Argenteuil, sebuah kota kecil di tepian Sungai Seine, kira-kira 10 km barat laut Paris. Ke sanalah Dini pindah setelah suaminya berangkat ke Amerika Serikat untuk menjadi Konsul Jenderal Prancis di Detroit. Padang ikut ayahnya, sementara Lintang meneruskan tinggal di asrama sekolah sampai menamatkan pendidikan menengahnya. Sambil menunggu perceraian resmi yang proses pengurusannya memakan waktu 4-6 tahun, ia memilih hidup memisahkan diri dari suami dan anak-anaknya. Meski demikian, ia bersyukur karena Lintang dan Padang mendukung keputusannya dan secara batin tetap dekat dengannya.
Di Argenteuil, Dini menjalani hari-hari yang tenang dengan bekerja sebagai dame de compagnie-wanita pendamping bagi Tuan Willm, seorang pria tua berusia tujuh puluhan yang hidup seorang diri di rumah kuno berlantai empat dan pernah menjadi tempat tinggal Karl Marx. Tugas Dini adalah merawat dan menjadi teman berbincang bagi Tuan Willm. Di saat-saat senggang, ia terus menekuni kegemarannya menulis dan berkebun. Hari-harinya yang tenang terusik ketika ia menerima undangan dari Angele - kakak Sang Kapten, untuk berkunjung ke tanah pertanian tempat kekasihnya itu dilahirkan.
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.
Bibliography: * Padang Ilalang di Belakang Rumah * Dari Parangakik ke Kampuchea * Sebuah Lorong di Kotaku * Jepun Negerinya Hiroko * Langit dan Bumi Sahabat Kami * Namaku Hiroko * Tirai Menurun * Pertemuan Dua Hati * Sekayu * Pada Sebuah Kapal * Kemayoran * Keberangkatan * Kuncup Berseri * Dari Fontenay Ke Magallianes * La Grande Borne
Dari semua buku Nh.Dini, Argenteuil adalah buku pertama yang saya baca. Kesan yang saya dapat adalah seperti mendengarkan curahan hati seorang ibu yang ingin membagi kisah hidupnya kepada anak-anak tersayangnya. Suka duka kehidupan Bu Dini selama hidup terpisah dengan suami dan anak bungsunya. Pahit dan manisnya seperti terasa secara bersamaan.
Nh.Dini di Argenteuil seperti tulisan tangannya di lukisan-lukisan Pohon Bambunya: "Pohon Bambu teguh dan kuat, namun daun dan rantingnya memiliki keindahan yang rapuh". Yak seperti itulah Bu Dini di buku ini, teguh dan kuat disaat hidup sendiri menghadapi penyakitnya dengan lapang dada, teguh dan kuat untuk menahan emosinya untuk tidak bertengkar dengan suami pilihan yang ternyata tidak dia cintai didepan anak-anaknya. Keterbukaannya terhadap anak-anaknya bisa menjadikan contoh buat kita-kita karena dengan itu ternyata bisa membuat anak-anak lebih mengerti kekurangan dan keadaan orangtua tanpa mencela. Dan banyak juga kehebatan Bu Dini disini, selain kemampuan menulisnya, kemampuan memasak dan menjahit gak perlu diragukan. Belum mengalami kecelakaan mobil hingga terjungkir balik tidak melumpuhkan semangatnya memasak dan menjemput anaknya Lintang. Juga kemampuannya merawat orang tua itu lho, gak semua orang bisa sesabar Bu Dini. Dan ternyata Bu Dini ikut juga dalam tim penyelamatan lingkungan sama Bridget Bardot lagi, malah cara-cara Bu Dini melakukan penyelamatan dicontoh dan dibakukan oleh anggota tim yang lain. Menjalani kehidupan di dua negara yang nyata-nyata bukan Indonesia bukanlah hal mudah, tapi Bu Dini lagi-lagi menunjukkan keteguhan dan kekuatannya.
