Mizraim diarak ke alun-alun. Pengadilan terbuka, seperti yang sering terjadi di desa itu, bukanlah tempat untuk membuktikan bahwa seseorang tidak bersalah melainkan sebuah usaha untuk mendesak seseorang mengaku. Di tiang gantung Mizraim berteriak-teriak bahwa ia tak bersalah; bahwa penduduk desa tak tahu berterimakasih. Ia menyebutkan jasa-jasanya di medan perang, menyebut nama teman-temannya yang mati, mengutuk betapa anak muda zaman sekarang tak menghargai jasa pahlawan yang membuat mereka bisa hidup tanpa ancaman. Mizraim baru diam saat tali menyentuh kulit lehernya. Ia menelan ludah. “Seperti dugaanku, kalian bersekongkol untuk membunuhku. Tapi, kenapa baru sekarang?”
Sabda Armandio Alif. Menulis dan menerjemahkan cerita pendek. Novel pertamanya: Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya) diterbitkan di awal tahun 2015. Novel keduanya, '24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif' (Penerbit Mojok) terbit tahun 2017. Saat ini bekerja sebagai Manager Multimedia di Tirto.id.
Kumcer ini berisi 18 cerpen. Tapi 4 diantaranya memiliki sub bab, jadi lumayan panjang. Ceritanya unik sih...meski kadang ada beberapa cerita yang membuat saya mikir. Yang unik lagi judul kumcer ini. Di sampulnya hanya tertulis Kisah0Kisah Suri Teladan. Tetapi di halaman judul ada tambahannya...
Kisah-Kisah Suri Teladan atau Teorema Monyet dan Kesedihan Tak Terhingga atau Jangan Tinggalkan Anjing dan Anak Kecil dan Lansia Dalam Mobil yang Diparkir atau Deep and Resounding Love for Classic Redemption Stories atau Your Soul Cries in Agony, Begging for the Sweet Light of Redemption atau Revenge is a Slippery Slope atau Kisah Horor Tak Pernah Seseram Ini.
Sampulnya kurang menarik, layout huruf dan paragrafnya juga seperti tidak dikerjakan serius. Berisi 18 cerita pendek dengan beragam panjang dan bentuk. Walau dcara bercerita Sabda dikemas dalam narasi yang humoris dan satir, namun tidak ada cerita yang terlalu menonjol, B aja.
Kisah-Kisah Suri Teladan, ini judul yang ‘menipu’... Ketika selesai membaca buku ini, aku menyimpulkan bahwa sebagian besar cerpen-cerpen Dio ini merupakan himpunan kisah-kisah kriminal, dimana tak ada 1 kisah pun yg perlu kau pikirkan secara serius, sebab tak ada suri teladan dalam cerpen-cerpen ini. Bagiku, Kisah-Kisah Suri Teladan adalah bacaan ringan sekadar untuk hiburan semata. Bravo, Dio! Selalu menunggu karya2 terbarumu!
kumpulan cerita pendek pertama sabda armandio, memuat 18 cerpen yang 'menapak tanah', penuh realita. tapi dalam 2 cerpen berikut tetap delusif; pertama cerpen "Legenda Kaktus yang Lebih Funky dari Yesus Kristus", tentang sejarah kaktus yang bisa berbicara dengan manusia yang telah berpindah-pindah tangan kepemilikan dari mulai seorang teroris sampai penyair. kedua, cerpen "Hansen", ia hantu sendayan yang kerap menanyakan, "kapan nikah?" seolah semasa hidupnya ia telah menjadi korban dari pertanyaan itu dan menanyakannya lagi kepada manusia. bila dibandingkan dari buku dio yang lain, agaknya memang dio suka menulis cerita tentang kriminalitas dan pembunuhan. pun dalam kumpulan cerpen ini, seperti (1) "Sembilan Nyawa", Poni yang telah mencoba membunuh dirinya sampai 9 kali tapi tetap gagal seperti nyawa seekor kucing hingga terakhir percobaan loncat matinya dari gedung apartement yang masuk dalam koran, tapi tetap hidup dan itu malah membuat hidupnya lebih sial. (2) cerpen "Tempat Parkir", perempuan yang memasang bom peledak dalam mobil yang di parkir dalam mall di akhir pekan. tapi diledakannya ketika perempuan itu sudah berada di warung luar mall. (3) dialog pasutri sebelum istrinya menembak mati suaminya sendiri. dari semua buku dio yang sudah kubaca, aku melihat satu garis bawah; dia tak terlalu suka dengan cerita romansa yang menye-menye. kalau pun ada, cuma secuil jari kelingking. tapi itu justru membuatku penasaran bagaimana kalau nanti dio menulis novel atau cerpen yang memang substansi utamanya adalah percintaan (makin dibuat klepek-klepek, deh, aku *eh*). aku sangat enjoy membaca buku ini!
