Seberapa sering kita menilai-nilai diri sendiri? Memberi cita-cita tapi di waktu yang sama menuntut pula? Saat kita memiliki tujuan, yakinkah kita bahwa itu semua adalah apa yang dibutuhkan?
Seberapa mampu kita dengan kesadaran mendengarkan diri sendiri? Mengizinkannya bersuara untuk memberi petunjuk menuju langkah terbaik versi kita sendiri? Sejauh mana kita kenali, sayangi, dan pahami diri?
Di dunia serbacepat seperti saat ini, begitu mudah kita memfokuskan diri pada jumlah, pada kuantitas. Pada seberapa kuat tenaga kita berlari. Pada keinginan-keinginan kita yang sebenarnya bisa saja hadir dari kehidupan orang lain semata. Padahal kertas ujian kita tak ada yang sama, karena kita semua berhak menjadi versi terbaik diri sendiri—dan bukan menjadi versi terbaik orang lain.
Berhenti Berhitung, Mulai Merasakan mengajak kita kembali melakukan inner journey atau perjalanan ke dalam diri yang tiada habisnya.
Buku ini berisi kumpulan tulisan Raden Prisya (@radenprisya) yang merupakan praktisi yang juga rutin membawakan materi mindfulness atau hidup berkesadaran. Namun tulisan-tulisan di buku ini sifatnya personal, diambil dari pengalaman pribadi Prisya, bukan dimaksudkan sebagai buku tipe 'how to' yang terstruktur dan sistematis. Ada berbagai hal yang Prisya suratkan dan siratkan di sini; termasuk soal pasangan di rumah tangga dan hubungan dengan orang tua. Semua ditulis dengan gaya 'Mbak Pi' yang mengayomi.
Namun karena sifat tulisannya yang personal, mungkin tidak semua orang bisa merasa 'relate' dengan masalah yang diangkat. Ada beberapa subjek yang memang rasanya akan lebih efektif jika dideliver dalam bentuk sesi interaktif alih-alih melalui tulisan, misalnya soal "menerima dan melihat ke dalam diri sendiri".
Saya percaya tidak ada buku self-help yang bisa menjawab kebutuhan semua orang. Kalau kamu penggemar konten-konten Prisya, kemungkinan kamu akan suka buku ini.
Banyak kontemplasi dan catatan kecil yang kutuliskan selama membaca buku ini. Menikmati buku ini memang tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru, karena setiap pesan yg disampaikan butuh untuk direnungkan, diresapi dan ditanyakan kepada diri sendiri.
Kadang kita merasa harus menikmati sesuatu untuk bisa bersyukur. Untuk bisa berterima kasih pada Yang MahaKuasa. Padahal bernapas dan hidup saja sudah merupakan karunia, bisa merasa diberi, dijaga, dan dilimpahkan kasih sayang.
Ooh its gooodd! Baru mulai baca satu lembar tau2 udah setengah buku. Buku ini seperti sedang diajak ngobrol sama teman, ringan, sederhana, eh tapi kok bener sih. Salah satu buku mindfulness yang gak teori melulu, relatable, inspiratif dengan jurnal mini setiap chapter. For those who tend to hard to herself, you should read this book. Buku ini menggambarkan pandangan baik terhadap diri sendiri, rasa kasih terhadap diri, dan mampu menerima apapun yang dirasa tanpa menghakimi. Kita boleh berlari, tetapi berlarilah dengan kesadaran dan keikhlasan.
Tata bahasanya baku namun gaya penulisannya mengalir. Cuma entah mengapa. Walau dibaca dalam kondisi serius sekalipun. Kalimatnya seperti yang mengalir begitu saja, dan bukan langsung terserap.
Saya membaca di awal tahun 2024. Menurut opini saya pribadi, buku ini cocok bagi pembaca yang mau mencoba mencari jati diri dan mengenali diri lebih dalam lagi. Momentum yang pas untuk membaca buku ini juga sangat terasa adalah ketika momen pandemi. Jadi saya merasa kurang menjadi target bacaannya.
Well written with great topics but maybe this book is not really into me.
Banyak insight yang kudapatkan setelah baca buku ini. Namun, terkadang ada beberapa hal yang perlu kubaca lebih dari sekali, mencernanya baik-baik karena aku tak bisa menangkap maksudnya. But overall, buku ini bagus untuk orang yang ingin mendalami hidup berkesadaran
this is my first pre-order book and me reading it as my new year opener and now re-reading it again before this January ends. a feel-good book and contain contemplating thought for journal (a baby step to understanding ourselves better).