Dan keindahan yang rapuh itu adalah Sang Kapten yang telah meninggal, tapi Bu Dini masih menyimpan cinta yang dalam dan kenangan-kenangan indah bersamanya. Mungkin memang tidak semua berjodoh, baik dengan Sang Kapten Bagus, maupun dengan suami Prancisnya yang masih dalam proses cerai.
Yang agak mengganjal saat baca buku ini, adalah sikap Bu Dini terhadap suaminya, memang aku belum membaca buku seri kenangan yang awal jadi tidak tahu apa perangai suami ini, yang membuat Bu Dini selalu berpandangan negatif terhadapnya, tergambarkan bahwa suami Bu Dini orangnya pelit, pongah dan egois sekali. Sepertinya tidak ada yang indah antara Bu Dini dengan suaminya ini.
Banyak pengalaman Nh.Dini yang bisa dijadikan pelajaran hidup dibuku Argenteuil ini. Keteguhan dan Kekuatan hatinya, patut dijadikan contoh.
Buku ini saya peroleh setelah cukup lama berputar-putar keliling toko buku selama berhari-hari, dimulai sejak saya vote hingga tanggal 1 Februari 2009 akhirnya berhasil saya temukan itupun hanya tinggal satu-satunya.
Sebelum Argenteuil, belum banyak buku karya Nh. Dini yang saya baca kecuali Hati Yang Damai, dan Keberangkatan. Membaca karya-karya beliau menimbulkan rasa kagum bagaimana suatu tulisan yang diangkat dari kejadian sehari-hari yang dijalaninya bisa mendapatkan begitu banyak penghargaan Seni dan Sastra. Suatu hal yang bisa membangkitkan motivasi bagi semua pembacanya.
Argenteuil karya beliau yang belum lama diterbitkan ini mengisahkan tentang perasaan dan sikap yang Nh. Dini ambil dalam menghadapi berbagai masalah dalam kehidupannya. Dimulai dengan sikapnya untuk menerima hantaman penyakit yang dideritanya dengan lapang dada setelah berusaha menyembuhkan dengan segala upaya dan perhatian dari sang bunda sampai akhirnya mengambil keputusan untuk merubah total cara hidupnya, melepaskan diri dari segala tekanan dan berserah diri pada Yang Maha Kuasa.
Kisah ini menjelaskan bagaimana tanggung jawab seorang Nh. Dini terhadap keluarganya, kewajibannya untuk menyediakan masakan yang disukai anak-anak dan suaminya bahkan dengan tetap menyediakan menu Indonesia padahal beliau tinggal begitu jauh dari tanah airnya. Kita juga bisa belajar dari pengalamannya mengatasi kemelut rumah tangganya dengan tidak banyak mengumbar pertengkaran lebih-lebih didepan anak-anaknya. Seberat apapun derita yang diperolehnya dia sadar bahwa suami yang dimilikinya adalah pilihannya sendiri sehingga dia harus bertanggung jawab atas pilihannya sendiri tanpa harus mengorbankan masa depan anak-anaknya. Hal ini rasanya perlu kita pahami ditengah gencarnya media yang selalu mengumbar berita kekerasan rumah tangga dan perceraian.
Nh. Dini juga menunjukkan keterbukaan sikap antara ibu dan anak-anaknya dengan berdiskusi dan mendengarkan apa yang mereka inginkan. Saya cukup kaget terhadap pandangannya pada saat mendiskusikan seks dengan anak sulungnya. Tidak ada petuah dan nasehat untuk tidak melakukan hubungan sex sebelum menikah seperti yang biasanya dikatakan orangtua dengan anak-anaknya, melainkan lebih ke arah mempersiapkan mental mereka untuk menerima segala konsekuensi dan tanggung jawab terhadap pilihan yang akan diambil. Bagi saya sendiri sampai saat ini belum bisa berkata seperti apa yang Nh. Dini katakan kepada anaknya tersebut, kelak jika anak saya menanyakannya.