Ada sesuatu yang khas dan menjadi garis besar pengait dari seluruh cerpen di kumpulan cerpen ini: cerpen-cerpen di sini ini tidak berangkat ataupun menitikberatkan pada persoalan-persoalan besar yang di mana langsung menarik perhatian pembaca dan hampir semuanya berlangsung mengalir dengan narasi yang liat. Sedikit banyak-koreksi kalau aku salah-mengingatkanku pada cerpen-cerpennya Carver. Di mana penulis mengeksekusinya dengan minimalis dan tidak menyisipkan hentakan sebagaimana cerpen lain. Meskipun ada beberapa satu-dua cerpen (aku lupa berapa jumlahnya) yang menggunakan formula yang sama dan tidak terlalu menggigit bagiku. Setidaknya tidak seperti Agus Noor di kumcernya yang Cerita Buat Para Kekasih itu. Dan, terakhir, jarak antar paragraf di sini cukup renggang. Barangkali agar buku terlihat lebih tebal sedikit? Entahlah.
yang bikin aku betah dengan kumpulan cerita ini adalah eksplorasi cara bercerita yang dilakukan penulis, Sabda Armandio. cara bercerita menjadi salah satu kelebihan kumcer ini. beberapa kisah diceritakan dengan cara tertentu yang bikin aku senang membacanya. cara bercerita yang enggak biasa aku temukan di beberapa cerita dalam kumcer ini. ada cerpen dengan cerita berbingkai seperti Kisah 1001 Malam. ada cerpen yang tidak runut dan menggunakan pov yang berbeda, ada cerita pendek yang terlalu ringkas. ada cerpen yang ceritanya biasa saja, tapi diceritakan dengan mengasyikkan. walaupun ide yang digagas tidak spesial namun digarap dengan asyik, bagiku itu sudah cukup. judul kumcer cukup menggambarkan lah hehe 😄
Saya membaca habis buku ini dalam beberapa jam. Karya-karya Sabda Armandio memang menarik perhatian saya sejak novelnya, Gaspar memenangkan—atau hanya menjadi nominasi, saya lupa—sayembara novel DKJ. Beberapa cerpen dalam buku ini—seperti karya Sabda Armandio yang lain—menyulut emosi saya :) saya bingung, pengin bertemu penulis untuk memujinya atau mengumpatnya. Tapi mungkin itu yang membuat hampir semua buku Sabda Armandio saya beli dan saya baca. Tolong, ini gawat.
"Di dunia ini, barangkali, tak ada satu pun orang yang sungguh-sungguh mampu memahami keinginan orang lain. Pada akhirnya, seperti kata atasanku, semua orang akan terbiasa. Mungkin tak ada orang yang sudi repot-repot mencintai orang lain melebihi kecintaannya pada diri sendiri." (Hansen halaman 120)
Gaya penulisan Dio yang memikat dan kadang cerita yang terasa absurd pun ganjil menjadi daya tarik tersendiri. Bagi saya, semua kisah dalam kumcer ini berkebalikan dari judulnya. Namun, tetap penuh keteladanan. Cerpen yang paling saya suka: Apa yang Mungkin Terjadi di Kafe Kucing; Hari Baru, Harapan Baru; Legenda Kaktus yang Lebih Funky dari Yesus Kristus; Menunggu; Sembilan Nyawa; Hansen; Benda Kecil; Tempat Parkir; dan Hukuman Mati. 💕