Jump to ratings and reviews
Rate this book

Akar Pule

Rate this book
“Aku ingin kau tidak cengeng. Hanya perempuan tolol yang selalu mengeluhkan hidup. Hidup itu harus diajak bertarung. Kau harus mampu bersabung dengannya. Kalau kau menang, itulah nikmatnya menjadi perempuan!” (cerpen “Sepotong Tubuh”)

10 cerita pendek di dalam kumpulan cerpen Akar Pule berkisah tentang perempuan Bali yang bergelut dengan tradisi, kasta, keluarga, stigma terhadap tubuh, pengkhianatan, dan hubungan terlarang. Kisah-kisah yang mempertanyakan dengan berani apa yang disebut takdir dan nasib. Ditulis oleh Oka Rusmini, penulis perempuan Indonesia yang telah berkarya selama lebih empat puluh tahun di jalan sastra.

160 pages, Paperback

First published January 1, 2012

11 people are currently reading
154 people want to read

About the author

Oka Rusmini

28 books140 followers
Oka Rusmini was born in Jakarta, July 11, 1967. She lives in Denpasar, Bali. She writes poetry, novel, and short story.
Her published works are Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014).
Her novel Tarian Bumi has been translated into foreign languages: Erdentanz (Deutsch edition, 2007), Jordens Dans (Svenska edition, 2009), Earth Dance (English edition, 2011), and La danza della terra (Italian edition, 2015).
In the year 2002, she received the Best Poetry Award from Poetry Journal. In 2003, The Language Centre, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, gave her the Literary Appreciation Award of Literary Works for her novel Tarian Bumi. In 2012, she received the Literary Appreciation Award from the Agency of Language Development and Cultivation, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, and the South East Asian Write Award, Bangkok, Thailand, for her novel Tempurung. Her book of poems Saiban (2014) won the national literary award, “Kusala Sastra Khatulistiwa 2013-2014”.
She was invited to national and international events, such as Literary Festival Winternachten in Den Haag, Amsterdam, Netherland (2003), Singapore Writer Festival (2011), and OZ Festival, Adelaide, Australia (2013). She was also invited as guest writer in Hamburg University Germany (2003).

Oka Rusmini can be contacted at
Twitter: @okarus
Email : tarianbumi@yahoo.com.
Facebook Page: oka rusmini

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
27 (17%)
4 stars
43 (27%)
3 stars
66 (42%)
2 stars
13 (8%)
1 star
5 (3%)
Displaying 1 - 30 of 31 reviews
Profile Image for fara.
280 reviews42 followers
August 19, 2022
Bali. Perempuan. Patriarki. Sejujurnya, keajegan formula yang digunakan Oka Rusmini dalam menulis ini cukup bikin bosan. Hanya cerita-cerita dengan tema sama yang diusung dengan fokus, sudut pandang, dan penokohan yang berbeda. Meskipun pesan yang hendak disampaikan dapat mendarat dengan mulus pada pembacanya, ironi yang terlalu eksplisit kadang juga membuat kesamaan-kesamaan cerita garapan Oka jadi terkesan 'ini-ini saja' dan 'itu-itu lagi'. Dengan beberapa repetisi yang lumayan mengganggu, awalnya saya mau berhenti baca di tengah. Namun, ternyata ada cerpen yang berhasil menarik perhatian saya hingga saya akhirnya tetap melanjutkan bacaan.

Misalnya seperti kutipan dalam cerpen Seorang Perempuan dan Pohonnya: "Menjadi manusia itu sial! Coba kau putar otakmu. Ketika kau jatuh cinta, seluruh tubuhmu kau biarkan terbuka. Kau berharap semua lelaki bisa dengan santai menghirup aroma keindahannya. Lalu, kau akan memberikannya pada seorang lelaki. Juga atas nama cinta! Kau akan melayaninya. Bahkan ketika lelaki itu meminta tubuhmu, kau dengan senang hati membuka kulitmu. Membiarkan lelakimu itu menyantap tubuhmu. Lalu apa yang terjadi? Ketika lelakimu itu menyantap tubuhmu dengan sendok dan garpu. Membalikkan tubuhmu seperti ikan panggang, menusuk, mengerat dagingmu, lalu menelannya dengan rakus, sampai lelaki itu memekik. Apa yang kau dapat? Tubuhmu ditumbuhi daging. Daging yang memiliki akar-akar kuat mengutas seluruh tubuhmu. Itukah hasilnya cinta? Untuk sepotong lelaki, kau korbankan tubuhmu, dagingmu?"

