Jump to ratings and reviews
Rate this book

Generasi Kembali Ke Akar

Rate this book
Diskusi mengenai teori generasi tengah berkembang menjadi “bola salju” yang bergulir liar. Salah satu narasi yang berkembang di berbagai media adalah penafsiran tentang generasi yang bak membaca ramalan horoskop. Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada 1981 hingga awal 2000 dianggap sebagai Generasi Milenial—yang memiliki karakteristik kreatif-inovatif, berorientasi sosial tinggi, menyukai nilai-nilai kebebasan, dan senang dengan segala sesuatu yang bersifat instan. Benarkah demikian?
Ditulis secara apik oleh Dr. Muhammad Faisal, seorang youth researcher yang sering mengkaji isu terkait anak muda, buku _Generasi Kembali ke Akar_ menyajikan perspektif yang berbeda. Lewat buku ini, pembaca diajak untuk menelusuri sejarah generasi di Indonesia. Alih-alih menggunakan istilah Generasi Milenial yang digambarkan individualistis, ia menyebutnya dengan istilah “Generasi Phi”, yang memiliki kecenderungan kolektif. Sebab, menurutnya, arketip yang tumbuh di dunia Barat sangat berbeda dengan arketip generasi di Indonesia. Oleh karena itu, karakteristik Generasi Milenial yang kerap didengung-dengungkan di media kurang relevan untuk menggambarkan generasi muda di Indonesia; generasi yang sebenarnya masih memegang teguh akar keindonesiaannya.

266 pages, Paperback

First published December 25, 2019

8 people are currently reading
51 people want to read

About the author

Muhammad Faisal

5 books18 followers
Muhammad Faisal adalah seorang youth researcher, pendiri Youth Laboratory Indonesia, sebuah biro riset pertama di Indonesia yang mendedikasikan diri pada studi perilaku dan budaya anak muda Indonesia.

Beberapa lembaga dan brand yang pernah dibantu Youthlab antara lain, Nike, Google, Coca-Cola, TNI AD, Kementrian Pekerjaan Umum, Kepolisian Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Kantor Staff Kepresidenan.

Penulis pernah menjabat sebagai Head of Asia di Youth Research Partners, sebuah jaringan peneliti kepemudaan global yang terdiri dari 20 anggota dari berbagai negara. Penulis juga dipercaya sebagai narasumber untuk media internasional ternama terkait tema anak muda Indonesia, yaitu Spiegel Magazine dari Jerman, dan Le Monde Diplomatique dari Perancis.

Penulis mendapatkan gelar doktoralnya di Universitas YAI Persada pada 2015 dengan predikat cum laude serta kekhususan pada bidang psikologi sosial-politik di bawah bimbingan Prof. Sarlito Wirawan Sarwono.

Sedangkan, gelar Magister didapatkan penulis pada 2007 dengan predikat cum laude di Universitas Indonesia. Penulis juga menyelesaikan studi sarjana di Universitas Indonesa pada 2004. Saat ini penulis aktif melakukan penelusuran etnografis terhadap kehidupan anak muda Indonesia dengan melakukan perjalanan keliling Indonesia yang dimulai sejak 2009.

Penulis aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Jakarta.

Hubungi penulis di Instagram: Ketemufaisal

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
21 (52%)
4 stars
14 (35%)
3 stars
4 (10%)
2 stars
1 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,974 followers
March 17, 2021
Desain sampul Generasi Kembali Ke Akar tidak dapat dimungkiri sebagai daya tarik mengapa aku memilih membaca buku ini. Yah, selain untuk alasan pekerjaan tentunya.

Premisnya juga menggugah rasa penasaran. Dengan sebutan "Generasi Phi" dan adanya pernyataan bahwa anak muda di Indonesia memang selalu bergerak secara kolektif terlepas dari apapun zamanny, aku pun memutuskan untuk membacanya lebih jauh.

Buku setebal 266 halaman ini diawali dengan napak tilas generasi yang membangun Indonesia. Penulis memang menawarkan istilah baru seperti Generasi Alpha, Generasi Beta, Generasi Theta, hingga Generasi Phi untuk mensubtitusi penyebutan Generasi Milenial (bahkan Yoris Sebastian memiliki sebutan sendiri yakni Generasi Langgas). Bagi penulis, karakter generasi pemudia di Indonesia berbeda dengan generasi pemuda di negara Barat. Indonesia punya arketipenya sendiri.

