563 kata tahi, 459 kata tinja, ditambah sinonim-sinonim lainnya yang bertaburan.
Di suatu dunia pasca-apokaliptik, Bumi sudah hancur lebur, penuh kontaminasi dan tak aman untuk dihuni, kecuali di dalam suatu kubah metalik yang bagian dalamnya terlindungi dari kontak luar, dan di dalam kubah inilah hidup manusia-manusia yang masih tersisa. Sayangnya, di tengah puing-puing di dalam kubah tersebut, cuma satu toilet yang berfungsi, dan manusia-manusia harus mengantre panjang setiap harinya untuk melepaskan desakan hajat yang membebani otot-otot bokong mereka. Di dalam antrean inilah tokoh utama kita bertemu dengan seorang Pak Tua yang berdiri di belakangnya, seorang Pak Tua yang kemudian menawarkan cerita-cerita selagi menunggu; sebab menunggu antrean sambil mendengarkan cerita lebih baik daripada menunggu tanpa melakukan apa pun sama sekali, bukan?
Rio Johan was born in Baturaja, South Sumatra, 1990. Rio has been invited to speak at The Ubud Reader's & Writer's festival (2015), was on a sponsored residency in Berlin, Germany (2016) and has been the recipient of the 2014 Prose Book of Choice by Tempo for his short story collection, "Aksara Amananunna", and the 2018 Khatulistiwa Literary Award for his novel, "Ibu Susu".
Shit! A book about shit written by a shitty author. What a shitty book!
Taiklah, ini buku taiknya kebanyakan. Si Rio taik banget nulis tentang taik yang ceritanya taik. Eh tetep aja gue baca. Taik. Humornya menggelitik sih. Ditulis ala-ala dongeng juga. Tapi ya itu, taiknya kebanyakan, mules bacanya sampai-sampai pengin berak.
Seharian baca ini. Lumayan tebal, 400hlm tapi gak berasa---gak sampe ikutan ngitung kata Tahi, tinja dll karena banyak banget, hahaha. Awal2 aku sempat mual karena yang dibahas tahi melulu. Kisah-kisah yang diceritakan Pak Tua selama menunggu antrean boker juga gak jauh-jauh dari Tahi, Tinja, Bertinja. Tapi makin ke belakang aku jadi santai. Bahkan bacanya sambil ngemil.
Kalo boleh request, aku pengen baca kisah Humanoid, Xafi dalam satu novel utuh. 4,5 bintang. Sudut pandangku tentang Tahi jadi berbeda setelah baca novel ini.
Kurang ajar! Kenapa aku bisa menyelesaikan novel ini? Padahal sepanjang cerita, tahi mulu yang diomongin. Mulai dari putri yang ketimpaan tahi, sampai tahi-tahi yang mengisahkan asal-muasal mereka. Sialan betul! Kesan yang awalnya jijik dan terganggu, lama-kelamaan dibikin asyik walaupun makin lama kian absurd aja ini cerita. Hebat, deh. Salut buat penulis.
Dari yang cuman ngomongin hajat sampe meleber-leber ke masalah eksistensialisme manusia, nihilisme, falsafah-falsafah kehidupan, ampe segala penggulingan pemerintahan otoriter jga. Gokil.
“Menunggu antrian sambil mendengarkan cerita lebih baik daripada menunggu tanpa melakukan apapun sama sekali”. Begitulah yang seringali diucapkan Pak Tua #326 setiap kali ia memulai dan meneruskan ceritanya.