Juga pada dialog berikut (masih dalam cerpen yang sama): "Menjadi perempuan itu menurutku sudah kutukan. Kau tambah lagi dengan cinta. Memang kau sering katakan, hidupku tidak akan lengkap. Menjadi perempuan itu harus bisa mencintai. Dan cinta itu harus jatuh ke sepotong lelaki, bukan makhluk lainnya, perempuan misalnya! Kau berteriak dan menyadarkan dirimu sendiri. Kadang aku berpikir kau sedang berkata dan memaki dirimu sendiri."

Oka Rusmini banyak menggambarkan seksualitas dengan menggunakan diksi agar bisa menjadi 'representasi'. Sehingga, diperlukan minimal dua kali membaca agar dapat menelaah maknanya. Meski diksinya kaya, gaya menulisnya yang mendayu-dayu bisa jadi seperti dua sisi koin; bisa menguatkan penceritaan, bisa juga membuat pembaca jadi malas berimajinasi (karena terlalu banyak monolog penulis dalam narasi yang nggak membuat pembaca 'tertarik' buat mengeksplor apa yang hendak disampaikan).

Terlepas dari keenggakpuasan saya, saya merasa perlu bertepuk tangan saat membaca cerpen Pastu karena membuat saya juga 'mempertanyakan' soal perkawinan, sebagaimana dalam kutipannya: "Kamu kan nggak pernah beranak, tidak heran tubuhmu indah. Kamu bisa menghabiskan waktu untuk merawat tubuh. Gaji di kantor besar. Rumah ada. Mobil ada. Kurang apa?" Aku terdiam. Setiap sahabatku berkata dengan penuh nada iri pada kehidupan yang sedang kunikmati. Apakah aku bahagia dengan kelajanganku? Aku juga pernah bertanya pada karibku itu, "Apakah perkawinan membuatmu bahagia?"
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,044 reviews1,965 followers
September 30, 2025
Bertemu dengan Akar Pule--kumpulan 10 cerpen karya @okarusmini_idaayu --membawaku pada kehidupan perempuan Bali. Mau itu dari kasta rendah hingga kasta tertinggi pun, perempuan dalam kisah-kisah itu digambarkan selalu bertemu dalam kesulitan. Baik itu pengabaian, juga label-label negatif hanya karena perempuan tidak mau "nurut" aturan yang berlaku (padahal hanya sekadar menjadi dirinya sendiri).

Perempuan bak tidak punya kewenangan atas tubuh & hidupnya sendiri. Baik itu dalam berkehidupan sosial, dalam tatanan kasta, juga agama. Belum lagi kekerasan yang dialami oleh perempuan-perempuan (di dalam cerpen) hanya untuk menjaga marwah keluarga & perkawinannya.

Dari 10 cerita, Grubug menjadi cerpen favoritku. Seakan menangkap kondisi Bali yang sayangnya masih relevan hingga saat ini. Perempuan yang ditindas, juga tanah yang dirampas. Lewat Grubug pula, penulis menyisipkan bagaimana kesenjangan sosial begitu nyata.

Buku ini ringan, tapi juga berat. Ada banyak hal-hal tidak menyenangkan yang naasnya memang betulan kejadian.

Kalau kamu mencari bacaan yang tidak Jawasentris, buku-buku bu Oka Rusmini bisa menjadi opsi. Dan Akar Pule bisa menjadi awal yang baik untuk berkenalan dengan tulisannya.
Profile Image for Yuliana Martha Tresia.
66 reviews19 followers
January 25, 2022
Membaca cerita-cerita Oka Rusmini, bukan hanya tentang menyelami kultur masyarakat Bali. Lebih dari itu, membaca cerita-cerita Oka Rusmini merupakan sebuah perjalanan untuk melihat kembali kisah-kisah hidup para perempuan di bawah hegemoni patriarkhi dalam masyarakat Bali.