Selain itu, buku ini tidak membosankan meski yang dipaparkan adalah sesuatu yang bersifat ilmiah. Dilengkapi dengan ilustrasi menarik, buku ini disajikan dengan penuh warna. Bahasa yang digunakan juga mudah untuk diikuti. Tidak ribet dan memang langsung masuk pada inti pesan.

Berbicara mengenai tulisan ilmiah populer, tentu tidak dapat dilepaskan begitu saja dari referensinya. Penulis punya banyak referensi yang disebutkan setiap ia mengutip atau memaparkan sesuatu. Bagi mereka yang sudah mengerjakan skripsi atau tugas akhir, barangkali akan merasa familiar. Bedanya cuma sebatas penggunaan diksi sehingga membuat Generasi Kembali Ke Akar tidak berat. Tapi, masalah referensi ini juga bisa membuat pembaca bingung. Kok, dikit-dikit ada nama dan judul buu yang disebut ya?

Sayangnya, alur dalam buku ini belum terlalu rapi. Meski disusun secara kronologis, tapi tetap terasa "ngawang" buatku. Selain itu, beberapa paragraf ada yang diulang. Padahal, penulis bisa saja menggnunakan kalimat seperti, "Masih ingat dengan cerita saya tentang KBJ di bab XX?" Ya, mirip cara Fellexandro Ruby melakukan call back.

Generasi Kembali Ke Akar bisa dijadikan referensi jika ingin tahu tentang pemuda Indonesia dan budaya kolektifnya. Dari kacamataku, informasi yang ada dalam buku ini bisa dimaksimalkan sebagai bahan riset jika kamu adalah pembuat konten seperti diriku. Setidaknya, memudahkan dalam pencarian kata kunci untuk mendalami suatu topik.
Profile Image for Albertus Gilang.
5 reviews
May 15, 2021
Saya mengaktifkan mode-pacu lambat menghabiskan buku bacaan ini. Bisa Saya bilang bahwa setiap kalimat yang keluar/ditulis oleh mas Faisal adalah anugrah pengetahuan. Dan jika buku ini juga sampai berada di tanganmu dan membacanya, maka force sebetulnya benar-benar menuntunmu. Ketakutan dan rasa was-was merupakan terpaan sehari-hari yang sering Saya/kita jumpai. Buku ini memberi pandangan seluas-luasnya dan optimisme akan berbagai potensi yang bisa kita capai sebagai anak muda Indonesia.

Bagai seorang 'orang tua' yang berbicara kepada 'anaknya', mas Faisal seolah ingin memberi nasihat juga kesadaran yang baik dan bertanggung jawab dan ingin mengeluarkan sisi-potensi terbaik anak muda Indonesia. Mas Faisal menyikat setiap lini berbagai persoalan dan stigma kehidupan anak muda secara komprehensif, runut, dan clear berdasarkan perjalanan studi risetnya. Salut dengan bacaan-referensi yang menjadi rujukannya.

