Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sapaan Sang Giri

Rate this book

210 pages, Unknown Binding

Published January 1, 2020

3 people are currently reading
44 people want to read

About the author

Isna Marifa

5 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
26 (61%)
4 stars
12 (28%)
3 stars
2 (4%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Sheeta.
218 reviews17 followers
January 18, 2026
Sapaan Sang Giri menawarkan sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang Indonesia di bawah pengaruh kolonial—namun dalam perspektif, tempat, dan cerita yang sangat berbeda. Dalam buku ini, kita akan diajak untuk mengarungi laut dalam hingga sampai di Tanjung Harapan—tempat pemerintah Belanda meletakkan pengaruh kolonialnya. Tanjung Harapan di Afrika Barat saat itu menjadi tempat peristirahatan bagi pejabat dan pegawai kolonial yang bepergian. Tanjung Harapan menjadi tempat koloni untuk hidup, menjalankan bisnis, dan lain sebagainya.

Adapun Parto dan Wulan sebagai tokoh utama dalam cerita di buku ini, merasakan pahit-manis-asam kehidupan selama menjadi budak belian dari Semarang dan dibawa ke Tanjung Harapan tanpa pernah kembali lagi ke tanah air mereka. Menjadi budak artinya tak ada kebebasan. Wulan yang dibawa ke Tanjung Harapan sewaktu masih kecil, tumbuh besar, menjadi gadis, ibu, dan mati di Tanjung Harapan yang tak menawarkan harapan apapun. Parto—ayahnya—hidup lebih lama dan bahkan sempat menjadi orang kulit hitam bebas berkat cucunya, Abi. Buku ini menceritakan tentang komunitas orang-orang Melayu yang di dalamnya termasuk orang-orang Jawa di tanah perantauan tanpa pernah kembali lagi ke tanah air mereka.
1 review
May 14, 2021
Beautiful and touching book. As an Indonesian I learned more about our own history as well as Javanese (beautiful) culture and tradition. Love this book much.
1 review
June 20, 2021
Sapaan Sang Giri: Besar dan Biasa yang Bertemu

Adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, ketika secara bersamaan, kita dapat berkunjung ke suatu tempat dan masa sekali pun ia sama sekali baru dan tidak pernah terlintas dalam kehidupan kali ini.

Novel Sapaan Sang Giri mengajak kita pergi berkelana ke suatu tempat dan masa yang spesifik itu. Dengan sejuta kebahagiaan, dengan sejuta kesedihan, serta dengan sejuta perjuangan untuk akhirnya berani menyatakan “Ini kehidupan yang baru. Saya akan terima, baik dan buruknya..”.

Suatu kondisi yang paradoks karena ternyata baru bukanlah lawan kata dari lama. Untuk merengkuh sesuatu yang baru, kita tidak perlu benar-benar lepas dari yang lama. Ternyata yang lama dapat menjadi tiang penyangga untuk menyemai angin-angin yang baru.

Novel Sapaan Sang Giri tidak hanya berisi cerita soal kehidupan dan selaksa perjuangannya. Namun, ia membawa satu garis tegas berupa sudut pandang kesejarahan yang dibutuhkan bangsa ini: sejarah orang-orang biasa.

Sejarah Indonesia kerap didominasi oleh sejarah “orang-orang besar”. Dalam konteks ini, utamanya sejarah orang-orang besar yang terkena politik pembuangan atau (meminjam istilah Hilmar Farid) politik untuk "memisahkan ikan dari air".

Sebuah politik yang didasarkan pada alas hukum exorbitante rechten. Sebuah hukum yang lebih mirip blangko kosong bagi Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengasingkan seseorang tanpa proses pengadilan yang layak atau tanpa peradilan sama sekali.

Pengasingan bisa dilakukan di dalam (interneering) maupun ke luar (externeering) wilayah Hindia Belanda. Sebuah kebijakan politik yang diteruskan juga di awal-awal kekuasaan Orde Baru dengan membuang satu generasi bangsa ini, di antaranya ke Pulau Buru.

