Jump to ratings and reviews
Rate this book

TETRA KARYA PUTHUT EA

Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: kumpulan cerpen

Rate this book
Adalah kumpulan cerpen terbaru Puthut EA. Buku ini berisi cerpen-cerpen memesona dari fragmentasi; gempa bumi yang meluluhlantakkan tanah, rumah-rumah dan hubungan-hubungan keluarga.
Peristiwa-peristiwa politik berakhir seiring lenyapnya desa-desa dan orang-orang secara misterius. Anak-anak ditinggalkan dan harus bertahan hidup sendiri di usia dini. Kekerasan juga masih hadir di sana, tersembunyi, namun tiba-tiba bisa begitu saja terlihat, muncul di tengah-tengah kehidupan sehari-hari. Cerpen-cerpen indah dan menarik ini sangat puitis, detail, dan merakyat, menyuguhkan kepada pembaca sebuah kenyataan hidup yang sebenarnya. Di sana, misteri bercampur seperti resep masakan.

160 pages, Paperback

First published January 1, 2009

23 people are currently reading
324 people want to read

About the author

Puthut EA

68 books238 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
56 (21%)
4 stars
119 (46%)
3 stars
66 (25%)
2 stars
10 (3%)
1 star
6 (2%)
Displaying 1 - 30 of 48 reviews
Profile Image for Penjuru Kosong.
30 reviews20 followers
June 15, 2013
Pada aku, kehebatan buku ini terletak pada monolog. Kesemua isinya adalah menolog. Dalamnya dipenuhi kata “aku” dan “kami”. Aku akan menjadi “aku” dan sebahagian daripada “kami”. Aku jadi seorang pendengar, seorang kawan, seorang ibu, seorang pianis bahkan seorang yang mahu merasakan Koh Su yang benar-benar Koh Su. Bagai aku sendiri yang jalankan semua yang tertulis dalam buku ini.
Cerpen yang aku paling gemar adalah Obrolan Sederhana. Dua orang yang tidak dikenali berbicara dengan terbuka sekali. Secara realitisnya pun, keakraban akan buat kita kelu untuk bercerita segalanya dan keterasingan itu buat kita mahu bercerita, dengan sedikit rahsia yang kita sembunyikan dalamnya. Sememangnya, kadang-kadang aku mahu ia terjadi sendiri pada aku.
Ah, Bunga Pepaya menggamit aku untuk merasakannya. Mungkin akan aku cuba pada masa akan datang.
Tema bagi buku ini, bagi aku lagi, adalah kehidupan. Lebih tepat, sebahagian besarnya tentang kehidupan masyarakat Indonesia, berkaitan PKI dan masa-masa perubahan politik negara. Jika dicantum kembali dengan buku-buku Pramoedya Ananta Toer dan Ayu Utami, aku kira, aku tahu serba sedikit sejarah Indonesia. Sejarah adalah sesuatu yang memikat tetapi peristiwa dalamnya banyak yang menyentuh hati. Serpihan-serpihan daripada Larasati, Manjali dan Cakrabirawa serta beberapa buku lain seakan datang kemabali. Benar, dalam kebaikan, banyak tersembunyi keburukan.
Sedang pada cerita lain, kita sering mencari klimaks dan penutupnya, dalam buku ini, ia tidak perlu. Kehidupan tidak perlukan klimaks dan penutup dan penutupnya hanya perlu, ketika ia benar-benar mati.
Profile Image for Luthfi Amri.
22 reviews8 followers
July 23, 2016
"Seorang perempuan tepat di samping selku, bercerita lebih mengiris lagi. Di tahanannya yang lama, ketika ia sudah tidak kuat lagi disiksa, ia menuliskan alamat rumahnya. Dan alamat yang ditulisnya asal saja. Beberapa saat kemudian, seorang anak dibawa masuk dengan muka sudah babak-belur. Perempuan itu dipanggil, disuruh melihat aak itu dan diminta menyatakan bahwa anak itu bersalah. Ia menangis sejadi-jadinya, mempertahankan bahwa anak itu tidak bersalah"
- Anak-anak yang terampas

Buku Puthut EA mengangkat tema sederhana tentang realitas sosial, tentang realita kehidupan yang kadang dipenuhi dengan mitos-mitos palsu. Mitos ini diproduksi sebagai sebuah kebenaran dan dikonsumsi pula sebagai suatu kebenaran. Mitos seperti resep makanan yang melegenda bersama dengan pencipta, lewat desas-desus tentang hantu komunis, dan si perempuan gerwani lubang buaya., serta tentang anak yang takut dengan do'a. Judul bukunya "Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali" adalah ceritanya tentang bagaimana suatu hal yang irrelevan dijadikan sebagai justifikasi untuk melakukan penindasan dan pembunuhan.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
June 17, 2016
** Books 147 - 2016 **

3,7 dari 5 bintang!