Dalam pandangan saya, cerita-cerita Oka Rusmini umumnya disampaikan melalui tokoh utama perempuan yang mengandung hidup dalam pahit dan getir. Tema yang diangkat menjadi latar hidup para perempuan tokoh utama memang berat, beberapa bahkan tragis. Mungkin seperti upaya kritis untuk meresponi realita yang dialami para perempuan di luar cerita fiksi, tanpa ingin berpura-pura memolesnya tampak bahagia. Bagaimana cinta dan pernikahan yang seringkali dituju dan dipuja para perempuan, juga bisa menjadi sumber kemalangan kemudian. Bagaimana perselingkuhan melukai para perempuan. Kekerasan seksual dalam berbagai wujudnya. Rahim yang dipaksa tunduk untuk menjadi alat reproduksi bayi laki-laki yang dianggap berharga, ketika bayi perempuan tidak patut diperhitungkan.

Kata Bapak, perempuan yang tidak bisa melahirkan bayi lelaki adalah perempuan sial! Hidup tanpa keturunan lelaki, kiamat! Hidup itu sudah mati tanpa lelaki! Dan si tolol itu percaya. Sipleg tidak bisa menghitung berapa puluh bayi yang dilahirkan mati! Hanya untuk mendapatkan bayi lelaki, perempuan itu membiarkan tubuhnya dititipi daging terus-menerus. Daging yang memakan isi tubuhnya.

(Halaman 60, dalam cerita pendek "Sipleg")


Namun, dalam cerita-cerita di buku ini, Oka Rusmini juga menyoroti dilema-dilema para perempuan dalam segala kemanusiawiannya: bagaimana istri juga bisa jenuh akan pernikahan dan berselingkuh meski terjebak rasa bersalah dan takut yang menjelma dalam pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab (cerita pendek "Sawa"), atau bagaimana perempuan yang selalu dianggap makhluk lemah-lembut ternyata juga bisa menjadi pembunuh keluarganya sendiri akibat keterlukaan yang parah (cerita pendek "Palung"), atau bagaimana tokoh utama perempuan mempertanyakan sesama perempuan (cerita pendek "Sipleg").

Semua perempuan kampung itu terus bicara. Sipleg hanya diam. Berpikir, apakah perempuan-perempuan hanya bisa bergosip? Ingin tahu semua urusan orang dan bersorak girang atas bencana yang dialami oleh perempuan lain, termasuk dirinya? Apakah perempuan-perempuan itu juga punya perhatian serius pada hidupnya? Hidup seorang perempuan kecil. Sipleg mengigit bibir. Aku juga seorang perempuan! Sama seperti mereka.

(Halaman 64, dalam cerita pendek "Sipleg")


Dalam buku kumpulan cerita pendek "Akar Pule" ini, pembaca juga dapat menangkap kesan bahwa banyak tokoh-tokoh utama perempuan di dalamnya penuh amarah dan penuh pertanyaan, atas hidup yang tak berpihak menguntungkan mereka sebagai perempuan ketimbang para laki-laki -- tapi mereka terus hidup, bertanya dalam marah, melawan dan mencoba bertahan, dalam rute masing-masing, yang kelu dan pilu. Emosi-emosi yang kerapkali dinilai sebagai perasaan yang tidak nyaman itu (saya tidak ingin menyebutnya emosi negatif, karena tidak ada emosi positif dan negatif), dituliskan dengan jelas, tegas dan mendalam.