Ada 3 tokoh dalam buku yang dinarasikan oleh penulis. Dialah Pak Tua #326, pemuda tokoh utama #325, dan pemuda #324. Ketiganya sedang berada dalam antrian masuk ke dalam satu2nya toilet di dalam kubah metalik, dunia pasca-apokaliptik dimana bumi sdh hancur dan penuh kontaminasi. #angka menunjukkan nomor antrian mereka. Antrian yang sangat panjang membuat #326, #325, dan #324 saling berbicara. Dan Pak Tua #326 yang mantan pencerita ulung menceritakan berbagai cerita tentang tinja kepada kedua pemuda tersebut. Diawali dengan cerita tentang seorang putri raja yangkejatuhan tinja, disambung dengan petualangan seorang humanoid dan hasratnya untuk bertinja, tentang petualangan tinja bernama Abo dalam menemukan sang mahatinja untuk mengetahui rahasia kehidupan abadi, juga tentang cerita penyihir hutan dan penduduk sekitar dalam memanusiawikan cara bertinja.
Ya. Banyak sekali kata tinja di buku ini, bukan hanya tinja, tapi juga berbagai sinonimnya bertaburan. Ya, karena memang buku ini membahas hal tersebut. Saran saja, jika berniat membaca buku ini, untuk mengurangi rasa jijik, bayangkan saja tinja ke dalam sebuah gambar kartun yang memiliki mata dan kaki serta dapat bergerak berkomunikasi layaknya manusia. :D
Terpesona oleh uraian kata-katanya. Banyak sekali kata-kata baru yang terasa asing namun indah. Bentala, marcapada, kejamas, ancala, etape, atelir, cialat, rentaka, gadamala dan banyak lagi yang lainnya. Pun juga penulis menggunakan istilah-istilah kimia yang dipadupadankannya dengan apik. Pada cerita humanoid bertebaranlah kata-kata seperti CaO, silika, sulfida, polipropilena, siheksatin, azosilotin dan lain2. Kbbi online + googling sangat membantu. ^_^
Awalnya, terasa aneh membaca buku ini. Penulis sedang menceritakan pencerita yang sedang menceritakan. Mengapa banyak pencerita dalam cerita ini? Dan satu2nya yang membuat bertahan membaca sampai akhir adalah rasa penasaran tentang sebenarnya apa sih maksud dan tujuan dari cerita-cerita yang diceritakan? Dan ketika di halaman akhir barulah tahu bahwa tujuan dari cerita2 itu diserahkan kepada asumsi pembaca masing2. Haha. Tidak jauh dari cara Pak Tua #326 bercerita.
Ketika sudah selesai membaca, baru tahu ternyata “Buanglah Hajat pada Tempatnya” adalah sebuah prosa, dan termasuk 10 prosa terbaik di tahun 2020. Waaah,,, Bravo untuk diriku yang bertahan meski harus menempuh 2 minggu.
Secara khusus, novel ini bisa dibilang kumpulan cerita. Si pencerita menceritakan beberapa cerita kepada dua orang yang ia temui ketika sedang mengantre toilet. Di halaman akhir, saya baru mendapat konfirmasi akan hal itu. Penulis menjelaskan cerita asli dari cerita yang kemudian ia gubah menjadi buku ini.
Selain bertahan dengan upaya berteman erat dengan kamus (banyak sekali kata baru yang saya nggak tahu sebelumnya), membaca karya Rio Johan kali ini seperti membaca sebuah usaha yang terlalu keras untuk menyajikan sesuatu secara berbeda (mengingat tidak ada yang baru di bawah langit). Sudut pandang seonggok tahi memang unik, dan di sini terkesan sedikit menjijikkan. Bagaimana tidak, deskripsi mengenai kegiatan buang air besar sungguh visual, lengkap dengan bentuk masing-masing tahi yang meluncur turun. Mau tak mau, imajinasi jadi berada pada tempatnya; toilet.
Namun, ini adalah sebuah upaya yang patut dihargai. Seperti kata si pencerita ulung, “Menunggu antrean sambil mendengarkan cerita lebih baik daripada menunggu tanpa melakukan apa pun sama sekali, bukan?”
Persoalan sederhana seperti buang hajat bisa menjadi sesuatu yang pelik di masa berbeda. Sebagai manusia yang saat ini dimudahkan dalam perkara bertinja, buku ini membantu kita untuk bersyukur atas nasib kita saat ini.