Sekali lagi saya dibuat terpana dengan karya Puthut EA setelah sebelumnya membaca Menanam Padi di Langit yang menurut saya lebih berat dan dalam kajian pembahasannya. Buku kumpulan cerpen ini berisikan 15 buah kisah yang mengambil tema tentang tragedi 1965, komunis dan PKI, Gerwani, Pramoedya Ananta Toer yang menarik untuk diikuti. Saya menyukai konsep dimana semua sudut pandang digunakan melalui kacamata "Aku" entah bisa Aku ini berupa orang dewasa, anak kecil atau wanita sekalipun.

Inilah beberapa Cerpen yang membekas dan mendalam di benak saya :

1. Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali (belum pernah dipublikasikan)
Kisah dua pria yang menjadi dekat karena pertemuan yang tidak disangka dan mereka berdua sangat doyan akan berpetualang wisata kuliner ke kota-kota namun ternyata ada salah satu dari mereka menyimpan kenangan pahit tentang bebek di masa lalunya sehingga ia tidak akan mau memakannya dan terdapat hal buruk yang tersimpan didalamnya
Aku ingin jadi guru, lalu mendaftar masuk ke SPG, tapi ditolak. Padahal aku lulusan terbaik. Anak seorang komunis tidak boleh jadi guru, begitu selintingan yang kudengar (Halaman 9)


2. Kawan Kecil (belum pernah dipublikasikan)
Kisah persahabatan dua pria yang memilih jalan hidup yang berbeda dimana lelaki yang pertama memilih untuk hidup di pedesaan dan mencari mata pencaharian dari menanam padi disawah sedangkan lelaki kedua hidup mencari sesuap nasi di perkotaan.
"Oh. kamu sudah jadi orang kota, heh?"
"Sialan, kamu"
"Dan begitulah. Lihatlah dirimu, stres, selalu sakit, selalu gampang letih. Minum obat penenang terus..Apa yang kamu cari?" (Halaman 22)


3. Obrolan Sederhana (belum pernah dipublikasikan)
Kedua orang pria yang saling bertukar sapa ketika di depan Villa dan mereka mengomentari kehidupan mereka yang terasa hampa dan sunyi
"Aku orang yang tidak jujur. Bahkan kepada diriku sendiri. Dan sesuatu di luar sana, entah apa, sedang menghukumku. Aku tidak bahagia" (Halaman 33)


5. Doa yang Menakutkan (belum pernah dipublikasikan)
Kisah seorang anak yang trauma akan panggilan dari pengeras masjid ataupun ajakan untuk mengaji karena ada sesuatu hal yang membuatnya trauma
"Bukankah seharusnya semakin banyak tempat ibadah berarti semakin banyak kedamaian di muka bumi ini? Sebab bukankah dengan begitu semakin banyak orang yang menyeru kepada kebaikan?" (Halaman 51)


8. Dongeng gelap (Jawa Pos, 23 April 2006)
Kisah seorang wanita yang suaminya diculik dengan orang yang tak kenal dan si istri mengisahkan betapa ia menjadi saksi kekejaman perlakuan para lelaki karena dianggap anggota dari GERWANI
"Tapi yang jelas-jelas aku tahu, di penjara-penjara yang pernah kulalui, ada banyak perempuan disiksa, ada banyak perempuan yang diperkosa, ada banyak perempuan yang karena tidak tahan siksaan bunuh diri dan menjadi gila" (Halaman 83)


10. Retakan Kisah ((Kompas, 19 Maret 2006)
Seorang janda berkisah apa saja yang sudah terjadi di masa lalunya didalam penjara. Mulai ia Ditelanjangi, dicabuli, dipotong rambutnya, pindah-pindah penjara hanya karena ia mengajar dan ikut organisasi.
"Sampai sekarang hanya satu yang saya tunggu, janji Tuhan tentang keadilan. Saya tidak apa-apa menunggu sampai hari pembalasan yang dilakukan oleh Tuhan. Saya hanya ingin tahu, seperti apa itu, dan apa yang akan dilakukan Tuhan pada orang-orang itu" (Halaman 104)


Duhh saya meringis pilu ketika membaca cerpen nomor 8 dan 10 karena saya jadi teringat buku yang saya baca Gerwani : Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan yang berdasarkan pengakuan dari perempuan-perempuan GERWANI atau LEKRA yang pernah menjadi korban keji lelaki sehingga mereka memiliki trauma tersendiri :'(

Terimakasih iJak untuk peminjaman bukunya
Profile Image for Ursula.
304 reviews19 followers
April 24, 2016
Nama Puthut EA sebenarnya sudah tak asing untuk saya. Beberapa kali namanya muncul sebagai pengarang dari artikel Mojok.co yang saya baca; dan M. Aan Mansyur pun beberapa kali mencetuskan Puthut lewat akun Twitter @hurufkecil.

