Sebagian isi buku ini tentang pandemi yang sama-sama sedang kita alami. Saya sebagaimana Anda, telah kehilangan banyak hal dalam pandemi ini. Selain jangan sampai kita kehilangan makin banyak lagi, dan jangan sampai semua pengorbanan kita dalam menghadapi pandemi ini, tidak mengubah cara kita dalam memandang dan memperlakukan dunia.
Ibu saya wafat dalam kondisi pandemi awal menerpa. Beliau sakit jantung. Ketika sakitnya kumat, dibawa ke rumah sakit. Sesuai standar, Ibu dicek terlebih dahulu apakah kena covid atau tidak. Ternyata kena. Akhirnya Ibu mesti dirawat di ruang isolasi. Dua minggu kemudian, karena sudah negatif, Ibu boleh pulang ke rumah. Tapi pihak rumah sakit lupa bahwa Ibu masuk ke rumah sakit karena sakit jantungnya. Ketika dirawat soal covidnya, sakit jantungnya tidak diintervensi. Begitu pulang, kondisi jantungnya sudah parah sekali. Ketika kami membawanya ke rumah sakit lagi, kondisi Ibu sudah makin berat. Akhirnya Ibu wafat setelah semalam berada di rumah sakit
Tulisan dalam buku ini ditulis dalam rentang waktu 2018-2021. Namun, buku ini tidak disusun berdasarkan urutan waktu penulisan. Kebanyakan tulisan membahas mengenai pandemi, tema yang membuat saya tertarik membaca sekaligus tidak tertarik. Kadang-kadang pandemi amat menyebalkan ketika terus dibahas. Dari beberapa tulisan di awal, mas Puthut seola-olah telah putus asa akan kebijakan pemerintah dan respon pejabat ketika menghadapi pandemi. Kemudian sampailah saya pada artikel berjudul Seorang Anak Tak Harus Cocok dengan Bapaknya. Karena alasan yang sangat personal, saya sangat suka dengan tulisan tersebut. Sampai ogah-ogahan untuk merampungkan satu artikel lagi demi menyelesaikan buku ini. Tapi yasudahlah, saya tetap memaksakan diri lanjut membaca, dan tentu tulisan tersebut tidak pernah mengecewakan.
Fakta menarik, buku ini pernah diterjang ombak karena saya terlalu asik foto-foto buku, tidak sadar bahwa ombak datang :")
"Masih ingat gak perasaan teman-teman ketika menghadapi pandemi Covid19?" Pasti ada perasaan kecewa, sedih, marah, cemas, putus asa, dan berbagai perasaan kurang menyenangkan lainnya. Sama, aku pun merasakan hal seperti itu, termasuk si penulis.
Sebagian besar buku ini menceritakan pandemi yang dialami oleh kita semua. Sebagaimana kita kehilangan banyak hal berharga, penulis pun kehilangan ibundanya.
Buku ini ditulis dalam rentang waktu 2018-2021, meskipun tidak disusun berdasarkan urutan waktu. Ada 50 judul esai di dalamnya, di awal-awal mas Puthut mengajak kita mengingat kebijakan-kebijakan lucu yang dibuat pemerintah ketika pandemi melanda. Hingga esai tentang kehidupan di tengah pandemi yang ditulis secara gamblang oleh mas Puthut, seperti kebijakan di rumah saja, ketika kita jadi panic buyers dan berbagai macam realitas lainnya. Lalu, setelah Corona memang dunia kita menjadi lebih baik atau lebih buruk yaa?? Silahkan dijawab dalam hati masing-masing
Selain, bahas pandemi masih banyak lagi isu-isu menarik yg dibahas. Contohnya filosofi telur, atau curhatan mas Puthut ketika harus berpisah dengan kopi hitam ternyata dipertemukan dgn es teh. Ada juga esai tentang kesuksesan, cara bersyukur, dan beberapa curhatan tentang mengontrol stres dan amarah. Bahkan esai yg gak kalah menarik membahas tentang Kota Yogya sebagai kota Romantis.
Sebagai penggemar karya-karya Kepala Suku, tentu sebagian banyak tulisan di buku ini pernah saya baca. Ada 50 esai yang beliau tulis di rentang waktu 2018-2021 yang semuanya pernah dipublikasikan di mojokdotco. Meski begitu, membaca (ulang) tulisan beliau dalam bentuk cetak begini, bagi saya, tetap lebih asyik dan nyaman. Membaca buku ini seperti disegarkan lagi ingatan kita tentang sedikit persoalan sebelum covid dan banyak persoalan selama covid. Termasuk tentang segala keresahan kita sebagai makhluk individual maupun sosial yang tak punya keistimewaan apa-apa di hadapan negara. Ada banyak sekali kalimat yang akan jadi permenungan di setiap esai. Bisa dibaca kapan saja dan di mana saja. Bisa dicicil atau langsung tuntas. Percayalah. Saya pastikan: isi di buku ini ialah 'celemongan' yang perlu.
Puthut EA’s short stories forced me to re-examine my perspective on the pandemic. He brilliantly captures the 'diabolical' reality of those who lost everything while the world looked away. Through a lens of sharp sarcasm and tragic irony, he turns a gloomy situation into a profound social critique. It’s a haunting reminder that while we all lived through the same era, we didn't all have the same safety nets
Sejak pandemi Covid-19 terjadi pada 2020, membuat kebanyakan dari kita cemas tentang nasib di masa depan. Bukan hanya dari segi finansial yang menjadi masalah, bahkan orang-orang di sekitar kita juga banyak yang meninggal akibat virus tersebut. Nah, di buku ini, kita jadi seperti diajak merenung bareng sambil memikirkan tentang kehidupan yang semakin rumit dan tak pasti. Namun, esai yang ditulis di sini bukan hanya membahas hal serius tentang pandemi, melainkan juga bahasan ringan seperti pengalaman hidup Puthut selama hidup di Yogyakarta dan kesan yang dirasakan terhadap kedua orang tuanya.