"Membaca buku-buku menjadi hiburan paling mudah buatku. Mengikuti alur cerita yang tersusun pada baris-baris kata seperti terbang dari satu tempat ke tempat lainnya. Merasakan ketegangan konflik juga hiruk-pikuk setting yang dilukiskan. Menyenangkan."
- Rumah Pucat, p. 6
Honestly, I'm confused about what im suppose to write as a review because this topic in this book is new for me and this is my first time read it.
Jam di dinding merayap. Dentingnya menjelma bisikan.
"Seperti ini menjadi tua itu, Pak?" Hampir tak terdengar, lalu lenyap dalam kenangan masa lampau.
- Rumah Pucat, p. 59
Buku ini menceritakan perjalanan sepi seorang perempuan, istri, dan seorang ibu di masa tua kala suami yang dicintai sepenuh hatinya telah meninggal dan anak-anaknya yang sudah dewasa akhirnya memiliki sibuknya masing-masing.
Tidak hanya mengambil dari sudut pandang pada tokoh ibu, tetapi juga pembaca akan diajak menyelami hidup anak-anaknya, bagaimana setiap anaknya punya kondisi dan masalah-masalahnya sendiri, ingin diri menemani ibu di rumah tetapi kesibukan selalu datang menghalangi.
"Ada kekecewaan yang kerap kali mendobrak rasa mengerti keadaan anak-anaknya. Namun, berkali ia berusaha meredamnya lagi-lagi pada Tuhan waktunya dihabiskan. Memohon penjagaan hati dan pikiran dari segala kejahatan yang muncul dalam kesendirian"
- Rumah Pucat, p. 145
Dan sudut pandang seorang ibu yang acapkali ingin egois meminta anaknya untuk tetap tinggal menemani tapi nurani ibu yang tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Hingga saatnya ikhlas dan sabar sudah mencapai batas maka air matalah yang menggantikannya.
Through this book, I give my respect to family members who are willing become a caregiver, cause we all know giving up achievements and dreams to focus on being a caregiver is something that is difficult to do. Seeing someone traveling, getting a promotion, buying something they dream of, while a Caregiver must put their beloved first before doing something.