Terlalu banyak jejak tertinggal. Terlalu banyak kebohongan-kebohongan yang terus meluncur di rumah kami. Lelakiku pun menjadi sangat kasar. Kata-kata kotor, fuck you, bangsat, dan berbagai makian lain berhamburan dari bibirnya. Aku ingin membunuhnya! Perempuan itu benar-benar telah mencuci otak dan pikirannya. Aku ingin bertemu dengan perempuan itu! Setiap mengingat sejoli malam itu aku mengigil. Tubuhku tidak lagi mengeluarkan keringat, tetapi api. Api yang siap membakar siapa saja yang mencoba mendekatiku. Yang pasti. Aku luka dan berdarah! Aku tak lagi bisa menangis, mengeluarkan air mata atau air mata darah. Tidak! Air mataku, belatung!

(Halaman 115, dalam cerita pendek "Tiga Perempuan")


"Hidup itu, Geg, harus dilawan. Kalau kita lembek, hidup akan melumat kita. Menelan kita hidup-hidup. Kalau kita kuat, hidup akan berpikir-pikir dulu sebelum memakan kita. Dia takut, ha ha ha." Tawanya terasa getir. Aku terdiam.

(Halaman 141, dalam cerita pendek "Tiga Perempuan")


Favorit saya adalah cerita pendek berjudul "Pastu" dan "Tiga Perempuan". Dalam "Pastu", Oka Rusmini menuturkan dengan gamblang, konflik batin yang dialami seorang perempuan berusia jelang 40 tahun yang masih memilih melajang. Konflik batin itu menempatkannya dalam posisi yang goyah, dalam menilai kelajangan(nya) maupun pernikahan: dan mana jalan terbaik untuk menjadi bahagia. Konflik batin ini tidak disimpulkan dengan jelas sampai akhir cerita, saya juga yang masih bertanya-tanya hal serupa merasa terwakilkan. Menelusuri konflik batin Dayu Cenana seperti menelusuri konflik batin sendiri.

"Kamu kan nggak pernah beranak, tidak heran tubuhmu indah. Kamu bisa menghabiskan banyak waktu untuk merawat tubuh. Gaji di kantor besar. Rumah ada. Mobil ada. Kurang apa?" Aku terdiam. Setiap sahabatku berkata dengan penuh nada iri pada kehidupan yang sedang kunikmati. Apakah aku bahagia dengan kelajanganku? Aku juga pernah bertanya pada karibku itu, "Apakah perkawinan membuatmu bahagia?"

(Halaman 47, dalam cerita pendek "Pastu")


Selama ini Cok Ratih terus-menerus berusaha menyembuhkan lukaku. Katanya, kehidupan perempuan baru disebut sempurna jika sudah kawin. Perkawinan membuat perempuan sadar arti menjadi istri, juga arti menjadi ibu. Tapi kalau nyatanya kawin malah bikin susah dan rumit, apakah perkawinan masih bisa dijadikan alasan bahwa pohon kebahagiaan itu hanya bisa ditemukan di dalam rumah perkawinan?

(Halaman 55, dalam cerita pendek "Pastu")


Cerita "Tiga Perempuan" merupakan cerita pendek terpanjang dalam buku ini, sekaligus menjadi epilog yang lengkap. Cerita ini kompleks dalam banyak rupa cerita, emosi, dan alurnya.

Aku menarik napas. Kelak akan kuceritakan dongeng "hikayat menjadi perempuan" pada anak perempuanku Jasmine. Bahwa seorang perempuan harus tumbuh jadi pribadi yang mandiri. Baik fisik maupun material. Jadi, kalau kelak perkawinannya runtuh, dia tetap memiliki income untuk melanjutkan kehidupannya. Perempuan tidak boleh berhenti bekerja.

