Dapat buku Di Bawah Umur ini dari giveaway, awalnya tertarik karena judulnya catchy. Baru sadar kalau buku ini sudah difilmkan, tapi saya sendiri belum (dan mungkin nggak akan) nonton, karena preferensiku memang bukan ke film romansa anak sekolahan, apalagi produksi lokal—maaf banget, beda selera aja.
Sebagai pembaca usia 25 tahun yang waktu sekolah nggak relate sama kisah cinta-cintaan yang sekeras ini, saya cukup sering geleng-geleng kepala bacanya. Tapi, ya, saya juga sadar, mungkin memang realita remaja zaman sekarang sudah berbeda.
Yang bikin menarik, di buku ini disisipkan juga sex education. Sayangnya, menurut saya pendekatannya agak problematik. Banyak karakter perempuan ditulis “dihamili” sebagai bentuk konsekuensi moral dalam cerita—kayak jadi alat untuk “menampar” karakter utama agar sadar. Jadi cukup sering saya mikir, “Loh, hamil lagi? Buset dah”
Seolah-olah narasinya adalah: kalau kamu masih sekolah dan pacaran kelewat batas, pasti bakal ribet sendiri. Dan itu disampaikan dengan cukup vulgar, bahkan eksplisit, untuk ukuran cerita remaja. Jadi, bisa dibilang, bacanya campur aduk antara mikir, heran, dan sedikit sebal.
Kalau kamu pembaca muda yang butuh peringatan keras soal batas-batas saat remaja, buku ini mungkin akan ngena banget. Tapi kalau kamu pembaca dewasa yang lebih suka pendekatan reflektif atau narasi yang adil pada semua karakter, siap-siap agak terganggu
ᴅɪᴘ's ᴏᴡɴ ʙᴏᴏᴋs ᴄᴏʟʟᴇᴄᴛɪᴏɴ 𖹭.ᐟ