Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pengkajian Puisi

Rate this book

260 pages, Paperback

First published January 1, 1987

38 people are currently reading
514 people want to read

About the author

Rachmat Djoko Pradopo

6 books17 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
54 (50%)
4 stars
21 (19%)
3 stars
23 (21%)
2 stars
6 (5%)
1 star
4 (3%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for ukuklele.
465 reviews20 followers
February 16, 2024
Tahun-tahun awal kuliah saya pernah pinjam buku kritik Rachmat Djoko Pradopo dari perpustakaan pusat kampus, tapi tidak ingat judulnya dan malas mengubek kardus catatan untuk mencari tahu; pun waktu itu saya belum rajin merekam pembacaan di blog atau Goodreads supaya lebih mudah mengaksesnya. Sepertinya buku tersebut mengenai sastra Indonesia modern, bukannya Pengkajian Puisi sebagaimana yang belasan tahun kemudian saya temukan di rumah teman dan pinjam dalam rangka mengikuti Ray-Bradbury-Challenge-tapi-dimodifikasi (tidak harus dengan mencicil 1 puisi/hari, tapi hanya memperbanyak membaca bukunya supaya jumlahnya merata dengan yang nonfiksi dan fiksi; walaupun buku ini bukan sepenuhnya berisikan puisi saja, tetap ada puisi-puisi di dalamnya, disertai dengan penjelasan pula!) Buku ini dibeli di Palasari pada 5 April 2009 seharga Rp 32.000 dan teman saya "cinta buku ini" (semua keterangan ini ditulisnya di halaman depan). Kovernya hijau muda, cetakan kesepuluh, 2007, tapi desain dan ISBN-nya sama dengan yang ada di Goodreads ini. Ketika googling dan cari di Ipusnas, saya menemukan bahwa selain merah dan hijau, ada pula edisi buku ini yang desainnya sama tapi warna kovernya biru.

Menurut blurb-nya, buku ini berisi petunjuk untuk menemukan makna puisi melalui beragam analisis dsb. Buku ini "penting dibaca" sebab menemukan makna puisi dapat membuat hidup menjadi tenang dan tenteram untuk dijalani, "memperkaya kehidupan batin, menghaluskan budi, membangkitkan semangat hidup dan mempertinggi rasa ketuhanan". Benarkah begitu? Saya kira baru dapat membuktikannya setelah bertahun-tahun rutin membacai buku puisi. Let's see ....

Dalam kata pengantar, penulis menyatakan maksudnya agar buku ini dibaca oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya kalangan tertentu. Sebagaimana sudah disebutkan di blurb, memaknai puisi memberikan sejumlah manfaat. "Akan tetapi, seperti puisi pada umumnya, puisi Indonesia modern kian kompleks dan sukar. Hal ini disebabkan oleh keinginan para penyair untuk menyajikan kemajuan seni yang setinggi-tingginya hingga memberikan kenikmatan seni yang setinggi-tingginya. Hal ini sesuai dengan kemajuan seni dan kemajuan intelek manusia pada umumnya yang meliputi segala bidang seni, ilmu, dan kehidupan. Maka, untuk semua itu diperlukan sarana pemahaman yang maju dan setepatnya, tidak terkecuali puisi." (halaman vi)

Meski begitu, dibandingkan dengan beberapa buku teks mengenai puisi yang saya sudah baca, seperti Bimbingan Apresiasi Puisi serta Teori dan Apresiasi Puisi , buku ini tampak begitu "akademik", berat, memusingkan, menjelimet, dan menjemukan, sulit, karena banyak menggunakan istilah yang tidak umum, contohnya saja: semantik, semiotik, korespondensi, periodisitas, dst, yang agaknya lebih kena bagi pembaca dengan latar pendidikan bahasa. Memang istilah-istilah tersebut disertai dengan penjelasannya, tentu saja, sehingga memberikan pemahaman baru bagi pembaca awam seperti saya.

Pengertian yang paling kena buat saya adalah perbedaan antara puisi dan prosa, puisi dan sajak, serta paradoks dan ironi.

Diterangkan mulai halaman 11, dalam poetika (ilmu sastra) sebetulnya hanya ada satu istilah yaitu puisi, yang mencakup semua karya sastra, yang secara garis besar dibedakan menjadi prosa dan puisi. Yang membedakan antara prosa dan puisi di antaranya adalah kadar kepadatannya. Puisi bersifat memadatkan, sedang prosa menguraikan. Karena kepadatannya itulah, bagi saya pribadi, membaca puisi itu susah. Puisi ibarat puncak gunung es, yang kita harus menyelami sendiri sedalam-dalamnya, untuk melihat kandungannya. Sedangkan prosa, dengan sifatnya yang menguraikan itu, seperti pemukaan luas yang kedalamannya tidak sepalung puisi, sehingga lebih bebas leluasa nikmat merenanginya. Menurut penjelasan di halaman 279, prosa tampak lebih mudah dipahami maknanya daripada puisi karena bahasa prosa merupakan ucapan "biasa" sedangkan puisi adalah ucapan yang "tidak biasa". Biasa atau tidak biasa itu bila dihubungkan dengan tata bahasa normatif. Biasanya prosa mengikuti atau sesuai dengan struktur bahasa normatif, sedangkan puisi menyimpang.

Perbedaan antara puisi dan sajak ada penjelasannya di lampiran. Puisi adalah genre atau jenis sastra, sedang sajak adalah individu puisi, mungkin sebagaimana prosa adalah jenis sastra, sedang individunya dapat berupa cerpen atau novel, atau data dengan datum, serta alumni dengan alumnus; istilah yang satu untuk menyebut secara keseluruhan, istilah yang lain untuk yang tunggal. Dalam bahasa Inggris, puisi itu poetry sedang sajak poem.

