Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kesatria Hutan Larangan #2

Raden Banyak Sumba: Bara Dendam Menuntut Balas

Rate this book
Banyak Sumba mendidih darahnya setiap kali mengingat orang yang telah membunuh kakaknya, Jante Jalawuyung. Kematian tragis kakaknya itu telah menanamkan kesumat di dadanya untuk membalaskan dendam. Bahkan dia rela meninggalkan Emas Purbamanik, kekasih yang ditemuinya di atas benteng puri Purbawasesa.

Akan tetapi, jalan yang akan dilaluinya tidaklah mudah. Untuk menandingi kesaktian Pangeran Anggadipati, Banyak Sumba harus bekerja keras meningkatkan kemampuannya. Guru demi guru dia timba ilmunya. Belantara demi belantara dia jelajah untuk mengasah keuletan tubuhnya.

Ketika kesempatan untuk menuntaskan dendamnya tiba, mendadak Banyak Sumba diserang keraguan. Benarkah puragabaya santun di hadapannya itu seorang pembunuh keji? Haruskah dia membalas kejahatan Pangeran Anggadipati dengan tindakan yang sama kejinya?

364 pages, Paperback

First published January 1, 2008

3 people are currently reading
48 people want to read

About the author

Saini K.M.

14 books4 followers
Saini K.M. dilahirkan di Sumedang pada tanggal 16 Juni 1938. Ia menyelesaikan pendidikan di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris IKIP Bandung. Perhatiannya terhadap sastra dan teater telah tumbuh sebelum ia memasuki perguruan tinggi. Latar belakang inilah yang kemudian rnendorongnya mengambil prakarsa untuk mendirikan jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Di samping menjadi pengajar tetap di STSI Bandung, Saini K.M. juga melakukan kegiatan di bidang kesenian, khususnya di bidang sastra dan teater. Di bidang sastra, ia aktif menulis esai dan puisi. Tiga buah buku puisinya yang telah diterbitkan, yaitu Nyanyian Tanah Air (Mimbar Demokrasi Press, 1969), Rumah Cermin (Sargani & Co. 1979), dan Sepuluh Orang Utusan (PT. Granesia, 1989). Kumpulan esai sastranya yang diterbitkan yaitu Protes Sosial dalam Sastra (Angkasa. 1983).

Di bidang teater, Saini menulis sastra lakon. Ia pernah memenangkan Sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1973 untuk karyanya Pangeran Sunten Jaya, tahun 1977 untuk karyanya Ben Go Tun, pada tahun 1978 untuk karyanya Egon, dan tahun 1981 untuk karyanya Serikat Kacamata Hitam dan Sang Prabu. Dua naskah lakon yang ditulisnya untuk anak-anak memenangkan sayembara yang diadakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan (Depdikbud), yaitu Kerajaan Burung (1980) dan Pohon Kalpataru (1981). Sastra lakon karya Saini yang berjudul Sebuah Rumah di Argentina (1980) memenangkan hadiah dalam sayembara penulisan yang diadakan oleh Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (BAKOM PKB) Jakarta Raya. Esai tentang teater yang ditulis Saini K.M. terhimpun dalam buku Beberapa Gagasan Teater (Nurcahaya, 1981), Dramawan dan Karyanya (Angkasa, 1985), Teater Modern dan Beberapa Masalahnya (Binacipta, 1987), dan Peristiwa Teater (Penerbit ITB, 1996). Pada tahun 1999, terbit himpunan karya Iakonnya "Ben Go Tun’, “Dunia Orang Mati", “Madegel’, dan “Orang Baru” di bawah judul Lima Orang Saksi. Himpunan karya lakonnya itu diterbitkan pertama kali dalam bentuk buku pada tahun 2000.

Lakon Ken Arok (Balai Pustaka, 1985) mendapat penghargaan sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, pada tahun 1990. Lakon lain yang ditulis Saini dan dipentaskan di berbagai daerah di Indonesia, yaitu Pangeran Geusan Ulun (1963), Siapa Bilang Saya Godot (1977). Restoran Anjing (1978), Panji Koming (1984), Madege (1984), Amat Jaga (1985), Syekh Siti Jenar (1986), Dunia Orang-Orang Mati (1986), Ciung Wanara (1992). dan Damarwulan (1995). Madegel pernah dipentaskan di Jepang pada tahun 1987. Ken Arok dan Sepuluh Orang Utusan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Renate Sterngal.

Bersama Jakob Soemardjo. Saini menulis buku Apresiasi Kesusastraan (Gramedia, 1986) dan Antologi Apresiasi Kesusastraan (Gramedia, 1986) untuk siswa Sekolah Menengah Lanjutan Atas. Selain itu. ia juga menulis buku untuk anak-anak, yaitu Cerita Rakyat Jawa Barat (Grasindo, 1993). Pada tahun 1960--1994, Saini menjadi pengasuh kolom puisi Harian Umum Pikiran Rakyat. Berbagai tulisan kritisnya tentang puisi karya penyair muda yang dimuat Harian Pikiran Rakyat itu diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Puisi dan Beberapa Masalahnya (Penerbit ITB, 1993). Berkat kegiatannya yang tidak pernah lelah dalam mengasuh para penyair remaja, Saini mendapat Anugerah Sastra dari Yayasan Forum Sastra Bandung pada tahun 1995.