(Halaman 147-148, dalam cerita pendek "Tiga Perempuan")


Buku kumpulan cerita pendek ini merupakan buku lainnya karya Oka Rusmini yang menjadi favorit saya. Sangat direkomendasikan.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
June 12, 2015
Saya membacanya sepanjang perjalanan kereta dari Jakarta menuju Yogyakarta, kisah-kisah Oka Rusmini dalam buku ini memang sangat menyuarakan kepeliuan perempuan. Hampir semuanya berkisah tentang nasib-nasib perempuan yang tertindas karena aneka persoalan, terutama keluarga. Aku menyukai cerpen Bunga meski nada kesedihannya masa, namun ada twist yang berbeda. Selalu seru....
Profile Image for Eva Novia Fitri.
163 reviews1 follower
December 5, 2023
Ada beberapa cerpen di "Akar Pule" adalah potongan dari rangkaian panjang kisah di "Tempurung". "Tempurung" adalah Oka pertama yang saya baca. Langsung memutuskan cara bercerita Oka adalah jenis-jenis kesukaan saya. Tapi kemudian rasanya melelahkan, berbabak-babak tragedi perempuan jalin-menjalin dengan irama yang sama persis. Sudah agak kekanyangan rasanya saat susah-payah mengunyah menghabiskan sampai akhir. Tapi, saat kemudian benar-benar selesai, entah bagaimana saya ketagihan membaca Oka kedua: Sagra.

Terjadi kembali skema Oka itu: appetizer yang menggairahkan, maincourse enak tapi kebanyakan porsinya jadi kenyang benar, lalu dessert enak yang membuat kembali memilih Oka ketiga :Jerum.

Kalau diranking, "Jerum" ini yang paling saya tidak suka, tapi di akhir buku ada part keren bagi ulasan-ulasan banyak kritikus atas karya Oka yang ini. Dan saya berbalik kagum, ternyata "Jerum" adalah kidung kuno Bali yang digubah kembali oleh Oka menjadi novel. Dan karena keberatan saya yang paling dasar terhadap "Jerum" ini adalah benar-benar ide cerita nya, bahannya (yang mana bukan buah pikiran Oka), maka tentu saya jadi mengagumi betapa hebat Oka memasaknya. Inilah yang membuat saya kembali tak tahan membaca Oka berikutnya : Tarian Bumi.

Waahh, 5 bintang pertama yang saya sematkan untuk karya Oka. "Tarian Bumi" memang tetap genre yang sama dengan semua buku Oka, tapi notasinya kuat sekali. Fokus. Simpel. Dalam. Kepalang tanggung, saya melanjutkan ke "Akar Pule". Dan lucunya, justru saya menemukan potongan-potongan "Tempurung" di "Akar Pule".
Profile Image for Latte13.
5 reviews
January 19, 2026
yah sedikit membosankan, karna berharap ada sedikit perbedaan dari cerpen yg sebelumnya dibaca, ternyata
masih dan terkesan ya "itu-itu saja" memang temanya masih sama, Bali, kasta, dan patriarki.
menggunakan refresentasi simbolis seksual, frontal, dan
diajak berimajinasi lebih dalam apa makna yg disampaikan.
kutipan menarik disini:
"Menjadi perempuan itu menurutku sudah
kutukan, Kau tambah lagi dengan cinta, Memang kau sering katakan, hidupku tidak akan lengkap. Menjadi
perempuan itu harus bisa mencintai, Dan cinta itu harus jatuh ke sepotong lelaki, bukan makhluk lainnya,
perempuan misalnya! Kau berteriak dan menyadarkan dirimu sendiri. Kadang aku berpikir kau sedang berkata dan memaki dirimu sendiri."
perempuan dan belenggu kepemilikan, antara adat, stigma, takdir dan nasib.
Profile Image for Fairy Melody.
25 reviews
January 27, 2022
Lelaki? Makhluk hidup paling hina di jaman ini. Perselingkuhan, judi, narkoba dan banyak hal lain yang merugikan untuk para peri-peri kecil di sekitar mereka. Dan yang paling aku benci adalah lelaki yang sama sekali tidak memeliki prinsip hidup. Hanya berjalan di atas penderitaan wanita-wanita yang ditanggungnya.

Buku ini menjelaskan semua hal diatas secara gamblang. Bagaimana wanita saling menyakiti tanpa sadar, bagaimana para lelaki dengan seenaknya mengubah hidup tentram seorang perempuan. Semua diusut dalam balutan kata yang dirangkai sedemikian elok dalam satu cerpen.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Dyan Eka.
290 reviews12 followers
April 2, 2024
Kumpulan cerita tentang perempuan dengan berbagai macam kehidupan. Menjadi perempuan memang cukup sulit dan penulis merangkum berbagai hal yang bisa dialami dan dirasakan oleh perempuan dalam satu buku.

