Perempuan selalu saja diidentikan dengan air mata. Kelemahan fisik para perempuan, seringkali membuat ia terjerembab dalam keterpurukan, yang akhirnya mengimbas pada kelemahan jiwa dan pemikirannya. Maka, akan kita saksikan dalam panggung kehidupan, bahwa cerita-cerita tragis, begitu lekat dengan kehidupan kaum perempuan. Begitukah? Ternyata tidak! Masih ada perempuan-perempuan yang tetap tegar meskipun tragedi menjadi alur yang nyata dalam drama kehidupan yang ia lalui. Mereka adalah perempuan-perempuan yang memiliki optimisme luar biasa. Mereka mampu memaafkan, mampu mengambil ibrah dari apa yang dialami, lantas mensketsa hal tersebut menjadi inspirasi untuk menggapai kebahagiaan. Akhirnya, mereka memang mampu mendapatkan kebahagiaan itu. Ya, karena sesungguhnya, kebahagiaan itu terletak di dalam hati. Kebahagiaan bisa kita munculkan, tergantung sejauh mana kita mampu mengubah sudut pandang kita terhadap penderitaan yang kita alami. Buku luar biasa di tangan Anda ini mengisahkan inspirasi-inspirasi ketegaran, yang mampu membuat Anda menggerakkan tangan untuk mengusap air mata di pipi Anda. Inspirasi yang akan mengantar Anda untuk meraih kebahagiaan. Ya, karena kesedihan hanya akan membuat dunia terasa suram.
Hidup selalu dipenuhi dengan pernak-pernik, Bisa jadi pernaknya terlihat baik, tapi tak jarang perniknya tampak buruk. Warna-warni kehidupan memberi nuansa keindahan tersendiri bagi siapa saja yang mau memandang hidup dengan kepositifan. Kesabaran, ketegaran, memaafkan, pasrah, ikhlas adalah sebagian dari serangkaian penyejuk garangnya dunia.
Life is a Battle…
Kedukaan, kepedihan memang salah satu dari banyak ‘rasa’ yang selalu ada dalam ‘menu’ kehidupan. Air mata seringkali menjadi pelengkap dari segala kesusahan. Air mata? Ya, aliran air yang seringkali menerobos mata saat hati mulai terkoyak. Perempuan dan air mata. Dua unsur yang berulangkali dikaitkan secara erat. Kenapa harus perempuan? Kabarnya karena perempuan adalah sosok yang didominasi oleh perasaan. Doktrin seperti itu yang acapkali membuat perempuan dipandang lemah. Rapuh.
Lewat buku berjudul ‘Jangan Jadi Perempuan Cengeng’ kita akan disuguhkan kisah nyata para perempuan dalam menghadapi segala problematika kehidupan. Lemah? No Way! Di awal kisah, kita akan disambut dengan tiga kisah kehidupan Pipiet Senja, kisah masa kecilnya yang divonis terkena thalasemia, tertuang dalam ‘Ditemani Sepasang Mayat’, berlanjut ‘Bintang Selalu Tersenyum’ dengan kisah kehamilan keduanya yang diwarnai konflik-konflik dalam rumah tangganya, sebagai penutup kedua kisahnya, Pipiet Senja menghadirkan ‘Di Ujung Pengharapan’.
Konflik keluarga menjadi tema dengan prosentase terbesar dalam buku ini. Kebahagiaan Itu, Ada Di Ujung Cerita : Nawangsari, Masih Ada Pelangi : Laras Ati, Kisah Sri : Farida Nur’aini, Tak Pernah Setegar Karang : DH Devita, dan Walaupun Kemilau Itu Telah Pudar : Rien Hanafiah. Perselingkuhan dan KDRT tercermin dalam kisah-kisah di atas, namun masing-masing cerpen memiliki keragaman ending dan solusi.
Dilema, juga menjadi permasalahan yang melanda dalam keluarga. Meskipun Aku Bukan Fatimah: Afifah Afra, mengisahkan tentang istri yang harus bersabar dengan suaminya yang berprofesi sebagai dokter, membuat dia harus seringkali meninggalkan keluarga; selanjutnya Jangan Ambil Nyawa Anakku Lagi, Ya ALLAH! : Ummu Saskia dan Alhamdulillah, Adik Lahir Normal : Sri Wigati menceritakan tentang usaha keras para ibu untuk mengatasi ketakutan kehilangan sang buah hati.
Perjuangan bertahan hidup mengalir dalam Asa di Ujung Cerita : Fitri dan Menantang Kerasnya Ibu Kota : Ummu Abdillah, dan Sang Putera Seroja : Afifah Afra
Kisah-kisah “sederhana” serta lucu menjadi bumbu penyedap yang menarik dalam kisah Ya ALLAH, Burung-burung Puyuh kami : Riannawati, Aku Malu Telah Mengucurkan Air Mata : Narita, Pelajaran Dari Sebuah Perjalanan : Deasylawati dan Bersama si ‘Onta Merah’ : Deasylawati.
Life is Battle… Adalah sebuah kesimpulan yang tertangkap dari keseluruhan kisah. Tak ada kata kalah dari para perempuan ini untuk menghadapi dunia.
“Karena kebahagiaan memang harus kita ciptakan. Jika kita membiarkan hidup kita senantiasa diwarnai tragedy, maka selamanya air mata akan membasahi pipi. Dan kita kehilangan sebuah kesempatan besar; Mencecap indahnya warna-warni dunia ini…”
Perempuan selalu diidentikkan dengan air mata. Kelemahan fisik perempuan, seringkali membuat ia terjerembab dalam keterpurukan, yang akhirnya mengimbas pada kelemahan jiwa dan pemikiran-pemikirannya. Tapi tidak bagi Nawangsari yang cita-citanya kandas karena tak ada biaya, menikah dengan duda beranak empat, tidak diterima kehadirannya, ditinggalkan dengan berderet kepedihan. Namun tetap berterima kasih pada Tuhannya atas kenikmatan yang dirasa berlimpah. Adalagi kisah luka dalam dalam ingatan, sebab hal-hal menyakitkan memang selalu sulit untuk dilupakan. Dia, tetap berusaha untuk mempertahankan, walau tak selalu bisa dimengerti. Entah sampai kapan…
I'm a woman whose really easy to cry... But finding and reading this book made me realize that as a woman it is okay to cry but don't let your tears weaken yourself.. There are so many women with much more harder problem outside there, but they're okay and do not cry...
Ini buku spesial menurut saya. Karena memang diangkat dari kisah nyata, dengan tutur bahasa 'aku' sehingga terasa enak dibaca. Meski tak dipromosikan gencar-gencaran, di penerbitnya buku ini selalu cetak ulang hingga sekarang :-).
ceritanya lumayan bagus...mungkin karena diadopsi dari kisah nyata kali ya...buku ini memberikan spirit tertentu untuk memiliki kepribadian yang lebih kuat dan yakin akan kasih sayang Allah...