Buku ini akan membawa para pembaca yang budiman untuk mengenali secara dekat peribadi Prof. Dr. Hamka, yang ditulisnya demikian teliti, sebagai riwayat hidupnya sendiri, yang diceritakannya sejak tahun kelahiran beliau (1908) hingga awal tahun 1950, bertolak dari tempat kelahirannya di Sungai Batang, Maninjau, Minangkabau, hingga ke daerah-daerah, negeri-negeri, dan negara yang dilawati dan tempatnya bertugas.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah. In the Dutch colonial era, Hamka was the chief editor of Indonesian magazines, such as Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, and Gema Islam.
Buku setebal 651 halaman ini menemani saya dalam dalam beberapa hari awal menunaikan Ibadah puasa, selingan saat istirahat kantor, sehabis sahur dan pengisi waktu menunggu beduk berbunyi.
Buku ini adalah buku tentang Buya Hamka yang bercerita mengenai perjalanan hidup beliau sendiri, jatuh bangun selama sekitar 40 tahun hidupnya. Masa Ia lahir tumbuh dalam masa kanak-kanak di kampung halamannya Maninjau, Sumatera Barat, hingga menjalani sekolah yang tidak pernah ia tamatkan karena kenakalan-nya saat remaja, akhirnya harus berjuang menemukan kemasyuran ilmu dengan caranya sendiri yang seringkali bertentangan dengan Buya beliau (Haji Rasul, Ulama besar Minangkabau saat itu). Di sini kita menemukan sebuah kisah tersembunyi antara Buya kecil perceraian kedua Orang Tuanya, yang banyak memberikan dampak pada kehiupan Hamka selanjutnya. Mungkin cobaan juga yang menjadikan Buya bersumpah setia tidak menduakan Istrinya, hingga Istrinya meninggal dunia.
Sungguh berat cobaan dan tantangan yang tak hentinya ia dapatkan mulai dari masa kanak-kanaknya hingga pada masa matangnya saat masa awal kemerdekaan Indonesia (masa revolusi). Bagaimana beliau jatuh bangun dalam perjuangan hidupnya, dipuja dan dihina. Perjuangan garis belakang (barisan) rakyat yang ia jalani untuk menggembleng semangat umat dan rakyat agar bersatu dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia memang sangat luar biasa.
terakhir, Bagi saya dalam buku ini yang tak kalah pentingnya adalah, Buya menyampaikan bahwa Beliau juga manusia biasa yang tak luput dari salah dan kelemahan sebagai manusia. Berikhtiar terus mencari dimana tempatnya yang tepat diantara masyarakat. dan secara tidak langsung juga mengajarkan kita untuk jangan pernah berputus asa, betapapun beratnya rintangan hidup. Walau bagaimanapun pekatnya malam, fajar akan datang menjelang.
Entah macam mana aku boleh terlewatkan membaca autobiografi Buya Hamka. Syukurlah dapat menelaah buku Kenang-Kenangan Hidup dalam keadaan turun naik kehidupan sendiri bergulir antara suka dan duka.
Bertambah lagi kesyukuran apabila dapat pula membaca riwayat hidup Buya Hamka yg dikarang oleh dua puteranya, Bapak H. Rusydi (Almarhum) & Bapak H. Irfan Hamka (Almarhum). Moga2 mengalir saham pahala kebaikan buat anak beranak ini. Amin.
Rupa-rupanya titik terendah dalam fasa hidup Buya Hamka itu bukanlah sewaktu beliau berada dlm tahanan politik akibat kediktatoran rejim Soekarno. Parut luka yang paling berbekas dalam nubarinya adalah ketika beliau difitnah dan ditohmah sebagai talibarut Jepun pada tahun 1940-an. Begitulah hukum revolusi, Buya Hamka dicaci-maki orang, disindirnya seorang kolaborator, penjilat, lari malam. Buya Hamka dalam iba hati, menukilkan sajak ini; Biar mati badanku kini /payah benar menempuh hidup /hanya khayal sepanjang umur /biar muram pusaraku /sunyi cucuk kerah pudingnya redup/ lebih nyaman tidur di kubur
Dan daripada Buya Hamka jugalah diambil pelajaran berharga ini, "jangan pernah m'jadi pendendam walau seberat apa pun ujian menimpa".
"Beberapa hal menjadi tambahan kekayaan jiwa. Terutama sekali memaafkan kesalahan orang yang dipandang bersalah kepada kita. Sekali-kali janganlah meremukkan jiwa sendiri dengan perasaan dendam. Apa hasilnya? Hasilnya kekusutan hati sendiri! Muka kita menjadi keruh kerana kebencian yg terpendam dalam hati. Masa kita habis dalam memikirkan orang lain. Padahal usia yg akan dipergunakan bagi menyembah Tuhan dan berbakti kepada masyarakat hanya sedikit sekali." Kenang-Kenangan Hidup, HAMKA, Hlm. 437
Setiap kali menjamah bacaan dalam susun-susun kata yang ditulis Buya Hamka dalam naskah ini, terutama di muka surat 187, pastinya mahu diulang beberapa kali.
Saya paling seronok membaca kisah Hamka sewaktu kecil, dengan nakalnya, dengan tidak mendengar katanya, dengan kuat merajuknya.... banyak lagi tingkahnya sewaktu kecil yang lucu. Saya juga suka membaca kisah pengembaraan terjahnya ke Tanah Arab dan pengalaman Hamka ke Jeddah dan Mekah.
Sekiranya ada masa, perlu mencari beberapa maklumat berhubung Muhamadiyah dan jika betul tanggapan saya bahawa penulis seperti melihat kejayaan Kamal Araturk sebagai sesuatu yang positif. Mukasurat 112, "Beliau suka membuka sejarah Nabi saw. Beliau suka memberikan pidato agama yang berisi. Beliau suka menghuraikan kebangkitan Islam dan gerakan baru. Apatah lagi mulai tahun 1924 hingga 1926 saat bangkit nama-nama terkemuka dalam Islam. Abdul Karim Rif, kebangkitan Kemal Attaturk, Sultan Pasya Atrasy di Suriah, Saad Zaqlul Pasya Mesir, Ibnu Saud dan lain-lain. "
Aku bagi 3 bintang bukan sebab tulisan hamka tak bagus. Aku nak mencari tulisan romannya yang lain. Tulisannya bersahaja tapi menyentuh hati. Cumanya bila kita baca kisah hidupnya yang ditulisnya sendiri aku merasa macam sesuatu yang tertinggal. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu tersirat dalam hati. Kenapa ya?
Saya baca buku ini ber seri 1-4. lebih banyak berisi tentang riwayat hidup Hamka. kisah cintanya, kesulitan-kesulitan hidupnya, cara nya menghadapi hidup. Bagus!