Saya ulangi, jika ingin lebih meresapi buku ini, bacalah saat bertinja.
Baiknya review asal-asalan ini ditutup oleh sepatah lagu oleh band yang sempat populer pada zamannya:
Aku sedang ingin bertinja Karena mungkin ada kamu di sini Aku ingin (Batara - Sedang Ingin Bertinja)
Alangkah baiknya buku ini dibaca saat sedang bertinja. Banyaknya kata tinja dan rasa jijik tiap kali membaca membuatku buru-buru menyelesaikan buku ini.
Buku ini terpilih sebagai salah satu prosa terbaik di tahun 2020.
Namun saya tertarik membaca buku ini bukan hanya karena keberhasilannya menjadi salah satu prosa terbaik tapi karena premisnya, cerita-cerita seputar bertinja.
Walaupun mungkin aneh, perlu saya akui saya tertarik cerita seputar tinja, tapi bukan berarti saya kebal dengan buku ini. Setelah membaca 200 halaman tentang tinja, gugur juga pertahananku. Saya muak membaca kata tahi dan tinja, namun harga diriku tidak mau mengalah untuk tidak menamatkan membaca buku ini.
Entahlah yang mana yang lebih aneh, ada orang yang mau menulis buku tentang tinja sepanjang 400 halaman atau orang yang mau membaca buku itu?
Rating 3/5, bukan 5/5 untuk buku yang menjadi salah satu prosa terbaik ini disebabkan oleh tingginya usaha untuk menuntaskan membaca buku ini, di luar itu, buku ini layak disebut prosa yg baik.
Awal mula buku ini, saya suka karena kisahnya unik, dunia sedang dalam keadaan kiamat dan orang-orang dikumpulkan menjadi satu di sebuah labirin dengan 1 toilet. Ada seorang anak muda dan 2 orang lainnya yang saling bertukar cerita dan opini seputaran per-tahi-an sambil menunggu giliran mereka untuk menikmati fasilitas toilet.
Mungkin karena saya orangnya sangat majinatif, jadi membayangkan tahi-tahi sebagai seseorang yang hidup dan mempunyai skenario hidup awalnya cukup menyenangkan. Lama-lama seiring halaman-halaman buku yang bergulir, akhirnya saya menyerah karena sudah enek...hehehe... Bukan berarti buku ini tidak bagus, justru bagus banget karena ceritanya lain daripada genre-genre yang ada sebelumnya. Cuma ya itu, siapkan mental kuat karena sepanjang 300 halaman (kalau tidak salah) pembaca akan disuguhi cerita tentang tahi dan tahi dan tahi.......
Saya lebih suka (bahkan jaaauh lebih suka) novel ini dibandingkan Ibu Susu. Apalagi humornya itu nggak bisa nggak bikin perutku kaku. Sosis-usus-tahi, kemudian kecelakaan (yang di awal sepertinya saya bisa menebak saat mulai membaca, eeeeh ternyata lebih lucu) di cerita bagian satu. Segar ceritanya, dan mungkin bagi yang menghamba "pesan" dalam sebuah prosa, bisa dikulik satu demi satu, satu tokoh demi satu tokohnya.
Novel ini adalah eksperimen terhadap teks novel, baik dari cara ujar para tokoh mengantri berak yang sama-sama strangers (2-3 lapis penceritaan), lalu teknik penceritaan, kolase cerita dunia yang tersohor, dan kemasan bahasa yang membungkus semuanya. Hal yang menarik adalah mengikat unsur cerita dengan apa-apa yang berhubungan dengan kotoran. Memang novel ini terkesan bermain-main, namun kita serasa diajak bersitegang tanpa tahu apa yang dipeributkannya.
awal2 agak mual gimana gitu ya bacanya, tp ternyata seru juga. ceritanya ringan dan lumayan menghibur (asal bacanya ngga dibayangin terlalu berlebihan).
