Melalui buku ini Firman Lubis si anak Betawi yang adalah dokter medis berhasil menggambarkan kehidupan dan keadaan jakarta tahun 1950-an yang unik dan menarik. Mengikuti metode medical history yang lazim dipakai dokter untuk mempelajari riwayat penyakit yang diderita seseorang atau masalah kesehatan yang ada di masyarakat, Firman merangkai sejarah sosial ibu kota RI yang baru berdiri, yang baru mulai membenahi diri dan mencoba membangun kembali kehidupannya yang terpuruk selama bertahun-tahun akibat pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan pada tahun 1940 an.
Buku ini merupakan bagian pertama dari 3 bagian kota jakarta tahun 1950 - 1970 yang ditulis oleh Firman Lubis. Cukup menggambarkan suasana Jakarta masa lampau dari sudut pandang objektif penulis. Untuk membaca buku ini sampai hampir selesai (3 bagian) saya harus pinjam 3x berturut turut (3 minggu) di perpustakaan kota Madiun. Menarik memang mengetahui fakta-fakta baru, tentang keadaan jakarta yang mayoritas buta huruf saat itu. Masih banyak bule yang tinggal. Permainan & hiburan masa lampau. Membaca buku ini seperti campuran novel, sejarah dan biografi. Ada beberapa hal yang cukup mengganggu, karena beberapa kali penulis memasukkan opini pribadinya tentang suatu peristiwa yang terjadi. Seperti berpendapat wajar bagi mahasiswa UI saat membawa pelacur ke asrama, jangan hipokrit. Juga pandangan tentang percabangan dua kubu ekstrim remaja beberapa dasawarsa setelah masa 50an yang cenderung ke arah agama disebutnya sebagai konservatif fundamentalis sementara yang bergaya punk hippies disebut sebagai ultramodern. Menurut saya penulis cukup menjelaskan tentang keadaan itu tanpa harus beropini pribadi.
Dengan membaca buku kita bisa menghubungkan keaadaan saat ini merupakan cerminan dari peristiwa masa lampau. KKN yang marak saat ini ternyata juga telah ada bibitnya sejak dulu. Keadaan negara saat ini dipengaruhi oleh generasi se angkatan penulis. Dari paparan penulis tampaknya cukup banyak nama yang berhubungan penulis di buku ini menjadi tokoh-tokoh penting di negeri ini. Gambaran anak & remaja saat itu yang berada di jangkauan pengetahuan penulis dapat saya simpulkan jauh dari didikan agama. Rasanya tidak saya temukan cerita dibuku ini tentang tempat pengajian anak, sholat di mesjid, dan hal-hal yang berhubungan antara penulis dan kegiatan keagamaan. Demikian kiranya gambaran keadaan anak-anak Jakarta umumnya saat itu. Dengan pesatnya kesadaraan akan keagamaan dewasa ini, saya ingin membayangkan keadaan negeri ini 30 tahun lagi saat generasi yang lebih agamis ganti memimpin negeri ini. Mana kiranya yang lebih baik?