, adalah pertanda bangkitnya kesadaran diri baru. Apakah kesadaran itu salah, atau reaksi kita yang sudah berlebihan? Jangan salah dalam melihat permasalahannya.” (48)
Namun Putu Wijaya tidak melulu bercerita dengan nada serius. Dalam beberapa peristiwa ia menghadirkan kalimat-kalimat menggelitik yang menyinggung persoalan serius dengan nada humoris, seperti; “Ngurah tersisih. Seluruh persoalannya menjadi tak penting. Perang di Afganistan, terbunuhnya pimpinan Papua Merdeka, tertangkapnya Tommy Soeharto, skandal tiga belas anggota komisi IV DPR yang melakukan studi banding, pengadaan kapal Pelni ke Jerman atas biaya perusahaan peserta tender, semuanya tergilas. Seorang bidadari sedang mencurahkan rasa dukanya. Seluruh dunia harus bersabar.” (376)
Banyak hal yang dapat pembaca ambil dari buku ini apabila benar-benar merenungkannya. Pada akhirnya, semua hal memang tidak ada yang mutlak, dan itu semua tergantung pada sudut pandang kita melihatnya; “Padahal kalah tidak berarti salah. Bahkan salah sendiri pun, masih harus terus diuji apa itu identik dengan tidak benar. Mungkin hanya berbeda saja dengan yang sedang menang.” (264)