Satu hal lagi yang bisa kita ambil hikmahnya dalam kisah ini adalah agar kita bisa mempertahankan eksistensi kita dan kemandirian kita tanpa bergantung kepada orang lain dengan lebih mengembangkan segala bakat dan kemampuan yang kita miliki. Keputusannya menjadi dame de compani, ketekunannya mengembangkan bakatnya menulis terbukti bisa menghasilkan karya yang mengagumkan, sekaligus menunjukkan sikapnya yang bersahaja karena sebagai istri seorang pejabat tinggi negara dia tidak segan untuk hanya menjadi wanita pendamping lanjut usia. Hal yang tidak banyak kita lihat di negeri kita karena biasanya istri pejabat berlaku polah seperti halnya dialah pejabatnya dengan meminta perlakuan dan perhatian yang berlebih.
Satu hal yang mungkin kurang saya setujui dari sikap beliau adalah perasaan cintanya yang selalu dia simpan pada sang Kapten, kekasihnya. Bagi saya sikap tersebut tidak selayaknya ada pada saat kita mengambil keputusan menjadi seorang istri dari suami yang kita pilih sendiri. Barangkali untuk lebih memahami dan menilai seorang Nh. Dini, saya harus lebih banyak membaca karya-karya beliau.
Bu Dini 'hidup' kembali setelah peristiwa memilukan yang menghancurkan jiwanya. Kesehatannya membaik. Dan dengan mengacu wejangan khas Jawa dari ibunya dalam menjalani hidup, jiwa Bu Dini kembali tenteram. Ketenteraman itu sedikit terusik oleh datangnya surat dari kakak sang Kapten bermata pecahan kacang. Bu Dini pun bertemu keluarga sang Kapten dan ternyata mereka menganggap Bu Dini sebagai anggota keluarga sendiri.
Bu Dini mantap bercerai. Waktu itu di Prancis, proses perceraian butuh waktu empat hingga enam tahun. Pemerintah Prancis sangat menyayangkan terjadinya perceraian sehingga selama itu lah mereka berusaha mendamaikan suami - istri agar rukun kembali dan batal bercerai. Bandingkan dengan perceraian selebritis sekarang ini di Indonesia!
Selama proses perceraian itu Bu Dini memutuskan untuk hidup berpisah dengan suaminya. Pak Yves dan Padang tinggal di Detroit. Sementara Bu Dini menunggui Lintang sekolah sampai jenjang bac di Prancis. Bu Dini bekerja pada Tuan Willm yang tinggal di rumah tua yang pernah ditempati oleh Karl Marx. Hidup Bu Dini semakin berwarna karena di masa itu lah dia banyak mempunyai waktu untuk jalan-jalan ke seluruh pelosok Paris. Terkadang Padang iri pada Bu Dini dan Lintang, "kalian enak-enakan hidup di sana tanpa Papa, sementara aku di sini tiap hari harus bertemu dia." Kira-kira seperti itu keluhannya :D. Yang lucu lagi, suatu hari Padang sedih karena teman-temannya di Amerika memanggil dia Pedeng dan bukan Padang-nya orang Jawa yang berarti terang. Kebetulan waktu itu Bu Dini sedang berada di sana untuk liburan Natal dan Tahun Baru. Bu Dini pun menghibur Padang dan memintanya memilih nama panggilan baru, entah Pierre atau Louis. Lalu Bu Dini membuatkan bubur abang-putih dan membagikannya ke teman-teman sekolah Padang sembari menerangkan bahwa nama panggilan Padang sekarang adalah Pierre. Seperti biasanya, walaupun hidup di negeri orang Bu Dini masih mempraktekkan tradisi Jawa yang dipandangnya baik. Dan seperti biasanya, aku tetap menanti lanjutan serial kenangan ini :).