Perempuan dengan stigma sosial.
Perempuan dengan laki-laki.
Perempuan dengan perempuan.

Beberapa cerita cukup menarik bagi saya, pun beberapa cerita juga cukup membosankan bagi saya. Ada satu judul yang sudah pernah saya baca di judul lain. Atau mungkin cerita di buku ini adalah sepenggal cerita-cerita dari buku lain oleh penulis yang sama ya?
Profile Image for Abovetheclouds.
205 reviews
February 8, 2024
Sangat sakit hati membacanya, hidup wanita sungguh sangat sulit. Mengemban tugas sebagai seorang anak, istri, dan ibu belum lagi berbagai macam permasalahan yg dimana selalu menuntut kaum wanita untuk menyelesaikannya dengan sempurna, bahkan sebenarnya masalah2 itu datangnya bukan dari pihak wanita tapi, tetap saja wanita yg disalahkan dan mendapat akibatnya, benar2 lelaki pada buku ini sangat menyebalkan. Btw buku ini sedikit vulgar dan sangat gamblang mendeskripsikan wanita
Profile Image for Jeyaa.
96 reviews
July 8, 2021
Lumayan bikin aku naik turun moodnya karena kadang terbawa emosi dari ceritanya. Agak dark sih menurutku.
Profile Image for Nad.
105 reviews2 followers
May 29, 2022
Selalu kereeen!
Mbak Oka Rusmini, Perempuan dan Bali <3
Profile Image for Arystha.
323 reviews11 followers
March 29, 2024
10 cerita pendek dalam kumcer ini, ditulis oleh Oka Rusmini dalam rentang tahun 2002-2010. Cerpen favorit saya adalah cerpen paling pertama, Bunga.
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
May 12, 2015
3.5/5 untuk kumcer yg mengangkat tema penderitaan perempuan yg dibalur dengan adat Bali. Buku Oka Rusmini pertama yg gw baca (dan sepertinya gw terpikat). Kisah pertama lumayan panjang, sekitar 40-an halaman lebih, berjudul Tiga Perempuan. Awalnya cerita tentang perselingkuhan, layaknya kebanyakan cerpen yg gw baca akhir-akhir ini. Mendadak ada kisah tentang sebuah keluarga Bali dari kasta terhormat, yg bisa dibilang rumit dengan urusan Ayah yg menelantarkan anak, Ibu yg mati sakit hati dan anak-anak yg kekurangan kasih sayang, hingga dianggap keluarga tersebut mendapatkan kutukan. Yah, semacam itu gaya penceritaan Oka Rusmini. Seperti kisah Akar Pule, yg dijadikan judul kumcer dan juga kisah terakhir dalam buku ini. Kisah yg diawali dengan seorang perempuan yg mencintai lelaki yg sudah bertunangan, mendadak di tengah cerita ada kisah pasangan yg membatu dan menyatu dengan pohon Pule. Memang di endingnya bakalan ketahuan hubungannya, tapi tetep pas baca berasa lagi baca sebuah kisah dengan alur yg "lurus" tiba-tiba kayak disuruh "belok" gitu aja.

Satu hal lagi. Diksi yg digunakan Oka Rusmini keren banget. Gw suka, agak puitis gimanaaa gitu. Gw biasanya suka gak nyambung sama bahasa puitis, tapi kok ya lumayan ngeh sama gaya bahasa Oka Rusmini ini

Apa yang ada di otakmu ketika hatimu dicabut paksa. Lalu, di depan matamu, hatimu diiris-iris untuk sebuah pesta cinta di tengah malam. Sejoli burung malam muncul penuh aroma cinta. Datang di tengah malam. Tamu yang tak pernah diundang. Mereka datang diiringi lagu cinta, kata-kata cinta, puisi-puisi mabuk. Mereka datang-pergi tanpa mengetuk pintu. Juga tidak membuka jendela. Tanpa suara, tanpa bau [Palung]

