'Dunia' milik Subagio adalah khas, ia merupakan alam batin pencari di mana ia bisa saja dirundung oleh kesepian dan rindu, pedih dan keharuan dalam menemukan inti pengalaman kemanusiaan harus diterima sebagai nasibnya.
Terjadinya sajak merupakan suatu keajaiban, karena terlahir dari keadaan jiwa yang hening seperti dalam semadi. Kedatangan ilham dan kelahiran sajak berulang-ulang mempesona Subagio.
Kumpulan sajak Hari dan Hara, yang pernah terbit di bawah judul Buku Harian, merupakan refleksi batin dan tanggapan hidupnya selama persinggahannya di Australia dan Eropa
Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun (Jawa Timur) tanggal 1 Februari 1924. Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi.
Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta.Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya.
Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam.
Subagio tidak saja dikenal sebagai penyair, tetapi sekaligus sebagai esais, kritikus sastra, dan cerpenis. Ajip Rosidi yang menggolongkannya ke dalam pengarang periode 1953—1961 menyatakan bahwa selain sebagai penyair, Subagio juga penting dengan prosa dan esai-esainya. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 dalam usia 72 tahun.
napas begitu tipis seperti kaca jangan dipecahkan dengan berkata-kata keheningan jadi pengiring paling setia bagi kelana di kelam buta hari kemarin sudah tiada
betapa lama sebelum rela membunuh api kenang menyala di luar keramahan kamar telah terkubur sisa mimpi hilang nanar tanpa sesal sosok setubuh dengan sepi
terbaring di dataran asing juga langit kelihatan lain rumah-rumah redup tanpa jendela tapi dengan tidak menanya dicium tanah lekat di tangannya belahan benua ini sebagian dari nasibnya dia tak kembali ke pantai tua
rindu lama tidak lagi bergejolak demam yang diidap sudah reda detik-detik kini lebih berarti daripada terus mencari di balik ufuk pasir melebar telah habis basah air menghibur sampai puas digosokkan tubuhnya ke bumi bisu
Subagio menulis Hari dan Hara nampak seperti buku harian. Ia kerap menuliskan kapan (termasuk hari dan tanggal) pada karyanya yang ditulis kebanyakan di kota Leiden. Saya menyukai babak kedua, di bagian ini ia menuliskan beberapa periode kehidupan manusia yang lekat dengan prosesi tradisi dan upacara, sebagaimana yang saya kutip, "bukankah kesetiaan dan kesabaran sebagian dari upacara."