Fahri Salam adalah seorang penulis dan wartawan lepas.
Pernaskahan dan jurnalisme adalah dunianya, ia aktif menulis di media baik cetak hingga media online, dan menyunting banyak buku. Kerja-kerja jurnalisme ia geluti bersama Majalah Pantau (2001-2004). Saat ini, ia bergiat di Pindai.org, sebuah situs yang berisi tulisan naratif dengan analisis mendalam.
Jika kamu kepingin menjadi penulis, dan kepingin tahu tulisan bagus, kamu kudu baca buku satu ini. Isinya lima tulisan bagus. Beberapa tulisan berkisah tentang penulis (nonfiksi dan fiksi) yang tulisannya bagus (tanda bagusnya: menang penghargaan). Salah satu di antara lima itu berkisah tentang bagaimana seorang penulis bagus mengerjakan tulisan-tulisannya: ada wawancara berulang, buku-buku catatan, dan kartu-kartu pengkategori informasi.
Sekalipun seorang teman pernah bilang, "Lo habis lulus mau nulis doang? Buat apa nulis? Sekarang kan semua orang udah bisa nulis."
Tetap saja, aku tak kunjung 'bisa' menulis. Tetap saja, menulis merupakan pekerjaan yang tak mudah.
Buku tipis yang tidak diperjualbelikan ini--saya mendapatkannya sebagai bonus--berisi informasi tentang beberapa penulis dan bagaimana mereka menghasilkan karya tulisnya. Salah satunya adalah tentang Lawrence Wright. Ia merupakan penulis buku The Looming Tower. Buku tersebut dihasilkan dari penelitian dan investigasinya yang mendalam dan rela mempertaruhkan nyawanya ketika ia terjun langsung untuk mewawancarai pelaku teroris 11 September.
Liputan tentang Pamela Colloff dan Lawrence Wright begitu kuat, sampai-sampai, bukan saja semua yang ingin saya tahu yang disodorkan, tapi juga hal yang saya tidak sadar kalau saya betul-betul ingin mengetahuinya. Prosea kreatif Colloff dan Wright dikuliti sampai ke metode menulis seperti mengedit film dokumenter: taruh semua bahan di word, lalu urutkan, sambung, dan buang yang tidak perlu. Sementara Colloff yang sangat filmis, Wright menggunakan metode yang kini dipakai hampir semua penulis naskah hollywood: menggunakan kartu-kartu untuk mengkategorikan informasi. Bagian Colloff agak terlalu mendewakan, terlalu mengasyikkan sampa, barangkali tanpa sadar, ia tergambarkan seperti penulis tanpa cela. Wright masih lebih dimanusiakan, dengan kebimbangannya yang begitu memikat sebagai lead, juga pernyataan di akhir yang menyiratkan betapa menulis bisa memperbudakmu. Tulisann mengenai Hemingway, tak meninggalkan banyak kesan. Pun bicara tentang kematian, Mati Bareng di Jepang dan artikel yang jadi buku ini masih lebih menghanyutkan.
rasanya kurang tepat jika buku ini dijadikan 'hanya' sebagai bonus pembelian paket buku lainnya. liputan tentang kultur bunuh diri di Jepang dan cerita tentang seberapa 'gilanya' Lawrence Wright dalam melakukan sesuatu, terutama menulis, disajikan begitu rinci. hal-hal yang awalnya tak muncul di pikiran saya, dihadirkan sebagai hal-hal rinci yang sepatutnya diperhatikan juga.
Tulisan dalam buku ini begitu padat dan berisi sangat timpang dengan tebalnya yg hanya 61 Halaman. Bahasannya sangat lebar dari penulis besar dunia setaraf Colloff dan Hemingway, hobi bunuh diri bersama di Jepang, cerita toko buku masa peperangan Bin Laden, 9/11, sampai tulisan besar berita yang mengubah dunia. Untuk saya sendiri, buku ini berat. Saya tidak bisa mengerti setengah dari isinya.
Sebuah karya terjemahan yg disusun dengan apik. Belajar dari para maestro penulis non fiksi di dunia. Dari sini kita bisa belajar dan mengingat bahwa karya jurnalistik kita masih kalah deh dari penulis-penulis ini.