Tentu kita tidak ingin menyatakan bahwa sejarah orang besar tidak penting. Justru ia sangat penting dalam banyak hal. Namun, tidak berarti harus dan boleh melupakan (agak risih menggunakan istilah ini): sejarah orang-orang biasa.

Misalnya, sejarah penemuan jejak Borobudur oleh orang biasa bernama Paimin. Ia melaporkan kepada majikannya yang bernama Tin Jin Sing. Sang majikan kemudian melapor kepada seorang Gubernur Jenderal Inggris bernama Sir Stamford Raffles, yang rajin menulis catatan sejarah itu. Pada akhirnya, arus besar sejarah mengenal Raffles-lah yang pertama kali menemukan jejak Borobudur dan bukan Paimin.

Novel Sapaan Sang Giri membawa pertemuan dua sudut pandang itu: sejarah orang besar dan sejarah orang biasa. Kedua optik ini bertemu dalam nuansa saling melengkapi, tanpa menegasikan satu dengan yang lain.

Tanpa melepaskan rasa hormat kepada Tuan Guru, beliau dan Parto mungkin punya persamaan dalam berbagai denyut garis kehidupan itu. Begitu juga, dengan penuh rasa hormat kepada Syekh Yusuf Al-Makassari, beliau dengan Pak Noto mungkin juga punya banyak persamaan dalam lintasan kehidupan. Dalam satu garis dinamika kehidupan yang sama, yang “… hanya terus melakoni nafas, apa yang tersisa. Hirup. Hembus. Hirup. Hembus”.

Terima kasih dengan tulus kepada Sapaan Sang Giri. Lewat Wulan dan Parto, kami dapat mengenal Tuan Guru dan Syekh Yusuf Al-Makassari. Lewat Wulan dan Parto, cerita mereka orang-orang biasa, yang bernama maupun tidak bernama, di Pemakaman Tana Baru maupun di tempat-tempat lain, akhirnya tiba di hati kami yang paling dalam.
Profile Image for Maya.
90 reviews17 followers
October 27, 2025
I honestly had no idea that people from Java were taken as slaves to South Africa to serve Dutch families before reading this book. Somehow it never came up in school, or even in serious or casual conversations about colonial history. But when I read about it here, it made a painful kind of sense, the VOC's trade routes were everywhere, and human lives were just another part of the cargo.

What really drew me in was how the story is told from different points of view. I know not everyone likes that structure, but I thought it worked beautifully. Wulan's chapters hit me the hardest, she grows up in South Africa not only as a slave, but as a girl trying to survive in a harsh, unfamiliar world. Watching her grow from a child to a woman to a mother, still clinging to fragments of her culture and identity, was both beautiful and heartbreaking. Then there is her father, Parto, who remembers everything too vividly and spends his life trying to protect her, clinging to the hope of returning home. And back in Java, her grandparents live every day waiting for news that will never come, all while the world around them shifts under the Dutch rule.

The writing itself is lovely, lyrical without feeling heavy. Each perspective feels distinct, almost like each person carries their own rhythm of grief. The pacing was a bit slow at first, but by the halfway point, I couldn't put it down. I got attached to these characters and was hoping, against history, that they'd find some kind of peace and happiness.

When I finished, I just sat there for a while thinking about how much of our own history we never learn, especially the painful parts that connect us across oceans. It's a short book, but it lingers long after you close it. I'm really glad I read it, it feels like rediscovering a piece of our past that had almost been forgotten.
Profile Image for sekar banjaran aji.
165 reviews15 followers
March 30, 2025
Bulan lalu Awal menceritakan pengalamannya membaca Kaveh tentang imigran Pakistan di Amerika. Lalu aku ingat buku ini yang dibahas waktu UWRF 2024 lalu. Aku tidak ikut pembahasannya sampai selesai tapi tema buku ini tentang budak Jawa yang terdampar di Afrika Selatan sangat menarik.

