"Saya coba menangkap suatu benang merah tersembunyi dalam sejarah kesusastraan kita; sesuatu yang diam-diam menggejala dan sesekali tampil ke permukaan dalam wujud yang acak dan tak mudah diduga. Untuk itulah saya membentangkan semacam nadi tersembunyi bangsa Indonesia dalam rentang satu abad agar kita dapat melihat betapa denyut samar itu masih ada dan terus bersama kita, bahkan sampai hari ini, seratus tahun setelah para penyair berkebangsaan Indonesia menuliskan sajak-sajaknya." --Sulaiman H.
•••
Melalui sejarawan bernama Sulaiman H, Martin Suryajaya membentangkan kepada kita riwayat puisi Indonesia dalam rentang satu abad. Suatu karya historiografi spekulatif yang berdiri di atas sejarah faktual Indonesia. Nyanyi sunyi ke sekian yang menghimpun kebajikan serta keburukan lirisisme dalam lebih dari 20 suara. 'Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045' adalah buku puisi debut Martin Suryajaya. Buku puisi yang dieditori Hamzah Muhammad ini adalah juga buku puisi perdana di Indonesia dengan banyak heteronim.
Martin Suryajaya meraih gelar doktor di bidang filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengajar pada Sekolah Pascasarjana, Institut Kesenian Jakarta dan konsultan kebijakan di Direktorat Jenderal Kebudayaan. Ia juga aktif sebagai youtuber yang menyiarkan pandangan-pandangan tentang filsafat, sastra dan isu-isu kebudayaan dengan penyampaian yang populer.
Beberapa bukunya antara lain Sejarah Estetika (Gang Kabel, 2016) yang memenangkan penghargaan Best Art Publication dari Art Stage 2017 dan novel Kiat Sukses Hancur Lebur (Banana, 2016) yang memenangkan Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2018 serta menjadi Novel Pilihan Majalah Tempo 2016. Beberapa karya terbarunya adalah buku puisi Terdepan, Terluar, Tertinggal (Anagram, 2020) dan Principia Logica (Gang Kabel, 2022) dan Penyair sebagai Mesin (Gang Kabel, 2023).
Otokritik Penyusunan Antologi Puisi dan Kiat Santai Menikmatinya
Publik sastra Indonesia (kalau ada?) dan segala riwayatnya kerap berdialektika soal penyusunan antologi puisi. Mulai dari tendensi politis hingga ketulusan tanpa banyak bacot. Buku puisi "Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045" (selanjutnya 3T) karangan @martinsuryajaya yang diterbitkan @penerbitanagram dan dieditori @hmzhmhmmdlghz ini seolah menjadi jawaban atas segala kerisauan dan polemik penyusunan antologi puisi.
Pada sebuah penyusunan antologi, baik penyair yang dikanonisasi maupun obskur, terdapat upaya untuk menghapus dan mengajukan nama-nama dari sejarah dan skena sastra. Hal itu bisa ditilik dari pencapain estetis maupun prolifik. Dari horizon pembacaan, selera dan relasi kuasa kurator. Dari persoalan memandang “pusat”, gender hingga representasi daerah. Hal tersebut saya rasa sulit untuk dihindari, karena makna antologi sendiri berarti kumpulan karya pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang. Dan pilihan erat kaitannya dengan otoritas dan sebagainya dan sebagainya.
Heteronim Sebagai Jalan Ninja
Setelah menelurkan novel eksperimental "Kiat Sukses Hancur Lebur", Martin kembali menawarkan kesegaran alih-alih menyebutnya pembaruan. Dalam terminologi linguistik juga kesusasteraan, kita mengenal istilah heteronim. Penggunaan ini diperkenalkan lebih luas oleh penyair dan tukang sulap bernama Fernando Pessoa. Cek: http://registryofpseudonyms.com/ferna...
Heteronim dalam hal ini tentu berbeda dengan pseudonim dan nama pena. Tujuan nama pena bisa dikatakan untuk mencari efek pengucapan lain dan perlindungan reputasi penulis. Ia menulis dengan tendensi dan estetika yang sesuai dengan pilihan dan kesadaran pengarang.
Sementara heteronim, merujuk kepada persona dan ego yang lain. Ia menciptakan banyak karakter. Jenis tulisan yang di luar “watak pengarang” dan juga jalan ninjanya. Pada 3T Martin memberi sosok imajiner itu biografi, watak psikologis, kecenderungan ideologi sampai orientasi seksual. Untuk mendapatkan profil-profil lengkap penyairnya sila dalami teks di dalamnya.
