“Batu Manikam menggorok lehernya untuk membebaskan tiga ekor burung yang telah hidup di situ sejak dia berupa janin.”
***
Ini merupakan novela pertama yang ditulis oleh Bernard Batubara.
Batu Manikam dengan tiga burung yang hidup dalam lehernya, bahkan sejak masih berupa janin. Plot Batu Manikam menembus batasan ruang dan waktu. Dikisahkan secara mendebarkan. Saintifik dan futuristik.
Setelah bertahun-tahun bergelut dengan kisah roman, kini dirinya beralih ke genre lain; thriller.
Jikalau dahulu prosa Bara dipenuhi bunga-bunga dan roman yang menyentuh hati, dunia fiksi ciptaan Bara kini tiba-tiba menjadi penuh darah, perjalanan waktu, dan hewan-hewan yang berbicara.
They are "Angsa-Angsa Ketapang" (2010), "Radio Galau FM" (2011), "Kata Hati" (2012), "Milana" (2013), "Cinta." (2013), "Surat untuk Ruth" (2014), "Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri" (2014), "Jika Aku Milikmu" (2016), "Metafora Padma" (2016), "Elegi Rinaldo" (2017), "Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran" (2017), "Luka Dalam Bara" (2017), "Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan" (2017), "Asal Kau Bahagia" (2017), "Espresso" (2019), "Tentang Menulis" (2019), "Residu" (2019), "Batu Manikam" (2020), and "Banse Firius" (2020).
My short story “Goa Maria” appeared in the bilingual anthology of Indonesian writing Through Darkness to Light (Ubud Writers and Readers Festival 2013 & Hivos).
I provide editorial and copywriting services, for commercial and literary purposes. I accept prose, poetry, and nonfiction story.
"Musuh manusia adalah dirinya sendiri, akan tetapi sebagian besar manusia lebih babi daripada manusia lain."
Awalnya saya dibuat penasaran, karena buku ini sempat berseliweran di timeline Twitter saya. Covernya sedikit berbeda dengan buku Bara lainnya, terkesan gelap dan horor. Awalnya, kusangka buku ini akan menyeramkan seperti cerita KKN atau misteri-misteri suku dayak itu. Tapi ternyata saya berlebihan, menurutku, ia hanya sekedar seorang Bara yang lain dalam sebuah buku.
Meskipun tagline di beberapa toko buku daring menyebutkan bahwa ini merupakan genre tulisan Bara yang berbeda, menurut saya Bara tetaplah Bara, termasuk buku ini. Gayanya masih khas dengan penyampaian cerita yang lugas dan imajinasi yang membuat isi kepala kita ke mana-mana. Mikelaelus bin Jabbar, Diana, Prof Hiak dan Batu Manikam sendiri sukses membuat saya bingung, berdecak kagum dan tertawa sendiri. Belum lagi saya minta ampun dengan tiga burung yang tiba-tiba di sini bisa bicara, membuat saya penasaran siapa sebenarnya ketiga burung ini. Menyusahkan saja, hahaha
Tapi saya akui memang Bara berbeda di sini, entah kenapa saya langsung teringat dengan seri Supernova milik Dee Lestari. Saya pikir bukan sebuah kebetulan, karena sci-fi di buku ini sangat kental. Saya sebagai pembaca yang jarang bergelut di ranah itu jadi agak kewalahan mengikuti alur cerita buku ini.
Saat membaca tulisan ini, aku jadi penasaran dengan tulisan Bara yang lain. Terutama untuk genre romance dan melankolisnya. Buku ini terlalu abstrak untuk bisa kumengerti. Premisnya pun rada aneh menurutku. Aku memang menginginkan unsur thriller dari sebuah buku yang tipis. Dalam bentuk novela ini, aku mengharapkan ada kisah mencekam sesuai dengan yang blurbnya tuturkan. Tapi, selama proses membacanya, aku justru kebingungan.
Lah ini maksudnya apa ya? Alurnya dibuat loncat-loncat, mengisahkan masa yang berbeda, dengan tokoh yang berbeda. Untuk bagian akhir, aku mengharapkan kedua alur dan tokoh-tokoh tersebut saling bertemu dan memberikan suatu kejelasan. Tapi, entah, mungkin aku yang tidak berkonsentrasi saat membacanya, atau memang pemahamanku yang masih dangkal tentang novela ini?
