”Protokoler keagamaan” yang banyak sekali ’printilannya’ malah membangun hijab antara manusia dengan Tuhan. Berbagai tata-cara peribadatan malah membuat umat merasa asing pada Sang Mutlak. Akibatnya, manusia gagap memahami Tuhan. Manusia tersesat, tak tahucaranya menuju Tuhan yang benar-benar Tuhan, yang tak terkonsepsikan, yang hanya bisa diimplementasikan dalam cinta dan laku kebaikan. Sebab, umat kadung dicekoki oleh ”tuhan-tuhan” palsu, penjelmaan hawa nafsu yang berhasil mengecoh akal sehat.
Dalam buku ini, Dr. Muhammad Nursamad Kamba, Guru Besar Ilmu Tasawuf alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, seorang sufi zaman now yang sangat produktif menulis, mengajak kita untuk ’pulang’ kembali pada Sang Mutlak yang penuh cinta. Ia mengajak kita untuk bareng-bareng mereparasi akal, agar kembali pada fitrahnya, sehingga dengannya kita bisa membangun kesadaran tentang Sang Kekasih yang tak pernah berhenti mencintai umat-Nya. Bersama akal sehati tuk Kita akan membangun cinta pada Tuhan dan menjalin perjumpaan dengan-Nya.
Nabi Muhammad Saw., nyata-nyata telah memberi keteladanan pada kita tentang bagaimana caranya ’berjumpa’ dengan Tuhan. Keteladanan yang sayangnya jarang tampil pada kita gegara sebagian besar “pemuka agama”—yang secara sembrono kadung dianggap sebagai “representasi firman-firman Tuhan”—tak pernah menghadirkan keteladanan itu pada umat. Padahal, hanya dengan meneladani Nabi Saw., kita akan sadar bahwa manusia berhak mencintai Allah secara merdeka.
Sebuah buku yang bisa dibilang semacam panduan bagi seorang salik dalam menempuh jalan ketauhidan. Buya Kamba berhasil memformulasikan tahapan demi tahapan dalam menempuh maqamat dari Islam ke Ihsan secara bagus dan unik dalam setiap diri pembaca. Dikatakan benar jika kita ingin selalu mengingatNya harus terus menerus mengulang zikir hingga ke level subconscious kemudian Ia akan membawa kita dalam kehidupan yang lebih abadi dengan peran yang sesuai dengan kapasitas diri kita