Jump to ratings and reviews
Rate this book

Leak Tegal Sirah

Rate this book
... Sebaliknya, pemilik tanah yang tanahnya kena "Landreform" dan harus diberikan ke pemerintah adalah Aji Grodog dan Aji Jenar. Mereka marah. G 30S/PKI terjadi di Jakarta, tujuh jenderal terbunuh. Pembalasan dan penumpasan meluas, terjadi di daerah-daerah. Juga sampai ke Bali. Dua bersaudara itu menumpahkan benci, dendam, dan sentimen pribadi mereka di Banjar Tegal Sirah ....
... Di setiap sekolah guru-guru dan siswa yang kena garis merah harus ditumpas mati. Di SMA Negeri Carik, satu-satunya SMA di kota Carik, setengah guru-guru mati karena PKI. Pengurus inti IPI, organisasi sayapnya PKI, ditumpas. Bahkan mereka yang netral pun dihabisi. Tak pandang bulu. Mereka yang salah bicara dibayangi kematian. Dinding rumah punya mata dan telinga. Fitnah bagai cendawan di musim kematian.

202 pages, Paperback

First published November 1, 2019

5 people are currently reading
42 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (4%)
4 stars
6 (28%)
3 stars
13 (61%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (4%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Ayu Ratna Angela.
215 reviews8 followers
July 8, 2021
Kenapa bisa buku sebagus ini baru mendapatkan 1 rating dan 0 ulasan??

Padahal selain memiliki judul, cover, dan blurb yang sangat membuat penasaran, Leak Tegal Sirah ditulis berdasarkan kejadian nyata yang dialami oleh penulisnya. Novel ini juga merupakan salah satu nominator Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 kategori prosa.

Leak Tegal Sirah bukan novel yang menceritakan tentang Leak, bukan.

Tapi novel ini jauh lebih horor daripada itu. Leak Tegal Sirah bercerita tentang peristiwa pembantaian warga Banjar Tegal Sirah di Tabanan pada periode 1965-1966. Peristiwa itu digambarkan bersisi-sisian dengan adat dan praktek ritual perleakan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan warga banjar tegal sirah.

Dua malam yang saya habiskan membaca novel ini sukses membuat saya takut tidur sendirian dan diserang mimpi buruk. Penggambaran yang sangat detil, kengerian yang tidak ada habis-habisnya malam demi malam dialami warga banjar tegal sirah. Puluhan kepala ditebas dari lehernya setiap malam. Istri, anak, dan adik dari para korban diperkosa oleh tetangga-tetangga mereka sendiri setiap malam. Nyawa seolah tidak ada harganya. Manusia menjadi lebih rendah daripada binatang. Tua,muda bahkan anak-anak sekolah diharuskan turut serta dalam pembantaian mengerikan tersebut.

Bukan lagi sedih dan marah yang saya rasakan saat membaca novel ini, tapi juga mual. Banjar Tegal Sirah seolah2 berubah menjadi neraka di dunia. Kalau membaca ceritanya saja sudah membuat saya muak dan mimpi buruk, bagaimana dengan para korban dan banjar tegal sirah lainnya yang mengalami kengerian itu langsung?

Samar Gantang merupakan penulis yang sangat berbakat. Sejak halaman pertama pembaca sudah diajak hanyut masuk ke dalam cerita. Semua kengerian itu ditampilkan bersama-sama dengan detil kehidupan budaya spiritual masyarakat bali yang sangat kental.

Satu2nya yang mengganggu bagi saya mungkin adalah penamaan tokoh-tokohnya berikut gelar adat yang lengkap dan banyak sehingga cukup membuat pusing. Tapi setelah terbiasa hal itu tidak terlalu menjadi masalah.

Saya membeli novel ini utamanya karena masuk ke dalam daftar Patjar Pilihan periode 12 okt-12 nov 2020. Belinya pun di patjar merah dengan diskon khusus yang sangat lumayan.

Sayang sekali buku sebagus ini sepi pembaca. Saya sangat merekomendasikan siapapun yang tertarik mengetahui peristiwa G30S di tanah Bali untuk membaca buku ini.
Profile Image for Desca Ang.
705 reviews35 followers
September 13, 2021
The review is taken from my bookstagram IG @descanto

Leyak/Leya/Leak is a mythological figure in the form of a flying head with entrails organs like hearts, lung and liver still attached. It’s very well known in the Balinese folklore

What does Leak have to do with the book?

It was all started with the Indonesian 30 Sept movement which began as anti-communist purge following a controversial attempted coup d' état. This movement later became a mass killing targeting the Indonesian communist party members, its sympathisers, Gerwani women and ethnic Javanese Abandon along with ethnic Chinese and the alleged leftist. Circa 500,000 to 1,200,000 people were killed with some more recent estimates going as high as 2-3 millions. Houses were burned down; men were slaughtered like animals even they did not belong to certain parties; their wife, daughters and female relatives were taken, raped and often killed. People were living poorly: groceries were hard to find and they lived in fear.

