Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pram dan Cina

Rate this book
Editor: JJ Rizal
Penyelaras Akhir: Ronny Agustinus & Fadjriah Nuriasih

Kurangnya penelisikan mengenai persepsi Pramoedya yang kompleks terhadap RRC sesungguhnya menghalangi kita untuk bisa memahami Pramoedya secara lebih utuh, terutama peran pentingnya dalam gerakan kebudayaan kiri Indonesia selama paruh pertama dekade 1960-an.

Hong Liu
(Direktur Centre for Chinese Studies dan Confucius Institute University of Manchester, Inggris).

Membaca Hoakiau di Indonesia membuat saya tercengang akan kukuhnya Pram dengan argumentasi. Ia siap dengan catatan sejarah, statistik dan kutipan koran. Barangkali ini memang harus dia lakukan. Pramoedya mengguncang asumsi umum yang berlaku. Pram mengecam: ‘Perikemanusiaan limited’ yang terbatas.

Goenawan Mohamad (Penyair dan kolomnis Majalah Tempo).

Dengan mengaitkan dirinya secara akrab dengan Chen, seorang perempuan Cina, Pram menyiratkan bahwa dirinya sendiripun belum tentu tidak mengandung darah Cina. Sebab itu, ia tidak dapat mempromosikan anti-Cina untuk kemurnian rasa Indonesia. Pram memprovokasi pihak-pihak anti-Cina. Secara tidak langsung ia bertanya kepada mereka ini, apakah Anda yakin “bersih” dari darah Cina? Ia menyatakan bahwa darah Tionghoa mengalir di dalam tubuh Indonesia.

Sumit Kumar Mandal
(Pengajar Institut Kajian Malaysia dan Antarbangsa (IKMAS), Universiti Kebangsaan Malaysia).

142 pages, Paperback

First published November 1, 2008

5 people are currently reading
40 people want to read

About the author

Hong Liu

27 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (17%)
4 stars
8 (22%)
3 stars
18 (51%)
2 stars
2 (5%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Ataventis.
8 reviews15 followers
April 27, 2010
Sebentar, sebentar...

Itu yang ada di dalam kepala ketika ditanya seorang kawan bangsa lain tentang Pramoedya Ananta Toer. Bertahun-tahun berguru di dalam taman empiris mengasah saya untuk berlaku prosedural, bahkan untuk suatu hal yang abstrak sekalipun. Tidak ada sepotongpun informasi yang dapat saya korek dari ingatan tentang sosok ini.

Nanti dulu...

Jawaban itu yang langsung muncul ketika ditanya apakah saya menyukai karyanya. Ketidakakraban terhadap sosok yang dipuja sekian juta orang membuat saya gundah. Bisa jadi hanya karena seorang model terkenal pernah menyebutkan maestro ini sebagai penulis yang begitu dia puja, atau, karena nama ini hampir setiap hari disebutkan para guru yang terhormat setiap kali mengabsen teman sekelompok kuliah saya yang luar biasa indah itu. “Pram? Dari Pramoedya Ananta Toer?”.

Kemudian datanglah satu persatu hadiah itu kepada saya. Waktu yang berlimpah. Keleluasaan dari ikatan apapun. Anak pikir yang ternyata jauh lebih empiris dari yang saya duga. Bekalpun telah lebih dari cukup, satu dari sekian banyak perjalanan terpilih siap dimulai: mengenal Pramoedya Ananta Toer.

Setelah sekian lama…

Sebentar dulu...

Kalimat pendek itu yang saya pilih ketika ditanya apakah saya menyukai persona ini. Data belum cukup (banyak) terkumpul. Sulit untuk memutuskan apakah betul saya menyukainya, atau, saya hanya terpesona pada pesonanya.

------

Hanya karena ukurannya kecil dan tak begitu mahal,saya putuskan untuk mengambilnya dari rak pajangan aksara. Buku ini adalah buku ke-3 yang saya pilih untuk menyuplai empirisme saya yang lapar akan data ‘empiris’ yang berbasiskan data ‘empiris’ lainnya. Kata-kata yang terangkai memang tidak membuai. Pun, bukan itu tugasnya..

Hong Liu dengan gaya pemaparannya yang sistematis berhasil meyakinkan saya tentang gejolak yang terjadi di alam pemikiran Pram sebelum dan setelah 1956-59. Dengan runtut Liu menyajikan data tentang resah yang menghinggapi jiwa Pram serta proses pencariannya ke luar Indonesia dan Belanda.

Argumentasinya memikat saya dengan menyodorkan serangkaian fakta yang mendukung transformasi budayawan ini, dari seorang yang berjarak karena humanisme universalnya, menjadi seorang yang terlibat dengan realisme sosialis.

