Buku ini merekam hampir semua tema penting pemikiran keislaman Kuntowijoyo, terutama mengenai realitas historis dan empiris Islam di Indonesia. Dengan mengkaji sejarah sosial umat, secara brilian Kuntowijoyo melihat adanya koherensi historis Islam di Indonesia sebagai suatu fenomena yang unik, dan oleh karena itu dia menyarankan perlunya interpretasi-interpretasi tematik untuk memahaminya.
Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.
His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.
His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".
Menurut saya, sebagai seorang mahasiswa sosiologi, buku ini menyajikan temuan menarik bagi perkembangan sosiologi historis dan upaya konstruksi "sosiologi Indonesia". Bagian paling menarik adalah ketika Kuntowijoyo menyusun tahapan evolusioner ummat Islam di Indonesia: kawula, wong cilik, dan warga negara. Buku ini merupakan sebuah upaya intelektual utk menyadarkan kita semua ttg marginalisasi yg selama ini dialami ummat Islam di Indonesia, membongkar mitos mayoritas jumlah, dan memberikan pijakan sejarah lewat kisah tentang Syarikat Islam: bagaimana ummat Islam beraksi.
Kesulitan saya saat mencari buku ini menunjukkan bahwa (jangan2) jarak antara buku berkualitas dan buku populer semakin jauh. Semoga saja tidak.
Buku memberikan sebuah paradigma baru tentang keIslaman kita, cocok sebagai referensi untuk kalangan ativis sosial sebagai landasan berpijak dan berpikir, kekuatan Prof kuntowijoyo disini adalah Islam sebagai landasan akhirnya lepaslah dari tudingan ektrem kanan atau kiri karena beliau mampu menyajikan kita kesadaran, bagaimana suatu kesadaran yang normatif harus diaktualisasiskan dalam bentuk kesadaran historis-empiris, kita kaji ulang bahwa islam sebagai agama juga sebagai ummah maka tuntutan sebagai ummat agama dijadikan sebagai panji perejuangan rakyat jelata, untuk membangun ekonomi, sosial dan polllitik kerakyatan yang mampu memilki nilai tawar. Disini juga dijelaskan historis Islam di asean dari muangthai, filipina, singapura, Malaysia, Indonesia. Keuatan pak Kunto dibuku ini tidak terjebak pada teoris soial barat tetapi beliau mampu merepresentasikan soial ummat Isllllam dengan teori sendiri, dan beliau menyajikannya sangat menakjubkannya.
kesan saya tentang tulisan dalam buku ini, pengamatannya cermat dan hati-hati dalam melihat persoalan, proaktif dengan nilai-nilai Islam sehingga pak Kunto menawarkan penggunaan ilmu sosial untuk membantu agar nilai islam lebih operasional.
Organisasi Masyarakat seyogyanya menjadi garda terdepan dalam mengaktualisasikan gerakan sosial profetik. Misi kenabian merupakan tugas abadi bagi setiap generasi penerus ummat. Transendensi, Liberasi, dan Humanisasi adalah literasi sosial profetik yang mampu diaplikasikan ke ranah aksi.