Returning to the book, Gantang portrays the living condition in a small village in Bali names Tegal Sirah which was exactly the same as what aforementioned. The setting was post 30 Sept movement. And it was written based on Gantang’s collection of memories. Born in 1949, Gantang (prolly) witnessed this brutal moment and wanted to pour his heart out through writing. Leak Tegal Sirah is the result.

The use of Leak and other demonic creatures in the Balinese folklore doesn’t only represent human’s brutality but also represents Gantang’s root as a Balinese. Human can even be more cruel than any demons.

My only concerns are (1) Gantang seems to hve the tendency to write everything; he should just make his book concise because (2) the info in the book is too dense making the book suffers from a repetitive and excessive narration which lead to the same thing. The info about the landreform is the example. Still it makes this book as an interesting reading tho.

KEBAB @kebabreadingclub is going to conduct a discussion on this book in September. Simply register yourself if you’re interested in joining!
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews38 followers
January 9, 2022
Saran saya sebagai pembaca: lebih baik dibuat buku teks sejarah atau memoar ketimbang novel.

Saya tak mengerti kenapa cara penulisannya seperti ini:

Warga yang diciduk: A, B, C, D, E, F, G, H, I, J
Buku-buku yang disita: K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U
Tingkatan-tingkatan ngeleak: V, W, X, Y, Z, AA, BB, CC, DD, EE, FF, GG

Yang pun nama-nama itu kebanyakan tak berperan apa-apa dalam cerita. Bukankah lebih baik dibuat poin-poin daripada paragraf?

Lalu, kata cafe yang banyak diulang di sepertiga akhir buku, benarkah sudah muncul di Bali tahun 65? Saya iseng Google, kata itu baru marak di Indonesia di tahun 90 an karena serial Friends yang banyak adegannya diambil di cafe.

Saya membelinya di festival buku yang tentu saja buku ini orisinil. Tapi, cetakan huruf di sampulnya berbayang seperti buku-buku bajakan. Kedua, pinggiran sampul berserabut layaknya makalah yang baru dipotong oleh mas-mas fotokopian.

Buku yang saya beli adalah cetakan keempat dan di sampulnya tertulis Nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2020.

bhaiqq...
Profile Image for Rhea.
150 reviews6 followers
August 8, 2021
When we say horror stories, we most likely think of ghosts and demons. But we forget that the scariest being of all are actually human beings. Ghosts and demons could be fantasy. But human beings are real. This story may be fiction, but the atrocities captured are real.

Set in the village of Banjar Tegal Sirah in Bali. The year is 1965. The ripples of fear and hate spread from the west over to the island of Bali. Members of the PKI party were hunted down and brutally murdered. Nonalignment to any particular party is risky. As such, this peaceful island was bathe in blood. Women were raped and abused. What started out as political started to blur and becomes plain violence and bloodlust.

It took the author, Samar Gantang, 19 years to write the book. In his book launch, he said his objective is to illustrate the real events that happened in Bali just 56 years ago.

One thing I admire Samar Gantang for is his use of mysticism throughout the book. He does not shy away from the local beliefs and seamlessly combine "leak" and other ghosts and demons with history. And I think I understand why. If we say those "leak" are demons, then what do we call these murderers and rapists? In fact, what makes a monster and what makes a man?

On the flip side, this book has a C A S T of characters. I was overwhelmed at first but then I shift my focus more on the themes instead.

Works such as these are there to remind us of our past. It is hard to read. It is hard to look. But it is only by re-reading and looking and learning that we continue to remember. The moment we look away, soon enough we will forget.
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews45 followers
December 29, 2020
Saya selalu tidak paham kenapa tragedi semengerikan ini luput dari cerita sejarah. Tragedi yang sebenarnya.

Sayangnya buku ini ditulis dengan sangat lugas. Mungkin itu tujuannya. Tapi terkadang terasa datar jadinya. Bahkan di adegan yang seram.
Profile Image for Novena Adelweis.
26 reviews
December 10, 2021
Circa 2014, saya pernah menonton kompilasi film pendek tentang 1965 di Kineforum. Semua film tersebut berlatar di Pulau Jawa, tanpa saya ketahui bahwa peristiwa yang sama pun terjadi di Pulau Bali!

Leak Tegal Sirah mengisahkan tragedi 1965 dari sudut pandang orang Bali. Berhubung saya tidak familiar dengan istilah-istilah dalam bahasa Bali, saya sempat bolak-balik ke glosari di halaman belakang.

Tidak ada yang menyenangkan dari cerita semacam ini, apalagi dengan penggambaran adegan persekusi massal dan kekerasan seksual yang eksplisit. Namun, buku ini tetap perlu ditulis dan dibaca sebagai bagian dari sejarah bangsa Indonesia.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.