GM, walaupun tidak bersajak, secara singkat berbesar hati memaparkan kekaguman sekaligus ketercengangannya atas lengkapnya data yang mendukung argumentasi Pram dalam “Hoakiau di Indonesia”. Dalam kedua paragraph terakhirnya, GM, dengan gaya penulisan filosofis khasnya kembali menyentil makna rasialisme yang sebenarnya.

Terakhir, Sumit Kumar Mandal, memfokuskan tulisannya pada pemilihan kata Hoakiau, ketimbang Tionghoa atau Cina. Dalam salah satu kalimatnya, Mandal menyatakan secara tidak langsung Pram bertanya kepada pihak antiTionghoa, apakah mereka yakin dirinya “bersih” dari darah Tionghoa?

“Tembong biru pada pantat atau bagian bawah lain bayi satu isyarat si bayi berdarah Cina, padahal bayi-bayi Indonesia yang berkulit lebih cerah dari cokelat pun bertembong biru,” ungkap Pram dalam Hoakiau di Indonesia (1960). Hal. vii
---
Hmmm…. (dengan senyum mengembang-red)


Hanya itu jawaban yang ada di kepala saya ketika kembali diajukan tiga pertanyaan di atas.

Mungkin saya masih belum berhasil menyimpulkan jawabannya. Namun, satu hangat yang saya rasakan saat ini: merasa terbela atas tembong biru yang ada pada saya.

50 tahun setelah surat-suratnya kepada Chen Xiaru, saya mendapat kesempatan untuk kembali meresapi akar pribadi yang terlupakan karena tertutup oleh "simbol" coklatnya warna kulit serta penutup kepala saya.

Simbol yang menyelamatkan saya dan ibu dari sasaran setan mengamuk pada 1998.
Simbol yang acap kali berhasil menutupi sebuah akar ,yang selalu saya bagi selamanya, dengan ayahanda dan kakak saya.

Sudah tiba saatnya, dengan segala kejujuran, saya ikut barisan semua pihak yang merasa terbela karena keberaniannya ‘bersurat’ itu.

Profile Image for gonk bukan pahlawan berwajah tampan.
58 reviews43 followers
August 11, 2010
Ini catatan tiga tokoh tentang Pram, tentu saja terkait pandangan dan perspektif Pram soal Cina.

Sama seperti Pram yang galau soal Cina, saya juga lagi galau soal china, come here i need affection :D

Karena saya masih kelas tiga es em pe jadi masih angkatan alay baru, boleh dunk nyanyi :

...
bertahan satu chiiiiiiiiiina.......
bertahan satu Ce.Ha.I.eN.A
...
Profile Image for Winnie Sutanto.
12 reviews
January 12, 2018
membaca tulisan didalamnya tanpa membaca Hoa Kiau di Indonesia seperti makan garam tanpa lauk.
Profile Image for Zhico zulfa choiriyah.
9 reviews5 followers
March 4, 2015

Orang mungkin tak banyak yang tahu bahwa Pramoedya Ananta Toer-lah, orang Indonesia pertama yang membela masyarakat Tionghoa, ketika etnis tionghoa menjadi korban diskriminasi rasial yang dilakukan pemerintah Indonesia pada akhir tahun 1950-an.
Pram melancarkan kritik subversif terhadap pemerintah yang secara tidak manusiawi, dan tidak sadar sejarah mendiskriminasi etnis tionghoa . Ketika itu, Pram menulis di harian Bintang Timur secara serial, sebuah cerita yang berbentuk korespondensi Pram dengan seorang gadis Cina. Cerita itu, berisi tentang dialog berkisaran kebudayaan Cina dan masyarakat Cina di Indonesia. Serial itu kemudian dibukukan dengan judul “Hoakiau di Indonesia”.
Profile Image for Adriana.
68 reviews12 followers
February 28, 2012
Buku ini adalah merupakan pandangan tiga penulis iaitu Hong Liu, Goenawan Mohamad dan Sumit Kumar Mandal tentang hubungan Pramoedya Ananta Toer dan Cina di Indonesia. Tindakan Pram yang cuba memecahkan benteng anti-Tiong Hoa di Indonesia ditentang hebat pada mulanya dan dikatakan sebagai pengkhianat bangsa Indonesia.

http://jiwarasagelora.blogspot.com/20...
Profile Image for Regalia.
43 reviews
November 25, 2012
Kumpulan tulisan-tulisan dari tiga penulis tentang hubungan kedekatan Pramudya Ananta Toer dengan China. Tulisan yang sudah pernah dimuat di media lain.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews