Ahmad Salam tokoh dalam buku ini, anak seorang saudagar kaya di Jakarta pada masa itu ( tidak ada thn. kejadian,hanya diperkirakan awal2 kemerdekaan ). Di masa muda remaja terjerumus kedalam pergaulan yang bebas hingga ia pergi meninggalkan rumahnya ke Surabaya. Di sana dia bertambah tak terkendali hingga terkena penyakit sphylis yang kemudian membuatnya sadar akan kehidupannya yang salah. Kepulangannya ke Jakarta untuk mengendalikan usaha ayahnya yang pergi naik haji (pada waktu itu pergi haji memakan waktu lama hingga lebih dari 1 tahun ) membawa dia pada kehidupan yg lebih bersih dan bermanfaat. Persolan muncul ketika dia menikahi Aisah karena ternya penyakitnya belum sembuh benar sehingga istri nya tertular dan mengakibatkan bayinya lahir tidak normal dan akhirnya meninggal. Perasaan bersalah menghantui dirinya. Awalnya sang istri membencinya, tapi kemudian karena kebesaran cintanya akhirnya dia memaafkan dan menerima kembali sang suami. Jakarta di jaman itu sepertinya terasa indah tidak ada kemacetan jalan,dan tidak ada ketergesaan dalam hidup, sehingga para pegawai kantoran sudah bisa sampai di rumah sekitar jam 5 sore dan sudah bisa bersantai dengan keluarga..mm.. enaknya. Hanya ada satu hal yang mengganggu, dalam cerita ini ( mungkin juga pada waktu itu ) penyakit sphylis dinamai penyakit "perempuan",mungkin kebanyakan tertular dari perempuan-perempuan jalanan? (padahal kan saling menularkan )-, tapi.. terlalu ... sexies.....kenapa nama penyakit saja harus ..bias jender..wah..
Aku menemukan buku ini di cuci gudang Gramedia karena tertarik dengan judul dan harganya maka aku memutuskan untuk ambil buku ini. Cover novel seri Balai Pustaka dari KPG ini warnanya selalu ngejreng dan tampil beda dari cover KPG lainnya.
Ceritanya sederhana dimulai dari seorang pemuda bernama Ahmad Salam yang meneruskan bisnis toko perkakas rumah tangga dari orangtuanya, Haji Munir. Perjalanan merantau A. Salam ke Surabaya dan Bandung membuatnya insaf akan perkara seks yang terlena akan perempuan-perempuan dan tidak ingat akan dunia. Sampai akhirnya dia terkena sifilis atau raja singa, membuatnya kehilangan seorang sahabat, Aladin di rumah sakit gila Lawang. Aku yang membaca di era sekarang, membuatku berpikir kenapa masyarakat yg terkena penya sifilis harus dirawat di rumah sakit jiwa? ya meskipun penjelasan dokter dalam novel ini dijabarkan namun membuatku masih penasaran. Dalam masa itu, penyakit sifilis juga disebut sebagai penyakit perempuan (terlihat sangat stigmatis). Dokter dalam novel ini juga menekankan salah satu bentuk pencegahannya dengan merehabilitasi perempuan-perempuan yang bekerja sebagai pelacur. Penyampaiannya sangat misoginis seolah perempuan pekerja seks dibebankan sebagai cikal bakal virus penyakit itu tumbuh di masyarakat.
Sifat A. Salam yang takut periksa ke dokter dan lebih menuruti perkataan dukun seperti menjelaskan kondisi masyarakat dahulu. Bahkan hal yang sangat vatal dilakukan A.Salam sebelum menikah yaitu periksa kondisi kesehatan dan cek riwayat penyakit seksual masih lumrah dijumpai oleh pasangan-pasangan yang akan menikah. Meskipun begitu, saya tetap menikmati romansa hubungan Aisah dan A. Salam saat masa perkenalan, jatuh cinta hingga masa-masa awal pernikahan.
Tersebutlah seorang pemuda bernama Abdul Salam yang ketika masa belianya dulu, di akhir usia belasan sampai awal dua puluhan, hobi bertualang seks bebas. Berawal dari jatuhnya ia dalam godaan birahi dengan seorang wanita yang berkarir di bidang pertunjukan keliling, Salam sampai meninggalkan kehidupan mapannya di Jakarta dan merantau ke Bandung hingga Surabaya demi menuruti keinginan selangkangannya. Sampai akhirnya ia terkena sifilis, lalu memilih untuk insyaf dan kembali menjadi pemuda baik-baik. Salam pulang ke Jakarta Raya untuk meneruskan usaha perabotan milik ayahnya. Tapi apakah masalahnya selesai di situ?
Tidak. Karena ini baru kurang lebih sepertiga saja dari kisah yang dirangkum roman klasik ini. Selanjutnya, bagi para pembaca yang terbiasa dengan alur roman klasik, bisa dikira-kira apa yang lantas kemudian terjadi, kemalangan menimpa atas Abdul Salam.
