Galih Fajar adalah pekerja serabutan yang akhirnya berhasil mendapat pekerjaan tetap menjadi seorang pengantar surat. Dalam satu hari yang aneh, ia mengantarkan surat ke alamat rumah teman-teman SMP Tanjung Asri yang sudah lama tidak ada kabar. Tak disangka, jejak-jejak masa lalu yang membuatnya larut dalam nostalgia itu justru menuntunnya pada kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mau tak mau, Galih harus terusik dengan fakta-fakta kehidupan baru yang kontras dan mempertemukannya kembali dengan cinta pertamanya. Satu demi satu benang kenangan kembali terjalin, hingga membuatnya mengerti bahwa masa lalu dan masa depan tidak selalu berada pada garis lurus. Alam semesta selalu memainkan perannya, bahkan dalam saat-saat yang tak terduga.
Kapan terakhir kali kamu reuni dengan teman-teman sekolahmu?
Galih Fajar adalah pekerja serabutan yang akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap sebagai pengantar surat. Dalam satu hari yang aneh, ia mengantarkan surat ke alamat rumah teman-teman SMP Tanjung Asri yang sudah lama tidak ada kabar.
Tak disangka, jejak-jejak masa lalu yang membuatnya larut dalam nostalgia itu justru menuntunnya pada kehidupan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mau tak mau, Galih harus terusik dengan fakta-fakta kehidupan baru yang kontras dan mempertemukannya kembali dengam cinta pertamanya.
Satu demi satu benang kenangan kembali terjalin, hingga membuatnya mengerti bahwa masa lalu dan masa depan tidak selalu berada pada satu garis lurus. Alam semesta selalu memainkan perannya, bahkan pada saat-saat yang tak terduga.
Membaca kisah Galih ini membuatku terkenang dengan teman-temanku juga. Alangkah senangnya bila dalam satu hari bisa menjumpai mereka dan sejenak berbagi kisah hidup selama ini.
Banyak pesan yang tersemat di setiap kisah pertemuan Galih dengan teman-temannya ini. Salah satunya, penulis mengkritisi bagaimana cara masyarakat memandang seseorang. Seringkali, yang terjadi di masyarakat, seseorang dipandang atau didengar suaranya karena deretan gelarnya. Padahal belum tentu orang yang memiliki banyak gelar tersebut adalah orang yang bijaksana. Begitupun sebaliknya.
Bagi penyuka romansa, pasti akan suka romansa tipis-tipis yang dihadirkan di buku ini. Walau menurutku alurnya agak terlalu cepat dan memaksa di bagian ini--berasa nonton FTV, tapi aku cukup suka romansa yang sat-set-sat-set, nggak pakai drama-dramaan. 😆
"Ilmu bisa didapat di mana saja. Yang kita dapatkan dari lulus kuliah hanya sebuah gelar. Semua orang memang melihat yang tampak mata; mereka melihat gelar. Tapi nggak pernah mereka melihat kedalaman ilmu yang dimiliki seseorang, tanpa melihat apa yang terlihat." (hlm. 51)
Ceritanya sangat heartwarming sekali. Sederhana dan ringan. Nggak banyak konflik ataupun tokoh-tokohnya. Cuma masih penasaran aja kenapa mendadak Fajar dapet kiriman-kiriman surat buat temen-temennya.
Novel ini menurut aku bacaan yang ringan dan juga benar-benar heartwarming sekali. Rasanya bisa merasa kan suasana yang digambarkan di cerita ini. Beberapa bagian juga terasa menyentuh buat aku dan bikin aku ngerasa kalau sebenarnya cerita ini tuh indah.