Jump to ratings and reviews
Rate this book

Biografi Politik Mohammad Hatta

Mohammad Hatta & Pemikirannya

Rate this book
Kesadaran politik dalam diri Hatta mulai berkembang setelah ia bersekolah di MULO. Terutama, dalam kedudukannya sebagai pelajar yang mulai mengenal Jon Sumatranen Bond (JSB), kemudian menjadi anggota pengurus perkumpulan ini. Ia menghadiri ceramah atau pertemuan politik yang diadakan tokoh lokal (seperti Sutan Saidi Ali, guru sekola Adabiah). Sedangkan dari Jakarta seperti Abdoel Moeis (1878 - 1959) dari Sarekat Islam, yang memang sering berkunjung ke Minangkabau dari Jakarta untuk keperluan partai. Apabila ke Padang, Moeis sering membangkitan kesadaran rakyat akan hak-hak mereka, terutama ia sangat menentang kebijakan pemerintah dalam soal tanah dan rodi di daerah tersebut.

Pengenalan tentang perkembangan masyarakan, termasuk politik, diperolah Hatta pula dari pergaulannya dengan aktivis Serikat Usaha, semacam kamar dagang lokal tempat pedagang-pedagan bumiputera berkumpul dan bekerja sama untuk memajukan usaha mereka. Terutama dengan Taher Marah Sutan, sekretaris Serikat Usaha ini, ia bergaul akrab. Darinya Hatta memperoleh penmgaruh tentang cara-cara kerja yang penuh disiplin. Disiplin ini dipupuknya lebih intensif ke tika iya bersekolah di Prins Hendrik Handels School (Sekolah Dagang Prins Hendrik) di Jakarta, seusai menamatkan sudinya di MULO Padang. Sekolah dagang ini telah menumbukan sifat dan cara yang "cepat, tepat, dan teratur"

180 pages, Paperback

Published January 1, 2018

4 people are currently reading
7 people want to read

About the author

Deliar Noer

29 books16 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (100%)
4 stars
0 (0%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Faisal Chairul.
268 reviews16 followers
August 18, 2025
Bagaimana kesadaran berpolitik dalam diri Mohammad Hatta, koproklamator Indonesia, bermula? Bagaimana padangan tokoh ini, yang dikenal bukan hanya sebagai pembaca buku tapi juga penulis andal, terhadap non-kooperasi, koperasi, dan demokrasi? Bagaimana kiprahnya dalam organisasi Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda? Seperti apa usahanya memperkenalkan Indonesia dan cita-cita kemerdekaannya kepada masyarakat Eropa dan dunia? Bagaimana awal mula pertemuannya dengan Soekarno, proklamator Indonesia, dan bagaimana kesan beliau terhadapnya Buku biografi yang ditulis oleh almarhum Deliar Noer ini dibahas bukan hanya secara komprehensif tapi juga dengan gaya bertutur yang enak dibaca. Buku ini merupakan jilid pertama dari tiga jilid Seri Biografi Politik Mohammad Hatta.

Buku ini dimulai dengan pemaparan alam pemikiran yang melingkupi Minangkabau, daerah kelahiran Bung Hatta, semasa beliau kecil hingga remaja. Tiga paham yang berkembang di Minangkabau pada awal abad ke-20 diantaranya paham Islam, adat, dan kolonialisme. Sebagian kalangan adat menganggap bahwa kolonialisme tidak dapat ditolak dan oleh karenanya kerja sama perlu dilakukan dengan penjajah. Paham ini turut mempengaruhi dinamika administrasi ke'nagari'an (nagari: wilayah terkecil dalam sistem pemerintahan Minangkabau). Sementara itu, sebagian dari kalangan adat lainnya bekerja sama dengan kalangan Islam (kaum Padri).

Di awal pembahasan buku ini digambarkan juga salah satu sifat masyarakat Minangkabau yang cepat beradaptasi dan cenderung tidak tunduk dengan memanfaatkan kehadiran kolonialisme, seperti dalam keikutsertaan dalam sektor pendidikan yang diinisasi pemerintahan kolonial, baik di dalam dan luar Sumatera Barat, di Pulau Jawa atau bahkan di luar negeri. Pragmatisme kolektif ini juga yang turut memotivasi keluarga Bung Hatta untuk mengizinkan beliau memperluas pandangan melampaui tempat asalnya dengan bersekolah ke Jakarta dan kemudian hingga ke Belanda.

Kesadaran politik Bung Hatta bermula ketika ia bersekolah di MULO Padang dengan aktif dalam kegiatan JSB ("Jong Sumatranen Bond"/Perkumpulan Pemuda Sumatera), dengan mengikuti pertemuan-pertemuan politik yang diadakan tokoh-tokoh lokal seperti Sutan Saidi Ali (guru sekolah Adabiah) dan Abdoel Moeis dari Sarekat Islam. Sementara tentang kesadaran bermasyarakat diperoleh dari pergaulannya dengan para aktivis Serikat Usaha, sebuah kamar dagang lokal, seperti Taher Marah Sutan. Di kantor Serikat Usaha ini pula awal mula perkenalan Bung Hatta dengan tulisan-tulisan Tjokroaminoto (dalam surat kabar "Utusan Hindia") dan Haji Agus Salim (dalam "Neratja").