Motif awal saya membeli buku ini, tentu karena cuitan Aan. Saya selalu percaya, sastrawan bagus tak akan merekomendasikan penempa kata lain yang kualitasnya buruk. Begitu saya melihat satu kopi Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali ini tergeletak di salah satu pojok bawah rak novel di Gramedia, langsung saja saya sambar dan bawa ke kasir.

Setelah selesai melahap kisah-kisah Puthut dalam waktu dua hari, saya seperti menemukan sesuatu yang lama dicari: penulis cerpen yang luar biasa. Selama ini, bila membicarakan cerita pendek, standar saya berhenti sampai di Seno Gumira Ajidarma -yang karya-karyanya semakin jarang terbit selain di harian Kompas .

Tema yang diambil Puthut kurang lebih mirip dengan Seno. Jika yang lebih tua berbicara tentang korban Petrus ataupun Timor Leste, Puthut mengambil korban peristiwa 1965 hingga Ahmadiyah. Dalam kumcer ini, mayoritas berbicara tentang anggota Gerwani hingga anak-anak PKI.

Cara Puthut bertutur sungguh enak dibaca. Monolog-monolog karakternya mengalir indah, bahkan membawa saya -sebagai pembaca -larut dalam semesta mereka. Seperti keresahan dan ketakutan seorang anak Ahmadiyah yang dipaksa mengungsi demi keselamatannya; ataupun seorang pria muda yang mendengar pengalaman anggota Gerwani saat menjadi tahanan politik.

Saya ikut merinding, resah, dan takut. Monolog tokoh-tokohnya sangat solid; saya jarang mengernyit mempertanyakan runut logika cerita. Ataupun kejanggalan perilaku karakter. Seperti monolog seorang wanita tapi dituturkan dengan cara seorang pria. Demikian pula saat dari sudut pandang anak-anak.

Puthut tak pretensius menyajikan seorang anak yang terlalu cepat dewasa -atau seorang dewasa yang sengaja dijadikan anak kecil. Semua pertanyaannya polos, namun menusuk.

Ia seorang cerpenis andal. Dan saya bertanya-tanya: apa saja yang selama ini saya lakukan hingga luput mengenal Puthut?
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
April 10, 2015
Sesungguhnya saya tidak tahu siapa itu Puthut EA, mendengar namanya pun belum. Semenjak bergabung Klub Buku Tangerang dengan teman-teman yang memiliki beragam jenis buku favorit, saya dipaksa membaca karya Puthut EA oleh salah seorang kawan. Katanya, penulis ini lebih dahsyat dari Eka Kurniawan. Dia juga bilang, supaya bacaan saya tidak melulu fantasi dan terjemahan.

Seusai membaca ini, yang merupakan kumpulan cerpen, saya mungkin setuju dengan pendapatnya di atas. Tidak ada romens sama sekali pada buku ini; hampir semuanya menyinggung konflik keadilan, politik, dan sejarah. Terdengar berat ya?

Tapi tidak, orang awam yang tidak terlalu mengenal sastra Indonesia seperti saya, mengerti dengan maksud tiap-tiap cerita. Bahasanya sederhana, walaupun terkadang ada kosakata yang sama sekali tidak ada di KBBI dan akhirnya saya menerka-nerka.

Selengkapnya: http://bibliough.blogspot.com/2015/04...

Saya penasaran dengan karya-karyanya yang lain. Pinjam lagi ah.
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
July 13, 2016
Bekal liburan di pantai. Ternyata lumayan suka!
Profile Image for Kaha Anwar.
46 reviews5 followers
March 26, 2012
Apakah Puthut EA hendak bercerita fabel? Tidak, ia tidak menceritakan dunia binatang layaknya cerita yang disuguhkan untuk anak-anak sebagai pengantar tidur. Tetapi, melalui bebek, Puthut EA benar-benar ingin mencari keadilan melalui kisah-kisah dalam cerita pendeknya. Bebek dan keadilan, apa ada relevansinya dalam menyuarakan masalah-masalah yang sekarang mulai langka tersebut? apakah ini cerita hanya akan mirip dengan cerita-cerita kartun semacam kungfu panda dan kartun-kartun binatang yang lain? Mari kita telusuri.
Di tengah-tengah kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kisah-kisah yang dimuat melalui dialog-dialog binatang. Sepertinya pembuat cerita sengaja ingin menyamarkan dirinya melalui pentokohan binatang sebagai penyambung lidahnya. Tujuan apa? ada dua kemungkinan. Pertama, konteks waktu saat cerita itu dibuat, ini berkaitan dengan sikap pengusa soal kebebasan warganya menuntut. Kita tahu, kebanyakan penguasa sangat menginginkan sikap manut, membebek dari rakyatnya. Sebab, suara-suara rakyat terkadang menjadi ancaman kekuasaannya. Latar belakang inilah, membuat pencetus cerita harus menyalakkan kekreativitasan untuk menyelamatkan imajinasinya.
Kedua, pencetus cerita memang membuat ceritanya samar, tanpa melukai pihak manapun meski begitu amanat tetap tersampaikan. Menjalankan, mendialogkan binatang lebih aman dibandingkan harus menggunakan nama-nama manusia. Sebab, manusia masih terikat dengan manusia lainnya, terikat budaya, sikap ewuh pakewuh. Sedangkan dialog binatang tentunya lebih bebas, vulgar, menukik tajam dalam kritikannya: namanya juga binatang.
Ada yang beda dengan Putuhut EA dengan binatang “bebeknya”. Dalam ceritanya ini si bebek bukan subjek yang bertutur sesama binatang lainnya atau dengan manusia layaknya burung bayan pada majikannya. Posisi bebek lebih mirip objek yang dipinjam untuk mengkritik realitas politik yang saat itu tengah terjadi. Realitas-realitas kehidupan purbasangka yang tak berdasar dan terbukti secara sah dan menyakinkan kecuali sebatas ikut-ikutan menghakimi. Dosa warisan inilah yang digunakan untuk melabelisasi seseorang yang padahal tidak pernah ikut melakukan tindakan-tindakan yang disematkan penguasa.
“Aku takut sekali. Orang-orang menuduh aku yang membunuh bebek itu, hanya gara-gara mereka melihatku habis bermain di kali, dengan ketapel mengalung di leher...” Pertarungan yang cukup sulit diterima oleh “aku”. “aku” hanya menjadi tumbal keberadaannya yang kebetulan berada di pinggir kali beserta ketapel yang mengalung di leher. Posisi yang sulit untuk menjelaskan dan membuktikan kalau “aku�� bukan pembunuhnya. Sementara “aku” terlanjur membawa ketapel sebagai alat, meskipun tidak digunakan, bisa melenyapkan nyawa bebek. Bagaimana “aku” dapat menjelaskan kalau dia bukan pembunuhnya? Bagaimana “aku” dapat mengembalikan nama baiknya yang saat ini tertuduh sebagai pembunuh bebek, sedangkan masyarakat terlanjur mengamini bahwa si “aku”lah biang masalah kematian bebek itu.
“Tidak ada orang yang percaya kalau aku tidak melakukan itu. hanya ada dua orang yang mempercayaiku, bapakku dan bulikku. Bapakku membayar ganti rugi ke si pemilik bebek, dan sempat berbisik, percaya kalau aku tidak melakukan itu.”
Meski bebek yang mati telah diganti, bapak dan buliknya “aku” sebagai dua orang yang percaya ia bukan pembunuhnya. Tetapi, cap “pembunuh” telah mendarah daging pada otak masyarakat. Sehingga menjadi beban mental bagi si “aku”.
“Bangkai bebek itu seperti horor bagiku. Sampai sekarang, bebek itu masih sering hadir dalam mimpi-mimpiku yang meresahkan.” Coba bayangkan, gara-gara “bebek” mati, dunia mimpinya pun terteror. Padahal mimpi merupakan dunia bebas, dunia yang berpeluang untuk kita menjadi raja, menjadi pecinta sejati, mencium orang-orang terkasih tanpa ada rasa malu pada Tuhan. mimpi itu dunia bebas, dunia tanpa sensor. Namun, Puthut EA memang sengaja membeberkan pada pembaca bahwa cap pembunuh, subversif, atau cap-cap yang lain dan dikuatkan masyarakatkan akan membunuh perlahan-lahan bagi pelakunya. Penghukuman yang tak terperikan.
Bebek benar-benar menjadi biang keladi permasalahn bagi “aku”.dari bebek, oleh puthut EA meloncatkan “aku” untuk menuturkan kehidupannya, keluarganya. Bapaknya hilang, ..”ia diseret dari rumah.” Sedangkan Buliknya yang dianggap ibu oleh “aku” pun hilang entah kemana, “...beberapa orang bilang, ia gila, tapi ada juga orang yang bilang, ia mati.”
Sebuah titik klimak beranjak mulai. Bebek mati, bapaknya yang hilang, dan buliknya yang hilang: entah benar gila atau mati. Menyeret “aku” hidup kepontang-panting. Tidak jelas. Bahkan cita-citanya pun tak mulus, hanya gara-gara dia keturunan komunis:”Aku ingin jadi guru, lalu mendaftar masuk SPG, tapi ditolak. Padahal aku lulusan terbaik. Anak seorang komunis tidak boleh jadi guru, begitu selentingan yang kudengar.”
Ternyata, penderitaan “aku” tidak berhenti pada gagalnya cita-cita, malah sebaliknya menjadi bara yang menyulut kebencian bapaknya yang dianggap sebagai biang semua kegagalannya. “Aku sekolah di SMA. Di hatiku, mulai timbul rasa benci kepada bapakku. Lulus SMA, aku membuka toko kelontong di dekat terminal. Aku jatuh cinta dengan seorang perempuan, ia sekolah SPG. Ketika hubungan kami mulai dekat, tiba-tiba ia memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan. Ia takut tidak bisa menjadi guru jika menikah denganku.”
Bagi saya, inilah korelasi antara mimpi dan cinta “aku” yang penuh teror. Mimpi sebagai dunia bebas sensor dan cinta yang merupakan hak fitrah manusia pun ikut terampas oleh label-label yang pada waktu itu benar-benar menjadi momok bagi kehidupan seorang bekas keluarga komunis. Cap yang paling ditakuti bahkan bisa menjadi dosa waris yang seakan-akan tak termaafkan oleh masyarakat dan penguasa. Komunis semacam koreng yang membekas pada tubuh bangsa ini.
Teror-teror itu benar-benar membuat “aku” dalam kehidupan yang tehimpit. Frustasi, kamarahan yang meledak membuat “aku” gelap mata. “aku” terbawa kebencian masyarakatnya untuk membenci bapaknya. Meskipun “aku” sendiri tidak tahu apakah bapaknya benar-benar seorang komunis atau bukan. Tetapi, kemarahan yang meledak kepada bapaknya itulah yang menggerakkan “aku” membunuh bapaknya, yang oleh puthut EA disamarkan menjadi “bebek” : “Aku membunuh bebek itu. Aku mengetapel tepat di kepala bebek itu. Aku melihatnya menggelepar...aku mendengar suara rintihannya.”
“Bebek itu...Nasib burukku...”
Melalui kumpulan cerpennya ini, puthut EA sepertinya ingin mengajak kepada kita untuk mengetahui bahayanya pelabelisasian dengan cap-cap yang sangat tidak sepatutnya diberikan kepada seseorang. Sebab penghukuman yang “tidak diketahui” sebetulnya lebih menusuk dan mematikan seseorang. Melalu bebeknyanya inilah puthut EA mencari keadilan-keadilan yang selama ini terbungkam, bahkan bukan oleh penguasa saja tetapi juga dilakukan oleh masyarakat. Ini dapat dibaca-baca pada cerpen-cerpen selanjutnya. Bebek hanyalah pembukanya saja.
Profile Image for Arfan Putra.
139 reviews3 followers
August 10, 2018
Dari dulu ia selalu menekankan tiga hal: imajinasi, daya hidup dan daya cipta. "Latihlah terus imajinasimu, perkuat daya hidupmu, dan terus asahkah daya ciptamu. Kamu boleh terdesak, boleh mundur tapi kalau punya tiga hal itu, kamu tidak akan mudah ditaklukkan"

