Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hari dan Hara

Rate this book
'Dunia' milik Subagio adalah khas, ia merupakan alam batin pencari di mana ia bisa saja dirundung oleh kesepian dan rindu, pedih dan keharuan dalam menemukan inti pengalaman kemanusiaan harus diterima sebagai nasibnya.

Terjadinya sajak merupakan suatu keajaiban, karena terlahir dari keadaan jiwa yang hening seperti dalam semadi. Kedatangan ilham dan kelahiran sajak berulang-ulang mempesona Subagio.

Kumpulan sajak Hari dan Hara, yang pernah terbit di bawah judul Buku Harian, merupakan refleksi batin dan tanggapan hidupnya selama persinggahannya di Australia dan Eropa

68 pages, Paperback

First published January 1, 1979

40 people want to read

About the author

Subagio Sastrowardoyo

19 books37 followers
Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun (Jawa Timur) tanggal 1 Februari 1924. Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi.

Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian
Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta.Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya.

Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan
di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam.

Subagio tidak saja dikenal sebagai penyair, tetapi sekaligus sebagai esais, kritikus sastra, dan cerpenis.
Ajip Rosidi yang menggolongkannya ke dalam pengarang periode 1953—1961
menyatakan bahwa selain sebagai penyair, Subagio juga penting dengan
prosa dan esai-esainya. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 18 Juli 1996 dalam usia 72 tahun.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (25%)
4 stars
9 (28%)
3 stars
13 (40%)
2 stars
2 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
May 4, 2017
Matinya Seorang Penyair

napas begitu tipis seperti kaca
jangan dipecahkan dengan berkata-kata
keheningan jadi pengiring paling setia
bagi kelana di kelam buta
hari kemarin sudah tiada

betapa lama sebelum rela
membunuh api kenang menyala
di luar keramahan kamar telah terkubur sisa mimpi
hilang nanar
tanpa sesal sosok setubuh dengan sepi

terbaring di dataran asing
juga langit kelihatan lain
rumah-rumah redup tanpa jendela
tapi dengan tidak menanya
dicium tanah lekat di tangannya
belahan benua ini sebagian dari nasibnya
dia tak kembali ke pantai tua

rindu lama tidak lagi bergejolak
demam yang diidap sudah reda
detik-detik kini lebih berarti
daripada terus mencari
di balik ufuk pasir melebar
telah habis basah air menghibur
sampai puas digosokkan tubuhnya
ke bumi bisu
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
September 15, 2015
Subagio menulis Hari dan Hara nampak seperti buku harian. Ia kerap menuliskan kapan (termasuk hari dan tanggal) pada karyanya yang ditulis kebanyakan di kota Leiden. Saya menyukai babak kedua, di bagian ini ia menuliskan beberapa periode kehidupan manusia yang lekat dengan prosesi tradisi dan upacara, sebagaimana yang saya kutip, "bukankah kesetiaan dan kesabaran sebagian dari upacara."
Profile Image for Lani M.
350 reviews42 followers
October 9, 2015
Mungkin hidup harus dijalani seperti salah satu kalimat di puisi terakhir di buku ini, "tugas kita hanya mengalami, tanpa berkata-kata."
Displaying 1 - 4 of 4 reviews