Akhirnya bisa merealisasikan keinginanku buat baca novel klasik Indonesiaaa! Novel ini pertama kali diterbitkan tahun 1937 oleh penerbit Balai Pustaka. Tapi, di tahun 2020 dicetak ulang oleh penerbit KPG.
Covernya lucu banget ya, pink-pink gemas. Tapi, lihat judulnya, dong. Neraka Dunia! Neraka Dunia yang dimaksud di Novel ini adalah kesalahan dan kesia-siaan masa muda yang pernah dilalui tokoh utamanya, Ahmad Salam, yang akhirnya membawa banyak penderitaan di kehidupan masa kini Salam.
Aku sangat menikmati gaya bahasa era 1937 yang kalo dibaca sekarang jadi puitis bangettt. Proses membacanya juga seru, karena banyak kata-kata yang sudah nggak banyak dipakai lagi saat ini mengharuskan aku buka KBBI. Makin nambah kosakata baru. Ketagihan mau lanjut baca novel klasik Indonesia lainnya :)
Neraka Dunia merupakan novel yang mengusung tema romantisme sejoli manusia era sebelum kemerdekaan Indonesia dengan bumbu penyesalan dan ketakutan akan masa lalu sang tokoh utama.
Meski novel ini menceritakan perjalanan seorang Ahmad Salam dari yang menceburkan diri dalam pergaulan bebas kemudian tersadar karena penyakit sifilis hingga memutuskan menikah dengan Aisah, Neraka Dunia mampu mengangkat permasalahan sosial yang sebenarnya sampai sekarang pun saya rasa masih jamak ditemui di tengah-tengah masyarakat: kehidupan malam, prostitusi, sampai gangguan mental.
Tuntas membaca karya sastra Indonesia klasik ini dalam beberapa jam saja. Awalnya plotnya terasa klise dan klasik (ya wajar tahun 1937), tapi ternyata saya suka gaya penulisan Penulis yang dramatis dan lihai dalam mendeskripsikan apa yang karakter tengah rasakan. Naik turun kondisi mental karakter-karakter terasa realistis dan cukup modern untuk zamannya—tentu dengan tidak melupakan lenggok Melayu klasiknya. Kepenulisan ini menjadi daya tarik utama sih dari plot yang sebenarnya cukup sederhana dan (jujur) mudah ditebak.
Adapun demikian, penutupnya bagi saya cukup plot twist sih karena ternyata sweet ending? Saya kira bakalan pisah gitu haha.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini diterbitakan pertama kali tahun 1937, sementara saya membacanya di tahun 2020. Tata bahasa yang digunakan sudah sangat berbeda dengan tata bahasa saat ini. Setting cerita di sekitar Menteng, Jakarta, rasanya lucu membaca pergaulan pemuda Jakarta pada masa itu, betapa jaman sudah berubah.
Neraka Dunia di buku ini disebabkan oleh sipilis yg dahulu disebut penyakit perempuan dan melalui tokoh Salam, penulisnya terkesan cenderung menyalahkan perempuan. Ya, untungnya jaman sudah berubah dan penyakit kelamin sudah tidak lagi disalahkan ke perempuan saja.
Karena suka dengan bahasa sastra lama buku ini memiliki tempat khusus di hati, namun utk cerita yang disajikan dapat saya katakan not my cup of tea but, tapi latar cerita 1930an cukup menarik utk disimak. Saya sempatkan juga utk fact check via google tentang latar cerita, menarik untuk yang menyukai bahasa indonesia gaya sastra lama.
Novel ini memiliki pesan yang sama dengan lagu Jamrud 'Senandung Raja Singa.' Lirik di lagu itu yang berbunyi "Enaknya dikit, enaknya dikit, sakitnya lama" kurang lebih dapat mewakili isi ceritanya. Satu hal yang membuat saya kurang sreg adalah penyelesaiannya yang seperti mengkhianati judul buku ini sendiri.
pada zamannya tentu bacaan yang menggugah. makanya sampai sekarang pun masih dicetak ulang. intinya sih, hidup yang mengejar surga dunia akan terganjar neraka. ya namanya zaman belum ditemukannya plastik dan karet elastis tipis, ada orang jakarta zaman penjajahan belanda kenal apa itu kondom.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Oke ternyata novel nya lebih ke novel roman dan perjalanan hidupnya si Ahmad Salam.. Kukira bakal surealis, ngeri, dan berdarah" Kalo dilihat dari judul nya tapi yah. Fine sih.. Puas juga sama ending nya.
Novel sastra yang berlatar belakang zaman kolonial, dengan bahasa melayu yang apik dan beberapa peribahasa. Pesan yang dapat diambil dari buku ini sangat banyak