Buku ini berusaha menelisik secara kritis problematika kedaulatan petani yang dihadapkan dengan program lumbung pangan (food estate). Menurut pemerintah, program pengembangan produksi pangan berskala luas tersebut yang melibatkan pemilik modal dan perusahaan besar adalah solusi penyediaan pangan bagi rakyat. Namun, program ini malah mencerabut peran penting petani dalam proses pertanian itu sendiri dan menggantikan pola pertanian kekeluargaan dengan pola produksi “pabrik”. Gelombang perubahan ini memaksa para petani lokal, yang dalam pembahasan buku ini adalah masyarakat Sumatra Utara, untuk mendialogkan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun dengan gagasan-gagasan modern untuk mempertahankan ruang hidupnya. Tim KSPPM yang menulis artikel-artikel dalam buku ini berusaha menyampaikan suara dari masyarakat marginal yang berusaha memperjuangkan kehidupan yang lebih adil dan bermartabat di tengah segala dinamika tersebut.
Sebuah hasil catatan lapangan yang dikemas dalam bentuk narasi berisikan data yang reliable dan valid, kita diajak menjelajahi dulu tentang konsep bertani untuk hidup dan hidup untuk bertani. Dipaparkan secara jelas bagaimana alam menjadi ibu bapak bagi masyarakat batak, bagaimana takzim dan harmoninya kehidupan masyarakat adat dengan alam disekitarnya, sayangnya kedaulatan pangan yang digadang2 menjadi program unggulan dari pemerintah malah berubah menjadi bencana bagi kesejahteraan masyarakat adat. Sebuah buku yang layak ada dibaca.