hal -157
Profile Image for Diana.
60 reviews13 followers
February 14, 2016
Mengusik hati dan pikiran. Barangkali kalimat itu yang bisa menggambarkan perasaan saya saat membaca kumpulan cerita pendek ini.
Awalnya, saya tertarik membaca karya-karya Puthut EA lebih lanjut setelah membaca beberapa cerpennya di Facebook yang ia beri tagar #BelajarMenulisCerpen. Dalam cerpen-cerpennya di Facebook itu, saya menangkap kesan yang sederhana, unik (pemilihan tema dan ceritanya jarang sekali dipilih penulis lain), tetapi tetap memberikan kejutan di bagian akhir.
Jujur saja, saya berharap akan menemukan hal-hal itu dalam kumcer ini. Ternyata, saya salah. Kumcer ini justru berisi karya-karya yang ideologis sekali. Meski fiksi, terkesan faktual karena mengambil setting peristiwa-peristiwa bersejarah (yang sayangnya begitu kelam) bangsa ini. Beberapa cerpennya bahkan membuat saya merasa ngilu, marah, dan tidak berani membayangkan bagaimana seandainya saya jadi si tokoh itu.
Sebenarnya, saya tipe pembaca yang kurang suka membaca monolog dan lebih merasa cerita itu hidup jika diisi banyak dialog. Namun, cerita-cerita yang disajikan Puthut dalam buku ini membuat saya berhasil menepis kebosanan membaca monolog, dan menuntaskan seluruh cerita yang mewakili kritik sosial Puthut EA terhadap negara.
Saya tetap berharap akan membaca kumpulan cerpen Puthut EA lainnya yang lebih ringan, unik, tapi tetap menggelitik nalar. :)
Profile Image for Septian Hung.
Author 1 book9 followers
July 20, 2016
Mas Puthut telah menampilkan suatu kumpulan cerita yang berbeda dengan kebanyakan yang saya jumpai dari penulis-penulis lain. Cerita-cerita pada masa orde baru yang ditandai dengan bermunculannya para penembak misterius, kekerasan terhadap tahanan perempuan, anak-anak yang terpaksa kehilangan orang yang mereka cintai, sedikit-banyak membuka wawasan saya pada masa-masa kelam yang pernah terjadi di negeri ini. Saya merinding sekaligus sedih membacanya. Saya seperti menyusuri jejak sejarah, namun dikemas ringan dalam bentuk sastra.
Profile Image for Agus Mulyadi.
Author 10 books39 followers
August 14, 2014
Saya baca buku ini sekitar setengah tahun lalu. Ini adalah Buku Kumcer Puthut EA Pertama yang saya baca, setelah sebelumnya hanya bisa membaca karya-karya beliau lewat internet. Bagi saya, buku ini sangat maestro, isinya cerpen-cerpen tajam khas Puthut EA, Ya, Tajam, sungguhpun ada beberapa yang temanya romansa. Beberapa judul Legendaris seperti Koh Su, Berburu Beruang, serta Sambal Keluarga tampil apik di buku ini.
Profile Image for rati.
52 reviews9 followers
August 18, 2017
Bagaimana bisa saya baru mengetahui kumpulan cerpen yang sangat bagus ini setelah bukunya dicetak ulang pada tahun 2017? Itupun menemukan secara tidak sengaja ketika jalan2 di toko buku.
Cerpen2nya ditulis dengan bahasa yang sederhana, ringkas, namun dapat menggambarkan kekelaman sejarah Indonesia maupun kehidupan manusia biasa dengan sangat baik; menghantui dan mengganggu ketenteraman pembaca. Unforgettable stories!
Profile Image for hans.
1,160 reviews152 followers
December 10, 2013
Tiap kali usai baca cerita-cerita pendeknya, aku termenung. Aneh sekali.
Profile Image for Sigit  Raharjo.
34 reviews4 followers
May 17, 2016
Ini buku kumcer Puthut keempat yang sudah saya baca. Gaya menulisnya yang halus dan telaten memaksa kita membaca hingga paragraf terakhir yang penuh kejutan.
Profile Image for A N P.
59 reviews4 followers
August 31, 2017
Kalau diibaratkan tubuh manusia, buku ini akan penuh luka codet atau sayatan. Isinya 15 cerpen tentang perjuangan di era komunis dan era rezim rakus kekuasaan. Dan ketika menceritakan perjuangan, pasti selalu menumbuhkan luka. Saya beberapa kali sempat berhenti membaca dan memutuskan untuk tidak meneruskan membaca, karena isinya gelap sekali. Terlalu suram untuk dibaca di zaman ini. Tapi, justru di satu sisi, gelapnya cerpen inilah yang menguatkan. Mengingatkan orang-orang untuk terus melawan ketidakadilan, kerakusan, ketamakan, kesombongan para penguasa. Supaya tidak ada lagi "manusia yang dipaksa masuk dalam daftar perkara yang tidak pernah diperbuatnya, disudutkan ke dalam persekongkolan-persekongkolan yang aneh, dan jika kami menolak tuduhan itu, maka siksaan yang berat semakin harus diterima" (cerpen Anak-Anak yang Terampas, hal. 100).