Pada tahun 1988-1995, Saini dipercaya menjadi Direktur ASTI Bandung (sekarang STSI Bandung). Selepas itu, pada tahun 1995--1999, Saini K.M. menjabat Direktur Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Depdikbud. Saini K.M. juga tercatat sebagai anggota Konsorsium Seni sejak tahun 1994 dan sebagai anggota Komisi Disiplin Seni sejak tahun 1999. Ia juga aktif dalam penyelenggaraan Art Summit Indonesia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (20%)
4 stars
10 (23%)
3 stars
21 (48%)
2 stars
1 (2%)
1 star
2 (4%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Nenangs.
498 reviews
January 18, 2012
bimbang, antara ngasih 3 lebih atau 4 kurang. akhirnya kukasih 3.4 bintang saja.

ceritanya sebenernya bagus. berkisah tentang "kesengsaraan" banyak sumba dalam mengembara mencari guru ilmu keperwiraan, demi membela kehormatan keluarga. kehormatan yang sebenarnya tidak perlu hancur lebur andai saja sang kepala keluarga, ayahanda yang keras kepala dan cupet pikiran serta parno-an, mau mendengarkan pendapat orang dan tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa.

guru berilmu tinggi dan berakhlak mulia ternyata sangat sulit didapat, sampai sempat sengaja memancing keributan segala, sehingga banyak sumba memutuskan berguru kepada siapapun yang berilmu tinggi tanpa memperdulikan reputasi sang guru, dengan dalih "hanya mempelajari ilmunya, bukan meniru kelakuannya". akhirnya guru yang cukup baik ilmunya memang didapatkannya, tapi sudah menjelang akhir buku sehingga bagian pelajaran tersebut sangat singkat dan diceritakan dengan terburu-buru.

dalam pengembaraan mencari guru itu pula mata dan hati banyak sumba lebih terpapar akan kenyataan dunia luar yang tidak sederhana. tapi lagi-lagi kehormatan keluarga dijadikan pembenaran atas dendam yang dipeliharanya, meskipun hati dan pikirannya sebenarnya mulai goyah. ada satu kalimat dalam percakapan sederhana dengan ibu-ibu tukang buah di pasar yang bermakna cukup dalam dan menohok banyak sumba, "Kalau tertukar sangkaan dan yang diambil sangkaan buruk, orang yang dapat berabe juga" .

ending buku mengejutkan, karena "hah, cuma bgitu doang?". ini gara-gara saya ketipu blurb di sampul belakang. habis-habisan. sialan.

pelajaran berharga buat saya untuk nggak baca blurb buku ketiga. :p
Profile Image for muhammad.
53 reviews4 followers
April 23, 2012
Kisah kedua dari buku karya Saini KM dalam seri Hutan Larangan. Banyak Sumba adalah adik Yante dan juga adik Yuta Inten. Ia dididik oleh ayahnya, Banyak Citra, untuk membunuh Anggadipati sebagai balas dendam karena dibunuhnya Yante oleh Anggadipati.

Buku-buku kenegaraan yang tadinya diberikan oleh Banyak Citra untuk menjadikan Banyak Sumba seorang menteri kemudian dibakar. Banyak Sumba terus dididik menjadi petarung tangguh karena lawannya (Anggadipati) adalah petarung tangguh juga.

Banyak Sumba menjelajahi banyak tempat untuk mencari guru silat. Ia kurang berhasil untuk itu. Perubahan besarnya adalah ketika ia tersesat di hutan sampai bertahun-tahun. Itu menjadikannya hebat dalam bertahan. Ia mampu menghadapi harimau atau ular besar.

Perjalanannya dalam mencari kehidupan (karena masih tersesat di hutan) kemudian membawanya ke sebuah padepokan silat tempat para Puragabaya dididik. Itu adalah tempat terbaik untuk belajar silat. Ia mengintip dan mencuri ilmu sampai berbulan-bulan.

Suatu ketika ia ketahuan oleh penghuni padepokan lalu ia kabur. Niatnya membunuh Anggadipati masih belum bisa terwujud.
Profile Image for Ian.
241 reviews16 followers
June 3, 2010
Gw pengen nya d buku ke 2 banyakan aksinya she tapi sama aja rupanya hahahah

Yg gw masi bingung tuh gmana caranya make kujang buat berantem, kalo badik gw kira2 tau lah, kujang bentuknya aja gw ga ngerti buat apa

Nyari buku ke 3 d mana neh bikin penasaran aja
Profile Image for Yahudha.
28 reviews2 followers
January 18, 2011
kurang menarik juka dibandingkan dengan buku satu
Displaying 1 - 5 of 5 reviews