Pada wara buku, terdapat pernyataan berikut: buku puisi debut Martin Suryajaya yang dieditori oleh Hamzah Muhammad, sekaligus buku kumpulan puisi perdana di Indonesia dengan banyak heteronim. Saya setuju dengan klaim tersebut. Namun bagaimana bila di suatu tempat entah di mana dan entah siapa ada sarekat pembaca karya-karya obskur yang begitu mendalami puisi dan sastra dari zaman nusantara masih dipimpin oleh Hayam Wuruk dan mereka menolak klaim tersebut? Atau bagaimana bila Indonesia sendiri ternyata memiliki kembaran di planet Bumi lainnya dalam lingkup multisemesta/paralel? Pada akhirnya karya yang baik akan ramai ditilik dan 3T ini bisa menjadi pemantik. Efeknya bak jamur di musim hujan: membuka gerbong karya-karya yang ditulis dengan bentuk heteronim, baik penyair gigantik atau semenjana. Dan repetisi yang legendaris yaitu meminjam Chairil: keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat. Omong-omong Chairil, di 3T ini ada puisi Ida Nasution. Puisi-puisinya meditatif dan padat, seperti hendak mengatakan: hidup seribu tahun lagi atau tidak, bukanlah hal yang penting. Karena baginya: Ada satu pedalaman yang tak sampai diucapkan tempat gerimis menitik jauh dan sepi juga tinggal tepi (Pagi, 1945) Atau seperti Iramani, menulis tentang nasib buruh dan hal masygul sebab ditinggal mati sang suami karena bentuk pengabdiannya kepada kehidupan atau kesembronoan dan kebobrokan pemilik modal yang mengakibatkan celaka: Cintaku sekeras hati kaum modal menebasi belenggu kaumku Akan kubuatkan dengan mautku dunia baru sebenar2nya baru bagi yang tak lagi bisa di sana (1962)
Dari berbagai tokoh-tokoh yang ciptakan lewat titian sejarah sastra Indonesia, Martin seakan ingin menyebut bahwa kritik sastra adalah karya sastra itu sendiri. Martin melakukan kritik terhadap tokoh ciptaannya, yang tidak lebih dari dirinya sendiri. Asosiasi-asosiasi itu seperti menghasilkan mekanisme pertahanan; penyair dengan leluasa meminjam berbagai peristiwa dalam skena dan gosip sastra Indonesia yang hingar, politis, penuh canda, esotorik, kadang baku hantam hingga laku juru selamat lewat penghayat kebatinan dan yayasan yang tugasnya mengadvokasi sastrawan agar mendapatkan hak-hak yang semestinya. Kalau kata penulis epilog 3T: Maaf baru bisa segini. Nanti lanjut lagi…
Aku bukan penggemar getol puisi. Larik-larik yang kubaca hanya yang bisa kujadikan bahan bemenung sembari menyenangi kata-katanya. Tidak lebih. Melihat itu, buku ini melakukannya dengan baik.
Sebagai antologi, buku ini terlihat sama saja dengan buku kumpulan puisi hasil kolektif biasanya. Namun, perbedaan muncul saat tahu bahwa antologi puisi ini diciptakan oleh satu orang saja. Bagaimana bisa? Tentu bisa! Dan ini yang perdana, setidaknya di Indonesia, sebagai kumpulan puisi dengan banyak heteronim. Itu yang termaktub dalam bukunya. Dan di situlah masalahnya.
Selaku pembaca prosa fiksi, mudah saja bagiku mengeset imajinasi untuk mencerna kisah dan karakter ciptaan penulis. Namun, aku merasa kesulitan ketika tahu bahwa puisi-puisi dari 18 nama berbeda di buku ini dibuat oleh satu orang. Bahkan sampai arsiparis (si penyusun antologi ini) dan penulis epilog pun fiktif belaka.
Karya ini juara dalam mengusung konsep kebaruan. Tapi dilihat dari substansi, karya ini cenderung berlebihan (too extra, kalau kata orang zaman now). Aku merasa penulis begitu susah-payah membuat profil-profil penyair obskur, menciptakan puisi-puisi dari setiap pengarangnya. Dan semua itu hanya untuk diolok-olok oleh beberapa halaman epilog dengan substansi berkebalikan yang juga dituliskan oleh penulis sendiri. Ini seakan-akan penulis ingin mengkritik dunia perpuisian tanah air dengan cara yang baru, tapi dengan cara yang terlalu repot.
Selaku pembaca fiksi, aku melihat jabaran profil penyair obskur dan puisi-puisinya sebagai pembukaan dan penetrasi belaka. Kemudian, konflik datang saat penyampaian epilog yang sayangnya terkesan terlalu cepat.
