Akhirnya memulai membaca dengan serius karya Tengku setelah setahun dibeli dan ketika harus belajar mandiri di rumah selama delapan bulan.
Masa yang bisa dibilang banyak mempengaruhi pikiran sampai saat ini, tentu saja sebagian besar dipengaruhi buku-buku yang dibaca pada masa itu.
Selain disibukkan dengan kewajiban memenuhi kebutuhan perut, juga dimanjakan karena diberi kesempatan untuk membaca ulang karya lama. Buku dan lembar-lembar kertas berwarna kuning yang dibaca karena terpaksa ketika masih di pesantren dan di STM.
Tulisan Buya sangat lugas tanpa menghilangkan kedalaman pembahasannya. Ini salah satu karya yang kusuka. Tak lekang dimakan segala cecoba ilmu laennya.