Hingga kini Padang tetap memakai nama Pierre sebagai nama panggilan. Dia bekerja di dunia animasi dan dikenal sebagai Pierre Coffin atau Pyer Coffin. Sayang websitenya masih kosong.
Nh. Dini nama ini pernah melekat di benak saya ketika telah membaca beberapa -bukunya, novel dan juga kumpulan cerpen, bahkan beliau pernah menorehkan tandatangannya di buku LA Barka yang saya beli ketika ada jumpa pengarang beberapa tahun silam. Gaya bahasa Nh. Dini mengalir indah tapi mudah dimengerti karena konon beliau selalu memasukkan unsur kehidupan nyata dari lingkungannya.
Argenteuil mengisahkan kehidupan seorang isteri yang dalam kebimbangan menghadapi kekisruhan perkawinannya, seorang Ibu yang kuat dan penuh kasih sayang bagi dua orang anaknya, seorang wanita yang memendam cinta yang tidak pernah padam. Dini mendapat kekuatan dan pencerahan setelah kembali 'tetirah' dari Indonesia, beruntung dia mempunyai seorang ibu yang arif yang memberi petuah2 sederhana tapi bermakna diantaranya "pasrah" eling bahwa Tuhan lah yang mengatur segalanya. Dini perempuan yang serba bisa, perpaduan budaya timur dan barat,trampil dalam mengelola rumah tangga itulah ciri perempuan Jawa /Indonesia bisa mengurus dan menata rumah dengan baik, memasak , menjahit, keterampilan itulah yang dapat membantu menyambung hidupnya di negeri orang. ( ketrampilan-ketrampilan tsb. kini jarang dimiliki oleh wanita Indonesia - termasuk saya :D ), Sebaliknya dia pun bisa terbuka dengan anak-anaknya dapat membicarakan hal yang mungkin dianggap tabu bagi orang timur. Di akhir cerita Dini dapat mengambil sikap tegas bahwa dia harus berpisah dengan suaminya, demi kebaikan dia, kebaikan suami, kebaikan dan masa depan anak-anaknya. Demi kebaikan semua !
Selesai mebaca Argenteuil, saya tercenung sejenak sampai saya membaca ulang buku lama Beliau. Ada yang saya rasakan kenapa Novel ini terasa kurang 'greget' dibanding buku terdahulu. Saya mengambil kesimpulan ( mungkin sunjektif) mungkin karena saya sudah pernah membaca novel kenangan sebelumnya jadi ada beberapa pengulangan yang saya rasakan dan juga sudah dapat 'membaca' ending cerita. Bagaimanapun Nh. Dini adalah salah seorang penulis wanita yang saya kagumi, beliau selalu menyertakan isu wanita dalam tulisannya bagi Nh. Dini perempuan berhak untuk 'merebut'dan menentukan kebahagiaannya.
Semoga di masa senjanya beliau tetap bisa berkarya dam memperoleh kebahagiaan. Amin
Tak sengaja menemukan buku ini di suatu bursa buku bekas. Kesan pertama saya meski dengan cover yang modern, saya tetap merasa buku ini klasik. Mungkin karna penulisnya yang sudah senior :). Sebetulnya kisah yang dibagi oleh Nh.Dini cukup sederhana, sangat 'biasa', seperti membaca diary penulis. Namun, dibalik kesederhanaan yang tanpa konflik berlebihan tersebut pembaca disuguhkan gaya bahasa yang sangat emm..mungkin klasik namun indah. Saya suka sekali dengan poin itu. Bersetting suasana lawas, buku ini benar-benar memberi kesan klasik pada saya. Sekaligus memberi pelajaran bahwa suatu tulisan yang bagus tidak harus selalu dengan konflik besar, hanya membutuhkan kesederhanaan, cerita yang membumi serta gaya bahasa yang dapat memikat pembaca. Saya pastikan akan membaca buku Nh.Dini lainnya :)
Setelah mantap memutuskan untuk bercerai, Dini ingin hidup sendiri. Bekerja sebagai semacam perawat manula Dini menjalani hidupnya.