Terlepas dari itu, sekali lagi, aku menikmati karya ini; puisi-puisinya. Kritik gamblang di epilog pun memberikan konflik berisi. Belum lagi rekayasa bahwa antologi ini dibuat pada 2045 alias saat 100 tahun kemerdekaan, sebuah masa ketika Internet sudah dimiliki semua orang. Yang menarik lagi, ada konsep teknologi dengan deskripsi "video interaktif penis dengan sensor ke psikologi pembaca melalui mata". Itu canggih betul!
Akhir kata, sebagai sebuah kebaruan dan keperdanaan, buku ini berhasil!
Nggak cuma puisi sastra klasik, tapi juga ada biografi singkat tiap pengarangnya. Mereka punya gaya bahasa dan karakter khas masing-masing. Indah, unik, artistik.
Martin sialan. Puisi ini akan membuat pikiran anda carut-marut dan bingung: sebetulnya puisi ini ditulis oleh Martin atau Ida atau Nutrisari atau lainnya. 😴
Tapi, tetap saja, dengan kegilaannya yang tak bisa diampuni penyair kesohoran, selaiknya kamu beli kumpulan puisi 3T ini. Nanti, kalau ketemu Martin, bacakan satu puisi favoritmu di depannya. Kalau beruntung, mungkin kamu akan dikasih sebatang rokok, buku kiat ternak lele, atau pedoman melampaui CPNS. Mari! Kau bisa beli di sini ! 🎠
Buku ini seolah menyapa Pelesetupat yang telah membobol filsafat ke ranah Indonesia dalam bukunya yang terbit secara underground, "Emil's Mentation". Nama asli Pelesetupat sendiri adalah Emil Reza Maulana, yang juga telah menulis buku lain dengan nama asli, judul buku itu "Narasi-narasi yang Bikin Baper Gadis Siput: After Yos Sudarso", juga sama obskurnya dengan para penyair yang ditulis Martin Suryajaya ke dalam buku yang kita bicarakan ini.
Sulaiman H mengumpulkan karya2 penyair obskur dalam bunga rampai ini agar mereka setara dengan penyair yang sudah jadi monumen dlm sastra indonesia, jika sebutan itu ada, seperti wc rendra, sapardi calzoum bachri, sutarji djoko damono, aan masyhur atau dea imut wkwkwkwk saya membayangkan apakah martin tertawa terguling2 ketika menulis kumpulan puisi ini
Buku kumpulan puisi yang cukup mengejutkan bagi saya. Sebab, puisi-puisi yang terhimpun jadi satu di dalamnya ini ditulis oleh penyair-penyair yang "luput" dari daftar bacaan. Namun, saya patut bersyukur karena dari sekian banyak penulis, saya mengenal satu nama: Osman Sapta Oddang dgn karyanya yg patut kita baca berulang-ulang, "Andi Soraya: Cinta Adalah."
Isinya antara anskur atau absurd. Bukan cuma puisi-puisinya, tetapi juga latar belakang para pengarang puisi imajiner, hingga penulis epilog (imajiner)-nya.
Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 atau Tutorial penulisan kritik sastra —terutama puisi— bagi pemula
- - -
« Bahwa karya puisi tak bisa dinilai oleh masa kini. Karya sekarang adalah asupan masa depan dalam tinjauan studi yg bernama: retrospective » - #sekatakusaja
- - -
Perkara obskur atau terang, itu hanya hal kemauan. Seperti halnya bintang —puisi kanon— akan bersinar terang di-obskur-an semesta puisi karena padatnya puisi-puisi obskur yang mengitarinya. Puisi-puisi itu ada tapi incognito. Apa jadinya jika semua puisi atau antologi puisi yg lahir, ekosistem sastra berkenan mendampinginya agar « terlihat ». Terlihat secara wajar dalam catatan akta sipil kepuisian: nama, nama bapak ibu, alamat, tanggal dan tempat lahir, serta ciri-ciri khususnya —bukan kecacatannya—. Kita tak melulu berkutat pada penilaian kualitas karya dari sudut pandang waktu kini, lalu menyingkirkan, ya karena jelek; buruk rupa, titik. Subyektif gagabah yang meng-obskur-kan sebuah karya.
