Darah dan air mata terus mengalir. Kekejian dan kemaksiatan merajalela. Penculikan dan pembunuhan terjadi di mana-mana. Amat banyak perempuan yang diperkosa. Serdadu-serdadu yang gagal menemukan dan menangkap pejuang kerap membakar rumah penduduk, memperkosa setiap perempuan yang mereka temukan, dan memukuli lelaki yang tidak bersalah hingga cedera, bahkan tewas.
Meutia coba meneguhkan diri dalam menghadapi dunia yang mengerikan itu. Beribu persoalan terbentang luas di depan matanya. Walau terpukul dan terguncang, dia tetap menjalani kehidupan yang wajar. Memang ada sisi tersembunyi darinya sebagai terapi yang membuatnya tidak menjadi gila. Orang-orang melihatnya tidak wajar. Namun, Meutia tidak ambil pusing. Dia mengalihkan semua beban masalahnya dengan menulis surat setiap malam. Surrat-surat itu dikirimnya kepada Tuhan.
Apa isi surat yang dituliskan Meutia? Bagaimana cara gadis itu mengirimkannya? Bagaimana sikap orang-orang terdekat yang mengetahui kelakuan ganjilnya? Siapakah lelaki yang siap mendampingi dan mengobati luka-luka hatinya? Ini adalah kisah yang sangat menyentuh di sebuah tanah yang dipenuhi konflik dan keputusasaan.
ARAFAT NUR adalah penulis penting Indonesia yang riwayat kehidupannya sendiri mirip kisah fiksi. Dia tumbuh dan besar di tengah gejolak politik, perang (konflik) panjang yang melanda Aceh yang menyebabkannya beberapa kali hampir terbunuh. Tahun 1999, saat kecamuk perang meningkat, Arafat yang masih remaja diculik sebuah kelompok yang mencurigainya sebagai mata-mata karena menulis puisi dan cerpen. Dua orang meringkus ke tengah hutan, dan di pinggir sebuah sungai dia hendak dibunuh. Jika saja tidak ada pertolongan dari organisasi kemanusiaan yang mengetahui hal itu, mungkin dia tidak sempat menulis novel dan namanya tidak pernah dikenal orang.
Tidak lama setelah terbebas dari penculikan, rumahnya dibakar habis berserta seluruh isinya, menyebabkan dia, ayah, ibu, dan empat adiknya tidak punya lagi tempat tinggal. Ayahnya yang sejak lama jatuh sakit, mengasingkan diri ke kampung asalnya di Ulee Gle. Sedangkan ibunya meninggal dunia dalam keadaan sakit dan kelelahan akibat menghindari perang yang tak ada habisnya. Dalam situasi kacau seperti itu, Arafat bertahan menamatkan SMA, lalu bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya sendiri. Beberapa kali dia pernah terperangkap dalam perang terbuka yang hampir membunuhnya. Pada peristiwa lain, dia diancam komandan militer di tengah enam ratusan prajurit bersenjata lengkap akibat tulisannya yang muncul di surat, dan di lain waktu dia dipukuli oknum polisi yang lagi mabuk di Pajak Impres Lhokseumawe.
Seusai perang, tidak lama setelah pemberontak berjabat tangan dengan pemerintah, dalam kehidupan tidak menentu, miskin, dan kurang makan, dia bersikeras menyelesaikan novel Lampuki (Serambi, 2011) yang tiga tahun kemudian selesai. Novel itu memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010, lalu meraih Khatulistiwa Literary Award 2011. Terbitnya Lampuki menyulut kemarahan pihak tertentu yang menghujat dan mencaci-makinya, mereka melempari rumahnya dengan batu, dan beberapa kali peneror sempat mendobrak pintu rumahnya. Namun, Arafat berhasil melarikan diri sampai kemudian penjahat yang hendak memukulnya itu tidak muncul lagi.
Empat tahun berselang, novelnya Burung Terbang di Kelam Malam (Bentang, 2014) terbit, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul A Bird Flies in the Dark of Night. Berselang setahun, dia menerbitkan novel Tempat Paling Sunyi (Gramedia, 2015) yang semakin melonjakkan namanya sebagai novelis penting di Tanah Air. Tahun 2016, Arafat kembali memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta melalui novel Tanah Surga Merah (Gramedia, 2017) yang mendapatkan tanggapan baik dari pembaca, termasuk mereka yang sebelumnya tidak menyukai karya-karyanya. Novel terbarunya, Bayang Suram Pelangi direncanakan langsung terbit dalam edisi bahasa Inggris di Amerika.
Pembaca dapat berintereaksi langsung dengannya melaui twetter di @arafat_nur. Kunjunganilah lampukinovel.blogspot.com/
Meutia gadis remaja yang mengalami trauma pasca kejadian GAM (Gerakan Aceh Merdeka), dimana saat itu rakyat Aceh yang ingin membebaskan diri dari Indonesia tapi malah mendapat 'sambutan' dari pemerintah dengan dikirimnya serdadu tentara keji dan beringas.
Kericuhan itu bukan hanya membantai kedua orang tua Meutia, tapi juga membantai banyak orang yang tidak berdosa. Mereka menyiksa, membunuh bahkan memerkosa. Bahkan rakyat kecil yang tidak ada hubungannya dengan pemberontak ikut menjadi imbasnya.
Kejadian itu menyisakan trauma bagi Meutia sehingga membuat gadis itu sering melakukan ritual dengan menulis surat untuk Tuhan. Sayangnya, Meutia tidak sadar jika surat-surat itu justru sampai pada tangan yang lain.
( ◜‿◝ )♡
Arafat Nur, penulis yang punya ciri khas utama dimana hampir semua karyanya berlatar sejarah gerakan Aceh. Dengan latar sejarah GAM, penulis dapat menyajikan berbagai macam cerita yang unik dan beragam. Salah satunya buku ini.
Gadis yang menulis surat setiap malam menurutku memilki suasana romansa yang lebih dominan, namun penulis berhasil menyajikannya ke dalam tema unik bernuansa kelam dan menyiksa. Melalui memori Meutia, kita diajak untuk mengingat kembali kondisi Aceh saat itu.
Disajikan dengan bahasa yang ringan, plot yang ringan, serta tokoh-tokoh remaja yang sedang kasmaran. Aku ikut terbawa suasana Meutia dan guru ngajinya yang lucu tapi menggemaskan. Cara mereka jatuh cinta, dengan kesederhanaan tapi bermakna, membuat aku jadi nostalgia masa-masa sekolah. 🤭
Di tengah kemelut suasana Aceh, Meutia justru menghadirkan suasana jatuh cinta yang indah dan bermakna.