Masih merupakan kisah hidup yang diceritakan kembali, Ibu Dini selalu mencuri hati. Seperti biasa, kekuatan cerita justru dari kisah kehidupan sehari-hari yang dialami seorang wanita yang biasa-biasa saja tapi tetap menarik dan membuatku ingin tahu kelanjutan ceritanya.
Buku ibu Dini menurut saya semuanya bagus. Saya membaca karya beliau sudah sejak SD, sampai tidak ingat apa saja yang sudah saya baca. Tetapi baru-baru ini saya membeli buku Argentuil dan Tirai Menurun. Saya rasa Tirai Menurun sudah pernah saya baca bertahun silam tetapi saya tidak ingat. Maka saya membelinya lagi.
Untuk buku Argentuil, cara penceritaan ibu Dini seperti biasa detail, runtut dan sepertinya tidak ada satu hal pun yang lupa diceritakan oleh beliau. Saya kagum dengan kemampuan penceritaan seperti ini yang detailnya rapi. Saya pribadi merasa tak sanggup bercerita dalam detail yang sesempurna ibu Dini.
Ceritanya sendiri sedikit pahit (makanya saya beri bintang 3), berkisah tentang detik-detik perpisahannya dengan sang suami yang berkebangsaan asing. Bagaimana beliau merasa tertekan oleh pernikahan itu yang pada akhirnya seolah menjadi perbudakan. Seperti kata Gibran, 'cinta yang tidak memperbaiki diri akan menjadi perbudakan.' Saya merasa sedih dan kasihan membaca kisah ini. Berharap tidak ada wanita lain yang memiliki pengalaman serupa.
Pengalaman menarik dari kisah hidup N.H. Dini. Saat-saat kritis ketika menghadapi proses perceraian yang justru "dipercepat" oleh Sang Pencipta dengan meninggalnya "Kapten" penulis dalam sebuah kecelakaan "konyol".
Menggambarkan karakter kuat dan kokoh pada prinsip. Ciri wanita Indonesia sejati, seperti yang juga ditunjukkan oleh sosok seorang Kartini. N.H. Dini dan wanita Indonesia di berbagai negara tetap gigih menunjukkan harga diri sebagai Bangsa Merdeka, di tengah-tengah masyarakat luar yang masih menganggap rendah negeri kita.
Banyak pengalaman unik dan berharga bisa dipetik dari kisah ini. Kisah merawat seorang kakek di sebuah rumah bekas tempat tinggal Karl Marx, pertemuan tak terduga hingga keakraban dengan artis Brigitte Bardot dalam sebuah misi Lingkungan Hidup, memberikan warna berbeda yang mungkin sangat langka dan jarang dialami oleh warga negara Indonesia lainnya.
Buku ini tidak terlalu tebal, namun pasti mampu menebalkan rasa kemanusiaan dan nasionalisme para pembacanya.
as always i like reading her so-called memo-story, namun kali ni terlampau banyak awan menggantung... dari kabar kematian si Kapten, rencana pisah dengan Ayahnya anak-anak, dan penyakit tua-nya yg semakin menggerogoti dirinya..
tapi Dini tetaplah Dini, yg mempesona yg memberikan kekuatan dan yg manusia biasa saja :) senang kalau akhirnya dia memutuskan untuk 'menyepi' di argenteuil, di sebuah rumah yg dulunya pernah diinapi Karl Marx... sayangnya lagi-lagi jalan cerita Dini kadang harus membuat pembaca bolak-balik dari satu masa kenangan ke masa kenangan lain, dipaksakan untuk memiliki ingatan kuat seperti dirinya yang telah dituangkan ke berbagai bukunya, hehe.. sometimes i can hardly b that type :p
cuma gaya cerita Nh Dini sungguh manusia, secara mendalam dia melarutkan perasaannya ke dalam adonan cerita, aq jd kadang merasa sedang membaca buku diary orang lain... jd was-was kalau2 ada yg tau aq sedang mengintip, hihi..