- - -
Kita masih di 2024, perayaan 100 tahun Kemerdekaan Indonesia masih 21 tahun lagi. Tapi kumpulan puisinya sudah terbit mendahului waktunya. Selain prematur, ia juga sungsang. Lahir terbalik dari rahim kesusastraan dari yang tak ada menjadi ada; kaki menapak dulu baru kepala berpikir. Buku yang muncul dari belakang menuju ke depan, yang melihat masa depan dari perilaku masa lalu & sekarang. Sungsang tapi semoga saja tak terjerat usus ibunya.
Obskur, pilihan terminologi penulis, saya artikan sebagai penerawangan pada yang belum pasti jelas, yang sedang diusahakan untuk diperjelas, setidaknya dengan bekal rabaan indrawi atas fenomena pelaku sastra (terutama mungkin perilaku birokrat) yang sudah-sudah; entah saat ini atau yg lalu. Tiap zaman melahirkan pelaku yang sama: obskur dalam pikiran, tapi gamblang dalam tindakan.
Prediksi —kumpulan puisi, yg tak hanya melintasi zaman tp juga melampaui imajinasi. Surrealis atau mungkin malah hyper realistis: bahwa pergerakan kepenyairan Indonesia masih gitu-gitu saja, jalan di tempat dan mudah terprediksi masa depannya, jika tidak ada perbaikan. Maka jalan ninja kesungsangan ikhtiar harus ditempuh. Baik dari pelakunya maupun lingkungan tempat lahir karya & tentu saja stakeholders terkait di pemerintahan dsb, yang tidak membuat yang samar jadi gelap.
Susunan di buku ini mulai dari pendahuluan, isi dan epilog, terasa sekali itu adalah landskap kumpulan puisi —seperti buatan pemerintah (dan harapan penulis terutama tentang kekayaan latar belakang penyair)— banyak sekali revisi dan kritiknya. Pengerjaan yang dalam tempo sesingkat-singkatnya dan pencairan dana setebal-tebalnya bagi yayasan pemenang tender proyek serta komisi bagi pejabatnya. Penyair sudah bahagia karyanya lahir, berharap dikritik oleh khalayak, tapi anggaran pendampingan bidang tersebut tak didanakan atau mungkin sudah diembat penyelengaranya.
Pandangan hemat saya, buku ini memang berisi kumpulan puisi, tapi lebih dari itu yakni narasi biografi kepenyairan Indonesia mulai dari proses berkarya, profil sampai kualitas karya. Selain itu buku ini saya sebut juga « essai » sastra atau pikiran liar saya ini adalah « science fiksi ». Dan tentu saja, disebut sebagai kritik sastra, apalagi jika fokus pada bab epilogue.
Saya membayangkan, penulis, Martin S., sedang membuat dummy. Sebuah percobaan realisasi proyek pemerintah untuk melibatkan dunia sastra dalam peringatan 100 tahun kemerdekaan. Agar terlihat out of the box —kata2 yg disukai oleh birokrat— & avant-gardiste, pemerintah menyetujui pendanaan proposal pembuatan antologi puisi obskur. Obskur jg bermakna menghargai kerja sejarahwan sastra dan arsiparis serta dialektika kritik yg melingkupi setiap lahirnya karya baru. Bahwa juga, perayaan harus merangkul baik yg kanon & yg obskur. Agar seluruh semesta sastra berbahagia seperti cita-cita bangsa.
Lebih dari itu semua di atas, saya melihat buku ini sbg tutorial kritik puisi. Epilog buku ini mjd bab yg paling penting, bhw puisi-puisi butuh pendampingan « narasi » agar konteks terbaca oleh publik awam. Kritik sastra mjd sangat vital dlm ekosistem sastra. Secara satir, tak ada yg namanya, puisi obskur yg ada hnylah ketidak-adaan « guide » penunjuk terang utk mendampingi lahirnya puisi-puisi dr rahim pertiwi.
Saya pinjam istilah « Revalorisation » karya bkn menyanjung karya krn faktor x, melainkan upaya mengangkat yg hal-hal yg menunjukkan pembaharuan, kemajuan & potensi sebuah karya. Bhw setidaknya karya jgn sampai « gelap » meski bisa jadi dilupakan sementara oleh waktu. Tapi berkat, sistem pendataan kearsipan yang baik. Kelak karya-karya tersebut akan lahir kembali di dalam diskusi dialog masa depan yang bernama Retrospective.
Aku beberapa kali terbahak ketika membaca buku yang seharusnya bukan komedi ini.
Beberapa penyair dari buku ini yang menempel di kepalaku ialah Nutrisari (iya, Nutrisari wqwq), Ircisor Gulagat, dan Yayasan Pancaroba (yang ini bukan nama penyair).
Epilog-nya juga tak kalah menarik! Kalian harus membaca buku ini sampai akhir wqwq~