"Aku tidak apa-apa tanpamu, aku tidak apa-apa hanya sebatas mencintaimu, aku tidak apa-apa sungguh, yang menjadi kenapa-kenapa, aku tidak bisa melupakanmu."
Have you ever felt hurt because you loved someone? Loving but can’t be together. Yes! Definetely, i have.
Mencintai seseorang itu tidak hanya perihal bahagia, nyaman, dan bersama, tapi cinta juga bisa menjadi luka, kata orang-entah-berantah. Buku ini menyajikan curahan hati tentang mencintai, terluka dan mengikhlaskan yang terdiri dari empat musim dengan cerita perasaan yang berbeda-beda.
Ada 12 kisah dimusim pertama, bagian ini menceritakan bagaimana sih jatuh cinta itu, apa yang dirasain kalau saling mencintai. Baca musim ini berasa kupu-kupu di perut siap untuk terbang keluar, cocok untuk mencari ide tulisan surat cinta buat pasangan atau calon pasangannya. Apalagi kalau love language targetnya word of affirmation.
Untuk musim ke-2 dan ke-3, perpisahan antara keduanya mulai ditunjukkan. Si perempuan mulai jatuh cinta kepada orang lain. Yang membedakan musim ke-2 masih tahap awal perpisahan, sedangkan musim ke-3, si laki-laki berada dikondisi denial sama hubungan yang sudah selesai. Feel the deepest heartbreak. (Kalau kalian berniat untuk kembali sama mantan, kalimat di musim ke-dua masih relate sama keadaan)
Beralih dibagian yang paling ku suka, yaitu musim ke-4, fase mengikhlaskan, sudah ditahap menerima kalau perpisahan itu memang terjadi. Berhubung lagi relate sama keadaan sendiri, banyak curahan yang bisa dijadikan quotes, (lumayan buat diunggah di story whatsapp).
Kalau dari ku, having a broken heart can make us stronger, even though it is difficult to get, but it doesn’t matter, we can achieve it.
Overall aku suka buku ini, bacaan yang sekali duduk selesai. Sedikit kekurangan ada pada halaman yang tidak justify-rata-kiri-kanan dan beberapa ada kesalahan pengetikan, kurasa.
Beberapa kutipan yang menarik,
Sekarang aku dan kamu sudah saling memahami, untuk bersama orang yang tepat kita akan dipertemukan dengan orang yang salah berkali-kali dan dipatahkan sekian kali — halaman 23.