Buku buku Eyang Dini selalu sedap buat dilahap sekejap serasa membaca sebuah diary terbuka, apa adanya, tanpa ada kata kata bersayap... ajippp dah buat pengantar tidur
kali ini tentang Dini yang memulai episode baru dalam hidup setelah memutuskan berpisah dengan sang suami... Hidup sebagai seorang governess, mendampingi majikan sepuh yang sakit justru membuat ibu Dini lebih bahagia karena merasa "dibutuhkan".. Walau hidup terpisah dengan si bungsu yang ikut ayahnya di Detroit, USA dan si sulung yang hanya pulang di akhir pekan , hari hari Dini tetap berjalan tanpa banyak meratapi kehidupan... mengisi dengan kegiatan positif dan menyenangkan... sampai pinangan kawan lama pun ditolak karena merasa tak ada lagi yg bisa menggantikan sang kapten (uhuyy)...
Cerita, oke. Bahasa, oke. Cukup sesuai dengan selera saya. Tapi, yang ingin saya yakinkan sekali lagi adalah: benarkah ini adalah kisah nyata perjalanan hidup seorang NH Dini?
Bukan apa-apa, hanya saja saya terkesima dengan sifat/ karakter yang ditampilkan tokoh Dini. Menikah dengan lelaki pilihan, padahal dalam hati masih menyimpan cinta untuk 'Sang Kapten'. Hendak bercerai dengan ayah anak-anaknya, tapi masih menikmati fasilitas yang laki-laki itu berikan dengan cuma-cuma. Well, begitulah. Bukan menghakimi, hanya menangkap kesan yang ditampilkan. Toh, perihal benar salah, setiap orang punya standarnya sendiri.
Btw, dalam novel ini banyak selipan kalimat yang merujuk pada novel Seri Kenangan, membuat saya tertarik membaca lengkap seri kenangan tersebut.
Sebagai penggemar tulisan-tulisan Nh. Dini, rasanya berat untuk memberikan penilaian serendah ini. Tapi Argenteuil memang terasa kurang greget dibandingkan buku2 ibu Dini sebelumnya, mungkin karena buku ini ditulis setelah bertahun2 vakum dari dunia sastra. Tapi cukup menyenangkan untuk mengetahui kehidupan ibu Dini, bahwa dia akhirnya menikah dan memiliki 2 anak walau tetap belum bisa melupakan sang kapten. Walau saya tidak suka dengan bagian perceraiannya, tapi senang mengetahui ibu Dini dapat kembali mandiri dan melanjutkan menulis.
Mau dibilang apa.... Sepertinya goresan pena Eyang NH Dini selalu mampu membuatku terlenaaaaaa Bahkan ucapan terima kasih yang dikirim beliau sebagai balasan atas ucapan Selamat Ulang Tahunku saja mampu membuatku terpesona.
Kemandirian dan sifat apa adanya membuat karya beliau terasa berbeda Yang jelas walau ada unsur romance tp jauhhhhhh dari menye-menye
Sewaktu membaca La Grande Borne belum yakin (atau belum mau percaya) akan kepergian Kapten Bagus alias Maurice. Tetapi dalam buku ini semua sudah terpapar nyata. Akhh.....
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dua jam saja selesai dibaca saat insomnia tau2 kumat Senin tengah malam. Mungkin bukan insomnia beneran, sekedar tidak rela libur lanjutan akhir minggu kok sudah berakhir... :)
buku kenangan yang sedih, namun ditulis dengan pura-pura bahagia. atau buku kenangan bahagia yang ditulis dengan sedih (?) tapi aku suka cara nh dini bercerita. mungkin karena dia banyak membaca memoar orang-orang barat, gaya menulisnya setara dengan mereka.