Mari optimis kedepannya di antara generasi tua-muda semakin banyak terjadi 'transaksi pengetahuan', ruang-ruang publik terisi kembali oleh anak muda, tidak pernah meninggalkan akar identitas keindonesiaan kita, dan memegang narasi kepemudaan kita sendiri.'Nusa Jaya, Jaya deui'!
Profile Image for Muhammad Akhyar.
Author 1 book39 followers
June 24, 2020
Dari awal saya agaknya tahu bahwa buku ini ditulis didasarkan atas kegelisahan pada penggunaan istilah yang sudahlah salah kaprah, digunakan hanya untuk kepentingan politik dan ekonomi jangka pendek lagi: generasi milenial. Politisi senior hingga agak senior, kurang afdal rasanya kalau tidak me-mention kata "milenial" dalam janji-janji kampanyenya. Pemasar senior hingga agak senior, kurang handal rasanya jika tak memasukkan milenial sebagai segmen pasar yang akan disasar. Objektivikasi macam begini harus segera dihentikan. Sebagian besar generasi yang disebut milenial itu menghentikannya dengan cara tak ikut-ikutan menyebut diri mereka milenial. Penulis buku ini (sehari-hari saya panggil Mas Faisal) agaknya menggunakan cara lain, ia menggunakan peristilahan baru yang berasal dari pendekatan yang sama sekali berbeda dari yang beredar di dunia Barat. Arketif sebagai sesuatu ketidaksadaran kolektif, tentu adalah sesuatu yang khas pada suatu komunitas. Indonesia dengan latar sejarah dan budaya yang berbeda rasa-rasanya tak ada kaitannya secara langsung dengan munculnya Greatest Generation, Baby Boomers, hingga Gen X dan Y di Barat sana. Justru, seperti yang diterangkan pula oleh Mas Faisal di buku sebelumnya (kamu akan lebih mudah memahami buku ini jika telah membaca Generasi Phi), pembagiaan generasi di Indonesia lebih tepat jika disesuaikan dengan geneologi pertumbuhan bangsa Indonesia itu sendiri, mulai dari era kesadaran kebangsaan, kemerdekaan, orde baru, hingga orde reformasi. Tiap-tiap era tentu ada tapal batasnya masing-masing, penanda itu pulalah yang menjadi semacam simbol ketidaksadaran kolektif yang diam-diam membentuk suatu generasi yang khas Indonesia. Kekhasan ini dikupas cukup tuntas oleh Mas Faisal di buku ini karena apa yang ia tulis di sini, ya adalah hasil penelitiannya terhadap generasi muda selama sepuluh tahun terakhir. Ia hilir mudik ke kota-kota di Nusantara untuk menelisik perkembangan dari selera musik hingga bagaimana anak muda di kota-kota tersebut melihat politik. Lagi-lagi buku ini meski didasarkan pada kerja-kerja penelitian lapangan yang melelahkan (dan mungkin sangat serius), tetapi membaca buku ini rasanya ringan saja.
Profile Image for Citra.
73 reviews1 follower
December 28, 2021
Rasanya sangat komplit setelah membaca Generasi Phi berlanjut ke buku ini. Membuka wawasan saya mengenai bonus demografi yang sedikit mengkhawatirkan jika melihat pola perilaku anak-anak muda yang lebih mementingkan viral daripada kebaikan yang tersirat di konten. Membaca buku ini juga sedikit menjelaskan tentang diri saya yang sedang mencoba menjadi pemuda yang tidak kolot dan kuno dalam pemikiran, ternyata hampir di setiap kota yang dikunjungi penulis dalam rangka penelitian saya menemukan kekhawatiran saya sama dengan para pemuda lain di setiap kota itu.
Profile Image for Makarim Muhammad.
19 reviews
February 27, 2022
Dalam 275 halaman. Penulis dengan gamblang memaparkan berbagai masalah kepemudaan yang dialami pemuda Indonesia. Ajaibnya, setelah membaca buku ini sikap saya malah menjadi optimis bahwa masa depan cerah menanti kita -para pemuda- selama kita 'kembali ke akar'. Kembali kepada kebudayaan dan kearifan lokal yang bangsa kita miliki. Tidak sabar menanti karya karya Muhammad Faisal berikutnya!
Profile Image for Menyertakan Maret.
42 reviews2 followers
July 9, 2022
narasi dalam buku ini dikupas melalui perspektif sejarah guna melacak dan menelaah kembali kemampuan dan kapabilitas yang dimiliki generasi z. Sebab, anak-anak muda di era ini mulai menunjukkan karakter-karakter yang telah lama menghilang, seperti membaca, berkomunitas, dan menyukai kebebasan.
Profile Image for natazwa.
38 reviews4 followers
September 16, 2022
aku beli buku ini (edisi revisi) karena buku pertamanya left a good impression. sayangnya buku ini agak "ngawang" jadi kurang insightful dan kurang berkesan buat aku. mungkin di akhir setiap chapter perlu ada key takeaway biar ada poin2 yang applicable.
Profile Image for Steven S.
706 reviews66 followers
April 29, 2020
Membicarakan ihwal pemuda dari masa ke masa. Berbekal pustaka dan riset lapangan yang mumpuni. Menarik untuk mencermati karya terbaru Muhammad Faisal.
7 reviews
July 6, 2021
This book try to find a pattern in our history, and use that to predict the future trend.
I like how this book using a lot of data, from our local environment compare with global facts.
4 reviews1 follower
March 9, 2021
Konten bagus tapi banyak kesalahan ketik maupun redaksional yang seharusnya bisa dihindari.
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.