Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tembang Tali Jiwo

Rate this book
Bubur ayam diaduk dulu atau tidak? Sia larut ke tengah-tengah kancah perebutan kebenaran ala medsos itu. Atau kau akan menepinya? Kita ketemuan. DI sana ada senja yang kubingkiskan padamu, kubingkis tanpa bungkus, karena langit lebih tulus dari kertas kado mana pun. Dan kopi. Dan buku sederhana ini. Dan garis cakrawala, ketemuan langit dan bumi yang telah digariskan menjadi takdir.

Tak suka kopi? no problemo. Di sana hampir semuanya terserah maumu. Mau teh saja, wedang jahe, jus, atau ciu dan menjadi anak indie? Biar kedewasaanmu yang mengurusnya. urusanku buatmu cuma menembang. Tepatnya mengingatkan kembali tembang-tembangmu sendiri. Tembang tentang kekasih, tentang rasa kangen, tentang negeri yang lucu, sedikit norak namun kangen-able .... Juga tembang yang penasaran: Udang yang sudah busuk dijadikan terasi, masih sama lezatnya dengan cinta yang sudah putus disatukan kembali?

Itulah tembang Talijiwo. Tembangmu sendiri. tembang yang kancah perebutan kebenaran membuatmu terlena dan melupakannya. Ya, mengembalikan seluruh kenanganmu, termasuk kenanganmu kepada (mantan) Kekasih. Itu saja. Sama sekali tiada maksud tembang Talijiwo ini mengajakmu menangis. Ah, seperti ia menitipkan kenangan kepadamu, titipkan juga tangismu kepada dunia. Itu baru adil. Mantan-mantanmu biarkan menjadi airmatamu, tapi jangan pernah boleh menjadi tangismu.

Heuheuheu .... Baiklah! Semoga caraku membawakan tembang talijiwo ini bisa mengubah seluruh perasaanmu menjadi airmata tersendu dalam sejarah, dan tak membawamu terjerumus ke jurang tangis.

264 pages, Paperback

Published March 1, 2020

5 people are currently reading
45 people want to read

About the author

Sujiwo Tejo

27 books431 followers
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".

Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (36%)
4 stars
8 (36%)
3 stars
6 (27%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
1 review
May 30, 2020
reviewnya bisa dibaca
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lala.
185 reviews27 followers
March 21, 2020
Cerita Sastro-jendro masih sama absurd-nya seperti di dua buku sebelumnya. Jadi pembebasan pikiran dan peliaran imajinasi masih sangat dibutuhkan untuk membaca buku ini.

Setidaknya yang berbeda dari buku ketiga dalam seri Talijiwo adalah kekonsistenan jenis kelamin Sastro (laki-laki) dan Jendro (perempuan). Selain kepastian gender, mereka masih bebas menjadi siapapun dan berprofesi sebagai apapun. Tukang jamu, dalang, guru, supir, sampai buruh pabrik teksil.

Hubungan Sastro-Jendro juga masih beragam, dari suami-istri, orang tua-anak, mertua-menantu, hingga dua orang asing yang bertemu di kereta tujuan Bandung.

Isu yang diangkat masih seputar isu yang sempat viral di Negara +62 beberapa tahun belakangan. Isu politik masih mendominasi memang, tapi isu sosial dan percintaan juga tetap dibahas secara luas.

Membaca buku ini seperti disadarkan bahwa setiap kasus yang terlihat besar dan viral itu, ternyata punya padanan yang amat sederhana dan seringkali menggelikan. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah kehebohan dalam menanggapi setiap isu itu benar-benar diperlukan? Apa cara penanggapan isu yang dipilih sudah berfaedah?

Aduh, nulis apa aku ini, IQ melati gak boleh dipakai buat mikir sedalam itu, Cuk. Cerita Sastro-Jendro gak lebih dari sekedar hiburan di tengah ke-semrawutan hidup kok. Heuheuheu~

Profile Image for Ikhwan Agung Nugroho.
8 reviews
April 6, 2021
Buku pertama karya Mbah Tedjo yang saya baca. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah kekhasan tulisan dan buah pikir Mbah Tedjo yang selalu dihiasi oleh dunia pewayangan dan kejawen. Dua tokoh utama Sastro-Jendro selalu tampil memerankan berbagai lakon di tiap bab yang ada. Beragam persoalan yang terjadi dan melanda negeri, Mbah Tedjo kupas mendalam, penuh keritik dan tanggapan, tentu dengan gaya bahasa dan cerita khasnya. Yang menjadi nilai jual menarik dari buku ini adalah adanya kutipan-kutipan puitis yang kebanyakan berisi tentang cinta. Kutipan ini bahkan bisa dibilang lebih laku dan pasaran dibandingkan isi dari keseluruhan gagasan yang coba ia sampaikan. Ah iya lupa, goresan yang membentuk karikatur atau ilustrasi pun tak pernah luput, meski hanya satu dari berapa banyak lembar, goresan itu mampu memberikan nyawa.
Profile Image for reas.
94 reviews4 followers
April 24, 2022
Ini buku pertama yang aku baca dari Sujiwo Tejo. Aku bacanya di iPusnas, jadi ada kelebihan dan kekurangan tersendiri. Aku suka gaya bahasanya, suka #TembangTaliJiwo-nya juga. Yang bikin buku ini menarik adalah dia bisa mengemas topik "berat" menjadi sesuatu yang ringan. Keren!
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.