dan ngga nyangka ada yg kepikiran untuk nulis tulisan sebuku isinya hanya menyangkut kotoran manusia. salut sama imajinasinya! pembawaan bahasanya bagus jadinya enak kebawa ceritanya meskipun beberapa frasa terlalu sering diulang-ulang
Udah cukup lama selesein buku ini sebenarnya, dan ternyata aku suka banget cerita-ceritanya wkwkwk. Ya engga semua favoritku, tapi kebanyakan aku suka. Ada yang mayan bosenin pas baca, tapi udah lupa yang mana :D Aku suka ide ceritanya, bener-bener banyak pup disana sini, dan seumur2 aku baru baca cerita perberakan sedetil dan sebanyak ini. Dasar yaa Rijon. Biasanya kan klo apokaliptik itu berpusat dicerita yang bombastis misal cara bertahan hidup: berperang, bertarung, monster, drama hubungan antar manusia dll, tapi ini soal berak doang. Dapet banget lah lucu dan satirnya. Oya, cerita yang paling kusuka adalah tentang anak android yang ingin bisa berak (sediiiih banget lho ini) sama putri yang kejatuhan tinja. Aku suka cara bertutur Rijon, seringnya gak mbosenin, dan banyak sekali diksi asing yg baru aku tahu padahal ini bahasa indonesia ya wkwkwk. Kadang berasa baca sastra klasik indonesia jaman dulu, ya macam begitu lah. Terus berkarya ya Rio, aku selalu seneng baca ceritamu.
Sungguh cerita yang menantang pembaca, tidak hanya pikiran, tetapi juga mood pembaca itu sendiri. Penulisannya semakin baik di buku ketiga, disertai kisah yang kian beragam—dengan serentet keunikan dalam penuturannya. Salah satu pilihan tak terduga bagi pembaca buku tahun ini.
buanglah hajat pada tempatnya adalah novel yang segar dan unik. judulnya membuat mengernyit sekaligus tertarik. buku karangan rio johan ini berkisah tentang tinja, tahi, hajat, dan sebangsanya. di tangan rio, barang buangan manusia itu diramu menjadi beragam kisah yang menggelitik juga membikin bergidik. ya, buku ini berisi beragam cerita tinja terilhami baik dari pengalaman langsung penulis maupun disadur dari karya lain yang dikaguminya.
kisah tinja di novel ini berbingkai-bingkai. artinya, ada cerita tinja di dalam cerita tinja. beberapa cerita bahkan punya tiga lapis bingkai. bingkai terluar berlatar pada zaman pascaapokaliptik ketika buana dipenuhi udara beracun. para tokohnya harus hidup di dalam kubah metalik yang hanya menyisakan satu bilik toilet. alhasil, ratusan penghuni mesti rela mengantre panjang untuk berhajat, tak terkecuali si tokoh utama bernomor urut #325.
di sela antrean yang panjang, berbagai macam kisah-kisah seputar tinja dituturkan oleh pria tua di belakang si tokoh utama. sebagaimana kata pria tua yang masih sempat mencicipi masa ketika marcapada belum tercemar itu, menunggu antrean sambil mendengarkan cerita lebih baik daripada menunggu tanpa melakukan apa pun. si tokoh utama, bersama pemuda di depannya, begitu juga dengan pembaca, akan disuguhi dongeng konyol nan tak masuk akal pun tetap menggugah dengan tahi sebagai bahan utamanya.
sebagian besar kumpulan dongen tinja ciptaan rio impresif. penulis pun amat kreatif karena sering kali menyuguhkan alternatif akhir cerita yang berbeda untuk beberapa dongengnya. yang paling saya suka adalah kisah puteri yang tertimpa tinja. fakta bahwa judul itu menjadi cerita pembuka memberikan kesan awal yang kuat. ceritanya intens. tidak kalah serunya bagi saya adalah kisah para perempuan yang mogok membersihkan jamban bagi suaminya yang bersikeras berperang. saya terkagum-kagum kala tahu cerita ini disadur bebas dari kisah feminisme Yunani berjudul Lysistrata. cerita bocah yang berak di tempat bersejarah hingga menimbulkan perdebatan sengit orang dewasa pun memikat.