Untuk paradoks dan ironi, saya masih rada susah membedakannya wkwkwk, sepertinya perlu melihat lebih banyak contoh dari masing-masing.

Dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya, buku ini tampak amat menekankan pada bunyi. Pembacaan puisi tidak mesti terpaku pada arti kata, tapi bisa sekadar menikmati bebunyian dari kata-kata yang malah belum tentu berupa "kata" betulan yang memiliki arti, tapi hanya tiruan bunyi, sebagaimana menikmati musik saja. Toh puisi itu bukan cuma untuk dibaca dalam hati, melainkan juga dideklamasikan. Makanya selama ini saya kurang menikmati puisi karena cenderung terpaku pada makna kata-kata, kurang meresapi sensasi dari bunyi-bunyi. Mungkin itu karena saya kurang peka secara auditori(?). Diterangkan dalam buku ini bahwa huruf-huruf dapat menghasilkan kombinasi bunyi yang terdiri dari efoni (euphony) dan kakofoni (cacophony). Efoni merupakan bunyi yang merdu, indah, berirama, yang dihasilkan dari huruf-huruf vokal/asonansi (a, e, i, o, u), serta konsonan bersuara (b, d, g, j), liquida (r, l), dan sengau (m, n, ng, ny), sedangkan kakofoni tidak merdu, parau, sehingga memperkuat suasana tak menyenangkan, kacau balau, serta tak teratur, memuakkan, yang dihasilkan huruf-huruf konsonan tidak bersuara (k, p, t, s).

Ini mengingatkan pada musik jaz persisnya scat singing, sebagaimana dicontohkan dengan sajak Hugo Ball, "RATAPAN MATI", di halaman 25, yang kedengarannya seperti racauan tanpa arti. Musik jaz itu sendiri di telinga saya pada awalnya terdengar berantakan, tanpa melodi yang beraturan, sehingga malah memusingkan, meski lama-lama terbiasa dan menikmatinya sebagai pengiring cuci piring. Pada 2019 dalam rangka memperingati Hari Puisi Sedunia, di Bandung pernah diadakan acara Jazz Poet Society yang kala itu saya masih kebingungan dalam menghubungkan antara puisi dan jaz karena yang ditampilkan hanya pembacaan puisi dan tidak ada yang bermain musik jaz sebagaimana yang saya ketahui. Setelah membaca buku ini, saya terpikir: boleh jadi hubungan antara puisi dan jaz dalam acara yang tampak tidak ada permainan musik jaznya itu sesungguhnya ada, tapi perlu dimaknai sendiri oleh pemirsa dengan lebih memahami soal puisi dan jaz. Halahembuh.

Dalam pembahasannya, buku ini paling banyak menampilkan sajak-sajak Amir Hamzah dan Chairil Anwar, bagaimana Amir Hamzah memengaruhi Chairil Anwar, lalu Chairil Anwar memengaruhi penyair-penyair generasi selanjutnya. Keterkaitan itu disebut dengan intertektualitas, dan hipogram adalah teks yang menjadi latar belakang penciptaan teks-teks lain. Khusus mengenai Chairil Anwar, kendati sudah banyak yang suka dan mengelu-elukannya, tidak mengelakkan saya dari mengaitkan diri dengan sajak-sajaknya juga. Ada beberapa yang saya salin. Padahal, mengetahui perilakunya, dia unlikeable buat saya. Namun dengan cara hidup yang sedemikian itu ia justru menghasilkan puisi-puisi yang kena pada saya. Kiranya ini menunjukan bahwa selalu ada cara untuk terhubung dengan sesama manusia, sekalipun tampaknya ia begitu berbeda. Mungkin, karena itu pula, di dunia maya saya justru merasa paling nyambung mengobrol dengan orang-orang yang ternyata pemuja setan -_- padahal saya sendiri lagi berusaha mendalami agama, dan pada akhirnya saya terpaksa meninggalkan mereka.

Buku ini mengilhamkan saya untuk selanjutnya belajar tentang stilistika, yaitu ilmu mengenai gaya bahasa yang ada beberapa bukunya (termasuk dari penulis buku ini) di Ipusnas. Selain itu, ada ide-ide latihan menulis kreatif yang sepertinya sudah terpikirkan sebelumnya tapi tidak kunjung saya coba, yaitu (1) memparafrasekan puisi jadi prosa (2) membuat daftar citraan (kata-kata konkret yang dapat menimbulkan gambaran) berdasarkan pancaindra berdasarkan satu tema atau suasana yang hendak dibawakan lalu memadukannya jadi narasi.
1 review
November 27, 2017
wow
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
July 27, 2008
Nama penulisnya sering ketuker dengan penulis lain yang juga akademisi. Namanya dulu saya sering salah ucap menjadi"Rachmat Djoko Damono" dan yang satunya tetap menjadi "Sapardi Djoko Damono." Setelah membeli bukunya yang pengantar puisi, salah ucap itu tidak lagi terjadi.

Di buku pengantarnya itu saya suka sekali dengan pembukaannya yang mempolemikan puisi dengan prosa. Diberinya pembaca dua buah contoh tulisan yang bentuknya adalah kebalikan dari labelnya. Yang berbentuk puisi adalah sebuah prosa, sementara yang berbentuk prosa adalah puisi.

Itu yang nempel di kepala sampai sekarang dari buku pengantar yang saya suka. Selain juga pengantar Ilmu Sastra terbitan Gramedia yang di-Indonesiakan-oleh Dick Hartoko dari pengarang Belanda.
Profile Image for Anisah Zuhriyati.
Author 1 book5 followers
July 7, 2014
usil banget nyari nama beliau.
buku ini membantu saya mengerjakan tugas teori puisi. terimakasih bapak :)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.