Sejak Maret 2020, pandemi melanda hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meski tidak sampai lockdown, masyarakat khususnya di Pulau Jawa hampir tidak bisa ke mana-mana. Ketika situasi mereda, Timon, Bella, Serena, Jerry, Joni, dan Tuti berlibur ke Bitung dan Manado, Sulawesi Utara. Di Bitung mereka tinggal di resor milik teman ayah Timon. Dino, anak pemilik resor, menemani mereka selama di sana. Pengalamanselama perjalanan membuat perasaan keenam sahabat itu plus Dino jadi campur aduk. Tegang karena peristiwa kejahatanyang melibatkan polisi, senang karena bisa liburan di daerah baru, bahagia karena ada rasa suka yang timbul, dan jengkel karena Jerry malah sakit gara-gara kesalahannya sendiri. Diam-diam, Serena ikut perjalanan ini karena ingin melarikan diri dari suasana rumah yang terasa seperti neraka. Tidak dia sangka, Dino ternyata suka padanya. Padahal Bella sejak awal telah menunjukkan rasa suka pada Dino. Persahabatan Serena dan Bella diuji. Jadi, bagaimana akhir liburan mereka?
Pendosa adalah novel perdana Esi Lahur yang memiliki nama asli Maria Theresia Lahur. Novel ini terinspirasi dari pengalaman hidup penulis yang pernah menempuh SMA di Blitar, tinggal di asrama yang dikelola suster Katolik, dan mengalami masa kuliah yang kebetulan bertepatan dengan penggulingan Orde Baru.
Lahir di Jakarta, 3 Oktober 1977, Esi adalah sarjana antropologi FISIP Universitas Indonesia (2001) yang kini bekerja sebagai wartawan di Tabloid Olahraga BOLA.
Ketertarikan Esi pada dunia tulis-menulis sudah muncul sejak kecil. Waktu SD, pernah menulis di majalah Paroki Kristus Salvator, Petamburan, Jakarta, yang bernama Tambur.
Saat kuliah, Esi mengikuti mata kuliah Penulisan Populer dengan dosen Ismail Marahimin yang membuatnya gemar menulis cerpen. Pengaruh mengikuti mata kuliah itu besar bagi Esi, karena cerpen pertama yang dikirimnya ke majalah Femina, Pengantinku menjadi juara pertama Sayembara Mengarang Cerpen Femina 2000. Sejak itu sejumlah cerpennya dimuat di majalah Femina dan Bobo.
Kegemaran melakukan perjalanan ke sejumlah daerah di Indonesia digabungkan dengan kesenangan menulis menghasilkan novel Pendosa.
Seneng banget bisa nemu buku yang ngajak jalan-jalan ke pulau lain, plus beberapa deskripsi kulinernya yang bikin ngiler, sih, hehe.
Aku ambil buku ini karena lagi nyari teenlit baru dan agak kaget awalnya karena format e-book baru yang (lagi-lagi) weird. Ditambah banyak kalimat entah itu format lagi chatting atau ngomong tatap muka. Awal-awal cerita masih belum kelihatan siapa hero atau heroine-nya karena memang ini semacam multiple pov. Walaupun begitu, sebagai orang yang sensitif dengan perubahan "kepala", aku tetap risi huhu.
Ada typo sewaktu nyebut nama, dan sebenernya kalau orang mau konsentrasi nggak bakal masalah. Masih ada untungnya kok karena typo dan pelanggaran pov-nya, suara karakternya bisa diselamatkan haha. Joni yang paling khas, sama Bella. Karakter Jerry kupikir bakal dapat closure apa gitu, ternyata memang tercipta untuk disalah-salahin (poor him!).
Nggak tau ini keluhan ke berapa, tapi banyak bagian yang bisa di-cut, alih2 dipertahankan buat memperbanyak halaman. Narasinya makin lama makin ikutan nggak baku, hmm, agak aneh aja kalau dibaca. Lalu, waktu berhasil sampai di halaman terakhir dapat satu masukan: buku ini bisa ditujukan ke pov Selena saja. Yah, walaupun pembaca nggak akan tahu apa yang karakter lain kerjakan, tapi lebih baik begitu, sih. Lebih tergali juga.
Kenapa kalau keluhan sebanyak ini aku memutuskan lanjut baca? Karena kisah keluarga Serena relate banget dan aku memutuskan buat kasih kesempatan ke buku ini sampai selesai. Masalah Serena mungkin berakhir seperti itu, tetapi entah aku merasa kurang greget aja. Kayak sengaja dibuat begitu biar penderitaannya end aja.
Bagian favoritku ya tentu saja Joni, haha. Sewaktu kejadian di kantor polisi itu, sih. Istilah laos yang unik dan baru. Nih, kata Katim Axton, "Laos itu ikan—ikan kecil yang menempel di ikan paus. Kalau manusia, itu maksudnya orang yang suka gratisan. Misalnya kalau makan rame-rame, sering ada yang tidak mau bayar. Itu laos." Wakakakak, yang temennya suka numpang makan laos, tuh 🙊
Anyway, ini teenlit rekomen buat yang kepengin latar di luar Jakarta atau pulau Jawa. Puas diajak jalan-jalan ke Bitung dan dikenalin sama kuliner khasnya. Hmm, jadi kepengin nyoba keripik goroho sama sambal roa 🤤
Enam sahabat: Serena, Bella, Tuti, Joni, Jerry, dan Timon berlibur ke Manado dan Bitung di masa liburan kuliah. Saat itu sedang pandemi, meski tidak sampai lockdown. Di Manado, mereka bertemu dengan Dino, sepupu Timon yang akan menjadi tour guide dan mengantar ke Kota Bitung. Berbagai peristiwa pun terjadi mulai dari penjambretan hape, diare kebanyakan makan sambal, sampai timbul rasa cinta.
Pada perjalanan setengahnya membaca, aku belum bisa menangkap siapa main lead di buku ini. Di blurp tertulis Serena dan Dino, tetapi yang lebih banyak terlihat justru Bella dan Jerry. Lalu, sebenarnya di Kota Bitungnya pun hanya sebentar. Lebih banyak di Manado. Tapi, kalau jadi From Manado with Love, kotanya sudah terkenal, jadi nggak terlalu bikin penasaran. Makanya mungkin Bitung yang diambil sebagai judul.
Fokus penceritaannya pun lompat-lompat. Kadang ini lagi cerita Bella, tapi bisa jadi Jerry. Keenam sahabat itu bisa dieksplor karakteristik dan konfliknya, tapi sayangnya hanya diceritakan saja tanpa ada konklusi. Dan kesan "love"-nya pun kurang dapet. Hubungan Bella-Dino-Serena yang di-blurp terlihat seperti akan menjadi love triangle trope, ternyata hanya sekadar ada.
Salah satu yang asyik menurutku di buku ini adalah tektokan obrolan Bella, Jerry, dan Joni [lebih ke bickering sih]. Dan juga eksplor Kota Bitung yang menarik. Aku jadi tahu kalau di Bitung ternyata ada Menara Eiffel—versi miniatur.
Akhir kata, kalau butuh cerita teenlit era pandemi yang ringan-ringan, bisa dibaca.