Kumpulan puisi Taufiq Ismail ini diberinya nama Sajak Ladang Jagung karena bagian akhir dari kumpulan ini banyak ditulisnya semasa menyertai program pengarang-pengarang di Universitas Iowa, Iowa City. Iowa City adalah kota kecil di tengah daerah peternakan dan perladangan jagung yang terluas di benua Amerika.
Taufik Ismail was born in Bukittinggi West Sumatera on June 25, 1935. He was prominent Indonesian writer and made influence in Indonesian literature the post-Sukarno regime. He was one of pioneer Generation of '66. He was complated his education in FKHP University of Indonesia. Before active as a writer, he taught in Institut Pertanian Bogor. In 1964, he assigned Manifesto Kebudayaan and consequence stopped as a teacher by government. He compiled many of poems, the famous are Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya : Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh. Bored with his serious style, in 1970 Taufik created his poems mixed with humor. Taufik has many of regards, such as Cultural Visit Award from Australia government (1977) and South East Asia Write Award from king of Thailand (1994).
Taufiq Ismail adalah juru potret dan juru warta, dan ini jelas terlihat pada citra-citra sajaknya yang bersifat visual. Membaca berbagai puisi dalam buku ini serasa ikut menghayati alam. Favorit saya adalah Aku Ingin Menulis Puisi, Yang.
"Aku ingin menulis syair buat pensiunan-pensiunan guru SD, pelamar-pelamar lowongan kerja, para langganan rumah gadai, plonco-plonci negeri dan swasta, pasien-pasien penyakit asma, kencing gula serta penganggur-penganggur sarjana, sehingga bila mereka baca beberapa sajakku, mereka bicara: hidup di Indonesia, mungkin harapan masih ada."
"Aku ingin menulis puisi yang mencegah kemungkinan pedagang-pedagang Jepang merampoki kayu di rimba dalam Kalimantan, melarang penggali minyak dan penanam modal mancanegara menyuapi penguasa yang lemah iman, dan melarang sogokan uang pada pejabat bea cukai serta pengadilan."
"Aku ingin menulis syair buat pensiunan-pensiunan, guru SD, pelamar-pelamar lowongan kerja, para langganan rumah gadai, plonco-plonci negeri dan swasta, pasien-pasien penyakit asma, kencing gula serta penganggur-penganggur sarjana, sehingga bila mereka baca beberapa sajakku, mereka bicara: hidup di Indonesia, mungkin harapan masih ada".
Suka banget buku ini! Bisa dibilang ini karya2 Taufiq yang termasuk di awal masa kepenulisannya. Reflektif, syahdu, galau anak muda... Agak menyindir situasi sosial namun belum setajam Tirani dan Benteng, misalnya.
Kapan2 gampang nih mau pinjam lagi, walau buku aslinya udah susah ditemukan. Terima kasih, iPusnas.
Taufiq Ismail membawa pembaca 'membaca' rencam manusia - suara-suara kecil melalui puisi terhadap dunia. Gulat seantero dunia, dari sebuah ladang jagung di Amerika Syarikat sehingga kemanusiaan di Saigon, Vietnam. Mahupun harapan pada Indonesia - tanah air sendiri. Dan katanya, sajaknya ingin dijadikan penawar untuk manusia. Mudah-mudahan!
Aku ingin menulis puisi yang membuat orang berumur 55 tahun merasa 25, yang berumur 24 merasa 54 tahun, di mana pun mereka membacanya, bagaimanapun mereka membacanya: duduk atau berdiri.
Aku ingin menulis puisi bagi para pensiunan yang pensiunannya dipersulit otorisasinya, tahanan politik dan kriminal, siapa juga yang tersiksa, sehingga mereka ingat bahwa keadilan, tak putus diperjuangkan.
di akhir, puisi yang judulnya "aku ingin menulis puisi, yang" menggambarkan semua puisi yang sebelumnya di baca. barang kali, ada yang gak di mengerti semua di jelaskan. overall bagus, beberapa sajak geografis dan keresahan entah mencangkup indonesia atau dunia🌱 aku pribadi paling suka "kembalikan indonesia padaku" hal. 72
Bagus! kita diajak berkeliling ke beberapa negara bersama barisan-barisan sajak Pak Taufiq Ismail, tentunya dengan latar tahun sebelum era milenium. seperti mengadakan kunjungan ke masa lampau
Ketika membaca buku ini saya jadi sadar bahwa puisi bisa membawa pesan harapan sekaligus pelipur lara. Judul 'Aku ingin menulis puisi' adalah favorit saya.