Kedua belas cerpen dalam buku ini hanya ingin menunjukkan para pembaca tentang sepenggal pengalaman, permasalahan, sekaligus cara hidup para perempuan, utamanya di Indonesia. Segala persoalan yang mereka hadapi tidak lepas dari latar belakang masing-masing. Tidak semua perempuan itu kuat ataupun lemah. Beberapa di antara mereka merasa begitu percaya diri dan tangguh, namun di sisi lain, ada pula perempuan yang hidup dengan rasa minder.
“Ananda, jangan buru-buru pulang ke Jawa setelah semua urusanmu selesai. Mari saya kenalkan pada anak bungsuku. Barangkali kalian berjodoh,” katanya sambil tersenyum tanpa ragu. Aku menelan ludah. Akankah aku naik kasta apabila bersuamikan seorang lelaki keturunan bangsawan? (Cuplikan cerpen “Dari Makassar sampai Selayar”)
Dua belas cerpen dalam buku 'Bukan Drupadi' isinya tentang permasalahan dan pengalaman para perempuan di Indonesia. Ada yang membahas tentang dilema status seorang anak dari ibu yang berpoliandri. Kemudian ada juga kisah pelecehan seksual, relasi kuasa, perempuan yang mengejar karier hingga soal kecantikan semu perempuan. Semuanya terangkum dengan cukup apik dalam buku indie terbitan Stiletto ini.
Buku berjumlah 80 halaman ini bisa menjadi teman selonjoran maupun rebahan di waktu jeda/istirahat. Bahasanya enggak muluk-muluk alias menggunakan kosa kata sederhana. F. Ahsani Taqwim dalam buku ini memang tidak berakrobatik kata ala sastra, tapi rangkaian katanya tetap indah untuk dibaca.
Secara tampilan (cover), buku kumpulan cerpen 'Bukan Drupadi' jelas representatif perempuan. Bukunya terkesan feminin dengan balutan desain berwarna pink dan sentuhan sketsa seorang perempuan sedang menari -mungkin?.
Kisah-kisah yang terhimpun dalam buku ini layak baca bagi mereka yang ingin tahu seperti apa pergolakan batin perempuan saat dirundung banyak hal seperti emosi, kekesalan dan ancaman. Barangkali di luar sana masih banyak perempuan yang mempunyai permasalahan serupa dalam buku ini. Bahkan mereka kesulitan untuk menyampaikannya. Lewat buku ini, setidaknya sedikit permasalahan yang dialami kaum perempuan itu dapat terungkap secara bernas.