Tapi entah mengapa, saat menemukan sedikit kehampaan dari apa yang aku harapkan, aku masih tetap melanjutkan novela ini. Entah kenapa, penulis pintar sekali menggaet kita menuju alur berikutnya. Gaya penulisan Bara yang mengalir membuatku merasa tidak ingin menaruh bukunya dan terus memburu kejelasan dari ceritanya.
Secara umum, buku ini menceritakan tentang tokoh bernama Mikaileaeus bin Jabbar, Diana, dan juga Prof. Hiak. Mereka banyak membicarakan tentang penelitian-penelitian di dunia zaman yang sangat modern pada tahun 2700-an. Di sisi lain diceritakan pula Batu Manikam, yang melalui lehernya keluar tiga ekor burung, yakni burung hantu, gagak, dan punai. Alasan mengapa burung ini ada di sana juga tidak begitu aku pahami. Kemudian cerita berlanjut dengan alur mengalir yang tetap bisa kunikmati walaupun tidak kutangkap maknanya.
Serius, aku penasaran banget sama makna dari novela ini. Bagi yang tahu maknanya, bisa kasi tahu aku di kolom komentar ya.
Duh jujur sebenernya gak paham ini kenapa batu manikam begini begitu walaupun novela tipis tapi bahasanya berat beberapa kalimat dibaca ulang tapi masih gak ngerti kenapa batu manikam mati terus jadi bahan percobaan terus ada bagian batu manikam ke hutan bakkara bareng sama jabbar setelah 3 burung di lehernya bertarung disana pokoknya bukunya lumayan berat untuk kapasitas otakku yanh terbatas 😩 bintang 5 karena kak bara yang nulis biar semangat bikin karyanya 😭🫰walaupun lebih ngarep kak bara bikin lagi cerpen kayak cara terbaik untuk bunuh diri sama metafora padma , favorit banget maap yang harusnya review malah jadi curhat wkwk :(
This entire review has been hidden because of spoilers.
Jujur, aku bingung banget sama buku ini. Banyak banget pertanyaan yang masih belum terjawab di buku ini seperti kenapa 3 burung hidup di leher anak kecil (?) dan awal mula si Batu Manikam ini ga dijelaskan bagaimana dengan sosok Batu Manikam itu. Di buku ini lebih difokuskan pada penemuan2 Jabbar. Aku sendiri belum menemukan makna apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan. Meski banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di buku ini, dan membuat aku bingung selama membaca bukunya, itu tidak membuat aku menjadi ingin berhenti membacanya. Malah membuat aku semakin penasaran :”)
bukunya selesai dibaca sekali duduk. ini kaya lagi punya mimpi setelah ngerasa capek gila. bangun-bangun mikirin scp apa yg tadi muncul di mimpi. meskipun dibilang genre nya thriller aku kurang merasakan? sebenernya banyak banget pertanyaan yang ada dikepalaku pas baca buku ini. dari alurnya yang maju mundur, dengan rentang waktu bukan tahun doang tapi abad? bikin penyesuaian aku yang taraf pemahamannya agak butuh waktu jadi ngang ngong
Entah memang aku yang kurang paham atau bagaimana, alurnya terlalu loncat-loncat, tapi tidak menemukan akhirnya bagaimana.. aku bingung selama membacanya, mungkin emang bukan tipe bacaanku saja?
Jujur, aku kurang mengerti sama alurnya tapi tetap maksain baca sampai habis dengan harapan di akhir cerita bakalan ada penjelasannya, tapi ternyata ngga ada dan malah tambah bingung sama endingnya. Mungkin pemahaman aku aja yang kurang.
Batu Manikam karya Bernard Batubara adalah sebuah novela yang mengisahkan perjalanan hidup penuh liku dengan latar budaya Indonesia. Ceritanya mengangkat nilai-nilai tradisi, perjuangan, dan pencarian jati diri. Bahasa yang digunakan sederhana namun kuat, membuat pembaca mudah memahami pesan moral di dalamnya. Buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin menyelami cerita tentang keteguhan hati dan makna kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tidak termasuk saya.
Kurang paham sama isinya tapi dengan alur maju mundur gitu harusnya buku ini bisa bagus kalau diending ada penjelasannya kali yah, soalnya dari awal aku meraba-raba, sampe akhir cerita pun masih meraba-raba terus. Untuk genre thriller pertama untuk penulis yang biasa nulis roman, 3bintang sepertinya cukup