• Aku terlahir sebagai Jawa totok sehingga membuatku bisa sangat relate dengan keputusan Parto memilih menjadi budak daripada menjual tanah istrinya. Kolonialisme membuat banyak orang tidak punya pilihan tapi menjual tanah adalah pilihan terakhir. Orang jawa hidup dengan alam dan tanah adalah elemen penting untuk mendekatkan kami dengan sang pencipta.
• Novel ini mungkin tidak popular dengan kisah imigran lain tetapi orang-orang Jawa sangat rajin dan perhatian dengan komunitasnya adalah sebuah cerita underrated.
• Kolonialisme tidak akan lepas dari patriarki maka kekerasan terhadap perempuan dan pemerkosaan hal yg pasti selalu ada. Menariknya ternyata Abi yang lahir dari hal ini begitu baik jadi harapan keluarga.

Novel ini ditulis sangat indah dengan pendekatan prosa, naratif dan tembang jawa. Mbak Isna keren banget, mungkin kalau aku jadi Mbak Isna akan aku tambahkan POV Restu juga di akhir sebab anak perempuan pasti punya hal yang tidak dia katakan. Aku mau memuji Kabar Media atas cetakannya yang bagus sekali, pergantian huruf setiap POV berbeda dan kertas yang tebal sungguh menandakan betapa bahagianya kita jadi orang merdeka abad ini.
Profile Image for Imanuela.
2 reviews
July 30, 2025
Senang rasanya bisa mengenal dan membaca buku ini.

Saya mengetahui buku ini ketika versi Bahasa Inggris-nya terbit dengan judul Mountains More Ancient di Ubud Writers and Readers Festival 2022. Namun ternyata ketertarikan untuk membaca versi Bahasa Indonesia-nya lebih besar.

Saya betul-betul tergugah akan apa yang disuguhkan dalam buku ini. Narasi yang deskriptif dan indah mampu membuat saya seakan terjun ke dalam buku ini, membayangkan hidup di tanah yang tidak saya kenal. Ketika kejadian pilu terjadi, saya turut merasakan betapa pedihnya menjadi budak yang tidak tahu ke mana arah tujuan hidupnya dan bagaimana ia akan berakhir. Bagaimana nasib tidak berada di tangan saya, hanya bisa berserah. Legowo dan ikhlas.

Buku ini bukan sekadar fiksi sejarah, namun juga pengingat bagi saya bahwa dimana pun kita berada, jangan pernah lupa dari mana kita berasal dan nilai-nilai luhur kita. Penulis turut berhasil memperkenalkan dan memunculkan rasa penasaran saya dengan kaum Cape Malay yang sudah mulai terlupakan dan disampaikan dengan begitu menyentuh.
4 reviews
August 24, 2025
Salah satu buku terbaik yang saya baca tahun 2024. Buah dari mahakarya yang ciamik, menghadirkan dinamika sosial dari berbagai sudut pandang yang membuka dan mengoyak kedalaman tanggung jawab manusia sebagai 'mahluk hidup' yang bergerak atas suara-suaranya.

Saya terhanyut, bahkan tercabik-cabik di tengah membaca buku ini. Seperti kehilangan nafas sesaat sebelum akhirnya membalik halaman berikutnya, bertahan untuk menyelesaikan cerita di dalam karya indah milik Bu Isna Marifa.