Keren ya... Dan gw suka kisah-kisahnya yg banyak membawa kehidupan di keluarga Bali beserta adat-istiadatnya. Cuma yg nggak gw suka, kisah di sini hampir semuanya menempatkan lelaki sebagai penjahat dan wanita sebagai korban. Mungkin memang kumcer ini dibikin tematik gitu kali ya? Di luar itu, kumcer ini layak dikoleksi.
Profile Image for Victor Tutupary.
24 reviews1 follower
January 5, 2015
Ini buku cerpen yang sampai saat ini memecahkan rekor paling cepat kubaca, ga nyampe sejam. Bukan karena cerpen-cerpen di dalam buku ini bagus sampe aku terbuai ga pengen stop, tp karena saking membosankan sampe hanya 2 cerpen yang berhasil aku baca sampai selesai, sisanya ga selamat sampe selesai. Untuk baca buku ini, aku menerapkan prinsip jika paragraf pertama, atau katakanlah halaman pertama ga menarik, maka tinggalkan aja cerpen itu. Dan hasilnya cuma dua cerpen yang lolos dibaca sampai selesai, cerpen "Sepotong Tubuh" dan "Akar Pule". Hampir semua tema-tema cerpen dalam buku ini bercerita tentang perempuan, lebi tepatnya derita perempuan, dan semua digambarkan dengan begitu suramnya, dan di sana-sini terlihat seperti melebih-lebihkan, sampe2 aku punya bayangan kok ga enak banget ya terlahir jadi perempuan, padahal aq berharap besok2 klo dilahirkan lagi aq pengen jadi perempuan, tapi gara2 buku ini aku jadi mikir seribu kali lagi hehe. Dalam Buku ini, tema-tema khas yang sering diangkat penulis Bali masih terlihat seperti pelanggaran adat, ketidakadilan dan derita seorang perempuan akibat sistem kasta dsb. Kupikir tema-tema tersebut akan menarik diceritakan kalau sang penulis punya cara penceritaan yang menarik, tetapi sayangnya Oka Rusmini gagal menyajikan itu. Aku harap si penulis bisa belajar menulis lebi baik lagi di karya berikutnya.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews69 followers
August 19, 2014
Well, perempuan lajang yang punya atau seenggaknya sempat ada pikiran untuk tidak menikah, tidak disarankan baca buku ini.

Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini ceritanya suram. Sepuluh cerpen, tokoh utamanya perempuan Bali semua. Isinya cenderung ke arah feminisme, juga cerita "penindasan" juga "tindakan sewenang-wenang" laki-laki ke kaum perempuan, yang pada akhirnya "diarahkan" untuk "setuju" sama keyakinan untuk tidak menikah.

Yang cukup mengganggu, ada beberapa kalimat yang tanda bacanya nggak sesuai. Kalimat tanya, dikasih tanda seru. Pas kalimat seru, justru dikasih tanda tanya. Entah ada maksud tertentu atau apa, nggak jelas.

Yang bikin sedikit menarik, karena ada sekelumit istilah juga cerita soal adat Bali. Walaupun nggak sebanyak "Tarian Bumi".
Profile Image for Dwi Kuzuma.
Author 1 book4 followers
June 4, 2014
Buku yang menarik, setiap cerita mengemas tentang kehidupan di pulau Bali baik itu budaya, nama tokoh maupun mitos2nya. buku ini bisa dibilang beraliran feminisme, di mana kekerasan, kebenciaan, dendam serta erotisme dibeberkan secara gamblang. tapi buku ini mungkin saja tidak cocok dibaca oleh kaum lelaki, karena hampir tidak ada tokoh lelaki baik di dalam buku ini. entah, mungkin saja penulisnya pernah mempunyai kekecewaan yang mendalam terhadap lelaki, hehe. namun terlepas dari itu semua, buku ini sarat akan kritik sosial serta pesan moral di dalamnya.
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
January 10, 2014
sebagian besar cerpen di kumcer ini bercerita tentang wanita yang tak bahagia dalam rumah tangga.
sebenarnya sih adat Bali yang dipercikkan Oka ke dalam cerita-ceritanya menyegarkan dan menarik, tapi entah kenapa justru pemcertaannya yang membosankan.
cerita pertama yang harusnya membuka pintu memasuki kumcer ini justru adalah cerpen paling membosankan di sini. kalimat yang bertele-tele, terkesan dipanjang-panjangkan. klimaksnya juga tak terraba.
sayang sekali, padahal saya suka Tarian Bumi nya Oka.
Profile Image for Sutresna.
225 reviews14 followers
February 3, 2015
Kalah jauh kalo dibandingin sama kekuatan ide tulisannya di Sagra.