Kesempatan bersekolah di Jakarta, di PHS (Prins Hendrik Handels School), juga turut membantu mengembangkan kiprah berpolitik Bung Hatta, dengan aktif di JSB pusat. Bahkan, amanahnya sebagai bendahara turut membantu JSB menertibkan administrasi keuangannya dengan melunasi utang pada percerakan Evolutie milik Landjumin Datuk Tumenggung sekitar 1.000 gulden dan sepeninggalnya dari jabatan mampu menyisakan saldo kas lebih sebesar 1.200 gulden. Bersama anggota JSB pusat ini juga Bung Hatta berkunjung ke tokoh-tokoh terkemuka asal Sumatera seperti Haji Agus Salim, Abdoel Moeis, dan Sutan Muhammad Zain. Dari pembicaraan dengan mereka, Bung Hatta mendapatkan pemahaman tentang Islam dan politik, parlemen (Dewan Rakyat), dan kebahasaan.

Gegar budaya ("culture shock") langsung dialami oleh Bung Hatta ketika ia melanjutkan studi di Belanda setamatnya dari PHS Jakarta. Perubahan besar menyangkut statusnya sebagai anak jajahan dari yang terdiskriminasi di tanah jajahan menjadi setara di negeri penjajah. Di Belanda, beliau langsung melibatkan diri dalam organisasi Perhimpunan Indonesia (PI), yang ketika itu sedang mengalami penyesuaian antara golongan yang menginginkan PI turut melibatkan diri dalam usaha kemerdekaan Indonesia dengan golongan yang hanya ingin PI tetap sebagai forum sosial seperti tujuan awal pendiriannya. Di PI, beliau juga aktif mengirimkan tulisan untuk surat kabar 'Hindia Putra'. Bahkan, beliau juga dipercaya sebagai ketua antara tahun 1926-1930. Melalui tulisan-tulisannya dalam 'Hindia Putra' dan visi masa depan PI inilah perlahan-lahan prinsip non-kooperasi beliau dikonseptualisasikan. Prinsip non-kooperasi yang aktif dalam perbuatan, berbeda dengan non-kooperasi Mahatma Gandhi yang pasif dan berlandaskan swadesi (tanpa kekerasan). Non-kooperasi berarti menolak duduk dalam dewan-dewan 'perwakilan' yang didirikan pemerintah kolonial, baik pusat maupun daerah, dan menolak bekerja di dalam lingkungan pemerintahan kolonial. Interpretasi terhadap non-kooperasi ini juga yang melatarbelakangi perseteruan argumentasi dengan Soekarno dan Partindo (pecahan Partai Nasional Indonesia/PNI).

Selama di Belanda, Bung Hatta juga aktif dalam usaha memperkenalkan Indonesia dan cita-cita kemerdekaannya, baik melalui tulisan (majalah Indonesia Merdeka, "Gedenkboek Indonesische" [1923]) maupun lisan dalam sejumlah pertemuan (Kongres Demokrasi Internasional di Bierville, Prancis; Kongres Internasional Menentang Kolonialisme pada tahun 1927 di Brussels, Belgia, yang membentuk organisasi Liga Menentang Imperialisme, Penindasan Kolonial, dan untuk Kemerdekaan Nasional, dan pada tahun 1929 di Frankfurt, Jerman; Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kemerdekaan pada tahun 1927 di Gland, Swiss; pertemuan dengan mahasiswa Indologi pada tahun 1930 di Universitas Utrecht, Belanda).

Para anggota PI bersepakat untuk terjun dalam pergerakan kemerdekaan setelah menyelesaikan studi di Belanda dan setibanya mereka kembali di tanah air. Bung Hatta bercita-cita dibentuknya sebuah partai nasional, berhaluan kebangsaan, radikal, dan dapat menggerakkan massa untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. Di antara organisasi-organisasi yang ada pada tahun 1920-an itu, beliau menimbang Partai Nasional Indonesia (PNI), yang dilihatnya sebagai kebangkitan kembali gerakan di Indonesia. Walaupun sempat dipujinya, beliau sebenarnya tidak cocok dengan cara dan kebijaksanaan PNI. Puncaknya, ketika pemimpin-pemimpin PNI ditangkap dan Sartono membubarkan organisasi tersebut untuk kemudian mendirikan Partindo, beliau dan pendukungnya memisahkan diri dengan mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI baru) pada tahun 1931. Oleh karena beliau masih harus menyelesaikan studinya di Belanda hingga paling tidak pertengahan tahun 1932, beliau pun bersepakat dengan Sjahrir agar ia pulang dulu ke tanah air untuk memimpin PNI baru dan kemudian melanjutkan kembali studinya setelah beliau menamatkan studi dan mengambil alih kepemimpinan PNI baru.

Kecaman-kecaman terhadap pemerintahan kolonial yang beliau manifestasikan dalam tulisan-tulisannya membuat beliau, bersama anggota PNI baru lainnya, ditahan baik di lembaga pemasyarakatan (lapas) Glodok, Cipinang, maupun Sukamiskin. Setelahnya, beliau dan anggota-anggota PNI baru sempat juga diasingkan ke Digoel dan Banda Neira.
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.