Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mencapai Indonesia Merdeka

Rate this book
Risalah Soekarno untuk mencapai kemerdekaan Indonesia

88 pages, Softcover

First published January 1, 1933

8 people are currently reading
149 people want to read

About the author

Sukarno

70 books149 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
32 (45%)
4 stars
19 (26%)
3 stars
12 (16%)
2 stars
3 (4%)
1 star
5 (7%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Nova Rizkiyah.
12 reviews
December 19, 2022
Buku random yang aku beli di Togamas karena diskon. Ternyataa... bagus sekali isinya. Sudah jelas kalau proklamator kita Soekarno bukan hanya berangkat dari tradisi lisan tapi juga tradisi menulis. Buku ini berisi tulisan yang dimuat di surat kabar saat Indonesia belum merdeka, rentang tahun (1920-1940). Sungguh, membaca buku ini membuatku campur aduk membayangkan saat Indonesia masih dalam jajahan Belanda.

Ada beberapa artikel favoritku yakni apa bedanya kaum sosialis uni eropa bilang kalau Indonesia belum siap merdeka sedangkan Syria sudah siap. Lalu Soekarno menjelaskan kalau itu sesederhana dapur rumah tangga Belanda ada di Indonesia. Semua hasil sumber daya di bumi Indonesia di angkut ke luar. Sedangkan Syria yang (kalau tidak salah) dijajah Inggris hitung2an dalam memperebutkan "minyak" sangat logis untuk memberikan kemerdekaan karena biaya perang (dan korban dari pihak Inggris sendiri) sangatlah besar. Yang menarik, kenapa kaum sosialis begitu bias dalam berpikir?

Di dalam artikel itu juga bagaimana Soekarno setuju dengan pernyataan Hatta mengenai perbedaan kaum sosialis eropa dan kaum sosialis Indonesia. Namun, di artikel lainnya Soekarno tidak setuju dengan Hatta karena masuk dalam bagian sosialis Belanda, baginya bukankah di setiap rapat, di sumpah untuk mematuhi peraturan yang dibuat Belanda, yang mana itu menyalahi hati nuraninya sendiri?

Ada pula artikel yang membahas kenapa kita perlu banyak bicara, juga banyak bekerja, bukan hanya kerja kerja kerja saja (ups). Bagi Soekarno, di sebuah masyarakat yang dikecilkan (daya dan upayanya) akibat monopoli berkepanjangan oleh Belanda (dimana ini berbeda dengan penjajahan Inggris), perlu untuk terus bicara tentang kemerdekaan bukan saja bekerja untuk kemanusiaan(mendirikan panti untuk anak yatim, dll). Baginya, teruslah berbicara tentang apa yang akan dilakukan Indonesia. Karena hanya orang Indonesia-lah yang harus mampu dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Selesai membaca buku tipis ini, after effect yang ada pada diriku adalah betapa untuk mencapai kemerdekaan itu merupakan hasil dan proses yang sangat panjang dari orang2 terdahulu. Saat aku sedang bekerja sekarang, aku membayangkan bahwa aku berkonstribusi sedikit untuk mencapai mimpi2 Indonesia ke depan, saat aku cuci piring aku membayangkan bahwa aku tidak perlu takut untuk dibawa Belanda dan diancam mati, sebuah kemewahan akan kebebasan karena kemerdekaan. Bahwa sejatinya mencapai kemerdekaan itu memang butuh perjuangan. Membaca buku ini membuatku lebih lega dalam bernafas, karena udara kemerdekaan. Terima kasih sudah menulis buku ini Bapak Sukarno. Melengkapi buku2 sejarah yang sudah aku baca : Otobiografi Hatta, Buku karya Ong Hok Ham, serial Tempo Muh. Yamin dan Agus Salim, Oei Tjoe Tat pembantu presiden Soekarno.
Profile Image for Naufal Kemal.
7 reviews3 followers
May 2, 2017
Kita baik sekali mendirikan badan-badan-ekonomi dan sosial itu, asal saja kita tidak "menggenuki" pekerjaan-ekonomi dan sosial itu mendjadi pekerjaan yang pertama, sambil tidak melupakan bahwa Indonesia-Merdeka hanyalah bisa tercapai dengan massa-aksi politik daripada Rakyat Marhaen yang hebat dan radikal

Sebuah rangkuman penulisan bapak proklamator yang dulu dimuat di surat kabar pikiran rakyat , suluh indonesia muda dan lainnya. Sebuah buku yang menjelaskan dengan baik bagaimana perjuangan pergerakan dengan menggunakan tulisan surat kabar dilakukan pada jaman 1900an dulu. Namun sayang, sepertinya penerbit luput untuk mengartikan beberapa kutipan pemikir pemikir lain yang masih dalam bahasa Belanda.

Artikel favorit saya sendiri adalah Swadeshi dan massa-aksi di Indonesia . Pada tulisan ini bung Karno menjelaskan bagaimana perkembangan Kapitalisme, dan beranak menjadi Imperialisme, di Inggris dan Belanda. Yang nantinya perkembangan Imperialisme di kedua negara ini menentukan "warna" penjajahan di negara jajahannya, India dan Indonesia. Penulisan dilanjutkan dengan menjabarkan dengan baik "warna" penjajahan di kedua negara itu serta bagaimana akhirnya India dapat menekan penjajahan Inggris dengan usaha swadeshi nya. Artikel ditutup dengan baik dengan menerangkan bahwa perjuangan dengan cara swadeshi sangat tidak cocok untuk diterapkan pada perjuangan kaum marhaen di Indonesia

Sebuah buku yang cocok untuk dibaca bagi mereka yang ingin membuka wawasan tentang perjuangan pergerakan tahun 1930-1940 saya kira
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.