Banyak banget kisah yg diulang tapi hadir lagi hanya dengan sudut pandang lain juga beberapa latar poin di kisah berbeda.

Tapi secara teknik penulisan masih bagus, saya masih nyaman bacanya, masih bisa nikmatin kisah kebalian yang diangkat. Tapi tidak pada ide dan keseruan cerita.

Yg cerpen terakhir saya inget banget, pas cerita masa kininya seru, masa lalunya juga seru, tapi penggabungannya masih terasa terlalu cepat kurang apik jadi berasa aneh.
Profile Image for Gelar.
20 reviews9 followers
September 20, 2013
Satu kata untuk Kumpulan Cerpen ini: Lucu. Barangkali bagi banyak orang yang membaca Akar Pule, kisah-kisah di dalamnya terkesan sengaja dirajut dengan air mata. Yah, begitulah! Padahal itulah sisi pahit cinta, masak orang hanya mau mengecap rasa manis pernikahan saja dan meludahkan rasa pahitnya? Jika cinta Anda seperti itu, maka cinta anda patut diragukan.
Bagai mana seharusnya menghadapi arus hidup macam tetokoh di dalamnya? Harusnya, ya, dijalani sambil ketawa: Hahaha!
Profile Image for Vaza.
27 reviews1 follower
September 4, 2015
saya terbawa dengan suasana hati tokoh yang diperankan dalam cerita ini. salah satu buku yang jangan dibaca sebelum pernikahan! haha. di buku ini lebih banyak menyuarakan isi hati wanita yang diselingkuhin, masalah keluarga dan kehadiran orang ketiga. tidak seperti buku biasa yang suka mengelu-elukan seorang ibu/ayah/suami, dibuku ini lebih banyak sudut pandang yang berbeda tentang mereka.
Profile Image for Famega Putri.
Author 1 book12 followers
October 22, 2012
90 persen perempuan di buku ini menderita karena diselingkuhi, 10 persennya bunuh diri. (dan aku nggak suka cerpen pertamanya, kurang lancar, kayak buatan cerpenis pemula aja padahal Oka Rusmini gitu loh)
Profile Image for Ayu Rienda.
19 reviews3 followers
July 5, 2014
Mungkin ini buku spesialis kesedihan wanita, karena setiap ceritanya berbumbu luka dan tangis wanita. Pak Oka membungkus tulisannya dengan lokalitas Bali yang tidak diragukan lagi. Sepertinya saat membaca ini, para pembaca perlu bersyukur karena tidak mengalami hal-hal sedih seperti tokoh-tokohnya.
Profile Image for Dewa.
42 reviews16 followers
May 30, 2012
Ada beberapa cerita dalam buku ini yg ada di buku lainnya.
Profile Image for Ariska Anggraini.
50 reviews3 followers
July 4, 2013
hidup itu,geg, harus dilawan. kalau kita lembek, hidup akan melumat kita. menelan kita hidup-hidup. kalau kita kuat, hidup akan berpikir dulu untuk melumat kita. dia takut. __ tiga perempuan
Profile Image for Futria.
19 reviews
March 14, 2016
Setelah baca semua cerpen ini saya baru tahu bahwa penderitaan wanita bisa sebegitu dalamnya.
Displaying 1 - 30 of 31 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.