Ada suatu masa ketika sampar mewabah, salah satu ikhtiar religius untuk mengakhiri penderitaan kolektif adalah dengan membakar hidup-hidup orang Yahudi. Hari ini kita menganggap itu tindakan gila.
Kegilaan yang sama tidak mungkin dilakukan lagi sekarang, di saat kita menghadapi wabah. Meski ada gejala-gejala serampangan yang disebabkan oleh ketidaktahuan yang keras kepala, tetapi jelas kita tidak mungkin membakar manusia, dari ras mana pun, dan meyakini dengan itu wabah akan berakhir.
Informasi-informasi saintifik membuat pengetahuan kita membaik dan momentum berjangkitnya wabah, disadari atau tidak, telah menjadi pendorong yang efektif bagi penerimaan kita terhadap sains. Tidak ada informasi yang bisa diandalkan kecuali yang datang dari kalangan sains.
AS Laksana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968) adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Ia belajar Bahasa Indonesia di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) dan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Gorong Gorong Budaya.
Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, Tabloid Investigasi, dan kemudian mendirikan dan jadi pengajar sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Kini dia aktif di bidang penerbitan.
Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004.
Buku ini adalah kumpulan respon terhadap tulisan dan ucapan Gunawan Mohamad (GM) bahwa ia tak sudi berkhidmat pada sains. A.S. Laksana atau Sulak menandingi pendapat GM itu dengan menjabarkan prestasi-prestasi sains dalam memudahkan hidup manusia.
Ringkasnya, GM merasa sains tak bisa secara pongah mengklaim kebenaran hanya berasal dari sisinya, sedangkan Sulak mengkritisi GM yang secara tak langsung menjadi kacung para filsuf.
Di satu sisi, saya mengamini apa yang ditulis Sulak bahwa kita hendaknya tak selalu berdiri di belakang nama-nama besar, menyadur omongan mereka, dan tak cukup berani melahirkan teori-teori sendiri. Tetapi di sisi lain, kemajuan sains yang bergerak secara eksponensial kadang melebihi kebutuhan manusia itu sendiri. Alih-alih tepat guna, ia malah destruktif. Maka kita harus menengok ke belakang, melihat kembali niat awal mengapa sains itu dibutuhkan. Saya rasa, di titik ini filsafat kembali berperan.
Meski di buku ini tulisan GM hanya diparafrase, saya tetap memahami konteksnya, dan yang terpenting terhibur sekaligus tercerahkan. Saya membayangkan jika perdebatan-perdebatan di media sosial juga dituliskan dengan cara seapik ini, pastilah negeri ini akan melahirkan esais-esais baru.
Setelah menutup buku, ada yang mengusik saya: bagaimana caranya menulis semulus ini? Tulisan yang menampar minus umpatan, mengkritisi seseorang tanpa ad hominem, memaparkan teori-teori tapi tak menggurui. Mungkin saatnya belajar?
Buku yang enggak sengaja kebeli (di luar rencana) karena judulnya menarik hati. Pembaca diajak melihat sains dengan sudut pandang positif, yakni melalui pandangan AS Laksana terhadap opini Gunawan yang tidak ingin berkhidmat pada sains.
Saya pribadi sedang berada di masa pencarian, yang mana juga mulai mendalami ranah per-IPTEK-an sehingga mau ga mau bersentuhan juga dengan dunia sains. Buku ini seakan-akan membuatku merasa punya “teman” dalam memandang sains. Ya, tepat sekali buku ini diberi judul “Sains dan Hal-hal Baiknya” hadir di tengah-tengah masyarakat yang masih kurang memahami urgensi sains di kehidupan masa kini.
Bukan berlagak sok paling maju pikirannya, tetapi kini memang kita butuh kemampuan untuk menerima suatu informasi berdasar evidence yang sudah dibuktikan dengan penelitian. Dan buku ini berhasil memberikan optimisme pribadi bahwa sains akan terus berkembang dan pasti akan semakin diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat.
Sengaja saya beri 5 bintang karena buku ini termasuk salah satu best buy di tahun 2023. Terima kasih sudah mencerahkan, Om Sulak!
Ini kumpulan tulisan di Facebook yang ditujukan untuk mendebat balik Goenawan Mohamad, yang dalam suatu acara mengatakan dia tidak bersedia "khidmat kepada sains". Ujungnya sejumlah penulis membuat bantahannya di Facebook, lalu sepertinya dianggap bagus oleh penerbit ini dan dikompilasi jadi seri buku. Penulis yang ini mencoba menunjukkan prestasi-prestasi yang dapat dicapai oleh pendekatan sains.
Tulisan awalnya bagus sih, pembaca awam seperti saya dijelasin apa itu metode sains dan apa yang dapat diraih sejauh ini. Tapi makin ke belakang rasanya rada kepanjangan, jadi rada ngga jelas maksud tulisannya apa. Katanya pidato GM yang menjadi pencetus itu ngga sampe 8 menit, tapi tanggapannya panjang sekali hingga jadi sebuah buku. Selain itu pidatonya GM juga ngga diketik ulang jadi orang awam seperti saya yang nggak tau konteks berantemnya ini jadi bingung kenapa tanggapannya panjang sekali dan juga ngga jelas apakah GM pernah membalas argumen dia atau tidak.
Mencerahkan, cukup menarik, dan tidak terlalu sulit dimengerti. Sebuah kritik (dan balasan kritik, dan balasan kritik, dan balasan kritik lagi) terhadap ucapan dan tulisan Goenawan Mohamad di sebuah forum bahwa ia tak sudi berkhidmat pada sains.