Bagaimana bisa saya menempatkan diri menjadi seorang yang diasingkan, lalu terbelenggu atas dorongan untuk merdeka dengan budaya, satu-satunya kekuatan untuk melawan, dan (terpaksa) menepis keraguan spritual untuk membawa saya ke arus kehidupan yang lebih baik. Sekali lagi, terima kasih atas karya indahnya, Bu Isna.
Profile Image for Aritsa.
22 reviews
August 25, 2024
Bittersweet. Banyak pelajaran yang saya dapat, namun yang paling membekas adalah bagaimana tokoh-tokoh di kisah ini berusaha menggenggam erat nilai-nilai luhur dari tanah kelahiran mereka. Bagaimana mereka menyusuri terjalnya kehidupan dengan perasaan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Tentang ikhlas, tentang legowo.
Profile Image for Delia Mayangarum.
3 reviews
November 15, 2025
aduh bagus banget sebagai orang jawa yang udh agak kehilangan jawanya aku suka bgt buku ini... buku ini bikin aku lebih banyak refleksi diri karena sangkan paraning dumadi yang berarti manusia harus tau dari mana asal dan tujuan hidupnya supaya lebih bermakna
Profile Image for Siska.
Author 2 books3 followers
December 6, 2020
This is a story of how a father and daughter of Java ended up in Africa, embedded with Javanese spiritual (Kejawen) teachings, beautifully presented.

A page turner, it is a perfect blend of culture, history, fiction, and spirituality.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
297 reviews6 followers
August 4, 2024
Sapaan Sang Giri merupakan novel karya Isna Marifa yang bercerita tentang kisah Wulan dan Parto ayahnya yang dijadikan budak di Afrika Selatan yang bermula dari akibat dari ketidakmampuannya membayar hutang kepada seorang rentenir.

Kisah Wulan dan Parto disampaikan melalui tiga sudut pandang;
1. Sudut pandang Wulan
Bagaimana perbudakan disikapi hanya dengan respon-respon sederhana layaknya seorang anak pada umumnya. Tumbuh dalam lingkungan penuh kekangan dalam dunia perbudakan menjadikan Wulan menjadi sosok yang tunduk dan nerimo namun selalu penuh dengan harapan bahwa suatu saat ia akan bisa kembali ke tanah Jawa untuk bertemu dengan kakek neneknya. Satu persatu harapan pupus, ia diperkosa oleh seorang mandor berkebangsaan Belanda hingga hamil dan mempunyai seorang putra yang ia namai Abi. Bahkan ketika sedikit angin segar bisa Wulan hirup, tiba-tiba takdir mengarahkan hidupnya pada suatu hal yang lebih mengerikan.

2. Sudut pandang Parto
Sesal pasti itulah yang pertama Parto rasakan, kenapa ia mengizinkan Wulan untuk turut serta bersamanya hingga kini Wulan ikut juga menjadi budak di negeri anta berantah. Tidak ada upaya yang berarti selain doa dan berikhtiar suatu saat bisa kembali ke tanah jawa. Walaupun pada akhirnya ia tetap harus menelan pil pahit, kehilangan Wulan.

3. Sudut pandang kakek Wulan (Mbah Wage)
Semenjak kepergian Wulan dan Parto, Wage dan istrinya selalu mempunyai keyakinan bahwa suatu saat nanti cucu dan anaknya akan pulang. Tahun berganti, namun doanya tersebut tak kunjung dikabulkan Tuhan. Kenduri selamatan dan doa-doa rutin dipanjatkan demi kesalamatan 2 orang kesayangannya itu, namun nasib berkata lain. Mereka tidak pernah kembali.

Buat saya cerita ini penting, untuk bersama kita bisa merenung tentang segala apa yang pernah terjadi pada leluhur kita dimasa lampau. Supaya kita bisa lebih menghargai bahwa segala apa yang kita nikmati hari ini, tidak lepas dari derita dan carut marutnya kehidupan leluhur kita.
22 reviews
June 15, 2025
Premis yang begitu bagus akhirnya kandas

Bertebaran kalimat-kalimat jawa yang terlalu malas diberi catatan kaki. Bab yang berganti sudut pandang karakter tapi semua karakter memiliki sifat yang sama persis tidak dapat dibedakan, lalu apa gunanya menggunakan pergantian sudut pandang?

Akhirnya novel ini menjadi begitu cantik dan eksotis di resensi dan beberapa bab pertama, lalu akan membuat pembaca merasakan kelelahan dan kebosanan sampai akhir
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.