Seperti membaca epilog yang ditulis Aan Mansyur untuk buku ini, cerpen disini semuanya telanjang. Semua tokoh di dalamnya tidak pernah dijelaskan memakai baju apa, warna apa, model apa. Karena yang terpenting adalah apa yang ada di pikiran tokoh-tokoh kerdil itu. Itu pula yang membuat saya ikut terhanyut dalam setiap suara tokoh Puthut.

Semoga buku ini akan terus diterbitkan. Hingga manusia tau, bahwa kekerdilan dan ketamakan pada kekuasaan memang harus dihilangkan hingga ke akarnya.
Profile Image for Berbuku2.
35 reviews
May 5, 2025
His-fic alert!

Buku kali ini adalah kumpulan cerpen dari Puthut EA, seorang penulis, peneliti, dan pendiri mojok.co.

Kira-kira setengahnya mengenai kehidupan saat dan setelah G30S terjadi. Ada juga yang slice of life. Ada yang POV nya dari anak-anak korban keadaan, ibu-ibu penyintas 'pengambilan paksa', mas-mas quarter life crisis, aktivis, bahkan penggemar nasi goreng.
Rame kan?

Cara berceritanya menyenangkan. Diksinya indah tapi tidak berbelit-belit.
Lima belas cerita pendek ini bakalan selesai sekali lahap.

Cerpen yang paling saya suka dalam buku ini adalah "Doa yang Menakutkan" dan "Sambal Keluarga".

Doa yang Menakutkan bercerita tentang seorang anak yang akhirnya takut dan menolak agamanya sendiri karena trauma akan orang-orang yang beragama sama dengannya tapi meneror dan menghancurkan masjid kampungnya. Padahal mereka meneriakkan doa yang sama.

Kalau Sambal Keluarga, menceritakan tentang ritual sarapan sebuah keluarga, yang menyajikan satu sambal khusus, dan hanya keluar saat keluarga inti yang makan. Jadi kalau ada orang lain selain keluarga inti, menu sambal ini tidak akan dihidangkan. Sampai tiba masanya anak-anak di keluarga ini pulang membawa calon pasangan masing-masing. Dan seleksi diterima atau tidaknya calon pasangan mereka akan tersaji di meja makan saat sarapan.


Menarik! Nampaknya saya akan cari karya Puthut EA lagi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for red.
13 reviews
January 19, 2025
Tiap cerita punya makna yang mendalam menurutku. Dibuka dengan Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali.. dibuat deg-degan dan melongo sama endingnya. Paling suka sama cerita Obrolan Sederhana.. sederhana emang tapi entah kenapa suka. Lalu Rahasia Telinga Seorang Sastrawan Besar.. bagaimana melawan rezim dengan drama yang cerdas (setuju banget). Sebetulnya, dari semua yang paling aku suka justru Sambal Keluarga.. gimana terutama endingnya Dian yang punya selera unik di atas tradisi sambal yang udah lama ada di sana. Selain itu juga teriris baca cerita Retakan Kisah.. campur aduk bacanya ditambah ending yang rasanya betul-betul mewakilkan :

Ketika ibuku menyapa, aku bahkan tidak tahu harus berkata apa, dan hanya bisa bertanya, "Ibu baik-baik saja?"

Lagi, suka dengan cerita Berburu Beruang. Pesan-pesan yang berisi imajinasi, daya hidup, daya cipta.

Untuk beberapa cerpen masih perlu ku baca dua kali untuk mengerti makna implisitnya tapi sejauh ini suka dan menghibur, bermakna juga.
Profile Image for saskia.
23 reviews
May 24, 2025
Aku lega mengambil buku ini di antara deretan buku-buku di rak perpusda. Sedikit banyak menambah wawasanku mengenai kejadian kelam sejarah Indonesia di masa orde baru. Terdiri dari beberapa cerpen yang bercerita mengenai peristiwa-peristiwa politik yang berakhir lenyapnya orang-orang secara misterius karena terindikasi menjadi anggota suatu organisasi politik, yang dikemas menjadi cerita sastra yang ringan dan merakyat.

Empat cerpen yang paling menggugah buatku: tentang 'pensiunan' aktivis yang pindah ke kampung dan mulai mengelola pertanian dan harus pura-pura berburu beruang agar tetap waras, tentang rumah kosong yang sebelumnya dihuni anggota PKI, tentang cerita guru perempuan yang disiksa dalam latar '65, tentang seekor bebek yang mati di kali.
Profile Image for kik.
159 reviews1 follower
June 10, 2021
Dibandingkan novel kumpulan cerpen lainnya dari Puthut EA, buku ini entah mengapa jauh lebih mudah untuk kupahami. Sebuah buku yg layak disebut sebagai page turner. Isu2 yg diangkat termasuk penting dan "tabu" untuk dibacarakan, tetapi Puthut mengemasnya dengan sangat sederhana, mengalir dan meninggalkan banyak ruang untuk diskusi tukar pikiran. Tapi kesederhanaan narasi Puthut adalah keunggulan utama dari buku ini. Tidak semua penulis bisa mengemas cerita menyedihkan, pilu, tabu dan mengerikan dalam gaya yg sederhana — terlebih lagi, melalui perspektif anak-anak.
Profile Image for Meirna Fatkhawati.
135 reviews3 followers
July 18, 2024
senangnya aku dapat buku ini dari seseorang alias ini hadiah pemberian dari seseorang. makasih banget

