"Wow! Keren ... ! Buku yang bagus!" --Bella, penulis best seller KKPK Beautiful Days.
Sepeda merupakan benda kesayangan Kinanti. Bagi Kinanti, sepeda dapat mengantarkannya menggapai cita-cita menuju masa depan yang lebih baik. Bagaimana tidak, sepeda itu selalu menemani perjalanan Kinanti menuju sekolah.
Sayangnya, Kinanti harus merelakan sepeda itu dijual. Kinanti marah dan kecewa. Tanpa sepeda itu, bagaimana dia berangkat ke sekolah? Apakah dia harus putus sekolah? Apakah Kinanti harus melupakan cita-cita dan masa depannya?
Kinanti dihadapkan pada pilihan yang sulit. Kehilangan sepeda sama dengan melupakan sekolahnya. Tetapi, bagaimana kalau Kinanti masih tetap menginginkan keduanya? Cerita perjuangan Kinanti ini sangat mengharukan, lho.
“Membangkitkan semangat kita dalam meraih mimpi.” –Nunik Utami, penulis Thariq bin Panglima yang pandai berpidato
“Cerita yang mengharukan dan sangat seru. Membuat kita bersemangat dalam meraih mimpi.” –Nabila Jamal, penulis best seller KKPK Tragedi Behel.
Kinanti adalah siswa kelas 5 SD yang mempunyai semangat membara untuk mencari ilmu. Walaupun harus mengasuh adik-adiknya yang masih kecil (Kirana dan Banyu), Kinanti tidak pernah mau meninggalkan pelajaran barang satu kalipun. Pagi-pagi sekali ia akan bangun, menanak nasi untuk sarapan ayahnya ketika pulang melaut dan merapikan rumah disela-selanya. Ya, Kinanti harus mandiri melakukan itu semua karena ibunya telah meninggal dunia.
Ketika ayahnya pulang, barulah Kinanti dapat bergegas ke sekolah. Dengan sepeda ontel tua kesayanganya, Kinanti membelah rerumputan dan jalan yang berlumpur agar bisa sesegera mungkin sampai ke sekolah. Tak jarang tubuhnya belepotan tanah yang beterbangan. Kerena hal ini pula, Kinanti sering kali diledek.
”Mau sekolah atau main ke sawah, Kinan?” ledek Didin temannya. Tapi Kinanti tidak pernah merasa malu, baginya tak mengapa sesekali diledek yang penting ia tetap bisa bersekolah. Kinanti anak yang haus ilmu. Ketika di suruh mengambil perlengkapan kelas di pasar, sembari menunggu, Kinanti menjelajahi pasar untuk mencari koran bekas. Yup, Kinanti yang haus ilmu bisa mendapatkan banyak informasi di sobekan surat kabar tersebut.
Di salah satu potongan koran, Kinanti melihat pengumuman lomba menulis. Kinanti ingin mengikuti lomba tersebut. Tapi ia bingung akan menulis tentang apa. Terlebih teman-temannya banyak yang sangsih karena daerah mereka bukanlah daerah wisata. Tapi bukan Kinanti namanya jika langsung menyerah. Suatu hari Kinanti mendapatkan ide untuk menulis tentang konservasi Penyu Hijau.
Masalah datang ketika ia terpaksa menjual sepeda ontelnya untuk menutupi biaya Kirana yang terkena demam berdarah. Sempat Kinanti marah dan merasa apa yang dialaminya sungguh tidak adil. ”Sepeda itu sangat berjasa mengantarkannya meraih mimpi. Sepeda itu adalah bagian dari mimpi-mimpinya...” hal.122
Salah satu cerita anak terbaik yang pernah aku baca :) memang sekilas nampak kisah Kinanti ini mirip dengan kehidupan tokoh Lintang di Laskar Pelangi. Mereka berdua sama-sama anak pantai, berayah seorang nelayan dan harus berusaha kuat untuk meraih ilmu. Tapi, pandai deh Kang Iwok meramu kisah ini sehingga pembaca tak terus menerus mengaitkan tokoh Kinanti sama seperti Lintang. Karena tentu, mereka ’berdiri sendiri’. Penceritaan tentang penyu yang bertelur seru banget, aku seolah-olah bisa melihat langsung. Emosi Kinanti ketika mengetahui sepedanya akan dijual juga pas. Kinanti disosokkan lebih manusiawi dan berperasaan anak-anak. Hehe. Endingnya bikin merinding, Kang, bener deh, walaupun dari awal pembaca (dewasa) bakalan tahu mau dibawa kemana ceritanya. Bravo untuk Kang Iwok.
Saya belajar banyak dari Kinanti. Perjuangannya menuju sekolah dengan sepeda ontel pemberian ayahnya, kegigihannya mengumpulkan koran bekas untuk dibaca, semangatnya mengikuti lomba menulis (bahkan dengan melakukan observasi - riset kecil-kecilan), kasih sayang yang ditularkan kepada adik-adiknya, juga kerelaannya ketika sepeda miliknya itu dijual.
Tidak banyak anak kecil seperti dia. Apalagi di tengah ketersediaan segala fasilitas yang memudahkan anak-anak zaman sekarang dalam belajar. Namun, kita pun tidak bisa menutup mata bahwa di daerah-daerah pedalaman, masih ada Kinanti-Kinanti lainnya. Semisal, anak-anak di pedalaman Kalimantan yang menyusuri sungai-sungai untuk mencapai sekolah mereka. Juga murid-murid di pedalaman Papua yang ke sekolah harus menembus hutan, semak, berkilo-kilo meter jauhnya, dengan berjalan kaki!
Buku ini saya rekomendasikan pada anak-anak Indonesia. Saya yakin sekali, selesai membaca buku ini, akan ada sengatan energi yang menyentak jiwa anak-anak Indonesia untuk terus optimis dan tidak henti bermimpi dalam menggapai cita-cita. Mimpi, cita-cita, usaha, dan doa. Itu sekelumit pesan yang ditanamkan Kang Iwok dalam bukunya ini.
Tambahan lagi. Sejak halaman pertama, tokoh Kinanti mengingatkan saya pada sosok Lintang dalam Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Baik itu perjuangan menempuh sekolah dengan bersepeda, ayahnya yang seorang nelayan, dua adiknya (Banyu dan Kirana), juga saat Kinan memenangkan lomba menulis (kalau di LP, Lintang dkk menang lomba cerdas cermat). Bagi saya, itu kemiripan yang tidak perlu diperdebatkan. Ini hanya asosiasi yang saya lakukan karena kebetulan sudah pernah membaca LP. Bisa jadi, Kang Iwok mencoba mentransferkan apa yang tersirat dalam LP melalui bahasa serta cerita yang lebih bisa dicerna oleh anak-anak.
Dan, saya mendapat suntikan ilmu mengenai penyu dari novel anak ini.
Bravo! buat Kang Iwok. Anak-anak Indonesia masih dan akan terus membutuhkan bacaan sebergizi Sepeda Ontel Kinanti ini!