kendati saya cenderung suka, sebagian dongeng tidak dimungkiri kurang mengena bagi saya, sebut saja kisah tentang peradaban yang dimulai dari sungai dan kisah humanoid xavi. kedua cerita itu sebenarnya tidak buruk. namun, banyaknya istilah kimia di kedua bagian itu membuat saya kewalahan dan kurang antusias. saya merasa penulis terlampau ingin unjuk gigi perihal pengetahuan kimianya.
di buku ini, rio johan membuktikan dirinya sebagai sastrawan ulung. saya terkesima dengan kayanya perbendaharaan kata yang dimilikinya. ia menggunakan banyak sekali ragam kata, mulai dari arkais hingga klasik, juga jenis bahasa, mulai dari arab hingga minang. lewat buku ini pula saya jadi tahu ternyata kata tahi punya banyak sekali padanannya, sebut saja keladak dan geladir. proses keluarnya tahi dari burit juga ternyata banyak sekali sebutannya, kincit salah satunya. tidak mengherankan apabila judul ini termasuk sepuluh besar sastra pilihan tempo tahun 2020.
sebenarnya hal ini dapat menjadi poin plus dan minus. plus apabila pembaca merasa bersedia menambah wawasan dari banyaknya kata bahasa Indonesia yang kurang familiar di novel ini. minus apabila yang dirasa justru sebaliknya, yaitu bosan dan tidak tertarik. jujur saja, saya juga sempat dibuat acuh menerabas membaca diksi-diksi rio tanpa tahu makna pastinya.
buanglah hajat pada tempatnya cocok sekali buat pembaca yang ingin mencari bacaan yang menantang sebab ide dan premisnya cemerlang dan tidak biasa. kendati diksi yang dipakai penulis banyak sekali yang tidak lumrah untuk pembaca awan, tidaklah begitu sukar untuk dapat menikmati ceritanya. di lain sisi, secara personal saya sempat merasa bosan di beberapa bagian yang seharusnya dapat dipangkas atau diringkas. tetapi, saya tetap merekomendasikan siapa saja untuk menjajal buku ini.
"Kenapa kita harus jijik dengan apa-apa saja yang sudah kita keluarkan dari tubuh kita? Jawabannya: konstruk sosial, konstruk sosial yang kenyataannya merupakan kebohongan terbesar manusia. Padahal semua itu pernah jadi bagian dari tubuh kita, kenapa kita harus menolak sesuatu yang pernah ada di dalam tubuh kita." -Hlm. 248 sampai 249-
Sebelum mengkonsumsi novel ini, pastikan para pembaca menyiapkan mental agar terbiasa dan tidak asing menemukan kata tahi, kotoran dan tinja. Akan ada banyak cerita dalam cerita dalam cerita dalam cerita yang kalian saksikan dan temui. Cerita berbingkai ini tidak hanya ada di novel karya Rio yang ini, tapi juga buku yang lain. Namun, karya yang ini tak terbendung lagi banyaknya cerita berbingkai di dalamnya.
Kalau dibilang jijik atau tidak baca buku ini, saya pastikan tidak karena penggambaran yang 'to much' atau terlalu sering tentang kotoran malah buat pembaca jadi terbiasa. Oh iya, kisah Humanoid Xafi saya rasa bisa dibuat kisah sekuelnya tersendiri dalam bentuk novel karena ceritanya bisa berdiri sendiri dan mungkin akan bagus untuk ke depannya. Satu lagi, ditunggu kisah romantisnya Rio di Perancis dibuat dalam bentuk novel yah!
It was something different. As soon I read the first chapter, I knew it'd be something like 1001 nights. It was very entertaining too. I could finish the book in 2 days, if I weren't so busy. But somehow, there's something missing that I can't explain.