15 cerpen yang bagus.
membuat saya ingin tahu tentang peristiwa kelam tahun 65. terutama tentang kejadian PKI dan sesudahnya. sama-sama kejam.

dari ulasan buku ini saya tahu ada organisasi namanya Gerwani. dituduh bersekongkol dengan PKI tapi ternyata itu fitnah. ga ada bukti nyata.

siap-siap saja membaca buku ini.
emosiku saat membacanya : heran, senang, kasihan, sedih, jijik, marah, dll.
kalau buku dari penerbit MOJOK selalu antusias. ternyata bagus. sip
Profile Image for Rhayndra falaq firnaddad.
1 review
May 16, 2025
salah satu buku pertama yang saya baca ketika sd, yang kemudian lewat ini membuat minat membaca saya melesat jauh. sebuah kumcer yang indah, setiap cerita membuat saya berdebar-debar;entah karena kegirangan atau ketakutan. sampai sekarang saya masih mengingat semua detail terkecil pada tiap cerita, favorit saya? sambal keluarga, terasa indah untuk mengetahui bahwa hal sesepele makan sambal bersama dirumah dapat menjadi semacam lem bagi hubungan satu keluarga agar tetap rapat.
Profile Image for Hanifati.
99 reviews47 followers
June 4, 2017
Setelah sebelumnya membaca karya Puthut EA hanya lewat internet akhirnya berkesempatanlah saya membaca bukunya. Sederhana, ringan namun tetap tajam dan menggelitik nalar. Setting cerita diambil dari kehidupan sehari-hari dengan rentang tema tentang tragedi 1965, komunis dan PKI, Gerwani, Pramoedya Ananta Toer yang menarik untuk diikuti.
Profile Image for Levinia Aldora.
91 reviews3 followers
November 6, 2017
Untuk seorang saya yang selalu merasa kurang afdol kalau baca kumpulan cerpen, kumcer ini super duper wow!

Pas di saat saya mulai merasa jenuh dengan cerita cinta melulu, saya menemukan buku ini yang seakan menceritakan ketidakadilan sejarah dengan cara yang lebih mudah dicerna.

Ini buku karya Puthut pertama saya, dan saya sukses jatuh cinta!
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,092 reviews17 followers
February 18, 2020
Di kumpulan cerita Puthut EA ini, mayoritas tema yang disampaikan adalah tentang kejadian pasca tragedi 1965. Meskipun begitu, ada juga tema tentang kerusuhan tentang agama dan pengungsi akibat bencana alam. Ceritanya pun cukup mengalir dan dibawakan dengan baik, jadi saya bisa menikmatinya.
Profile Image for Putri Sipayung.
34 reviews
June 22, 2022
Awalnya aku sempat bingung, buku ini bahas apa sih?
Tetapi, semakin membaca malah semakin menarik dan ketemu pembahasannya tentang apa. Tentang kota yang menjadi pusat masalah dan desa menjadi lumbung perlawanan .
Profile Image for Randy Sofyan.
70 reviews6 followers
August 18, 2022
Kumpulan cerpen dengan latar cerita pra dan pasca reformasi. Ditulis dari sudut pandang “aku” yang anak-anak, sahabat dekat, dan (atau) tahanan politik.
Kisah-kisah yang terlihat jauh di belakang dan gelap buat gue, tapi beberapa masih bisa dirasakan relevansinya di milenium ini. Secara tulisan, gue emang suka cara bercerita Pak Kepala Suku satu ini, mulai dari sekadar bercerita di takarir atau cuitan, hingga tulisan fiksi maupun non fiksi nya. Epilog dari Aan Mansyur semakin memperkukuh pernyataan gue. Cerpen favorit gue dari buku ini adalah Sambal Keluarga dan Koh Su - cerita yang berhubungan dengan makanan pokoknya.
Profile Image for Arfanlel.
90 reviews
January 19, 2024
Dari dulu ia selalu menekankan tiga hal: imajinasi, daya hidup dan daya cipta. "Latihlah terus imajinasimu, perkuat daya hidupmu, dan terus asahkah daya ciptamu. Kamu boleh terdesak, boleh mundur tapi kalau punya tiga hal itu, kamu tidak akan mudah ditaklukkan"

hal -157
3 reviews
June 1, 2021
Kumpulan cerpen pada buku ini banyak mengusung isu pasca 65, setiap cerpen diceritakan dengan sudut pandang aku. Recommended
Profile Image for Nindi Amelia.
14 reviews
June 4, 2022
Dari sekian lembaran, terdapat lebih dari 10 cerpen. Tidak semuanya memiliki makna mendalam, tetapi hampir semuanya mengisahkan perjalanan hidup di masa-masa 90 an sampa 2000 an.
Displaying 1 - 30 of 48 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.